Dalam Dilema

1196 Words
Delapan bulan kemudian... Lenny sedang menggendong anaknya, ia tersenyum bahagia melihat wajah cantik buah cintanya dengan Ghiyan. Bayi yang lahir ke dunia dua bulan yang lalu itu pelipur hati Lenny yang luka. Selama Lenny pergi dari rumah Ghiyan, suaminya itu tak pernah menghubungi Lenny, bahkan tidak pernah datang untuk mengucapkan bela sungkawa ataupun ikut tahlilan mertuanya yang telah meninggal dunia. Lenny memahami itu, rumahnya di desa jauh dari kota Surabaya, tapi paling tidak Ghiyan harus datang ke rumahnya untuk takziah, tapi sejak Lenny pergi dari rumah Ghiyan, Lenny tak pernah bertemu lagi dengan Ghiyan. "Hatimu memang bukan untukku, Mas! Kamu sudah melupakan aku," lirih Lenny dengan mata yang berkaca-kaca. Luka hatinya begitu dalam, namun cinta untuk Ghiyan tidak bisa ia singkirkan begitu saja. Hati Lenny di penuhi rasa cinta, benci dan dendam. Saat ini Lenny memang tidak tidak tinggal di desanya, namun dia tinggal di apartemen milik Reyndra yang ada di wilayah Surabaya barat. Sejak pergi dari rumah Ghiyan, Lenny kerja di kantor Reyndra dan saat ini dia cuti melahirkan. Lenny duduk bersandar di bantalan sofa, pikirannya jauh menerawang memikirkan hubungan pernikahan dia dengan Ghiyan yang sekarang menggantung tanpa tujuan. "Walau sekarang aku seperti ini, tapi aku tidak menyesal pernah mencintai kamu, Mas." Perasaan Lenny kadang bimbang, kadang dirinya ingin berlari menuju Ghiyan, namun kadang ingin pergi menjauh darinya setelah mengenang semua perlakuan kasar Ghiyan dan keluarganya. "Ghea, semoga kau mengerti perasaan Mama," bisik Lenny seraya mengecup kening buah hatinya. Bayi mungil nan cantik yang ada dalam gendongannya itu dia beri nama Ghea Ayu Andita. Wajah bayi itu mirip dengan Ghiyan sang ayah, mungkin karena Ghea perempuan, makanya gen ayahnya lebih banyak ada dalam darahnya. "Maafkan Mama bila sekarang kau jauh dari papa kamu," lirih Lenny seraya memeluk tubuh Ghea. Pandangan matanya menyusuri setiap sudut apartemen yang Reyndra siapkan untuknya, sudah delapan bulan ia tinggal di apartemen itu. "Mas Reyndra banyak membantuku, tapi kenapa aku belum bisa menerima dirinya, aku masih bingung." Ding dong! Suara bel pintu apartemen, ia lalu bangkit dan berjalan menuju pintu, setelah mengintip dari lubang kaca yang ada di pintu itu, Lenny tersenyum bahagia setelah tahu siapa yang ada di balik pintu apartemennya. "Mas Reyndra," gumamnya, "sedang apa pagi-pagi begini ke sini? Memangnya dia tidak kerja?" imbuhnya. Ding dong!! Suara bel pintu terdengar lagi, mungkin tamu itu tidak sabar menunggu di luar pintu. "Iya, bentar!" "Gak sabaran banget, sih!" Lenny membuka pintu sambil cemberut, walau ia sudah tahu itu Reyndra, namun tadi ia tidak segera membuka pintu, tapi malah termenung hingga Reyndra memencet bel lagi. Saat pintu terbuka, wajah Reyndra terlihat sumringah saat melihat Ghea yang ada dalam gendongan Lenny. "Hei anak cantik, masih bobok ya! Iiih, gemes aku!" Reyndra segera mengecup pipi Ghea yang menggemaskan. Aroma parfum Reyndra yang maskulin tercium oleh Lenny, tak di pungkiri ada rasa ingin bersama Reyndra, tapi hatinya juga masih terpaut pada Ghiyan. "Kenapa menatapku begitu?" tanya Reyndra saat tahu Lenny menatap wajahnya. "Tit-tidak, apa-apa." "Apanya yang tidak apa-apa?" "Masuklah," ucap Lenny mengalihkan pembicaraan. Reyndra tersenyum tipis sambil berkacak pinggang, ia tahu betul bila Lenny sering sembunyi-sembunyi memandang ke arahnya, namun dirinya pura-pura tidak tahu. "Kamu mau mengatakan sesuatu?" desak Reyndra. "Tidak ada," jawab Lenny seraya menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu. "Kenapa menatapku?" ucap Reyndra sambil menutup pintu apartemen dan membuka sepatunya. "Mas Reyndra gak kerja?" "Kenapa kau selalu menghindar bila aku ajak bicara tentang kita." Lenny tak berani menatap wajah Reyndra, ia pura-pura sibuk merapikan kain jarik yang ia buat gendong anaknya. Reyndra tersenyum tipis melihat tingkah Lenny, selama ini ia memang sabar menunggu jawaban dari Lenny. "Mas, pagi-pagi ke sini ada apa?" "Kau menghindar lagi." Reyndra terlihat kecewa dan duduk di sofa, punggungnya yang tegap ia sandarkan di bantalan sofa yang berbahan Velvet berwarna coklat muda. "Sampai kapanpun aku akan terus menunggumu." Mendengar ucapan Reyndra, Lenny menoleh ke arah wajah tampan yang kini sedang memejamkan mata. Reyndra cinta pertamanya, tak bisa ia pungkiri bila ada rasa dalam hatinya yang menggoda saat melihat wajah tampan milik Reyndra. "Kenapa menatapku secara diam-diam? Kau bisa miliki aku seutuhnya bila kau mau." Lenny tersipu malu, rona wajahnya seketika berubah merah muda, ia tak menduga bila Reyndra tahu bila dirinya menatap wajahnya. 'Bukankah matanya terpejam, kenapa dia bisa tahu?' batin Lenny. Lenny lalu menunduk dan menatap bayi mungilnya yang sedang menggeliat, ia tersenyum bahagia, tanpa ia sadari Reyndra memandang wajah Lenny dengan seksama, rambut hitam panjang yang tergerai itu menghalangi pandangan mata Reyndra. "Ikat rambutmu Dik, jangan begini, kalau rambutmu kena mata Ghea bagaimana?" Dengan cekatan tangan Reyndra menyibak rambut Lenny, dan spontan Lenny menatap Reyndra. Pandangan mata mereka bertemu, sejenak hening menyelimuti ruangan itu. Reyndra yang sedang memegang rambut Lenny tak kuasa menahan pesona wanita cinta pertamanya itu, tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering walau berulang kali menelan ludah namun masih terasa kering. 'Saat aku memandang wajahmu, aku seperti orang yang kehausan, bagaimana aku bisa bertahan bila kau terus menolakku? Sampai kapan aku harus menunggu kau buka hatimu untukku?' batin Reyndra. "Ehemm!" Lenny berdehem untuk mencairkan suasana yang canggung. "Maaf," ucap Reyndra seraya melepas rambut Lenny. "Gak apa-apa, ngomong-ngomong ada apa ke sini pagi-pagi begini?" "Gak ada, aku cuman mau jenguk Ghea." "Oh, kirain ada apa." "Kenapa, kau tak suka aku datang ke sini?" "Bukan begitu maksudku, cuman ini pagi hari, apa Mas gak kerja?" Reyndra tertawa ringan, ia lalu bersandar lagi di bantalan sofa. Lenny mengernyitkan keningnya, ia heran kenapa Reyndra malah tertawa bukannya menjawab pertanyaannya. "Memangnya apa yang lucu, Mas?" "Kau sudah lama cuti kerja, jadi sepertinya kau tak pernah lihat kalendar, coba lihat sekarang tanggal berapa?" "Memangnya sekarang tanggal berapa? Aku belum waktunya masuk kerja, kan?" "Belum, kamu cuti 3 bulan dan sekarang sudah dua bulan tiga minggu, jadi masih satu minggu lagi kau masuk kerja." "Terima kasih sudah menerima aku kerja di perusahaanmu," ucap Lenny. "Aku maunya kamu di rumah dan gak usah kerja, tapi kamu maksa aku untuk menerima kamu kerja di kantorku, jadi aku terpaksa." "Apa aku menjadi beban kamu sekarang?" "Tidak begitu maksudku, Dik!" "Lalu apa maksudnya?" Mendengar ucapan Lenny, Reyndra menatap Lenny tajam, ia seakan ingin membaca isi hati Lenny, tapi Reyndra tak bisa membacanya. "Dik, kau tahu betul apa yang ada di hatiku, lalu kenapa kau terus pancing aku?" Reyndra mendekat, wajah mereka begitu dekat, Lenny nafasnya semakin sesak saat melihat mata Reyndra yang bagaikan lautan yang ingin menenggelamkan hatinya dalam gelora asmara. "Menikahlah denganku." "Mas, tolong jangan bercanda." "Apa aku terlihat seperti bercanda?" Lenny menelan ludah, nafasnya turun naik melihat Reyndra yang semakin mendekat, ia ingin menghindar namun tangan Reyndra memegang dagunya dengan lembut. "Bolehkah aku menciummu?" Lenny semakin bergetar hatinya, sudah lama dirinya tidak pernah begitu dekat dengan pria lain setelah pergi dari Ghiyan. Nafas Reyndra yang beraroma mint tercium oleh Lenny. "Mas, tolong hentikan," bisik lirih Lenny dengan suara bergetar. "Izinkan aku menciummu," bisik Reyndra. Lenny semakin terengah-engah merasakan hembusan nafas Reyndra yang hangat, rasa ingin menikmati keindahan gelora asmara menggoda relung hatinya. "Aku ..." Lenny tak sanggup meneruskan ucapannya, ia hanya bisa pejamkan mata, kenangan saat pertama berciuman dengan Reyndra terbayang nyata. 'Haruskah aku ulangi masa lalu itu, Mas?' batin Lenny. Bibirnya Reyndra semakin dekat dengan wajah Lenny. Mata Lenny terpejam, ia tak tahu harus bagaimana lagi, haruskah ia mengikuti nafsunya atau menolaknya? Lenny dalam dilema.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD