Pukul 03.15 WIB. Alarm di penthouse mewah Arkan di kawasan Mega Kuningan berbunyi dengan nada yang tidak sopan. Arkan mengerang, meraba nakas marmernya, dan mematikan ponselnya. Biasanya, ia baru akan bangun pukul 05.30 untuk melakukan meditasi dan gym sebelum memulai hari sebagai penguasa Dirgantara Group. Namun hari ini, agenda "aset strategis"-nya menuntut pengorbanan yang lebih besar.
Ia bangkit, menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang luasnya setara dengan seluruh luas Warung Nasi Maura. Matanya sedikit merah, tapi ada kilatan antisipasi di sana. Ia memilih pakaian yang paling "merakyat" yang ia miliki: jaket parka tua yang ia beli saat kuliah di London dan celana kargo hitam. Ia bahkan sengaja tidak menata rambutnya dengan pomade.
"Suryo, tidak perlu antar saya. Saya akan bawa mobil sendiri," ucap Arkan melalui interkom.
"Tapi Pak, jam segini pasar induk sangat... dinamis," suara Suryo terdengar khawatir.
"Saya tahu. Itu poinnya," jawab Arkan singkat.
Kekacauan di Pasar Induk
Arkan tiba di titik pertemuan—sebuah gerbang pasar yang becek dan riuh oleh suara mesin truk engkel—tepat pukul 04.00. Ia melihat sosok Maura berdiri di dekat tiang listrik, mengenakan jaket denim pudar dan celana jins yang ujungnya dilipat. Rambutnya dikuncir kuda asal-asalan, tapi di mata Arkan, ia tampak lebih bercahaya daripada lampu merkuri pasar yang berkedip-kedip.
"Kamu beneran datang? Saya pikir CEO macam kamu bakal pencet tombol snooze sepuluh kali," sapa Maura saat Arkan turun dari mobilnya.
"Saya selalu tepat waktu, Maura. Itu kunci sukses bisnis," jawab Arkan, berusaha terlihat tangguh meski sepatunya baru saja menginjak genangan air berwarna hitam yang mencurigakan.
"Bisnis kita pagi ini adalah mendapatkan cabai merah keriting kualitas super dengan harga di bawah pasar. Ikuti saya, dan tolong... jangan pasang muka kayak mau beli saham. Santai sedikit," Maura menarik lengan jaket Arkan, membawanya masuk ke dalam labirin pasar.
Suasananya brutal. Kuli panggul berlarian dengan karung-karung raksasa di punggung mereka, berteriak "Awas! Awas!" setiap beberapa detik. Bau bawang putih, ikan asin, dan asap knalpot bercampur menjadi satu.
"Arkan! Pegang ini!" Maura menyodorkan dua plastik besar berisi tomat yang baru saja ia beli.
Arkan menerimanya dengan canggung. Tak lama kemudian, ia sudah memikul karung kecil berisi bawang merah di bahu kirinya dan menjinjing kantong cabai di tangan kanannya. Tangannya yang biasa memegang pulpen Montblanc kini terasa perih karena gesekan plastik.
"Kenapa kita tidak beli di supermarket saja? Saya bisa minta orang saya mengirimkannya ke warungmu setiap pagi," tanya Arkan, sedikit terengah-engah.
Maura berhenti di depan lapak tukang daging. Ia berbalik dan menatap Arkan dengan serius. "Di sini, saya bisa memilih sendiri mana yang segar. Saya bicara dengan penjualnya, saya tahu siapa yang jujur dan siapa yang tidak. Hubungan manusia, Arkan. Itu yang tidak ada di layar komputermu."
Saat itulah, ponsel Arkan di saku celananya bergetar hebat. Ia terpaksa meletakkan belanjaan di atas bangku kayu yang kotor untuk mengangkat telepon.
"Ya, Tania? Kenapa?" suara Arkan berubah menjadi dingin dan otoriter.
"Pak, maaf mengganggu sepagi ini. Bursa saham London baru saja ditutup dan ada sentimen negatif terkait mitra kita di sana. Direksi meminta rapat darurat pukul tujuh pagi ini lewat Zoom. Mereka butuh keputusan Bapak sekarang terkait opsi buyback."
Arkan melirik Maura yang sedang sibuk menawar daging sapi dengan sengit. Di satu sisi, ada keputusan triliunan rupiah yang menanti. Di sisi lain, ada seorang wanita yang sedang memperjuangkan harga potongan daging demi sepiring nasi tiga puluh ribu rupiah.
"Siapkan bahannya. Saya akan bergabung dari mobil dalam sepuluh menit. Kirim datanya ke tablet saya," perintah Arkan. Ia menutup telepon dan menatap Maura. "Maura, saya harus melakukan satu urusan mendesak. Bisakah kita percepat?"
Maura melihat guratan lelah dan ketegangan di wajah Arkan. Ia menyadari sesuatu: pria ini tidak benar-benar sedang bermain-main. Ia sungguh mencoba membagi dunianya yang rumit dengan dunianya yang sederhana.
"Oke, satu lapak lagi. Setelah itu kita pulang," ujar Maura lembut, kali ini tanpa nada mengejek.
CEO di Antara Karung Bawang
Sepuluh menit kemudian, Arkan duduk di kursi pengemudi mobilnya yang terparkir di pinggir jalan pasar yang sempit. Tabletnya terpasang di dasbor, menampilkan grafik-grafik merah yang menunjukkan penurunan nilai saham. Di kursi belakang, aromanya sangat kontras: bau daging sapi segar dan bawang merah memenuhi kabin mobil mewah itu.
Maura duduk di kursi penumpang, diam memperhatikan. Ia melihat Arkan mengenakan earpiece dan mulai berbicara dalam bahasa Inggris yang sangat lancar, tajam, dan tanpa kompromi.
"No, I don't care about the short-term volatility. Execute the buyback at the support level. Tell the London team if they can't handle the pressure, I'll find someone who can," suara Arkan menggelegar di ruang sempit itu.
Maura terpaku. Pria yang baru saja kesulitan membawa karung bawang itu kini terlihat seperti predator puncak yang sedang mengendalikan badai di benua lain. Ada aura kekuasaan yang tak terbantahkan, namun juga ada beban berat yang terlihat di pundaknya.
Setelah tiga puluh menit perdebatan sengit, Arkan menghela napas panjang dan mematikan sambungan. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi, memejamkan mata sejenak.
"Selesai?" tanya Maura pelan.
"Untuk sementara," jawab Arkan tanpa membuka mata. "Maaf, duniamu harus tercemar oleh urusan membosankan itu."
"Membosankan? Kamu baru saja menyelamatkan ribuan pekerjaan orang lewat satu telepon, kan?" Maura tersenyum kecil. "Ternyata kamu lebih hebat daripada yang saya kira, Arkan. Meskipun cara kamu membungkus nasi masih payah."
Arkan membuka matanya dan menoleh ke arah Maura. Senyum wanita itu adalah obat penawar paling ampuh untuk stresnya pagi itu. "Setidaknya saya sudah bisa membedakan mana jahe dan mana lengkuas hari ini."
Ritual di Warung: Antara Saham dan Sambal
Sesampainya di warung, kesibukan belum berakhir. Arkan membantu menurunkan belanjaan, lalu ia duduk di sudut warung dengan laptop terbuka di depan sepiring nasi uduk hangat yang disiapkan Maura.
Pemandangan itu sungguh surealis. Arkan mengetik laporan analisis pasar sambil sesekali menyuapkan nasi uduk dengan tangan kanan. Di sekelilingnya, pelanggan pagi—tukang sampah, anak sekolah, dan satpam kompleks—mulai berdatangan.
"Pak Arkan, ini draf rilis medianya," suara Tania terdengar dari speaker laptop.
"Tunggu sebentar, Tania. Ada gangguan teknis," ucap Arkan. Gangguan teknis yang dimaksud adalah Maura yang tiba-tiba menaruh piring berisi kerupuk di samping laptopnya.
"Makan yang banyak, Tuan CEO. Otakmu butuh karbohidrat buat lawan orang-orang London itu," bisik Maura sambil mengedipkan sebelah mata.
Arkan tersenyum tipis. "Tania, lanjut. Tapi tolong sampaikan pada tim, jangan ada yang menelepon saya selama tiga puluh menit ke depan. Saya sedang melakukan... audit kualitas pangan."
Tania di seberang sana hanya bisa menghela napas, bertanya-tanya apakah bosnya baru saja diculik oleh sekte kuliner.
Pengakuan di Balik Asap Dapur
Saat matahari mulai meninggi dan jam kantor Arkan seharusnya sudah dimulai, ia masih enggan beranjak. Ia melihat Maura mulai menggoreng bumbu sambal. Asap pedas menyengat memenuhi ruangan, membuat Arkan terbatuk-batuk kecil.
"Kenapa kamu melakukan ini, Arkan?" tanya Maura tiba-tiba dari balik penggorengan. "Kamu bisa saja menyewa koki terbaik dunia untuk memasak untukmu. Kamu bisa membeli seluruh gang ini kalau kamu mau. Kenapa repot-repot bangun subuh dan kena asap sambal?"
Arkan menutup laptopnya. Ia berdiri dan mendekati Maura. Di tengah suara desisan minyak panas, ia menjawab dengan jujur.
"Karena di sini, tidak ada yang peduli berapa nilai saham saya. Di sini, saya bukan 'Pak Arkan si CEO'. Saya cuma pria yang mencoba membuktikan bahwa dia layak mendapatkan perhatianmu."
Maura terdiam, sodetnya berhenti bergerak sejenak. "Perhatian saya nggak semahal itu, Arkan. Cukup jadi orang baik saja."
"Tapi bagi saya, perhatianmu adalah investasi paling berharga yang pernah saya coba dapatkan," Arkan menatap Maura dalam-dalam. "Dan saya tidak keberatan harus bau bawang setiap hari kalau itu artinya saya bisa melihatmu tersenyum seperti tadi di pasar."
Wajah Maura memerah, kali ini bukan karena panas kompor. Ia berbalik, kembali mengaduk sambal dengan lebih cepat. "Dasar tukang gombal kelas atas. Sana berangkat kantor! Bajumu sudah bau terasi!"
Arkan tertawa. Ia merapikan laptopnya, bersiap menuju gedung pencakar langitnya dengan semangat yang berbeda. Ia merasa lebih kuat menghadapi dewan direksi daripada biasanya.
Sebelum keluar, ia mengeluarkan ponselnya untuk mengisi catatan pribadinya.
Log Transformasi Arkan:
Cara Ke-3: Ekspedisi Subuh (Operasi Bawang Merah).
Status: Berhasil secara emosional, menantang secara fisik.
Temuan:
Ternyata melakukan buyback saham triliunan rupiah terasa lebih mudah jika ditemani aroma nasi uduk.
Maura adalah satu-satunya orang yang berani menyuruh CEO Dirgantara Group "makan kerupuk".
Harga diri saya tidak turun hanya karena memikul karung bawang; justru rasanya lebih jantan daripada memegang tongkat golf.
Catatan Penting: Beli parfum baru yang aromanya bisa menutupi bau terasi sebelum masuk ruang rapat direksi.
Arkan masuk ke mobilnya, melihat bayangannya di kaca. Ada sedikit noda kunyit di ujung jarinya. Ia tersenyum. Dunia korporat mungkin kejam, tapi di sebuah gang sempit di Jakarta, ia baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada semua emas di brankas banknya.
"Sampai jumpa besok, Maura," gumamnya, sebelum melesat membelah kemacetan Sudirman.