Bagian 13

1458 Words
“Beneran enggak mau aku anterin, Nad? Tadi kamu ke sini sama aku, lho. Berangkat bareng, pulang juga harus bareng. Apalagi, ini mau hujan.” Binar melenggak, memandang langit yang sudah dipenuhi gumpalan awan hitam pekat, seolah-olah akan menumpahkan seluruh isinya. Saat ini, Binar dan Nadia berdiri di depan kafe, bersiap-siap pulang. Mereka memang tinggal sedikit lebih lama dibandingkan Ayu dan Puput yang sudah pamit pulang sejak setengah jam lalu. “Enggak usah, Nar. Kita, ‘kan, enggak searah. Nanti malah ngerepotin kamu. Aku udah dijemput, kok.” “Sama siapa? Gebetan? Pacar? Calon suami?” Binar bertanya secara bertubi-tubi. Netra hitamnya berbinar, tak sabar menunggu jawaban dari Nadia. Pasalnya, selama ini Nadia jarang sekali cerita kalau dia memiliki pacar. Maklum, Nadia adalah tipe wanita pendiam. Irit bicara. “Baru deket, kok.” Nadia tersenyum malu-malu, merapatkan tubuhnya dengan tubuh Binar, lantas berbisik, “Karyawan baru.” Seketika, mulut Binar menganga tak percaya. Matanya membulat sempurna. Benar-benar di luar dugaan, wanita pendiam seperti Nadia bisa secepat itu mendapatkan gandengan. Sementara itu, dia masih nyaman dengan statusnya sebagai jomlo, lebih tepatnya single karena dia belum pernah sekali pun menjalin hubungan dengan lawan jenis. Menjadi saksi atas kegagalan pernikahan sang umi dan kakak, membuat Binar waswas untuk menerjunkan diri ke dalam lingkaran setan bernama pernikahan. Tak berapa lama, sebuah Daihatsu Ayla berhenti di depan kafe. Seorang di balik kemudi membunyikan klakson, memberi tanda pada Nadia agar gadis itu lekas masuk mobil. Bersamaan dengan itu, rintik hujan membanjur bumi yang kering kerontang selama beberapa bulan terakhir. Aroma tanah yang pertama kali diguyur hujan langsung menyapa indra penciuman, menyejukkan pikiran dan hati yang dipenuhi dengan kemelut. “Ya, udah, aku pulang duluan, ya, Nar,” pamit Nadia, kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menuju mobil sebelum hujan semakin lebat. “Hati-hati, ya.” Selepas Nadia masuk, mobil itu pun melesat, meninggalkan Binar dalam kegamangan. Dia menoleh ke belakang, memperhatikan Pelita dan Baskara yang masih terlibat percakapan serius. Perempuan itu pun memutuskan menunggu Pelita di mobil dan mengajak sang kakak pulang bersama setelah urusannya dengan Baskara selesai. *** “Udah lama banget, ‘kan, kita enggak pernah ketemu?” Baskara berinisiatif membuka obrolan setelah membiarkan canggung mendominasi keadaan. “Kalau enggak salah, udah lima tahun.” Senyum tipis terpatri di bibir perempuan berkerudung army itu. Dia tidak menyangka jika sudah selama itu tak pernah bertemu dengan teman baiknya semasa kuliah, padahal dulu mereka sangat dekat sekali. Saking dekatnya, banyak yang mengira kalau mereka berpacaran. “Kapan kamu balik dari Singapur?” “Setahun yang lalu.” Pelita mengangguk-angguk. “Setahun yang lalu,” gumamnya sambil mengulum senyum getir. “Tapi, kamu baru menghubungiku sekarang. Baskara terdiam beberapa jenak, bingung harus merespons apa. Kenyataannya, dia memang tidak pernah menemui Pelita lagi, bahkan setelah pulang dari Singapura. Alasannya cukup simpel, lelaki itu masih belum siap menerima kenyataan bahwa perempuan yang masih dicintainya hingga sekarang hidup bahagia dengan lelaki lain. Terlebih, lelaki tersebut adalah abang sepupunya. “Lo ... kelihatan makin cantik kalau pakai kerudung,” pujinya setelah bergeming beberapa detik. Dia berusaha menghapus kecanggungan yang kini mendera keduanya. “Terakhir kali ketemu, lo belum berkerudung.” Pipi Pelita merona seketika. Tak dimungkiri, pujian yang dilontarkan oleh Baskara membuatnya tersipu malu. Namun, dia berusaha bersikap biasa. “Iya, aku mulai memantapkan hati untuk berhijrah setelah menikah dengan Mas Wisnu.” Baskara menganggut-anggut. “Lo sekarang juga berubah. Biasanya kalau ngomong sama gue pakai lo-gue. Gue jadi enggak enak kalau pakai lo-gue.” “Enggak pa-pa, kali. Sejak nikah, aku memang udah biasain ngomong pakek aku-kamu.” Lelaki jangkung itu tersenyum canggung sambil menggaruk rambut cepaknya yang tak gatal. “Oh, ya, gue tadi udah pesen mocca latte dan klapertaart buat lo. Lo masih suka, ‘kan?” Pelita menatap segelas mocca latte dan klapertaart yang tersaji di depannya. Dia tak menyangka jika Baskara masih ingat betul minuman dan makanan yang sering dipesannya jika pergi ke kafe ini. Begitu pun dengan Baskara, teman baiknya itu juga masih menyukai espresso tiramisu dan piccolo latte. Tanpa sadar, bibir yang terpoles lipstik nude itu mengulum senyum simpul. “Iya, aku masih suka.” Pelita menggenggam sisi gelas, memejam, menghirup dalam-dalam aroma kopi yang menguar di seluruh penjuru kafe. Setidaknya, hal itu bisa membuat hatinya sedikit tenang. “Udah lama banget aku enggak ke sini. Thanks, ya,” ucapnya tulus seraya mengalihkan pandang ke arah Baskara. “Sama-sama.” Hening kembali menyergap keduanya. Lama tak bersua membuat kedua sahabat itu dirundung kecanggungan. Alhasil, Baskara dan Pelita hanya diam, sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing. Suara bising di dalam kafe pun tak mengusik pikiran mereka sedikit pun. Baskara menyesap piccolo latte-nya, kemudian berdeham pelan, memecah kesunyian yang menenggelamkan keduanya, “Lit,” panggilnya pelan. “Gue dengar, lo mau ceraiin Bang Wisnu. Hm, maaf sebelumnya kalau gue terlalu ikut campur. Cuma, kalau sampai itu terjadi, gue bakal merasa bersalah.” Pelita mengangguk kecil. “Rencananya, kalau Mas Wisnu tidak menceraikanku, aku yang akan mengajukan gugatan. Aku enggak mungkin mempertahankan pernikahan ini lagi, Bas. Lagi pula, Mas Wisnu lebih memilih bersama mantan pacarnya yang sedang hamil itu.” Netra berpupil cokelat bening itu menatap lawan bicaranya dengan iba. “Sorry, ya, Lit. Andai aja, waktu itu gue enggak kenalin lo ke Bang Wisnu, pasti hal ini enggak akan terjadi.” Pikirannya menerawang jauh, kembali teringat kejadian sembilan tahun lalu, awal mula pertemuan Pelita dan Wisnu—kakak sepupunya. *** Jakarta, 2011 Pelita mengangkat tangan tinggi-tinggi, merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk dan menunduk untuk menatap layar laptop. Dia ingin menguap, tetapi urung karena pemuda yang ada di hadapannya menatap dia dengan intens sambil bertumpu dagu. Gadis itu menyengir kuda sambil menggaruk rambutnya yang sudah kusut mesut. “Hehehe, sorry.” “Capek banget, ya?” “Hm.” Raut muka gadis itu berubah muram dengan bibir mengerucut. “Pak Burhan nyuruh gue revisi terus-terusan. Jangankan sidang, seminar proposal aja belum. Kalau kayak gini caranya, gue enggak bisa lulus-lulus. Lo mah enak punya dosen pembimbing kayak Bu Anti.” “Gue beruntung banget dapet dospem kayak Bu Anti. Udah baik, sabar, enggak banyak komen. Kabar baiknya, gue mau seminar proposal. Hahaha.” Baskara terbahak-bahak, seolah-olah tengah mengejek teman baiknya itu. Dia kemudian meraih gelas berisi mocca latte yang ada di hadapan Pelita dan menyeruputnya tanpa meminta izin kepada sang empunya. “Eh, itu ‘kan punya gue. Enak aja lo!” Baskara mengangkat tinggi-tinggi gelas berisi mocca late itu agar Pelita tidak bisa menjangkaunya. “Punya gue udah habis semua gara-gara nunggu lo.” “Ya, udah, pesen aja lagi sana!” “Pelit banget, sih, sama temen sendiri. Nanti kuburan lo dibanjirin mocca latte baru tahu rasa lo.” “Biarin. Malah enak, dong, gue bisa berenang sekalian. Siniin enggak?!” Pelita bertolak pinggang sembari memanyunkan bibir, pura-pura merajuk. Namun, Baskara tetap mengabaikannya. Dia bangkit dari kursi, berusaha meraih gelas tersebut, tetapi pemuda itu terus menghindar hingga akhirnya Pelita jatuh ke pelukan Baskara. Waktu seolah-olah berhenti kala tatapan mereka bertemu di satu titik. Keduanya membeku, merasakan detak jantung masing-masing yang bertalu-talu, seakan-akan ingin meledak seketika itu juga.  “Kara?” Refleks, Pelita menjauh dari tubuh kekar Baskara. Suara berat nan serak itu berhasil menarik mereka kembali ke dunia nyata setelah beberapa saat terbelenggu tatapan masing-masing. “Bang Wisnu?” Mata Baskara terbelalak dengan mulut sedikit terbuka. Terkejut. Tak menyangka jika kakak sepupunya tiba-tiba ada di sana dan menyaksikan adegan yang tak sedap dipandang. Apalagi, saat ini Wisnu tersenyum jail, seakan-akan tengah menggoda. Hatinya mulai ketir-ketir melihat reaksi lelaki itu. “A-abang ngapain di sini?”  tanyanya terbata-bata sambil meletakkan gelas berisi mocca latte ke tempat semula. “Tadi gue ke sini sama temen. Tuh, dia di sana.” Wisnu menunjuk seorang lelaki berkacamata yang sedang mengantre untuk memesan menu. “Gue lagi magang di rumah sakit sekitar sini.” “Oh ....” Netra Wisnu bergulir ke arah lain, tepatnya ke arah perempuan berkucir kuda yang masih berdiri kikuk di samping Baskara. “Siapa? Gebetan baru?” “Bukan, Bang. Temen kuliah. Kenalin.” Selepas mengucap istigfar dalam hati dan meredam detak jantung yang tak bisa diajak kompromi, perempuan berkucir kuda itu menoleh ke sumber suara. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum simpul. Diselipkannya anak rambut ke belakang telinga, kemudian mengulurkan tangan ke arah Wisnu dan langsung disambut lelaki itu dengan antusias. “Pelita Sukma. Panggil aja Pelita, teman kuliahnya Baskara,” ungkapnya dengan menekankan kata ‘teman’.  “Nama yang unik.” Wisnu mengulum senyum lebar, merasakan tangan selembut kapas yang saat ini tengah menjabat tangannya. Ditatapnya lekat bola mata Pelita yang entah mengapa begitu meneduhkan hati. “Saya Wisnu. Wisnu Bhakti Utomo, abang sepupunya Baskara. Senang bisa kenalan sama kamu.” *** “Andai aja, saat itu gue menyatakan cinta lebih dulu, apakah jalan ceritanya akan berbeda?” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD