Sesampainya di rumah, Alia memarkirkan motornya di garasi, tepat di samping mobilnya, yang tak keluar kandang sama sekali hari ini. Khadija mendengar suara motor milik Alia, ia bergegas berlari ke depan untuk membukakan pintu. Ia menyambut kedatangan Alia dengan senyum sumringah, saat melihat sosok Putrinya yang sudah pulang, malam itu.
"Umi udah makan?" tanya Alia, sambil berusaha membuka jaketnya yang selalu tadi ia pakai saat berkendara.
"Udah sih, tapi kayanya Umi pengen ngemil lagi deh. Cuma Umi masih bingung, mau ngemil apa," jawab Khadija, sambil mengetuk-ngetukan jarinya di dagu.
Alia tersenyum, dan segera membatalkan membuka jaketnya. Ia tahu betul, kalau sebenarnya Khadija sudah punya rencana ingin menyebutkan apa yang diinginkannya. Hanya saja, rasanya tidak enak bagi Khadija karena harus menyuruh Alia yang baru saja pulang kerja.
"Memangnya Umi mau ngemil, apa? Ayo bilang aja, nanti aku beliin," Alia pun bersiap, untuk kembali menaiki motornya.
Kedua mata Khadija berbinar bahagia saat mendengar pertanyaan yang Alia ajukan padanya. Alia tersenyum senang saat melihat bagaimana ekspresi Ibunya yang selalu membuatnya merasa gemas, dan membuatnya ingin segera memeluknya.
"Satenya Mang Aswin di depan jalan, itu. Boleh, ya?" pinta Khadija, manja.
Alia pun terkekeh melihat tingkah Ibunya, yang selalu saja menyindir tingkah Alia di masa lalu. Sikap manja itu, adalah sikapnya yang kini sudah tak pernah lagi terlihat sama sekali. Membuat Alia terkadang malu sendiri jika mengingat bagaimana sikapnya saat masih kecil, dulu.
Alia pun mengangguk setuju dengan apa yang Ibunya inginkan. Ia pun segera menstarter motornya untuk pergi ke depan jalan, menuju ke warung milik Mang Aswin.
"Umi masuk ke dalam ya, kunci pintunya rapat-rapat!" pinta Alia, waspada.
"Siap, Bripda Alexa!" balas Khadija, dengan nada suara tegas, seperti yang dulu sering dilakukannya terhadap Almarhum Papah Alia.
Alia pun segera melaju ke jalan depan dan parkir di dekat rumah Ares. Ya, warung sate itu adalah milik keluarganya Ares. Aswin adalah nama Ayah kandung pria itu. Semua yang ada di warung sate itu mendadak menatap ke arah Alia secara serentak, ketika ia tiba. Alia pun hanya pura-pura tak tahu apa-apa. Ia lebih suka terlihat bodoh daripada terlihat sok tahu, demi mencegah kecurigaan si pelaku jika memang si pelaku adalah orang dari sekitaran Cijanur. Dan kali ini, ia ingin terlihat tak tahu apapun mengenai Anis. Maka dari itu, Alia memasang ekspresi sewajarnya agar tak perlu ada yang mencoba menduga-duga terhadapnya.
Bagi Alia, kasus Anis adalah prioritas terbesar yang harus segera ia ungkap. Namun sebelum itu, ia hanya perlu diam dan berjalan dengan kepala dingin, agar tak ada siapapun yang mencoba menghalangi pergerakannya. Bahkan jika penghalang itu adalah Ares - pria yang begitu mencintai Anis di masa lalu. Ia tetap tidak akan menunjukkan apa yang ia tahu, karena nalurinya mengatakan untuk tetap seperti itu.
"Assalamu'alaikum, Mang Aswin," sapa Alia, seraya tersenyum sopan.
"Wa'alaikumsalam, Masya Allah Neng Alia. Udah lama Mamang nggak lihat Eneng, sok atuh duduk. Mau pesan apa, Neng?" tanya Aswin, yang sikapnya masih sama seperti dulu.
Alia tersenyum sewajarnya di hadapan Aswin, seperti bagaimana dulu saat ia masih remaja.
"Saya mau pesan sate ayam dua puluh tusuk, Mang. Sepuluh tusuk matang sempurna, sepuluh tusuknya lagi jangan terlalu hangus. Soalnya, Umi saya masih nggak suka sate yang terlalu hangus," jawab Alia.
"Siap, Neng. Insya Allah Mamang teh, belum lupa. Dulu Almarhum Papah Neng Alia juga selalu pesan yang sama, seperti yang Neng Alia pesan hari ini," ujar Aswin.
Alia pun hanya memilih tersenyum, lalu duduk di salah satu kursi kosong dan berdiam diri.
"Uminya Neng Alia teh sangat beruntung, karena punya anak seperti Eneng. Apapun yang Uminya Neng Alia suka, pasti Neng Alia hafal. Sama persis pokoknya seperti Almarhum Papahnya Eneng, dulu," tambah Aswin.
"Iya, Mang. Itu udah jadi kebiasaan buat saya. Lagipula, Umi 'kan juga seperti itu, selalu ingat apa yang saya dan Almarhum Papah saya suka," jelas Alia.
Ares dan Aldi menatap ke arah Alia. Namun, Alia memilih tetap berpura-pura tidak tahu, kalau dirinya sedang diperhatikan. Ia memilih diam seperti yang biasanya ia lakukan, agar tak banyak yang berusaha menebak-nebak, apakah dirinya tahu tentang kasus Anis atau tidak.
Aswin kembali menatap ke arah Alia. Sejujurnya, ia masih tak percaya kalau gadis remaja cerewet yang dulu sering bermain-main di warungnya itu, kini tak lagi secerewet dulu. Alia jauh lebih pendiam, dan bicara seperlunya jika ada yang mengajaknya bicara. Padahal dulu, dia selalu saja berusaha membuat orang lain agar berbicara padanya. Entah apa yang membuat gadis itu sekarang berubah sangat jauh dari karakternya yang dulu. Yang jelas, Alia kini bukan lagi orang yang akan dijauhi oleh siapapun, karena dia tak lagi seberisik dulu.
"Neng Alia kok diam, aja? Dulu Neng Alia teh biasanya suka banyak cerita, sama Mamang," tegur Aswin, sambil terus mengipasi sate yang tengah dibakarnya.
Alia hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan itu. Karena sejujurnya, Alia sendiri bingung ingin memberikan jawaban apa pada Aswin.
"Papahnya Eneng udah lama, meninggalnya?" tanya Aswin.
"Iya, Mang. Sudah hampir lima tahun Papah Alia, meninggal," jawab Alia.
"Jadi, Eneng selama lima tahun terakhir tinggal sama Umi aja, berdua?"
"Iya, Mang. Kami sering pindah-pindah tempat tinggal juga, karena Alia sering pindah-pindah tugas. Tapi sekarang Alhamdulillah Alia dan Umi udah bisa menetap, nggak akan pindah-pindah tugas, lagi."
"Alhamdulillah, semoga tetap begitu ya, Neng. Pindah-pindah rumah teh capek, dan juga nggak nyaman kalau harus terus-menerus beradaptasi," tanggap Aswin.
"Iya, Mang. Amiin, semoga aja terus seperti itu," balas Alia, lalu kemudian kembali diam seperti tadi.
Tak lama kemudian, saat Alia masih menunggu pesanannya, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan warung sate itu. Kaca jendelanya terlihat terbuka. Wajah Ranti yang sedang tersenyum pun terpampang dengan jelas di depan mata Alia.
"Nyangkut di warung sate, nih? Pulang sana! Anak gadis kok, keluyuran melulu!" ejek Ranti, santai.
Alia tertawa renyah, usai mendengar ejekan itu. Membuat Ares menatapnya semakin dalam, karena bahkan tawa Alia pun kini berubah dan tak lagi keras seperti dulu.
"Aku tadi udah sampai rumah, Ran. Cuma Umiku tiba-tiba ngidam..., minta dibeliin sate," jawab Alia.
"Lah..., bisa-bisanya Umi kamu ngidam! Ngaco, ah!" omel Ranti.
Alia kembali terkekeh sangat pelan.
"Beliin buat aku juga, dong!" pinta Ranti.
"Ogah! Aku belum gajian, dompetku masih tipis, nggak ada bedanya sama tripleks. Udah, pulang sana!" usir Alia, terang-terangan.
Ranti hanya tertawa, sambil mengacungkan jempolnya pada Alia. Mobil itu kembali melaju menuju Cibodas, tempat tinggal Ranti. Ares memperhatikan Alia lebih dari biasanya. Alia terlihat sangat banyak berubah, namun bukan berubah dalam arti negatif melainkan berubah dalam arti positif. Gadis itu lebih banyak diam, tidak lagi bawel seperti dulu. Dia semakin sopan dan tahu menempatkan diri. Sangat besar perubahan itu, menurut yang Ares lihat. Ia tak menyangka bahwa Alia akan menjadi sangat berbeda setelah sekian lama Ares tak bertemu dengannya.
Tak lama berselang, Aswin telah selesai membungkus sate pesanan Alia. Ares pun menyerahkan bungkusan plastik itu, dan Alia pun segera mengeluarkan dompetnya untuk membayar belanjaannya.
"Totalnya dua puluh lima ribu, Neng," ujar Ares, berharap mendapat respon dari Alia agar mereka bisa mengobrol lagi seperti dulu.
Sayangnya, Alia tak mengatakan apapun sama sekali. Gadis itu hanya diam dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan pada Ares, membuat pria itu kehilangan harapannya. Tak lama berselang, pria itu memberikan kembaliannya pada Alia.
"Terima kasih banyak, Kak Ares," ucap Alia.
"Iya, sama-sama, Neng," balas Ares, sopan.
"Oh, iya Mang Aswin, kerupuknya udah ada di dalam 'kan, ya?" tanya Alia, ke arah Aswin.
"Oh, iya, lupa. Eneng 'kan suka makan sate pakai kerupuk, ya? Astaghfirullah, maaf ya Neng, Mamang teh lupa, soalnya udah lama Neng Alia nggak beli di sini. Lagian, biasanya teh Neng Alia suka minta kerupuknya duluan, makanya Mamang sampai lupa," jawab Aswin, merasa tak enak.
"Iya, Mang. Udah lama juga Alia nggak terlalu sering ngemil kerupuk. Soalnya, takut sakit tenggorokan kalau sampai makan kerupuk terlalu banyak," jelas Alia, agak merasa malu karena Aswin begitu hafal dengan kebiasaannya di masa lalu.
Setelah Aswin memberikan sebungkus kerupuk ke dalam kantong plastik milik Alia, gadis itu pun segera keluar dari warung sate tersebut. Ia kembali menaiki motornya, dan bersiap menuju ke arah rumah.
"Eh, Neng Alia. Habis beli sate, Neng?" tanya Amrin - salah satu Ustadz yang pernah mengajari Alia mengaji.
Alia pun kembali turun dari motor, dan mendekat pada Amrin, untuk menjaga sopan santun yang telah Ibunya ajarkan selama ini.
"Iya Pak Amrin. Ini satenya untuk, Umi," jawab Alia sambil mencium tangan Amrin, seperti dulu.
"Oh begitu, sok atuh segera dibawa pulang ke rumah, satenya. Kasihan, nanti Uminya Neng Alia menunggu terlalu lama," ujar Amrin.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu. Mari, saya pulang duluan," pamit Alia.
"Iya, silahkan Neng," balas Amrin.
Alia pun kembali menaiki motornya, lalu menstarter motor tersebut dan melaju pelan menuju ke arah rumahnya. Amrin merasa bangga, ketika melihat salah satu mantan anak didiknya kini telah tumbuh dewasa, dan masih memegang adab serta sopan santun kepada orangtua. Tidak banyak anak-anak yang bersikap seperti Alia, dan Amrin tahu betul, darimana Alia mempelajari hal itu. Alia adalah satu-satunya anak yang begitu menyayangi Ibu sambungnya, melebihi rasa sayang pada Ibu kandungnya sendiri. Amrin tahu akan hal itu, karena dulu Almarhum Papah Alia sering bercerita padanya mengenai sikap Alia di rumah, yang tidak berbeda dari sikapnya di luar rumah.
Setelah Alia pergi, Amrin pun masuk ke dalam warung sate milik Aswin - Kakaknya - dan menatap Ares yang ternyata masih memperhatikan Alia sejak tadi, dari bagian dalam warung. Entah mengapa setelah melihat hal tersebut, tiba-tiba saja ia ingin meluapkan kemarahannya pada Ares, usai menyadari bahwa Ares mungkin saja kini mulai tertarik pada Alia yang sudah dewasa.
"Ngapain kamu lihat-lihat Neng Alia sampai seperti itu?" tanya Amrin, sinis.
Aswin dan Aldi menoleh ke arah Amrin, lalu menatap juga ke arah Ares, yang ternyata memang benar sedang menatap ke arah luar warung, tempat Alia menyimpan motornya tadi.
"Cuma lihat aja, Mang. Bukan berarti aku lihat Neng... ."
"Cukup! Nggak usah dilanjutkan! Kamu nggak usah dekat-dekat sama Neng Alia, kalau kamu masih memiliki jiwa paling pengecut di dalam dirimu itu! Kecuali kamu mau berhenti jadi pengecut, maka kamu boleh berbuat semau hatimu!" tegas Amrin, tidak main-main.
Ares menatap Amrin dengan wajah penuh rasa bersalah. Namun ia juga sadar, bahwa tetap diam adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya, agar semua hal tentang Anis tidak lagi disinggung-singgung oleh siapapun. Ia tak mau persoalan kematian Anis kembali diungkap oleh orang lain, dan ia tak mau Alia mendengar mengenai hal itu. Alia bisa marah besar, jika sampai tahu kalau Anis sudah meninggal, sebelum sempat bertemu lagi dengannya.
"Ingat baik-baik, Neng Alia nggak sama dengan Neng Anis yang lemah. Dia itu tangguh, dan kamu nggak akan bisa menghadapi dia dengan sifat pengecutmu, itu! Lebih baik mundur, atau kamu akan menyesali semuanya!"
Amrin pun segera melangkah ke dalam rumah, meninggalkan Ares yang masih terbaluti oleh rasa bersalah terhadap Anis, usai gadis itu melakukan bunuh diri, sepuluh tahun yang lalu. Sejak hari itu, semua hal yang awalnya baik-baik saja telah berubah total menjadi derita.
"Inikah hukuman untukku?" batin Ares.
* * *