Binar keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk. Tubuh rampingnya sudah terbungkus piama merah berbahan satin, bersiap-siap tidur. Dia melangkah menuju ranjang, mengempaskan diri ke atas kasur, selagi napas lega terembus dari hidung. Seharian mengurus pelatihan karyawan membuat seluruh tubuhnya remuk redam. Ini kesempatannya untuk memanjakan diri sendiri sebelum kembali beraktivitas keesokan hari.
Netra berpupil hitam itu melirik ranjang single yang bersisian dengan ranjangnya, mencari keberadaan Nadia yang belum juga kelihatan batang hidungnya setelah makan malam bersama tadi. Binar memang kebagian sekamar dengan Nadia, sedangkan Puput dengan Ayu, dan Baskara dengan Raymon. Mereka harus menginap selama dua hari satu malam untuk mempersiapkan pelatihan yang masih berlanjut esok hari.
Mengabaikan hal tersebut, Binar pun bersiap untuk tidur. Kelopak matanya terasa berat, minta untuk segera dipejamkan. Setelah menyetel alarm dan meletakkan ponsel di atas nakas samping ranjang, perempuan itu menarik selimut hingga sebatas perut. Namun, matanya yang hampir memejam langsung terbuka kembali saat mendengar derit pintu yang terbuka. Menampakkan seorang gadis berkerudung abu-abu yang masih mengenakan kemeja putih dan rok panjang hitam—setelan sejak pagi tadi.
“Nad, dari mana aja kamu?” tanyanya sembari mengubah posisi menjadi duduk.
“Nar, aku minta tolong, boleh?” Alih-alih menjawab pertanyaan Binar, perempuan berkerudung itu justru melemparkan pertanyaan kembali.
Raut wajah penuh kekhawatiran itu berhasil ditangkap oleh netra Binar. Tanpa sadar, kepalanya mengangguk, mengiakan permintaan Nadia. Mengabaikan rencana sebelumnya—tidur lebih awal. “Minta tolong apa, Nad?” tanyanya sambil menyibak selimut.
Nadia duduk di sisi ranjang Binar, lantas menyerahkan nampan yang di atasnya sudah ada semangkuk bubur ayam, segelas air mineral, dua tablet pil, dan termometer. “Tadi, Pak Kara minta aku buat beli bubur sama obat dan disuruh anter ke kamarnya. Aku ada urusan mendadak, Nar. Dia tadi nelepon dan kasih kabar kalau terlibat kecelakaan kecil waktu pulang.”
Dahi Binar mengernyit. Tak paham ‘dia’ yang dimaksud rekan kerjanya itu. Kendatipun demikian, dia tetap menerima nampan tersebut sembari menunggu respons dari perempuan di depannya.
Mengerti dengan kebingungan Binar, Nadia pun langsung menyahut lirih, “Karyawan baru.”
“Oh.” Binar ber-oh ria sambil menganggut-anggut.
“Aku minta tolong, ya, Nar.” Nadia menggenggam tangan kanan Binar sambil menatap perempuan itu penuh harap agar rekan kerjanya itu luluh dan mau membantu. Pasalnya, dia tidak bisa mengabaikan permintaan atasannya. Namun, di sisi lain, ada seseorang yang membutuhkan bantuannya juga, bahkan keadaan orang itu lebih mendesak.
“Hm. Kamu tenang aja. Biar aku yang urus ini.”
“Makasih, ya, Nar.” Perempuan berwajah bulat itu tersenyum semringah, kemudian menghambur ke dalam pelukan Binar. “Aku pergi dulu, ya,” pungkasnya, kemudian beranjak pergi setelah mengambil tas selempang di atas nakas.
Sepeninggalan Nadia, Binar masih terdiam di atas ranjang. Keraguan tiba-tiba menyergap, menjalar ke seluruh hatinya. Setelah menimbang-nimbang beberapa jenak, perempuan itu akhirnya beranjak dari ranjang. Menyisir rambut yang masih basah, mengambil key card di atas meja, kemudian keluar kamar seraya membawa nampan tadi dan berjalan menuju kamar Baskara yang kebetulan letaknya berhadapan-hadapan dengan kamarnya.
Saat akan memencet bel, tiba-tiba seseorang membuka pintu dari dalam, membuatnya sedikit terlonjak. Untung saja, nampan yang dia bawa masih aman. Setidaknya, Binar bisa bernapas lega. Selepas mengatur napas dan detak jantung yang bertalu-talu, kepalanya mendengak untuk melihat siapa gerangan.
“Bang Ray?” Binar tertegun. Bukan karena siapa yang berdiri di ambang pintu, melainkan karena raut wajah orang itu yang terlihat sangat cemas. “Abang mau ke mana?” tanyanya seraya memindai penampilan Raymon yang terbilang rapi dengan setelan celana jogger hitam dan kaus polo merah.
“Tadi pihak rumah sakit telepon. Kata mereka, kondisi mama kritis, Nar. Aku harus pergi ke rumah sakit dan kemungkinan baru balik besok pagi Tolong izinin ke Pak Kara, ya. Dia masih istirahat soalnya. Aku takut ganggu kalau bangunin dia cuma mau minta izin.”
“Iya, Bang. Semoga kondisi Tante segera membaik.”
“Semoga. Makasih, Nar.” Selepas mengatakan itu, Raymon langsung pergi dengan langkah tergesa-gesa. Air mukanya yang menyiratkan kecemasan masih terlihat sangat jelas. Tentu saja, anak mana yang tidak khawatir mendapat kabar kalau salah satu orang tuanya dalam keadaan kritis?
Netra berpupil hitam legam itu menatap punggung tegap Raymon yang terus menjauh, kemudian menghilang di balik pintu lift. Selepas memastikan Raymon pergi, Binar masuk ke kamar Baskara. Untungnya, pintu kamar belum ditutup sehingga dia tidak perlu membangunkan sang atasan hanya untuk membukakannya pintu.
Nampan yang tadi dia bawa diletakkannya di atas nakas samping ranjang. Lantas, matanya mengedar ke penjuru kamar. Kamar Baskara dan Raymon tak jauh berbeda dengan kamar yang ditempatinya. Kamar seluas 27 m2 itu dilengkapi twin bed, dua nakas di sebelah kanan-kiri ranjang, satu televisi menggantung di dinding, satu meja panjang dan kursi yang terletak di bawah televisi, dan kamar mandi di sudut kamar.
Tatapan Binar kemudian beralih pada seorang lelaki yang terkelempai di atas ranjang. Tanpa sadar, kakinya melangkah, mendekati ranjang, lantas duduk di bibir ranjang. Diamatinya wajah pucat Baskara lekat-lekat. Lelaki itu tampak menggigil dengan gigi bergemeletuk. Bahkan, keringat dingin mulai membanjiri wajah tampannya, padahal kamar tersebut dilengkapi dengan pendingin ruangan.
Gegas, Binar mengambil termometer digital yang sudah disiapkan Nadia tadi, kemudian menyelipkannya di bibir Baskara yang pucat kesi.
Bunyi ‘bip’ terdengar beberapa jenak kemudian. Dia langsung mengambil termometer tersebut untuk mengecek suhu. Betapa terkejutnya perempuan itu saat melihat angka yang tertera di termometer. “Empat puluh derajat?” Netranya yang masih terbeliak berpaling menatap Baskara. “Pak Kara, saya sudah bawakan bubur dan obat. Setelah makan nanti, jangan lupa minum obat, ya.”
“Lita ....”
Pergerakan Binar yang akan beranjak terhenti saat telinganya menangkap suara lirih Baskara. Dia kembali menaruh pantatnya di sisi ranjang. Menatap dalam wajah lelaki yang masih memejamkan mata itu.
“Jangan tinggalin aku ....”
“Sepertinya, Pak Kara berhalusinasi,” gumamnya. Binar tak terlalu merisaukannya karena hal tersebut sering terjadi. Dia pernah membaca sebuah artikel yang menjelaskan kalau seseorang bisa berhalusinasi ketika mengalami demam tinggi. Meskipun biasanya halusinasi itu terjadi pada anak-anak atau lansia, tetapi tak menutup kemungkinan juga terjadi pada orang dewasa.
Perempuan berpiama merah itu menjulurkan tangan, hendak mengusap keringat yang membanjiri dahi Baskara. Namun, sebuah tangan kukuh menahan pergerakannya hingga membuat dia tersentak.
“Pa-pak Ka-ra?”
Perlahan, kelopak mata Baskara terbuka. Mengerjap sejenak untuk membiasakan retina dengan cahaya sekitar. Objek yang pertama kali dia lihat adalah wajah rupawan seorang perempuan yang hingga saat ini masih bertakhta di salah satu sudut hatinya. Bibir pucatnya menyunggingkan senyum tipis, kemudian bergerak perlahan, seolah-olah akan mengatakan sesuatu. “Li-lita? Ka-kamu ada di sini?”
Kendatipun banyak yang mengatakan Binar dan sang kakak mirip, tetapi ada beberapa yang membedakan mereka, seperti bentuk dagu. Binar memiliki bulat, sedangkan Pelita memiliki dagu panjang. Pun, Binar tak berjilbab seperti sang kakak.
“Ini saya, Binar, Pak, bukan—”
Belum sempat Binar menyelesaikan kalimat, Baskara sudah menangkup pipinya dan mengecup bibirnya dengan lembut. Secepat kilat, tubuh perempuan itu sudah terhempas ke atas kasur dan ditindihi oleh tubuh besar sang atasan. Alarm bahaya mulai berdengung di kepala, membuat perempuan itu segera mendorong d**a Baskara. Akan tetapi, lelaki itu langsung mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan meletakkan di atas kepala.
Tatapan lelaki itu penuh dengan kemarahan dan hasrat yang menggebu-gebu. “Kamu mau ninggalin aku lagi, Lit?” tanyanya dengan suara parau dan lirih. Bersamaan dengan itu, tatapannya terlihat sendu, seolah-olah tengah menyimpan ribuan luka.
“Pa-pak Kara,” ucap Binar tersendat-sendat. Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan. Bersamaan dengan itu, panas menjalar ke seluruh tubuh. Dia merasa gerah, meski kamar itu sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan. “I-ini saya—”
Baskara langsung membungkam bibir Binar dengan bibirnya. Namun, perempuan itu merapatkan bibir seraya membuang wajah ke arah lain. Tak kehabisan akal, Baskara langsung menggigit kecil bibir Binar, kemudian melumatnya dengan lembut, tetapi terkesan menuntut.
Sebulir cairan menggantung di sudut mata Binar. Dia ingin berteriak sekencang mungkin. Akan tetapi, suaranya tertahan di ujung lidah karena Baskara terus menyumpal dan melumat bibirnya dengan ganas.
Perlahan-lahan, laki-laki jangkung itu melepas kancing piama Binar dengan tangan kanan, sementara tangan lainnya masih mencengkeram kedua pergelangan tangan Binar untuk mengunci pergerakannya. Gerakan Baskara semakin liar diiringi dengan desahan yang keluar dari mulutnya.
Bersamaan dengan itu, pertahanan Binar runtuh. Cairan bening yang sedari tadi menggenang di pelupuk, kini jatuh membasahi bantal. Isakan perempuan itu teredam lenguhan Baskara yang terus-menerus mencecap setiap jengkal tubuhnya, membuat dia semakin jijik dengan diri sendiri.
Entah sejak kapan, Baskara sudah melepas celana yang digunakannya sejak tadi. Lantas, tanpa menunggu lebih lama lagi, lelaki bermanik hitam itu menyatukan tubuh mereka, menghunjam kehormatan yang berusaha dilindungi Binar ‘tuk suaminya kelak.
Tangis Binar semakin kencang, menggelegar di seluruh penjuru kamar. Hal itu membuat Baskara menghentikan aktivitas liarnya. Dia terdiam dengan napas terengah-engah, menatap lekat wanita di bawahnya yang sudah banjir air mata. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha memastikan sesuatu.
Sedetik kemudian, bola matanya melebar, terkejut bukan main karena salah mengira. Rasa bersalah mulai berjejal-jejal memenuhi ruang hatinya. Sempat berniat berhenti. Namun, hasrat di dalam tubuhnya semakin menggelegak, menuntut untuk dipuaskan. Bisikan-bisikan setan mulai menggerayangi telinga, menggodanya agar terus melanjutkan.
Kepalang tanggung, pikirnya.
“Maaf,” Baskara bergumam sebelum melanjutkan aksi bejatnya, menggagahi dan mencumbui wanita tak berdosa yang menjadi korban nafsu itu. Dia tak memikirkan apa pun, selain berusaha mencapai kepuasan. Nafsu berahi telah mengambil alih akal sehatnya.
Saat berhasil mencapai puncak kenikmatan, hanya ada satu nama yang terbayang dalam benak kepalanya dan meneriakkan nama itu tanpa memikirkan perasaan wanita yang telah dia renggut kesuciannya.
“Litaaa!”
Warning: Bagian 17 berada setelah bagian Bagian 20 (jadi langsung loncat aja, ya.)