Bagian 22

1207 Words

“Mas mau ngomong apa lagi? Apa penjelasanku kemarin kurang jelas?” Pelita memandang pria yang kini duduk di seberangnya. Dialihkan pandangannya ke arah lain, ke arah mana pun, yang terpenting bukan mata Wisnu yang saat ini tengah menatapnya sendu. Jika terus menatap netra beriris hitam itu, dia takut akan luluh dan berubah pikiran. Wisnu mengembuskan napas kasar mendengar perkataan Pelita yang begitu dingin. Bahkan, dinginnya pendingin ruangan di lantai atas sebuah kafe itu tak bisa menandingi nada bicara Pelita. “Kata Desti, kamu bener-bener mau gugat cerai aku. Kamu serius, Lit?” tanyanya dengan suara lirih yang bahkan hampir teredam hiruk pikuk di dalam kafe bernuansa tempo dulu itu. Perempuan berjilbab pasmina merah itu tak merespons, meskipun masih bisa mendengar dengan jelas suara

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD