Napas berat diembuskan seorang perempuan berkerudung hitam dengan motif bunga-bunga yang saat ini tengah berdiri di depan pintu sebuah ruangan. Langkahnya tertahan, seakan-akan ada sesuatu yang menahan pergelangan kakinya. Pelita menatap gamang pintu bercat cokelat di depannya sembari menimbang-nimbang sesuatu. Setelah memantapkan hati, dia mengetuk pintu tersebut, lantas membukanya perlahan saat si empunya kamar sudah memberikan izin. “Umi,” panggilnya lirih sembari menyembulkan kepala ke dalam, memandang sang ibu yang sedang melipat mukena. Tampaknya, wanita setengah baya itu baru saja menunaikan salat Isya. “Lita. Sini, masuk.” Umi Maira menyunggingkan senyum lebar, seakan-akan tak memiliki beban apa pun. Padahal, tadi sore, setelah kepergian Wisnu, wanita itu menangis dalam diam, mer

