Bagian 15

1298 Words
“Kalian pasti bosen banget, ‘kan, karena dari pagi dapat materi terus? Nah, saya mau mengadakan ice breaking, nih. Setujuuu?!” Seorang perempuan bertubuh semampai dalam balutan kemeja batik dan rok span hitam selutut tengah menguasai panggung di depan sana. Suara yang lantang dan pembawaannya yang ceria membuat semua pasang mata tertuju padanya. Serentak, peserta pelatihan menjawab pertanyaan perempuan itu dengan suara yang tak kalah lantang hingga menggelegar ke seluruh penjuru ruang pertemuan berukuran 17x8 meter dengan gaya teater itu Perempuan berambut bob itu tersenyum semringah melihat antusias peserta pelatihan. Nyatanya, meskipun umur mereka rata-rata dua puluh tahun ke atas, tetapi sikapnya seperti anak sekolah yang sangat senang ketika diberi permainan di tengah-tengah pelajaran. “Nama permainannya, yaitu Tujuh Dor. Cara mainnya mudah sekali. Jadi, peserta harus berhitung secara berurutan dari pojok kanan depan. Setiap peserta yang kebagian kelipatan 7—7, 14, 21, 28, dan seterusnya—harus meneriakkan kata ‘dor!’. Kalau salah, siap-siap dihukum joget di depan, ya. Sudah siap semuanyaaa?” “Siaaap!” Binar yang berdiri di belakang untuk mengawasi jalannya pelatihan memberi aba-aba pada sang pemateri bahwa waktu kurang tiga puluh menit lagi. Selagi memperhatikan para peserta melakukan ice breaking, dia berkomunikasi dengan Raymon dan Ayu yang ada di ruangan lain melalui protofon. Karena banyaknya karyawan, peserta pelatihan dibagi menjadi tiga kelompok yang ditempatkan di ruangan berbeda-beda. Ruang satu diawasi Baskara dan Binar, ruang dua diawasi Raymon dan Nadia, sedangkan ruang tiga diawasi oleh Ayu dan Puput. “Makan malam sudah siap, ‘kan?” Suara serak nan tegas itu sedikit membuat Binar tersentak. Kepalanya berpaling ke samping dan mendapati lelaki yang menjadi partnernya sejak tadi pagi. “Sudah, Pak.” Binar menggerakkan protofon yang dipegangnya, seakan-akan tengah menunjukkan pada lelaki itu. “Baru aja Mbak Ayu ngabarin.” Baskara hanya mengangguk-angguk sebagai respons. Tubuhnya berbalik, hendak kembali ke tempat semula. Namun, suara lembut milik Binar menghentikan niatnya.  “Bapak sakit? Wajah Bapak pucet banget.” Mata Binar menyipit, menilik wajah lawan bicaranya yang terlihat pucat pasi. “Enggak pa-pa, kok.” Kepalanya menggeleng lemah. “Mungkin, demam biasa karena kehujanan kemarin.” “Kalau gitu, Bapak istirahat aja di kamar. Lagi pula, pelatihannya juga mau selesai, tinggal makan malam aja.” “Enggak—ah.” Baskara memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Matanya memicing, berusaha mengurangi rasa denyutan yang menyelar. Alih-alih berkurang, denyutan itu semakin mencengkeram kuat, membuat tubuh kukuhnya hampir ambruk. Untung saja, Binar dengan sigap menangkap tubuhnya. “Tuh, ‘kan, Bapak ngeyel banget, sih, jadi orang. Kalau Bapak ambruk di sini, siapa yang bakal nolong?” Pelita mengomel dengan suara rendah, setengah berbisik, agar tak menjadi pusat perhatian. Lelaki jangkung itu melepaskan pegangan Binar sambil melayangkan tatapan dingin, merasa risi karena mendengar omelan bawahannya. Diberi tatapan seperti itu, Binar langsung menutup bibir rapat-rapat, lantas memalingkan pandangan ke arah lain. “Ma-maaf, Pak,” ujarnya lirih sambil memberanikan diri menatap kembali sang lawan bicara. “Sudah saya bilang, ‘kan, lebih baik Bapak istirahat dulu. Biar nanti saya bicara sama Pak Ray untuk menggantikan tugas Bapak sebentar. Saya antar ke kamar, ya, Pak.” Niat hati ingin bertahan sampai pelatihan selesai karena sebagai manajer Departemen SDM, dia yang memegang kendali dan memastikan pelatihan karyawan tahun ini bisa berjalan lancar tanpa hambatan. Namun, ternyata tubuhnya tak bisa berkompromi lebih lama lagi. Baskara menggeleng, menolak tawaran Binar secara halus. “Enggak perlu. Kamu di sini aja. Saya bisa sendiri. Jangan lupa kasih tahu Raymon.” “Iya, Pak.” *** Jari jemari Umi Maira bergerak lihai menata berbagai macam kue di etalase. Namun,  aktivitasnya terhenti saat mendengar deru mesin mobil yang kemudian berhenti tepat di samping toko. Penasaran, kaki gempalnya pun melangkah ke luar melalui pintu belakang toko. Matanya langsung terbelalak saat mendapati seorang lelaki bertubuh jangkung dengan setelan kemeja abu-abu dan celana kain hitam keluar dari BMW merah. Wanita bertubuh gempal itu bergegas menghampiri si lelaki dengan langkah lebar-lebar. “Mau apa kamu ke sini? Belum puas kamu nyakitin putriku?” pekiknya sembari mendorong d**a bidang Wisnu. “Pergi! Pergi dari rumahku! Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi!” “Umi, tolong izinkan saya menemui Lita dan Aruna. Saya mohon, Mi.” Laki-laki itu berpinta pada Umi Maira dengan memasang wajah melas. “Saya akan jelaskan semuanya, Mi.”  “Andai saja aku tahu kamu akan menyakiti Lita, aku enggak akan pernah mengizinkanmu menikahinya. Aku nyesel menyerahkan Lita sama kamu, Wisnu. Kalau kamu cuma mau menyakiti putri saya, lebih baik ceraikan dia. Tinggalkan dia!” Kekecewaan dan kemarahan terlihat jelas dari sorot mata Umi Maira. Tentu saja. Ibu mana yang tak kecewa dan marah mendapati kenyataan kalau putri yang mereka lahirkan dan besarkan dengan susah payah disakiti sedemikian rupa oleh makhluk bernama laki-laki? “Mas Wisnu?” Refleks, pandangan mereka tertuju pada seorang wanita berkerudung kuning kunyit yang saat ini berdiri di teras rumah. Wanita itu berjalan pelan dengan tatapan lurus yang masih tertuju pada Wisnu. “Ngapain kamu ke sini, Mas?” tanyanya dengan suara parau.  Wisnu menghampiri sang istri dan meraih tangan kanannya untuk digenggam. Akan tetapi, Pelita langsung menangkis, seakan-akan merasa jijik disentuh olehnya. Kendati merasa kecewa, lelaki itu tetap berusaha membujuk. “Lita, aku mohon dengerin penjelasanku dulu.” “Apa lagi yang perlu dijelaskan, Mas? Semuanya udah jelas. Kamu lebih memilih wanita itu daripada aku dan Aruna, ‘kan?” “Bukan begitu, Lit. Waktu itu ... waktu itu, aku cuma ragu aja. Aku selalu nelepon untuk menjelaskan semuanya, tapi kamu selalu menolak semua panggilanku.” Lelaki itu kembali meraih tangan Pelita. Senyum tipis terpatri di bibirnya kala sang istri tak menolak kali ini. “Sejujurnya, aku masih cinta sama kamu, Lit. Aku enggak mau kehilangan kamu dan Aruna. Aku mohon, beri satu kesempatan lagi untukku. Aku akan meninggalkan dia demi kalian.” “Enggak bisa, Mas.” Pelita melepaskan genggaman lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu secara paksa. “Hatiku udah telanjur sakit. Aku enggak bisa mempertahankan pernikahan kita. Bukan tidak mungkin kalau kamu akan melakukan hal serupa di kemudian hari.” “Lita, ini demi Aruna. Kalau kita berpisah, Aruna akan kehilangan salah satu figur orang tuanya. Aku enggak mau dia jadi korban karena keegoisan kita.” “Kita?” Perempuan berkerudung kuning kunyit itu mencicit. Senyum sinis tersungging di bibirnya. “Kamu yang egois, Mas. Kamu yang selingkuh tanpa memikirkan perasaanku dan Aruna!” “Papaaa!” Seorang gadis kecil berkucir satu berlari sembari merentangkan tangan lebar-lebar dan menghambur ke dalam pelukan sang papa. Tangannya melingkar kuat di leher Wisnu, seakan-akan tak ingin melepasnya. “Luna kangen sama Papa. Luna pengin dibacain dongeng sama Papa. Papa kapan bawa Luna sama mama pulang? Luna janji enggak akan nakal lagi, Pa.” Mata bulatnya mulai berkaca-kaca. Dalam sekali kedip, bulir bening itu akan luruh membasahi pipi. Wisnu menumpukan dagu di pundak Aruna. Tangannya bergerak lembut membelai rambut sang putri. Dia memicingkan mata sejenak, berusaha meredam sesak yang memenuhi d**a. “Maafin papa, ya, Sayang. Untuk saat ini, papa masih belum bisa membawa kamu,” ujarnya penuh penyesalan. Jika tahu akhirnya begini, dia tidak mau menuruti nafsu sesaat. “Aruna, ayo, Nak.” Pelita berusaha melepaskan pelukan Aruna. Namun, gadis kecil itu semakin mempererat rangkulannya. Tangis Aruna pecah seketika, membuat pertahanan yang dibangun Pelita sejak tadi runtuh dalam sekejap mata. Hatinya sangat sakit, serasa dihunjam ribuan kerikil saat mendengar suara tangis sang putri yang begitu memilukan. “Ayo, kita masuk, Runa.” Aruna menggeleng kuat-kuat. “Enggak mau! Luna mau sama papa. Luna enggak mau pisah sama papa lagi,” ucapnya di sela isak tangis. Melihat itu, baik Pelita maupun Umi Maira hanya bisa diam sambil menahan sedu sedan. Juga, nyeri yang menjalar ke seluruh hati. Ingin memisahkan, tetapi tak tega. Anak sekecil itu harus dipaksa mengerti keadaan orang tuanya. “Maafkan Mama, Nak,” sesal Pelita di dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD