Episode 6

1556 Words
Lembaran kertas berisi rincian kasus itu dibaca oleh Alia, setelah Ranti memberikannya ketika mereka tiba di ruangan. Semua hal ia telusuri dengan teliti, mulai dari waktu-waktu yang tercatat, hasil autopsi, dan juga keterangan para saksi. Tak ada satu pun yang luput dari indera penglihatannya, karena ia benar-benar tak ingin ada yang terlewat. Semua harus jelas dan pasti, karena penyelidikan kali itu tak boleh gagal seperti penyelidikan sebelumnya. "Aku udah ngomong sama Bos, katanya kita boleh menggali kembali kasus ini, dengan satu syarat," ujar Ranti. "Apa itu?" tanya Alia. "Kita harus melakukannya diam-diam. Bos nggak mau mendengar kata gagal dari kita. Dia nggak mau ada kekecewaan seperti Polisi sebelumnya, yang menangani kasus ini," jawab Ranti. Alia menganggukan kepalanya. "Oke, itu bisa kita handle seperti biasanya, 'kan?" Alia meyakini. "Bisa, hanya mungkin kita perlu melakukan pendekatan pada para saksi yang ada di dalam daftar itu. Kecuali ada cara lain, agar kita bisa melakukan penyelidikan tanpa membuat kegaduhan," jawab Ranti. "Kalau masalah itu tenang aja, Ran. Aku tahu harus berbuat apa agar tidak ada kegaduhan dalam proses penyeludikan yang kita lakukan kali ini." "Oke, kalau begitu akan kupercayakan langkah-langkah itu sama kamu. Lalu, di mana kita harus memulai, sekarang?" tanya Ranti. Alia tersenyum. "Kamu tenang aja, Ran. Tunggu aja di sini dan baca semua berkas itu. Aku pergi dulu, untuk menemui seseorang." * * * Motor Alia berhenti tepat di depan sebuah rumah. Ia masih ingat betul dengan lokasi rumah Eza, yang dulu pernah didatangi oleh Almarhum Papahnya. Alia takkan pernah lupa, karena diam-diam, ia mengikuti Papahnya menuju ke alamat rumah itu dan bersembunyi demi memuaskan keingintahuannya tentang hukuman sosial yang dijatuhkan pada Eza. Lagi-lagi, kenangan itu tidak ia jalani sendiri, melainkan dengan Anis. Eza yang saat itu sedang membantu Orangtuanya merapikan barang dagangan pun, segera menatap ke arah Alia yang belum membuka helmnya. Ia tahu persis kalau gadis itulah yang datang, hanya saja ia tidak benar-benar siap untuk menyambut kedatangannya yang mendadak. "Siapa itu? Kamu membuat masalah apa lagi, Nak?" tanya Imran - Ayah kandung Eza. "Nggak ada, Pak. Aku nggak membuat masalah apapun. Demi Allah, Pak," jawab Eza, panik. Alia membuka helmnya, dan kemudian mendekat pada Eza. Eza bernafas lega saat melihat sosok Alia yang datang ke rumahnya dengan wajah baik-baik. Ia yakin, gadis itu tidak mungkin ingin membuat keributan di rumah Eza, seiring dengan kedatangannya. "Assalamu'alaikum," sapa Alia, seraya tersenyum ramah. "Wa'alaikumsalam, nyari siapa, Neng?" tanya Imran. "Permisi Pak, saya mencari Eza. Saya temannya Eza, Pak. Saya ada perlu sebentar, sama Eza," jawab Alia, memberi penjelasan pada Imran yang sudah memucat karena takut kalau putranya telah berbuat yang tidak-tidak di luar sana. "Oh, temannya Eza, sok atuh, silahkan masuk ke dalam, Neng," Imran mempersilahkan. "Nggak perlu repot-repot, Pak. Saya di sini aja bicaranya sama, Eza. Kerena saya harus kembali lagi ke kantor, setelah berbicara sama Eza," tolak Alia, dengan sangat halus. "Oh, iya atuh kalau begitu mah. Silahkan, Neng," balas Imran. Eza menghadapi Alia yang kini kembali berwajah datar. "Ya Allah, cepat sekali senyum kamu hilang. Senyum lagi, lah. Biar adem saat aku lihat wajah kamu," protes Eza. "Adem? Kamu pikir wajahku ini pohon Kelapa, yang bisa bikin adem?" tanya Alia, datar. Eza kini hanya bisa memanyunkan bibirnya, karena sudah jelas Alia tidak akan tersenyum lagi seperti tadi. "Kamu bikin Bapakku deg-degan, barusan. Dia pikir, tadi aku mau ditangkap Polisi," ujar Eza, jujur. "Makanya jangan jadi buronan Polisi, kalau nggak mau Bapak kamu deg-degan setiap kali Polisi datang ke rumah kamu," balas Alia. "Aku nggak jadi buronan Polisi kok, kamu aja yang ngejar-ngejar aku terus," Eza mengatakannya dengan sangat percaya diri. Alia - mau tak mau - tersenyum lagi, saat mendengar apa yang Eza katakan barusan. Eza senang sekali karena berhasil membuat wajah datar itu kembali berhias senyum. "Ada apa ke sini? Kangen ya sama, Kakak?" tanya Eza, sambil memainkan kedua alisnya dengan genit. "Kamu pengen banget aku manggil kamu Kakak, ya? Dari dulu sampai sekarang selalu aja menegaskan kalau kamu itu adalah seorang 'Kakak', padahal usia kita belum tentu berbeda," cibir Alia. "Nggak usah susah-susah menentukan usia. Dulu kamu masih bocah aku udah gede, ya jelaslah posisi aku ini 'Kakak', buat kamu," balas Eza, tak kalah dalam mencibir. "Oke, terserah kamu aja. Aku ke sini untuk bertanya beberapa hal. Siapa tahu kamu bisa membantu," jelas Alia, setelah mengalah dari perdebatan dengan Eza. "Mau nanya apa? Aku masih single atau udah duda? Jawabannya aku masih single. Kamu tenang aja, aku belum nikah karena belum ada yang mau sama aku," ujar Eza, santai. Alia kembali tak bisa menahan senyumannya, saat melihat dan mendengar kepercayaan diri Eza yang begitu blak-blakan di hadapannya. Sosok sederhana yang jahil itu selalu saja mampu membuat Alia menggeleng-gelengkan kepala, ketika bertemu. "Kamu kemarin bilang sama aku, kalau Almarhumah Anis akan menikah ketika peristiwa naas itu terjadi. Kamu tahu nggak, dia mau nikah sama siapa?" tanya Alia. "Ya nggak tahu lah. Memang aku ini Orangtuanya! Kenapa kamu nggak tanya aja sama Orangtuanya, siapa laki-laki yang mau nikahin anaknya waktu itu, tapi malah membatalkan setelah anaknya dapat musibah," Eza memberi saran. "Kalau aku tahu Orangtuanya tinggal di mana, aku nggak akan tanya sama kamu. Ya udah, kalau kamu nggak punya informasi apa-apa, aku balik dulu ke kantor," pamit Alia. "Eh..., tunggu! Main pergi-pergi aja, sih? Gampang banget ngambeknya. Aku nggak tahu cara membuat kamu supaya nggak ngambek lagi, jadi tolong sering-sering ngambeknya," Eza menghadang langkah Alia sambil memohon. "Aku nggak perlu lama-lama di sini, kalau kamu nggak punya informasi apapun," ujar Alia, jujur. "Aku memang nggak tahu dia mau nikah sama siapa. Tapi aku tahu, siapa orang yang mau nikahin dia, setelah peristiwa p*********n itu terjadi dan setelah pernikahannya Almarhumah Anis, batal," ujar Eza. Alia menatap Eza dengan serius. "Maksudnya?" "Jadi begini, 'kan..., maaf ya sebelumnya..., pembahasan kita terlalu dewasa soalnya, makanya aku minta maaf dulu biar kamu nggak merasa risih," jelas Eza. Lagi-lagi pria itu berhasil membuat Alia tersenyum, dengan sikap sopan santunnya yang berantakan. "Waktu itu Almarhumah Anis 'kan diperkosa. Terus kabar beredar, laki-laki yang mau nikahin dia membatalkan rencana pernikahan itu. Nah, setelahnya ada satu laki-laki lain yang bersedia menikahi Almarhumah Anis, untuk menutupi rasa malu keluarganya. Tapi entah apa yang terjadi, lima hari kemudian Almarhumah Anis malah memutuskan bunuh diri," jelas Eza. Alia terpaku di tempatnya. "Kamu tahu nggak, siapa laki-laki lain yang bersedia menikahi Almarhumah Anis sebelum dia bunuh diri, waktu itu?" tanya Alia, lagi. Eza mengangguk dengan cepat. "Tahu dong, orang laki-laki itu tinggal dekat sekali dari rumah biru muda yang sekarang adalah milik kamu. Dia anak yang punya warung bubur ayam dan sate di depan jalan raya, namanya kalau nggak salah... ." "Ares!" tebak Alia. Eza kini gantian terpaku, sambil menatap wajah Alia yang sudah dipenuhi dengan kemarahan. "Kok kamu, tahu?" Eza keheranan. Alia gantian menatap Eza, namun tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya. "Kamu jauh-jauh dari masalah, ya. Aku balik dulu ke kantor. Lain waktu aku akan jelasin semuanya sama kamu, hanya saat ini aku masih butuh waktu untuk melengkapi semua teka-tekinya," jelas Alia. Alia kembali mendekat ke arah Imran, yang masih mengatur jualannya. "Permisi, Pak, saya harus kembali ke kantor," pamit Alia, sambil mencium tangan Imran. "Iya, Neng," balas Imran. "Mari, Pak, Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam," jawab Imran dan Eza, bersamaan. "Hati-hati, Lia," pesan Eza. Alia hanya menganggukan kepalanya, lalu segera melajukan motornya meninggalkan rumah Eza menuju kantornya kembali. Anah - Ibu kandung Eza - keluar dari dalam rumah setelah Alia benar-benar pergi. "Siapa itu, Za? Teman atau pacar?" tanyanya. Wajah Eza pun memerah seketika setelah mendengar apa yang Ibunya tanyakan. Ega - Kakak kandung Eza - pun ikut keluar dan melihat ke arah Eza. "Nggak mungkin, Mak! Masa iya, itu Polisi mau punya pacar kaya si Eza yang amburadul, begitu," ejek Ega. Imran menatap anak-anak dan istrinya. "Heh! Ngomong apa itu ke Adik sendiri? Kenapa terlalu begitu punya sikap, teh? Jangan suka begitu, itu Polisi datang ke sini dengan sangat sopan, hargain! Jangan malah dijadikan bahan omongan!" omel Imran. Anah dan Ega pun terdiam, lalu kembali melakukan kegiatan mereka masing-masing. Eza pun kembali membantu Imran mengatur dagangannya. Alia tiba di kantor dan Ranti langsung menyambutnya. "Kamu harus dengar apa yang aku, dapatkan," ujar Ranti, terburu-buru. "Apa yang kamu dapat?" tanya Alia. "Jadi, setelah malam naas itu terjadi di rumah Orangtua Anis, pria yang akan menikahi Anis membatalkan pernikahan itu. Lalu... ." "Ada pria lain yang mengajukan diri untuk menikahi Anis, agar bisa menutupi rasa malu keluarganya Anis. Dan pria itu adalah Ares! Anak pemilik warung bubur ayam dan sate di depan jalan raya!" Alia memotong sekaligus melengkapi penjelasan Ranti. "Kamu tahu darimana?" Ranti benar-benar merasa heran. "Eza. Aku bertanya sama dia tadi, dan dia menjelaskan mengenai Ares sama aku. Hanya saja, aku merasa ada yang ganjil dari semua rangkaian cerita itu," jawab Alia. "Apa yang menurutmu, ganjil? Dan kenapa itu harus sangat ganjil, buat kamu?" Ranti ingin tahu. "Dulu, Ares dan Anis memang pasangan kekasih. Tapi itu empat belas tahun yang lalu, mungkin cuma cinta monyet bagi Anis," ujar Alia. "Tapi tidak begitu bagi Ares. Mungkin bagi Ares, Anis adalah hal yang harus dia miliki, seutuhnya," tambah Ranti. "Dan karena akhirnya Anis akan menikah, maka Ares merencanakan hal terburuk untuk Anis, agar tetap bisa memiliki gadis itu," Alia melengkapi. Mereka berdua terdiam. "Kita harus mencoba memancing sesuatu, Lia, tapi aku masih buntu untuk memulai dari mana," saran Ranti. "Biar aku yang mulai, Ran. Kamu hanya memantau dan mencatat apapun informasi yang aku dapatkan," sahut Alia. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD