Usai membuka rolling door, Alia segera mengeluarkan motornya dari garasi. Ia mengelap jok dan badan motornya selama beberapa saat, sebelum dipanaskan. Khadija memperhatikan sambil menyirami tanaman hias kesayangannya. Ia melirik ke arah mobil yang sangat jarang disentuh oleh Alia. Entah mengapa, sejak dulu Alia lebih menyukai naik motor, ketimbang naik mobil. Hingga terkadang kulit Alia yang putih harus terpapar sinar Matahari, dan membuatnya berubah menjadi kecokelatan.
"Kamu kok, bawa motor terus kalau ke kantor, Neng? Nggak mau bawa mobil, gitu? Sekali-sekali lah, jangan bawa motor terus, biar kulit kamu nggak berubah wujud," bujuk Khadija, mencoba.
Alia tersenyum manis, saat akhirnya menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Ibunya, sejak tadi. Terkadang diam-diam Ibunya memang selalu saja memperhatikan gerak-geriknya. Dulu saat Alia pernah menanyakan kenapa dia sering bersikap begitu, jawabannya adalah karena takut Alia sakit atau ada masalah tapi tak mau cerita. Sekarang, alasan itu pasti sudah berubah. Mungkin Ibunya takut kalau Alia tak juga menemukan jodoh jika kulitnya harus berganti warna karena sinar Matahari.
"Nggak Mi, parkiran di kantor Alia nggak luas. Ranti sama atasan Alia aja udah bawa mobil. Kalau Alia ikutan bawa mobil, tukang parkir motor nggak akan dapat rejeki, karena nggak ada motor yang bisa diparkir di sana," balas Alia.
Khadija hanya bisa geleng-geleng kepala, usai mendengar apa yang Putrinya katakan. Itu bukan sebuah alasan, tapi itulah jalan pikiran Alia. Dan terkadang, orang lain belum tentu mengerti akan jalan pikiran tersebut. Mengakibatkan tidak banyak orang yang bisa berteman dekat dengan Putrinya, tersebut. Bahkan Khadija masih ingat benar, siapa-siapa saja yang pernah berteman baik dengan Alia sejak putrinya masih remaja. Anis dan Ranti adalah yang terdekat, dan kini hanya tersisa Ranti yang masih ada di sisi Alia, karena Anis sudah pindah entah kemana bersama keluarganya.
Tak lama berselang, sebuah mobil pick-up berhenti tepat di depan rumah itu. Ranti terlihat turun dari sana bersama tukang las, yang dipanggilnya kemarin. Senyumannya merekah indah ke arah Alia dan Khadija. Membuat gadis itu disambut dengan penuh suka cita oleh sahabat dan orangtua sahabatnya.
"Assalamu'alaikum, Umi," sapa Ranti, yang sudah merentangkan tangannya ke arah Khadija.
"Wa'alaikumsalam, sayang," jawab Khadija, sambil memeluk Ranti dengan hangat, "gimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah baik, Mi. Kabar Umi sendiri bagaimana? Udah banyak belum, koleksi tanaman hiasnya?" Ranti balas bertanya.
"Yah, masih begini-begini aja, sih. Soalnya Alia suka nggak ada waktu buat menemani Umi ke tukang bunga," jawab Khadija, sambil melirik ke arah putrinya yang kini hanya berpura-pura tak mendengar.
"Hmm, Alia memang begitu, Mi. Suka lupa diri dia kalau udah ngurusin pekerjaan," gosok Ranti.
Membuat Alia berbalik dan menatap ke arah Ibu dan sahabatnya tersebut sambil berkacak pinggang.
"Ini cara bergosip yang baru, ya? Menggosip tepat di depan orangnya secara langsung?" sindir Alia, sambil mengetuk-ngetukan jarinya di dagu.
Khadija dan Ranti pun terkikik geli serempak, setelah melihat ekspresi Alia. Ranti dan Alia pun mempersilahkan para tukang las untuk segera mengerjakan pekerjaan mereka. Semua peralatan dan bahan di turunkan dari mobil pick-up tersebut, untuk di bawa ke dalam rumah.
"Jadi ini teh serius, semua jendela dan pintu mau diamankan?" tanya Khadija, pada Alia.
Ranti dan Alia pun saling pandang selama beberapa saat.
"Iya Mi, kita 'kan nggak pernah tahu apa yang akan terjadi. Maka dari itu, nggak ada salahnya mencegah sesuatu yang buruk, agar tidak terjadi," jawab Alia, penuh penjelasan.
Khadija terlihat bisa menerima penjelasan tersebut. Kedua wanita itu pun segera berpamitan untuk berangkat ke kantor. Ranti meminta Alia menemaninya sarapan di warung bubur Mang Aswin terlebih dahulu, sebelum ke kantor karena dirinya belum sempat sarapan demi menunggui bukanya toko material bersama tukang las.
"Di sana jangan mengungkit apapun soal Neng Anis, ya, Ran," pinta Alia.
Ranti yang sudah sangat mengerti dengan jalan pikiran Alia pun, segera menganggukan kepalanya.
"Jadi semua orang di sekitar sini masih belum tahu, kalau kamu sudah tahu mengenai kasusnya Neng Anis?" tanya Ranti.
Alia mengangguk pelan.
"Lebih baik begitu Ran. Lebih baik pura-pura nggak tahu lebih dulu, daripada terjadi apa-apa sebelum kita dapat sesuatu," jawab Alia.
Mereka tiba di warung Mang Aswin. Alia memarkirkan motornya, dan masuk paling belakangan setelah Ranti. Kali ini Ranti memesan bubur ayam, dan juga beberapa tusuk sate telur puyuh serta sate usus. Alia hanya duduk di hadapan gadis itu tanpa memesan apapun sama sekali. Ia sudah sarapan tadi bersama Ibunya, jadi tentu saja perutnya masih kenyang dan tak mampu menerima makanan lagi.
"Yakin, nggak mau sarapan bareng aku?" tawar Ranti, jahil.
"Nggak. Aku udah sarapan tadi, di rumah. Bakwan sepiring, nasi sepiring, sayur lodeh semangkok, sama puding seloyang sebagai makanan penutup. Aku nggak bisa makan banyak, lagipula, aku nggak mau jadi gendut kaya kamu. Belum waktunya," balas Alia, apa adanya.
Aldi dan Aswin yang mendengarkan jawaban Alia pun segera berusaha menahan tawa mereka, agar tak terdengar dan tak menyinggung. Ranti menyipitkan kedua matanya ke arah Alia dengan penuh kekesalan.
"Nggak mau gendut, tapi makan segudang! Nggak usah nyindir, deh!" amuknya.
"Siapa yang nyindir?" tanya Alia, pura-pura bodoh.
"Kamu yang nyindir aku! Katanya nggak bisa makan banyak, tapi sarapan nasi sepiring, bakwan sepiring, sayur lodeh semangkok, ditambahin puding pula! Sedikit apanya kalau kaya begitu?" sewot Ranti.
Alia hanya terkekeh pelan, dan tak lagi membalas Ranti. Aldi terlihat kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, tubuh Alia kembali merasa dingin. Ia menoleh ke arah sampingnya dan mendapati sosok Anis yang juga duduk di sana bersamanya.
"Hei, kamu lagi lihatin apa?" tanya Ranti.
"Motorku," jawab Alia, cepat.
"Kenapa motormu?" Ranti merasa heran.
"Itu motor makin hari makin ganteng banget. Kaya pacar sendiri," gurau Alia.
Ranti tertawa. "Wah, kelamaan jomblo kamu, Lia! Cari pacar, sana," ejeknya.
Alia ikut tertawa, sosok Anis pun terlihat ikut tersenyum di mata Alia.
"Aku maunya langsung nikah, nggak mau pacaran!" balas Alia.
"Nah, kita lihat aja kalau begitu. Siapa cowok gila yang nggak punya hubungan apapun sama kamu, terus tiba-tiba mengetuk pintu dan bilang 'kamu mau nggak nikah sama aku?'. Gitu...," Ranti memperagakan hal yang sangat tak masuk akal.
Alia hanya tersenyum seadanya. Ares keluar dari dalam rumah bersama Aldi sambil membawa satu panci bubur ayam tambahan di dalam genggaman tangan mereka. Mereka segera menatap ke arah Alia, karena mendengar apa yang Ranti katakan tadi. Alia kembali menatap ke arah sosok Anis yang masih ada di sampingnya. Sosok itu kini terlihat marah, tatapannya tertuju dengan sangat tajam ke arah Ares hingga membuat Alia ikut melirik ke arah pria itu.
"Pagi, Neng Alia," sapa Ares, halus.
Alia tersenyum sopan. Aldi menatap ke arah Ares yang tak pernah menyapa siapapun, sebelumnya. Ia tahu betul kalau Adiknya saat ini tengah mencari perhatian dari Alia.
"Pagi juga, Kak Ares," balas Alia, singkat.
"Mau berangkat kerja, Neng?" tanya Ares.
"Iya, Kak. Sebentar lagi mau berangkat, setelah teman saya menghabiskan buburnya," jawab Alia.
Ares pun tersenyum sambil menata mangkok-mangkok yang akan digunakan untuk mewadahi bubur. Aswin diam-diam begitu waspada terhadap putranya sendiri. Ia tak ingin Ares mendekati Alia, dan mengacaukan segalanya seperti dulu. Semua yang sudah pernah hancur lebur di tangan Ares, tak boleh terulang lagi. Semua harus dihentikan, jika memang ada indikasi yang sama seperti dulu.
Aldi sendiri cukup bersyukur, karena Alia yang kini ada di hadapan semua orang bukanlah Alia yang cerewet dan bawel seperti dulu. Alia yang sekarang adalah orang yang begitu pasif, namun tetap sopan terhadap siapapun. Setidaknya dengan begitu, ada kemungkinan bahwa Ares akan menyerah sejak awal, jika ingin mendekati Alia.
Ranti menatap ke arah tempat Alia menatap saat ini, dan mendapati sosok Ares - pria yang ada dalam daftar salah satu saksi pada kasus mengenai kematian Anis. Ia buru-buru kembali berbalik, agar tak membuat Ares curiga kalau dirinya dan Alia sedang menyelidiki kasus Anis. Pantas saja Alia tadi memintanya untuk tak membahas masalah kematian Anis ataupun kasusnya. Ternyata Alia tahu kalau Ares ada di tempat itu, dan menghindarinya agar tetap tak tahu adalah jalan yang Alia pilih.
Segera menghabiskan bubur ayam, adalah jalan yang bagus untuk menghindari kontak dengan Ares. Ranti segera membayar bubur yang dimakannya setelah menandaskan pesanannya. Alia sudah keluar terlebih dahulu dan menstarter motornya sambil menunggui Ranti. Usai membayar, Ranti naik ke motor milik Alia karena dirinya tak membawa mobil hari itu. Mereka segera melaju menuju kantor tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ares kembali menatap Alia yang menjauh dan hilang di tikungan menuju Malangbong. Tanpa ia tahu, sosok Anis kini tengah berdiri di sampingnya dengan kemarahan yang berkobar hebat. Seakan menuntut pembalasan yang setimpal, untuk Ares.
* * *
Sesampainya di kantor, Alia memarkirkan motornya di tempat biasa. Helm yang dipakainya dan juga helm yang Ranti pakai, ia simpan di dalam loker pribadinya. Ia kemudian berjalan bersama Ranti menuju ke lantai atas, lebih tepatnya ke ruangan mereka.
"Itu tadi, salah satu saksi dalam kasus Almarhumah Anis, 'kan?" tanya Ranti.
"Iya," jawab Alia, singkat.
"Namanya Ares, 'kan?"
"Iya."
"Kok kamu nggak pernah cerita sama aku sebelumnya, kalau kamu mengenal salah satu dari para saksi itu?" Ranti sangat ingin tahu.
Alia menghela nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan tenang. Ia menatap Ranti yang masih setia menunggu jawabannya. Kini, ia benar-benar harus mengatakan segalanya tentang Ares pada Ranti, meskipun ada sedikit rasa enggan di dalam hatinya.
"Karena aku harus mencari kepastian terlebih dahulu, Ran, sebelum benar-benar melibatkan kamu dalam kasus pelik seperti ini," jawab Alia, tanpa ada kebohongan.
* * *