Alia mengunci pagar dan pintu rapat-rapat, usai memasukkan motor ke garasi. Sebelum tukang las yang Ranti pesan datang besok pagi, setidaknya ia harus melakukan pencegahan terhadap apapun yang tak pernah bisa diduga. Kejahatan selalu ada di mana-mana, dan manusia tak pernah tahu siapa yang jahat dan siapa yang baik. Maka dari itu Alia selalu bersikap waspada, di balik ketenangan ekspresinya.
Ketika Alia masuk ke dalam rumah, Khadija menatap Putrinya yang terlihat begitu waspada. Alia memang mewarisi sifat Almarhum Papahnya yang selalu waspada, namun sayangnya kewaspadaan itu baru kali ini terlihat saat Alia berada di rumah. Biasanya, Alia hanya bersikap waspada di luar rumah saja, alias sebatas dalam lingkup pekerjaannya. Khadija menerima kantong plastik berisi sate yang dibeli oleh Alia, namun berekspresi seakan sedang bertanya-tanya 'ada apa?'. Putrinya itu mungkin tidak ingin mengatakan apapun, tapi tentu saja sikapnya yang ganjil membuat Khadija penasaran.
"Mi, Alia ganti baju dulu ya, sekalian mau mandi," Alia meminta ijin.
"Iya, ganti baju dan mandi sana. Air panas udah Umi siapin buat kamu, di panci yang paling besar," jawab Khadija.
Alia tersenyum dengan perhatian Ibunya terhadap dirinya yang tak pernah berkurang, sama sekali. Maka dari itu, ia bertekad penuh semangat untuk selalu melindungi Ibunya. Kapanpun, dan di manapun. Apalagi setelah ia tahu mengenai kasus yang menimpa Neng Anis di rumah yang kini mereka tempati. Alia merasa harus memberi perlindungan yang lebih protektif, agar Ibunya selalu baik-baik saja jika ia pergi bekerja.
Setengah jam kemudian, usai mandi dan berganti pakaian, Alia ikut duduk di ruang tengah yang berada tepat di depan pintu kamarnya. Ia duduk di samping Ibunya yang tengah menikmati sate sambil menonton televisi. Acara komedi yang tengah ditonton oleh Ibunya, sedikit banyak membuat Alia ikut tertawa.
"Lucu, ya? Umi selalu nggak nyangka kalau Haji Andre Taulany yang dulunya penyanyi ternyata juga berbakat menjadi pelawak. Dulu waktu kamu masih remaja dia mulai ngelawak di OVJ, sekarang dia udah punya acara sendiri kaya Lapor Pak! ini, dan karirnya semakin bagus," ujar Khadija.
"Iya, Mi. Apalagi dia ketemu pelawak kaya Wendi Cagur, semakin cocok dan berkualitas lawakannya," tanggap Alia.
Khadija pun menoleh ke arah Alia dengan serius, sekarang.
"Geulis..., Umi mau cerita," ujar Khadija.
"Cerita apa, Mi?" tanya Alia, sambil meraih satu tusuk sate yang masih tersisa dan memakannya.
"Tadi siang, Umi dengar ada yang ngomong di kamar kamu. Umi pikir kamu udah pulang, tapi nggak bilang-bilang sama Umi. Jadi Umi cek ke kamar, tapi ternyata nggak ada siapa-siapa. Nah, Umi lihat novel yang pernah kamu beli, yang judulnya My ROOMATE terbuka di atas meja baca. Apa kamu lupa, membereskan meja baca kamu, pagi ini?" tanya Khadija, setelah bercerita pada Alia.
Alia pun tetap berusaha mengontrol ekspresinya. Ia tak ingin terlihat terkejut di hadapan Khadija. Sebisa mungkin, ia tetap mempertahankan ekspresi santainya, meskipun tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia tak pernah ceroboh dengan membiarkan kamarnya berantakan saat pergi, jadi sudah sangat jelas kalau meja baca yang berantakan itu bukanlah karena perbuatan Alia.
"Alia mungkin lupa membereskan meja, Mi. Banyak kerjaan yang Alia pikirkan, sementara Alia harus mencari hiburan di tengah-tengah tumpukan pekerjaan yang Alia hadapi. Maafin Alia ya, Mi," Alia memohon dengan sangat sopan, meski itu bukan perbuatannya.
Khadija tersenyum seraya mengusap rambut Alia yang tak pernah lagi panjang, sejak menjadi Polisi. Terkadang ia merindukan rambut panjang Putrinya seperti dulu, yang selalu ia hias jika akan pergi ke sekolah. Namun tentunya Alia juga lebih suka jika rambutnya tetap pendek, karena dia bisa terhindar dari rasa gerah yang selalu membuat mood-nya rusak.
"Umi ngerti kalau kamu punya banyak pekerjaan. Umi nggak marah, kalau kamu lupa membereskan meja tulis kamu. Tapi pesan Umi, jangan sampai itu jadi kebiasaan. Anak gadis nggak boleh punya kamar yang berantakan, pamali. Takutnya nanti saat kamu sudah berumah tangga, suami dan keluarga suamimu menilai bahwa kamu itu tidak bisa menjaga kebersihan dan kerapihan. Umi nggak mau kamu dicap buruk sama orang, karena kalau sampai hal itu terjadi, maka Umi yang akan merasa sakit hati," Khadija menasehati.
Alia pun ikut tersenyum, ia mengangguk untuk memberi tahu Khadija bahwa dirinya menerima nasehat itu dengan baik. Tak lama setelah sate benar-benar habis, Alia berpamitan tidur usai mengantar Khadija ke kamarnya. Ia kembali memeriksa semua pintu dan jendela, memastikan kalau semua akan aman malam itu.
Pintu kamar dibuka oleh Alia. Jika biasanya di rumah yang lama ia akan segera berbaring di tempat tidur, kali ini ia lebih memilih duduk di meja baca dan meraih novel yang Ibunya sebutkan tadi.
"My ROOMATE...," gumam Alia, "ya, kita pernah menjadi teman serumah, dan sampai saat ini pun aku masih berpikir begitu. Apakah kamu juga memikirkan hal yang sama..., Neng Anis?" tanya Alia.
Tubuh Alia mendadak terasa dingin, bulu kuduknya meremang, dan di pundaknya begitu terasa sebuah sentuhan tangan seseorang. Alia menyentuh tangan itu, tanpa menoleh. Dingin. Seolah ia sedang memegang sebongkah es di tangannya.
"Kita akan hadapi ini sama-sama Neng, aku janji. Apapun yang akan aku hadapi nanti, aku akan berjuang sampai semuanya selesai," janji Alia.
Tangan dingin itu perlahan menarik sentuhannya dari pundak Alia, lalu menghilang. Alia menyimpan kembali novel itu di tempatnya, kemudian beranjak ke tempat tidurnya untuk beristirahat. Ia menatap langit-langit kamar itu, kamar yang kata Eza adalah tempat kejadian bunuh diri yang Anis lakukan. Ia kembali mengingat masa lalu di dalam ingatannya, di mana kamar itu adalah saksi bisu dari ikatan persahabatan antara dirinya dan Anis. Di kamar itu, Alia sering mendengarkan curhatan Anis tentang hubungannya dengan Ares, dan di kamar itu pula Alia tahu bahwa cinta yang ada di antara Ares dan Anis sangatlah besar. Hingga terkadang, membuat kekaguman Alia terhadap Ares semakin besar.
"Dulu aku nggak bisa tidur di sini, aku merasa asing saat pertama kali menginap di kamar ini. Tapi kamu memelukku sampai tertidur, dan aku tidak lagi merasa asing di kamar ini," gumam Alia, benar-benar terkenang segalanya.
Sebuah sentuhan lain pun kini terasa menjalari perutnya. Sentuhan yang sama dengan yang dulu ia rasakan. Hanya saja, kini rasanya lebih dingin, bukan hangat seperti dulu. Alia pun menoleh ke arah sisi kosong yang dulu biasa Anis tempati jika tidur bersamanya, dan ia bisa melihat wajah itu lagi. Sedang tersenyum manis, tanpa ada yang berubah secuil pun.
"Tidur Neng Alia, nanti kamu sakit," bisiknya, membuai Alia ke dalam mimpi.
* * *
Alia terbangun saat Adzan Subuh berkumandang, ia bergegas bangun dan mengambil air wudhu. Usai shalat, ia segera memasak nasi dan juga air minum. Ia membuat sarapan untuk dirinya dan juga Ibunya. Khadija keluar dari kamar seraya tersenyum ke arah Alia, yang selalu saja bangun lebih pagi darinya. Putrinya itu selalu menerapkan disiplin, hingga kedisiplinannya berubah menjadi kebiasaan yang tak bisa disaingi oleh siapapun.
"Mau Umi bantuin, geulis?" tanya Khadija.
Alia tersenyum.
"Jangan Mi, Umi duduk aja. Biar Alia yang selesaikan semuanya, sebelum berangkat ke kantor," jawab Alia.
Khadija pun menuruti apa yang Alia mau. Ia duduk di meja makan sambil menikmati teh jahe hangat yang sudah Alia siapkan, beberapa saat yang lalu. Ditatapnya Alia yang tengah memindahkan air panas ke dalam termos, hingga ia teringat akan sesuatu.
"Geulis, Umi mimpi aneh semalam," ujar Khadija.
Alia menoleh, menatap Ibunya.
"Mimpi apa, Mi?" tanya Alia.
"Umi mimpi ketemu sama Neng Anis. Dia tiba-tiba aja nangis, sambil memeluk Umi," jawab Khadija.
Alia menatapnya, dan kembali memilih tidak berekspresi terkejut. Ia tahu kalau itu memang Anis yang datang menemui Ibunya, namun ia tak bisa menjelaskan tentang hal-hal meresahkan pada Khadija. Ia takut, Khadija takkan tenang berada di rumah sendirian.
"Dia bilang sama Umi, 'maafin Anis ya Bi Haji, Anis yang berantakin meja baca Neng Alia. Bi Haji jangan marahin Neng Alia, kasihan.'. Gitu katanya," cerita Khadija.
Alia pun tersenyum, berusaha mengalihkan perhatian Ibunya agar tak lagi mengingat hal itu, dan juga agar tak menganggapnya sebagai suatu kejanggalan. Khadija tak boleh memikirkan hal-hal yang tak bisa dipikirkannya diusia yang sudah lanjut, seperti saat ini. Alia takkan membiarkan hal itu terjadi, dan akan berusaha sebisanya untuk mengalihkan perhatian Ibunya.
"Ya mana mungkin lah, Mi. Neng Anis nggak mungkin masuk ke kamar Alia, karena dia nggak tinggal di sini lagi, 'kan? Itu cuma mimpi. Mungkin Umi terlalu memikirkan kesalahan Alia kemarin, sampai terbawa ke mimpi," Alia berusaha meyakinkan Khadija sebisa mungkin.
Khadija pun mengangguk-anggukan kepalanya. Ia merasa apa yang Alia katakan padanya sangat masuk akal. Setelah itu, ia pun kembali menyeruput teh jahenya yang masih tersisa di cangkir. Alia pun bernafas lega, kemudian berbalik untuk melihat gorengan bakwannya. Ia sedikit terkejut karena gorengan itu ternyata sudah dibalik, tanpa ia sadari. Alia menatap ke arah siapa yang berdiri di pojok sana sambil tersenyum ke arahnya.
"Geulis? Geulis? Kamu kenapa melamun?" tegur Khadija.
Alia pun tersadar dari lamunannya, usai mendengar teguran dari Khadija. Namun ia belum juga mengalihkan tatapan rindunya dari sosok Anis.
"Nggak Mi, Alia nggak melamun kok. Cuma lagi nunggu bakwannya matang," jawab Alia, sekenanya.
Sosok itu masih berdiri di sana, Alia pun masih menatapnya. Seolah semuanya masih sama seperti dulu, dan tidak pernah ada yang berubah. Anis masih secantik saat masih remaja, dan Alia-lah yang justru kini terlihat semakin menua sesuai dengan bertambahnya usia. Ia tersenyum penuh arti, mengenang kembali apa yang pernah mereka lewati bersama di masa remaja. Tanpa ada yang tahu.
* * *