Bagian 37

1408 Words

 “Binar.” Dokter Kamala yang baru saja keluar dari ruang periksa, langsung menghampiri Binar di meja administrasi. Jam makan siang sudah tiba dan tidak ada pasien yang perlu ditangani lagi. Binar yang masih duduk di kursi, langsung tergeragap begitu suara lembut nan tegas milik Kamala menyapa gendang telinganya. Ia pun lekas berdiri. “Iya, Dok?” tanyanya dengan senyum semringah tersungging di bibir. Empat minggu sudah terlewati sejak kejadian di mana Binar dilarikan ke rumah sakit karena jatuh pingsan. Perlahan, perempuan itu sudah menerima kenyataan dan berusaha menjaga mereka—calon buah hatinya—dengan baik. Bagaimanapun, ini adalah pilihannya dan sudah melangkah jauh. Meski baru mengetahui kalau ada dua nyawa yang tumbuh di rahimnya, dia tak mungkin menyerah. Beruntung, ada Rajendra y

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD