BAB 4

1207 Words
Hari berganti hari namun kesedihan terus Mira rasakan. Sementara Rendra secara diam-diam selalu memperhatikan Mira dari kejauhan. Ia merasa kacau, Rendra menjadi lelaki yang dengan mudah tersulut emosinya. Beberapa kali lelaki itu terlibat pertengkaran. Seakan tak pernah takut dengan siapapun. “Ren... Lo dipanggil sama Ibu Della. Kemarin Lo berantem lagi,yA di luar sekolah ?" tanya seorang murid yang diperintahkan memanggil Rendra menghadap Ibu Della. Rendra pun segera pergi ke ruang BP. Tok! tok! tok! “Ibu mencari saya ?” “Iyah Rendra, duduklah! Ibu mau bicara denganmu.” “Hem.. Ibu dengar kemarin kamu berkelahi lagi dengan anak kelas 3A. Apa benar, Rendra ?“ Namun Rendra hanya diam saja, ia tak berniat menjawab pertanyaan Ibu Della. Melihat tingkah Rendra, Ibu Della hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tak tahu harus menertibkan siswa satunya ini bagaimana lagi. Hanya Mira yang mampu membuat seorang Rendra menurut. “Jika tak ada yang ingin Ibu bicarakan maka saya pamit undur diri.” “Baik, Ren. Kamu bisa pergi.” Setelah Rendra pergi Ibu Della hanya menatap kepergiannya. ‘Seandainya anak itu menurut, pasti ia bisa jadi siswa nomor satu di sekolah dengan kepintaran dan keahlian dalam berbagai bidang olahraga.’ Sesalnya dalam hati Mira – Kejadiaan yang menimpanya membuat ia sangat membenci Rendra. Beberapa kali ia merencanakan aksi balas dendam. Mira sama sekali tidak percaya hal tulus yang ia lakukan malah dibalas dengan sebuah kejahatan. Rendra telah berhasil menyakitinya bukan hanya fisik, tetapi juga harapan Mira yang semula tumbuh tapi harus kandas sebelum bersemi. Tapi tiap kali Mira mencari cara balas dendam, selalu berakhir dengan kehampaan. Tak ada yang bisa Mira lakukan. Entah mengapa relung hatinya selalu ingin memaafkan Rendra. Sebenarnya bisa saja Mira melaporkan kejadiaan ini pada pihak kepolisian. Tapi Mira begitu takut, takut orang lain tahu dan malah mencemoohnya. Terlalu takut dengan image yang masyarakat berikan jika wanita yang telah hilang ke virginannya sebelum menikah adalah gadis murahan, sementara wanita yang bisa menjaga seutuhnya dirinya untuk suaminya kelak adalah wanita bermartabat. Terlalu takut, takut jika Rendra nantinya akan mempertanggung jawabkan ulahnya di penjara. Dan justru malah membuatnya sangat menderita. Mira tahu memikirkan kemungkinan itu hal bodoh. Tetapi ia sadar dirinya yang sudah disakiti tidak mampu membenci lelaki itu seutuhnya. Bahkan tanpa terasa Mira semakin merindukan Rendra. Sebuah perasaan yang aneh baginya. Semula Mira berfikir semua itu berkat ajaran sang ibu untuk jangan pernah menaruh dendam pada orang lain. Tanpa Mira sadar jika di dalam hatinya sudah terpatri nama Rendra begitu dalam. Dan sekitar 2 bulan kemudian. “Mir... Eh Lo tahu, gak ? si Devi kakak kelas kita katanya udah hamidun, kayaknya sama pacarnya deh. Iih kok begitu banget,ya,” cerita Dewi dengan semangat membara. “Ahk.. masa si Dew? Kayaknya orangnya alim gak tahunya kelakuannya begitu,” sahut Melly menimpali. “Gue juga awalnya gak percaya tapi Gue denger sendiri kalik pas Gue lewat ruang guru, si Devi sama pacarnya dipanggil. Kayaknya mereka bakal di-Drop Out deh. Iyahlah orang udah hamil gitu mau lanjut sekolah juga mau ngapain?" Sesekali Dewi tertawa menyindir. Diselingi dengan tatapan Melly yang bergidik tak percaya dengan cerita Dewi barusan. Sementara Mira hanya bisa terdiam kaku, terlalu banyak pikiran yang berkecamuk dalam otaknya. Bagaimana jika dirinya juga hamil? Apakah mereka juga akan membicarakannya sama seperti ini? apa ia harus berhenti sekolah dan memupus cita-citanya. Lalu bagaimana ibu. Apa Mira sanggup menceritakan semua hal ini ke Ibu nantinya? "Mir... Mira. Kok Lo malah diem, sih ? " tanya Dewi keheranan. "Ahkk! Kenapa Dew ?" Mira pun tersadar dari lamunannya. "Mir... Lo kenapa sih dari kemarin kayaknya bengong terus. Lo ada masalah ?" Dewi menatap dengan perasaan khawatir. Baru kali ini Dewi melihat Mira yang tidak bersemangat. --- Pulang sekolah Mira langsung masuk ke kamarnya. Mira tengah cemas, diusapnya perutnya yang rata. Perlahan Mira menghembuskan nafasnya. 'Hemmm... bagaimana kalau aku juga hamil? tapi, kan aku hanya melakukannya sekali, apa bisa bikin aku hamil? tapi gak, gak cuma sekali laki-laki itu melakukannya berulang kali. Ya Tuhan... aku harus bagaimana?' Air mata kembali menetes di pipi Mira wanita itu sungguh merasa putus asa. Mira kemudian memutuskan untuk sholat dzuhur. Berdoa kepada sang pencipta untuk diberikan yang terbaik untuk hidupnya. Tiba-tiba saja Mira teringat jika ini sudah tgl 20 dan seingatnya terakhir selesai datang bulan yaitu tiga hari sebelum kejadiaan itu. Kejadian yang tidak dapat ia lupakan. Buru-buru Mira mengambil tanggalan di atas nakasnya. ia Mendelik gusar ke jejeran tanggalan itu, Seharusnya tanggal 5 Mira sudah datang bulan lagi. Kenapa sekarang belum juga ? Sebenarnya jika tidak ada kejadian itu Mira akan merasa santai saja, karena Mira tipe cewek yang datang bulannya tidak teratur. Mira pertama datang bulan diusia 14 tahun. Dan 2 tahun ini hormonnya masih belum teratur. Mira yang gusar hanya berharap semua hanya masalah hormonya. Sampai malam tiba Mira masih tidak tenang. Ia jadi teringat sedikit perubahan sikapnya yang lebih suka menangis dari Mira sebelumnya. Apa karena masalahnya atau karena faktor lain. Entah... tapi Mira tidak mau berasumsi jika dirinya hamil. Diambilnya ponsel yang ada di atas nakasnya. Mira perlahan mulai mencari tahu tanda-tanda kehamilan muda. Meski otaknya menolak tetapi hatinya yakin kalau ada yang berbeda dari tubuhnya. Semakin dicari tahu malah semakin membuatnya pusing. Akhirnya Mira memutuskan tidur dan besok ia akan bertanya dengan Mitha tetangganya yang sekarang sedang mengandung. "Mbak Mitha pasti tahu inikan kehamilannya yang ketiga," bisik Mira seorang diri. Pagi-pagi sekali sebelum jalan sekolah Mira bertandang kerumah Mbak Mitha. "Assalamuaikum, Mbak." "Walaikumsallam. Eh! Mira. Tumben Mir, pagi-pagi main," sahut Mbak Mitha ramah. "Emm. Iyah nih Mbak. Mira mau ketemu dede Mika sebelum jalan sekolah," bohong Mira. Sebenarnya Mira merasa tak enak harus melibatkan Mika anak pertama mbak Mitha untuk berbohong tetapi ia tak punya alasan lain. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar Mira mulai pembicaraanya intinya. "Emm... Mbak gimana sih rasanya hamil?" tanyanya sambil menggaruk-garuk tengkuknya mencoba mengurangi kegelisahannya. Mbak Mitha hanya tersenyum melihat Mira "Luar biasa Mir." "Emm. Luar biasa gimana masuk, Mbak?" selidik Mira. "Perasaan tubuhmu ditumbuhi oleh mahluk yang kecil nan mungil. Perasaan menjadi wanita sesungguhnya dan artinya sebentar lagi akan ada sosok yang selalu membutuhkanmu. Sungguh luar biasa Mira." Senyum terus terukir di bibir mbak Mitha. Namun tidak dengan Mira. Perasaannya sekarang sedang kalut. Beruntung mbak Mitha tak menyadarinya karena ia sedang menunduk mengusap perutnya yang buncit. "Emm.. kenapa Mira tiba-tiba tanya tentang kehamilan? Mira gugup dalam hatinya. 'Haaa.. ini yang aku takutkan, aku takut Mbak Mitha akan bertanya-tanya karena curiga." "Emm. Gak, Mbak! Sebenarnya Mira punya kenalan dia lagi bingung dia hamil atau gak?" "Ha ha... kenapa mesti bingung. Kan dia bisa langsung cek pakai testpack aja, banyak kok dijual di apotek-apotek. Setahu Mbak, kalau memang sudah pernah melakukan dan sudah telat 2 minggu kemungkinan besar hamil Mira. "Emm... gitu,ya, Mbak," jawab Mira. Hatinya rasanya semakin menciut. "Tapi Mbak, gimana kalo dia belum siap hamil?" ucapnya tercekat di dalam tenggokannya sendiri. Mira bahkan tiba tiba saja malu mengucapkan hal itu. "Em.., menurut Mbak anak itu rejeki. Jadi kalau teman kamu sudah dikasih kepercayaan sama yang di atas artinya ia siap Mira. Anak itu anugerah Mira bagaimanapun keadaan orangtuanya jangan pernah menganggap anak itu beban. Ingat gak semua wanita dikasih kepercayaan mengandung. Mbak percaya akan ada jalan untuk teman kamu." Mira hanya bisa mengangguk dalam. Benar yang dikatakan Mbak Mitha. Anak adalah anugerah bagaimanapun caranya hadir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD