Bagian 14

1154 Words
“Andai aja, saat itu gue menyatakan cinta lebih dulu, apakah jalan ceritanya akan berbeda?” Baskara menatap lekat mata Pelita hingga pandangan mereka bersirobok selama beberapa jenak. Namun, Pelita langsung membuang muka, memutus tatapan terlebih dahulu. “Gue suka sama lo, Lit. Dulu sampai sekarang, perasaan gue masih sama. Tapi, gue terlalu pengecut buat menyatakan perasaan ini. Gue takut, kalau hubungan kita enggak berhasil, kita bakal menjadi orang asing. Gue enggak mau kehilangan lo, Lit.” Baskara terdiam sejenak, memberi jeda. “Tapi ... pada akhirnya gue tetep kehilangan lo. Apa lo tahu kenapa gue mutusin lanjut kuliah ke luar negeri?” Lelaki bermata sipit itu menatap raut wajah perempuan berparas ayu di depannya, menunggu respons. Namun, perempuan itu tetap bungkam, seolah-olah ingin mendengarkan penjelasannya lebih lanjut. “Setelah lo ngasih tahu kalau lo pacaran sama Bang Wisnu, dunia gue hancur saat itu juga, Lit. Padahal, rencananya gue mau menyatakan perasaan ke lo setelah kita wisuda. Tapi, ternyata gue ditikung sama kakak sepupu gue sendiri. Setelah itu, gue berharap hubungan kalian enggak berjalan lancar. Tapi, harapan tinggal harapan. Lo malah kasih kabar kalau akan menikah sama Bang Wisnu. Hati gue sakit, Lit. Hati gue sakit banget waktu denger kabar itu. Apa lo enggak sadar atau pura-pura b**o? “Apalagi, setelah menjalin hubungan sama Bang Wisnu, lo lebih banyak menghabiskan waktu sama dia. Bahkan, lo enggak punya waktu buat gue, meski sekadar nongkrong bareng. Lo sengaja jauhin gue buat menjaga perasaan Bang Wisnu, ‘kan?” tanyanya retoris. “Akhirnya, rasa sakit itulah yang buat gue pergi ke Singapur. Gue enggak mau tersiksa lihat kebahagiaan lo sama abang sepupu gue.”  “Lit, apa ... dulu lo juga menyimpan perasaan yang sama seperti gue, meskipun hanya sedikit?” Deg. Tubuh Pelita seketika. Kepalanya merunduk dalam dengan jari jemari yang saling bertaut. Dia tidak menyangka jika Baskara akan melontarkan pertanyaan itu. Pun, tak menyangka jika lelaki itu menyimpan perasaan yang sama sepertinya. Selama ini, dia juga tak berani mengungkapkan perasaan karena mengira kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun, semua sudah terlambat. Sekarang sudah tidak ada harapan lagi untuknya. Dia tidak pantas menerima pernyataan cinta Baskara, mengingat apa yang telah dilakukannya lima tahun lalu. “Kalaupun aku jawab ‘iya’ itu enggak akan mengubah keadaan, Bas. Kita juga enggak bisa bersama. Udah terlambat untuk mengungkapkan perasaan kita masing-masing.” “Kata siapa? Gue bisa nikahin lo setelah lo cerai sama Bang Wisnu. Enggak ada yang enggak mungkin di dunia ini asal kita mau berusaha, Lit,” ucap Baskara, tetap kukuh dengan pendiriannya. “Kamu mau berusaha untuk apa, Bas? Aku enggak pantas buat kamu. Lagi pula, aku ini akan menjadi janda beranak satu. Kalaupun menikah lagi, aku enggak akan mungkin menikahi laki-laki yang masih sedarah dengan Mas Wisnu, laki-laki yang sudah menyakitiku sedemikian rupa.” “Lo enggak percaya sama gue, Lit? Gue beda sama Bang Wisnu. Gue enggak mungkin nyakitin lo kayak dia.” “Maaf, Bas. Aku emang enggak bisa nerima kamu. Kamu pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku. Maaf, aku enggak bisa meneruskan obrolan ini. Aku pulang dulu. Kasihan umiku harus menjaga Aruna terlalu lama. Assalamu’alaikum.” Pelita mengangkat pantatnya dari kursi, kemudian gegas berlari ke luar kafe. Meskipun hujan mulai turun, tetapi tak menyurutkan niatnya untuk melarikan diri dari Baskara. Untuk saat ini. Ya, hanya untuk saat ini dia masih belum percaya diri membicarakan masa depan dengan lelaki itu. Dia menaruh tas di atas kepala untuk melindungi diri dari derasnya hujan, lantas masuk taksi yang kebetulan menurunkan penumpang tak jauh dari kafe. Mengabaikan seruan Baskara yang terus memanggil namanya. Hanya ungkapan maaf yang bisa digumamkannya saat ini. “Pelita! Lita!” Baskara berlari mengejar Pelita setelah dilanda kegamangan. Sayangnya, dia terlambat karena taksi yang ditumpangi perempuan itu sudah melesat pergi. Dia terdiam, membiarkan hujan mengguyur tubuhnya. Tak dia hiraukan dingin yang mulai merunjam tulang. Pun, tak memedulikan tatapan heran yang dilayangkan orang-orang sekitar. Netra cokelatnya terpaku menatap nanar taksi yang ditumpangi Pelita semakin menjauh, kemudian menghilang dari pandangan. “Apa itu artinya ... dia nolak gue?” tanyanya pada diri sendiri. Beberapa jenak, lelaki itu mendongak ketika tak lagi merasakan air mendirus tubuhnya dan mendapati sebuah payung biru berukuran sedang dengan motif bunga-bunga berada di atas kepala. Baskara menurunkan pandangan, menatap perempuan yang berdiri di sampingnya sambil memegang gagang payung. “Pak Kara?” Binar termangu saat manik matanya berserobok dengan pupil cokelat Baskara, seolah-olah tenggelam dalam tatapan sendu yang menyayat hati itu. Tatapan yang biasanya sedingin kutub itu, kini terlihat sendu, sarat kekecewaan dan kemarahan. Mencabik sisi lemah seorang Binar. “Ya ampun, kenapa tatapannya yang biasanya dingin jadi sendu gini, sih? Aku jadi kasihan sama dia. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan sampai Pak Kara sesedih ini?” Andai dia memiliki keberanian untuk bertanya, mungkin pertanyaan yang sedari tadi tertahan di ujung lidah sudah terlontar dari mulutnya. Perempuan itu masih membeku di tempat. Tangan kanannya menggenggam erat gagang payung. Dia semakin dalam menyelami mata sipit dengan tatapan sendu yang berhasil menggetarkan hatinya. Bahkan, dia baru sadar jika Baskara terlihat sangat menawan. Alis tebal, mata sipit berpupil cokelat, hidung sedikit mancung, bibir tipis, serta rahang yang kukuh itu mampu membuat siapa pun terkagum-kagum. “Ngapain kamu ke sini? Kamu menguntit saya?” Suara berat sarat akan intimidasi itu membuat Binar gelagapan dan langsung memutus tatapan dengan membuang muka ke arah lain. Baru saja dia terpikat oleh tatapan sang atasan yang begitu meneduhkan. Namun, tatapan itu kembali dingin dan tajam, seolah-olah tengah mengintimidasinya. “Ah, enggak, kok, Pak. Saya tadi ke sini nongkrong sama teman-teman untuk melepas penat. Saya enggak ada maksud menguntit Bapak. Terus, waktu mau pulang, saya lihat Bapak hujan-hujan karena ngejar cewek. Jadi, saya berinisiatif untuk memberi payung ini. Bapak pakai saja payungnya. Saya punya satu lagi di mobil.” Baskara mendongak, menatap payung yang saat ini melindunginya dari guyuran hujan. Pandangannya kemudian teralih pada tangan kiri Binar yang tampak kosong, tak membawa apa pun. “Kamu enggak bawa payung satunya? Terus, nanti kamu ke mobil gimana?” Binar menepuk jidat pelan, sadar akan kebodohannya. “Oh, ya. Kenapa aku bisa lupa gini, sih?” gumamnya, merutuki diri sendiri. Meskipun bergumam, Baskara bisa mendengar perkataan Binar dengan jelas. Lelaki itu mengembuskan napas berat. Tidak adik, tidak kakak, sama-sama membuatnya frustrasi. “Kamu bawa aja. Saya enggak butuh belas kasihan kamu.” Laki-laki berperawakan tinggi itu meninggalkan Binar begitu saja setelah mengatakan kalimat bernada dingin tersebut. “Pak! Pak Kara! Saya ‘kan bisa antar Bapak sampai mobil!” pekiknya sambil menyusul langkah lebar Baskara. Namun, lelaki itu tak menggubris sama sekali dan tetap berjalan ke arah mobilnya dengan tubuh basah kuyup. Akhirnya, Binar berhenti mengejar Baskara dan hanya mencebik kesal. Kesal pada diri sendiri karena baru memikirkan solusi tadi. Kenapa otaknya begitu lambat bekerja ketika berhadapan dengan lelaki bernetra cokelat itu? “Pak Kara sama Mbak Lita ada hubungan apa, ya? Kayaknya, bukan cuma sekadar teman kuliah,” Binar bergumam sambil memandang punggung tegap Baskara yang kian menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD