Kantor pusat Dirgantara Group di Sudirman biasanya merupakan mesin yang berjalan sempurna. Namun hari itu, Arkan tidak bisa fokus pada layar monitor 34 inci di depannya. Di tangannya bukan lagi laporan laba rugi, melainkan sebuah dokumen pemetaan lahan yang baru saja diletakkan Tania di mejanya.
"Proyek Sudirman Green Hub?" tanya Arkan, suaranya rendah dan berbahaya.
"Benar, Pak. Itu proyek konsorsium baru di mana kita memegang sepuluh persen saham. Mereka berencana meratakan area pemukiman di belakang gedung kita untuk dijadikan taman terbuka dan pusat kuliner modern," jelas Tania hati-hati.
Arkan memijat pangkal hidungnya. Area yang dimaksud adalah jantung pertahanan Maura. Gang sempit itu, warung nasi dengan aroma gulai nangka itu, dan senyum Maura yang mulai menghantui tidurnya, semuanya terancam hilang demi beton dan estetika minimalis.
"Siapa pengembang utamanya?"
"Grup Mahardika, Pak. Mereka sudah mulai mengirimkan surat peringatan pertama kepada warga pagi ini."
Arkan berdiri. Ia tidak memakai jasnya. Ia hanya menyambar kunci mobil. "Batalkan pertemuan dengan dewan direksi. Katakan saya sedang melakukan 'penyelamatan aset non-material'."
Kekacauan di Gang Sempit
Saat Arkan tiba di Warung Nasi Maura, suasana jauh dari kata damai. Beberapa pria berbadan tegap dengan seragam safari berdiri di depan warung. Maura berdiri di ambang pintu, tangannya memegang sodet kayu seolah itu adalah pedang, wajahnya pucat namun matanya menyala penuh amarah.
"Saya sudah bilang, tanah ini punya sertifikat yang sah atas nama ibu saya! Kalian tidak bisa seenaknya mengusir kami!" teriak Maura.
"Mbak, ini perintah pembangunan strategis. Kompensasi sudah disiapkan. Jangan mempersulit keadaan," jawab salah satu pria itu dengan nada meremehkan.
Arkan melangkah turun dari mobilnya. Kehadirannya seketika mengubah atmosfer. Aura otoritas yang biasa ia gunakan di ruang rapat kini ia pancarkan di tengah gang becek itu.
"Ada masalah di sini?" suara Arkan membelah keributan.
Para pria bersafari itu menoleh. Salah satu dari mereka mengenali Arkan. "Pak Arkan? Bapak sedang apa di... tempat seperti ini?"
Arkan tidak menjawab mereka. Ia menatap Maura. Wanita itu tampak rapuh untuk pertama kalinya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan tangannya sedikit gemetar. Arkan merasakan dorongan primitif untuk melangkah maju dan menghancurkan siapa pun yang membuat Maura merasa takut.
Namun, ia teringat kata-kata Maura: "Di sini, yang dihargai adalah ketulusan dan kerja keras." Jika ia menggunakan kekuasaan Dirgantara Group secara terang-terangan, ia hanya akan menjadi "tuan tanah" lain di mata Maura.
"Pergi dari sini," ucap Arkan tenang namun dingin kepada para pria itu. "Katakan pada atasan kalian, prosedur sosialisasi kalian cacat hukum. Dan beri tahu mereka, saya sedang mengawasi area ini secara pribadi."
Melihat siapa yang bicara, para pria itu mundur teratur. Mereka tahu berurusan dengan Arkan Dirgantara sama saja dengan mengundang badai finansial.
Cara Ke-4: Melindungi dari Bayang-bayang
Setelah keadaan mereda, Maura terduduk lemas di kursi plastik warungnya. Arkan masuk, mengambil segelas air putih, dan memberikannya pada Maura.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arkan lembut.
Maura meminum air itu, lalu menatap Arkan dengan curiga yang mulai tumbuh. "Kenapa mereka takut padamu, Arkan? Dan bagaimana kamu tahu mereka akan datang hari ini?"
Arkan menarik napas panjang. Inilah saatnya Cara Ke-4: Menjadi Perisai, Bukan Pahlawan.
"Saya tahu tentang proyek itu karena perusahaan saya punya saham kecil di sana," aku Arkan jujur. "Tapi saya di sini bukan sebagai bagian dari mereka, Maura. Saya di sini untuk membantumu berjuang dengan cara yang benar."
"Bantu? Dengan uangmu? Dengan membeli pengembang itu?" Maura tertawa pahit. "Lalu apa bedanya kamu dengan mereka? Hari ini kamu menyelamatkanku, besok kamu yang memiliki hidupku."
"Bukan dengan uang," potong Arkan tegas. "Tapi dengan hukum. Kamu bilang kamu punya sertifikat sah. Saya punya tim hukum terbaik di negeri ini yang bisa bekerja 'pro bono' untuk warga di sini. Saya tidak akan membeli tanahmu, Maura. Saya akan memastikan tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuhnya."
Sepanjang sore itu, Arkan benar-benar melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh para pemegang saham Dirgantara Group. Ia duduk di meja warung yang berminyak, dikelilingi oleh warga gang yang ketakutan—tukang ojek, ibu rumah tangga, dan kuli bangunan.
Arkan membuka laptopnya, menghubungkan mereka lewat video konferensi dengan tim hukum elitnya. Ia menerjemahkan istilah-istilah hukum yang rumit menjadi bahasa yang dimengerti warga. Ia membedah pasal demi pasal tentang hak atas tanah.
Maura memperhatikan dari balik etalase. Ia melihat Arkan, pria yang biasanya bicara tentang triliunan rupiah, kini dengan sabar menjelaskan tentang "hak retensi" kepada Pak RT yang mengenakan sarung. Arkan tidak tampak seperti bos; ia tampak seperti seorang pelindung.
Dilema di Menara Gading
Keesokan harinya, Arkan kembali ke kantornya. Namun, dunianya mulai bertabrakan. Di ruang rapat, CEO Grup Mahardika—pengembang proyek tersebut—duduk dengan wajah merah padam.
"Arkan, apa-apaan ini? Tim hukummu mengirimkan somasi atas proyek kita sendiri? Kamu gila? Ini investasi besar!"
Arkan menyesap kopinya dengan tenang. "Investasi yang dibangun di atas ketidakadilan adalah liabilitas, bukan aset. Prosedur kalian kasar. Kalian mengabaikan hak warga. Sebagai pemegang saham, saya punya hak untuk menghentikan praktik yang bisa merusak reputasi Dirgantara Group."
"Hanya karena sebuah warung nasi? Kamu mempertaruhkan margin keuntungan kita demi warung nasi?"
Arkan menatap pria di depannya dengan tatapan yang bisa membekukan air. "Itu bukan sekadar warung nasi. Itu adalah simbol dari sesuatu yang tidak bisa kamu beli dengan saham: integritas."
Setelah pertemuan yang penuh ketegangan itu, Arkan kembali ke mejanya. Ia merasa sangat lelah. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Maura.
“Warung sudah tutup. Tapi saya masak ayam bakar lebih. Kalau kamu belum makan malam... datanglah lewat pintu belakang.”
Lelah Arkan hilang seketika.
Diplomasi Ayam Bakar di Pintu Belakang
Arkan tiba di gang itu saat lampu-lampu jalan yang remang mulai menyala. Ia masuk melalui pintu belakang yang sempit. Di sana, di sebuah meja kayu kecil, Maura sudah menunggu. Tidak ada pelanggan lain. Hanya ada mereka berdua, ditemani suara jangkrik dan aroma sambal yang menggoda.
"Terima kasih untuk hari ini," ucap Maura pelan saat Arkan duduk di hadapannya. "Warga merasa punya harapan karena kamu."
"Saya hanya memberikan alatnya, Maura. Kalian yang berjuang," jawab Arkan.
Maura memberikan sepotong ayam bakar ke piring Arkan. "Kenapa kamu melakukan ini? Kamu bisa kehilangan banyak uang karena menghambat proyek itu."
Arkan menatap Maura, matanya mencerminkan ketulusan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunianya. "Uang bisa dicari, Maura. Tapi tempat yang membuat saya merasa 'pulang' itu langka. Dan saya baru saja menemukannya di sini, di warung yang berisik ini."
Maura terdiam, wajahnya merona. Ia menyadari bahwa perisai yang diberikan Arkan bukan hanya untuk warungnya, tapi juga untuk hatinya yang selama ini ia tutup rapat dengan kesibukan.
"Arkan," panggil Maura lembut.
"Ya?"
"Jangan pernah coba-coba membeli warung ini. Tetaplah menjadi pria yang mengantre di belakang Pak Jono. Itu Arkan yang saya... hargai."
Arkan tersenyum lebar, senyum yang mencapai matanya. Ia merogoh ponselnya di bawah meja, mencatat satu hal terakhir sebelum ia menikmati makan malam paling berharga dalam hidupnya.
Log Transformasi Arkan:
Cara Ke-4: Menjadi Perisai (Operasi Perlindungan Warisan).
Status: Berhasil (Meski hubungan bisnis dengan Grup Mahardika mendingin).
Temuan:
Ternyata menjadi pahlawan di mata satu orang jauh lebih memuaskan daripada dipuja oleh ribuan investor.
Hukum jauh lebih berguna saat digunakan untuk membela yang lemah daripada untuk mencari celah pajak.
Ayam bakar rasanya sepuluh kali lebih enak jika dimakan di "pintu belakang" bersama seseorang yang spesial.
Catatan Penting: Pastikan tim hukum diberi bonus besar. Dan... sepertinya saya mulai benar-benar jatuh cinta.
Arkan menutup ponselnya. Malam itu, di bawah langit Jakarta yang penuh polusi, ia merasa telah memenangkan kesepakatan terbesar dalam hidupnya: kepercayaan seorang wanita bernama Maura.