Luka tak Berdarah

1285 Words
"Kau berani sekali ya!" geram Ghiyan. "Kenapa aku harus takut padamu?" balas Reyndra. Kedua pria tampan itu saling memandang dengan tatapan mata yang penuh amarah. Lenny lalu berdiri di antara mereka untuk menengahi. "Cukup, hentikan!" "Suami kamu yang sok pamer itu yang mulai," protes Reyndra. "Aku sudah tidak perduli lagi, aku ingin pulang untuk melihat almarhum ibuku untuk yang terakhir." Mendengar ucapan Lenny yang terdengar tegas, Ghiyan lalu melepaskan genggaman tangannya. Tangan yang mencengkeram krah baju Reyndra kini terkulai lemas. "Kau yakin ingin pergi?" "Iya, aku akan pergi." "Dik, pikirkan lagi." "Apa yang harus aku pikirkan? Apa aku berarti bagimu? Apa kau mau pergi ke rumahku?" "Aku ada rapat penting, Dik!" Mendengar jawaban Ghiyan, senyuman sinis tersungging di sudut bibirnya Lenny, perasaan benci seketika menyelimuti hati dan pikirannya. "Aku tidak pernah meminta apa-apa padamu, tapi kenapa saat aku meminta pulang melihat ibuku untuk yang terakhir, kau malah bicara seperti itu, kenapa Mas?" Bu Jayanti mendekat dan langsung menggandeng tangan Ghiyan agar menjauh dari Lenny, melihat hal itu Lenny semakin geram. Ghiyan tidak menolak saat tangan mamanya menarik Ghiyan untuk menjauh, ia seakan pasrah dan tak perduli. "Biarkan saja dia pergi," ucap Bu Jayanti. "Tapi dia akan pergi dengan pria itu." "Biarkan saja, kenapa kau pikirkan? Bukankah itu lebih baik untukmu?" Ghiyan memandang wajah mamanya yang mengisyaratkan bahwa dirinya tidak perlu lagi repot-repot mengurusi Lenny. Pandangan matanya lalu tertuju ke arah Lenny, tapi sejurus kemudian ia memandang ke arah Desi. 'Mungkin benar kata Mama, aku tidak perlu mengkhawatirkan Lenny karena ada Desi yang lebih menggoda, lihat saja perbandingan mereka, Lenny kucel dan bau, sedangkan Desi begitu seksi dan menggairahkan,' batin Ghiyan. Melihat suaminya yang sedang memandangi Desi dengan penuh gairah, Lenny semakin terluka hati. Ingatan tentang Ghiyan yang telah mengkhianati cintanya membuat Lenny tangannya mengepal keras. "Kalau aku pergi, kau bebas bersama dia," ucap Lenny. "Hei, kau tak perlu bicara begitu dengan anakku!" ucap Bu Jayanti dengan nada ketus. "Aku akan pulang!" tegas Lenny. "Pulang saja sana, dan jangan kembali lagi, paham!" ucapan tajam menusuk hati yang terlontar dari mulut mertuanya itu membuat Lenny semakin sakit hati. "Baik! Aku akan pergi." Lenny bicara dengan menahan semua amarahnya, lalu pandangan matanya menatap wajah Reyndra yang menatapnya dengan wajah sendu. "Dik, jangan khawatir, aku akan selalu membantumu." Ucapan Reyndra bagai air es yang mengguyur hati Lenny yang sedang membara terbakar amarah. "Tunggu sebentar, ya Mas!" Reyndra mengangguk mendengar ucapan Lenny, namun sebelum Lenny melangkah, terdengar ucapan keras dari sang mertua. "Tunggu! Kau mau ke mana? Jangan pernah mengambil apa pun dari rumah rumah ini." Pandangan mata Lenny seperti menyala bagai nyala api yang berkobar-kobar, tidak pernah ia bayangkan bila mertuanya akan bicara seperti itu padanya. "Apa kau pikir aku akan mencuri di rumahmu, heh! Aku memang miskin, tapi aku bukan pencuri." "Kalau begitu, pergilah sana tanpa bawa apa pun dari sini." Bu Jayanti bicara sambil melipat tangan dan moncong bibirnya mencibir ke arah Lenny. "Aku tak akan bawa apa-apa dari sini, aku hanya akan bawa KTP ku yang tertinggal di kamar." "Baiklah, aku akan mengawasi kamu, aku tak ingin kau bawa barang dari rumahku, karena saat kau datang pun tak bawa apa pun." Lenny mengepalkan tangannya kuat-kuat, amarahnya memuncak, tapi ia tidak mau memperpanjang perdebatan dengan mertuanya itu, ia lalu setengah berlari ke arah kamarnya. "Aku hanya butuh ambil surat nikah dan KTP ku saja, aku tak perduli yang lain lagi." Saat sampai di kamarnya, ia dengan cepat mengambil surat nikah dan KTP-nya, tapi saat membuka laci kamarnya, ia melihat cincin kawin Ghiyan yang tak pernah dia pakai, lalu Lenny memandang jari manisnya. "Aku selalu memakai cincin kawin ini dan berharap Mas Ghiyan akan berubah, tapi sepertinya aku salah, dia tidak akan berubah, jadi untuk apa aku bertahan?" Lenny melepas cincin kawin yang melingkar di jari manisnya dan menaruhnya di laci berdampingan dengan cincin kawin milik Ghiyan yang tergeletak di sana. "Sekarang kau bebas, Mas." Lenny menutup laci dan pintu lemari, surat nikah yang ia bawa ia masukkan dalam saku celananya, sedangkan KTP ia masukkan dompet. Sejenak pandangan matanya menyusuri kamar itu, air matanya menetes mengingat kenangan indah yang pernah ada di atas tempat tidur yang ada di kamar itu. "Aku akan membawa anak ini bersamaku dan tak akan pernah aku menghiba atau berharap kau kembali padaku," ucap Lenny sembari mengelus perutnya. Lenny tak mau larut dalam kesedihan, ia lalu melangkah pergi meninggalkan kamarnya. Langkah kakinya ia percepat ia ingin segera pergi dari rumah terkutuk itu. Saat dirinya sampai di pelataran rumah, pemandangan yang membuat hatinya mendidih terpampang di depan matanya. Desi merangkul erat lengan Ghiyan dengan manjanya. "Puaskan nafsu kalian, aku tidak perduli lagi," gumam Lenny dengan suara tertahan. Reyndra mendekat dan memegang pundak Lenny, ia menepuk pelan pundak Lenny agar Lenny mengalihkan pandangannya ke arah dirinya. "Dik, kamu gak bawa baju ganti?" Lenny menoleh. "Gak perlu, kau dengar sendiri tadi mertuaku tidak izinkan aku pergi bawa apa pun dari rumah ini." "Iya sih." "Kita pergi dari sini, nafasku sesak lihat mereka." "Ayo pergi kalau gitu," ajak Reyndra. "Tunggu!" seru Bu Jayanti. Lenny dan Reyndra menoleh ke arah asal suara. Bu Jayanti berjalan menghampiri mereka dengan wajah ketusnya. "Mak lampir datang," ucap Reyndra lirih. Lenny sedikit terhibur dengan ucapan Reyndra, ia memandang ke arah mertuanya yang jahatnya kayak mak lampir yang ada di serial televisi yang ia pernah tonton. Hatinya tersenyum membayangkan semua itu. Sejenak Lenny memandang wajah Reyndra yang tersenyum tipis, wajah tampan itu membuat Lenny tenang. "Jangan memandang ke arahku seperti itu," ucap Reyndra. "Maaf," ucap Lenny seraya menunduk. Bu Jayanti berdiri di depan Lenny dan memegang pundak Lenny dengan kasarnya. "Berdiri yang tegak, aku akan periksa kamu!" "Silahkan!" jawab Lenny tegas Tangan Bu Jayanti memegang setiap inchi tubuh Lenny, tapi saat meraba perut Lenny, pandangan matanya menatap tajam Lenny. "Badanmu kecil, tapi perut kamu buncit kayak gitu, kamu cacingan, ya?" Lenny tersenyum sinis, ia tak menjawab, tapi pandangan matanya menatap ke arah Ghiyan penuh arti, namun Ghiyan tidak memahami arti pandangan mata Lenny. 'Kamu pasti sudah lupa bila aku sedang hamil anakmu, bahkan Mama saja tidak tahu calon cucunya yang ada di rahimku,' batin Lenny. Reyndra mencoba mengalihkan perhatian, ia bicara melucu agar cair suasana yang tegang itu mencair. "Tenang saja Bu, besok Lenny makan petai cina biar cacing-cacing di perut Lenny keluar." "Benar juga, pasti cacing di perut dia banyak, lihat saja badannya kurus tapi perut buncit, hiiii!" balas Bu Jayanti sambil bergidik jijik memandang Lenny. "Tante, jangan dekat-dekat dia, takut ketularan," sahut Desi. Entah kenapa Lenny bukannya bersedih, tapi malah tertawa mendengar ucapan Desi, ia membayangkan bila dirinya cacingan, lalu bagaimana dengan Ghiyan? Pastinya suaminya yang setiap malam tidur dengannya juga cacingan, lalu saat Ghiyan tidur dengan Desi maka Desi juga ketularan cacingan. "Kenapa kau tertawa? Kau sudah gila ya?" ucap Bu Jayanti dengan pandangan mata jijik. "Menurut Mama?" tantang Lenny. "Dasar wanita tidak waras, bagaimana anakku bisa menikah dengan kamu, hiih! Aku saja merinding lihat kamu." Mendengar ucapan mamanya, Ghiyan tertunduk malu, ia sendiri tidak tahu bagaimana dirinya dulu bisa jatuh cinta pada Lenny. "Aku tidak waras karena Mama, jadi semua ini salah Mama dan anak kesayangan Mama." "Tutup mulut kamu!" Bu Jayanti mengangkat tangan hendak menampar pipi Lenny, tapi Lenny dengan sigap memegang tangan mertuanya yang galaknya kayak penyihir jahat. "Aku tidak bawa apa-apa jadi biarkan aku pergi, Ma!" "Pergi sana! Dasar wanita sial!" Reyndra telinganya panas mendengar ucapan mertua Lenny, namun ia bersabar demi Lenny, ia hanya memegang pundak Lenny dan berkata, "Ayo pergi, Dik!" "Iya, aku juga tidak suka lama-lama di tempat ini," balas Lenny. Dengan perasaan penuh rasa benci dan dendam, Lenny pergi meninggalkan rumah itu, sedangkan suaminya hanya diam terpaku memandang kepergiannya. "Dasar laki-laki pengecut! Bisa-bisanya dia bersikap acuh tak acuh begitu. Awas kau Mas!" geram Lenny saat langkah kakinya keluar dari pintu gerbang rumah suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD