“Kamu beneran enggak pa-pa, Nar? Wajah kamu masih pucet, lo.” Kepala Nadia yang hari ini berselubung pasmina abu-abu itu melongok ke arah kubikel Binar yang berhadapan dengannya. Raut wajahnya tampak khawatir. “Iya, Nar,” sahut Puput, lantas memasukkan empat keping keripik pisang ke dalam mulutnya sekaligus. Dengan mulut penuh keripik, dia berkata, “Kalau jadi kamu, mending aku rebahan di kasur sambil nonton drakor. Ah, surganya duniaaa.” Perempuan bertubuh gempal itu mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi seraya memicingkan mata. “Drakor aja pikiran lu,” sinis Ayu sambil melemparkan pulpennya ke arah Puput. Bibir Binar yang terlihat pucat itu menyunggingkan senyum, berusaha memperlihatkan kalau dirinya baik-baik saja. “Enggak pa-pa, kok, Nad. Aku juga udah cuti tiga hari. Enggak en

