Pemandangan yang Menyakitkan

1200 Words
"Mas Reyndra ada di mana sekarang?" "Aku ada di Surabaya," jawab Reyndra dari seberang telepon. "Mas Reyndra di Surabaya?" "Iya. Kenapa kamu seperti tak percaya?" "Maafkan aku, Mas. Tapi aku sungguh tidak menyangka bisa mendengar suara Mas Reyndra lagi." Terdengar suara tawa renyah dari Reyndra, suara yang membuat hati Lenny menjadi tenang dan damai. "Aku juga tidak menyangka bisa bicara dengan kamu, Dik! Terus terang aku berusaha mencari kamu, tapi baru kali ini aku bisa bertemu," ucap Reyndra. "Mas, maafkan aku yang dulu meninggalkan kamu dan menikah dengan Mas Ghiyan." "Gak apa-apa, asalkan kamu bahagia," jawab Reyndra. Lenny terdiam, ia tidak mampu berkata apa-apa tentang hidupnya yang menderita setelah menikah dengan Ghiyan, terlebih perlakuan mertuanya yang jahat. "Kenapa diam, Dik?" "Tidak ada apa-apa." "Sungguh ...?" "Maafkan aku, Mas!" Suara Lenny bergetar menahan kesedihan, hanya kata maaf yang terucap dari bibirnya, saat mendengar kembali suara Reyndra yang dulu menjadi cinta pertamanya. "Bagaimana dengan suami kamu, apa dia baik padamu? Suaramu terdengar tidak baik-baik saja?" "Emmm, maaf aku tidak bisa bicara tentang hal itu, tapi aku baik-baik saja, kok." "Baiklah kalau begitu, aku berharap kau bahagia Dik." "Terima kasih, Mas." "Baiklah, kapan-kapan kita bertemu, tapi sekarang kamu istirahat dulu sudah malam." Lenny terdiam, ia lalu memandang ke arah jam dinding yang menunjukkan sudah jam sembilan malam. "Dik, sudah ya. Maaf aku harus istirahat, besok pagi aku kerja, lagi pula aku gak enak bicara di telepon terlalu lama denganmu, aku tak enak hati dengan suami kamu." "Iya Mas, gak apa-apa, sudah ya! Assalamualaikum." "Wa alaikum salam," jawab Reyndra sambil menyudahi sambungan telepon dengan Lenny. 'Dik, andai kau tahu, bila aku masih mencintaimu sepenuh hati, aku sungguh tidak bisa melupakan dirimu,' batin Reyndra sambil merebahkan kepalanya di atas bantal dan mencoba untuk memejamkan mata. *** Sementara itu, Lenny di malam yang semakin larut, hatinya gelisah, ia tidak bisa tidur karena membayangkan suaminya yang sedang bersama wanita lain dalam sebuah pesta, sedangkan dirinya ada di dalam kamar sendiri tanpa ada yang menemani. Lenny lalu berjalan ke ruang tamu, ia duduk menunggu kedatangan Ghiyan. "Non Lenny belum tidur?" sapa Mbok Ginem yang masuk ke ruang tamu. "Eh, Mbok Ginem belum tidur?" Lenny balik bertanya. "Saya tanya belum dijawab, kenapa Non balik bertanya?" Lenny tersenyum, ia sedikit terhibur dengan kehadiran Mbok Ginem di tempat itu, "Aku belum ngantuk, Mbok!" "Non Lenny nunggu Den Ghiyan?" "Iya," jawab Lenny seraya tersenyum sembari mengelus perutnya, "Mbok, apa anak ini kelak akan mirip dengan Papanya?" "Mungkin saja Non, kita tidak tahu dia akan mirip siapa, tapi aku lebih suka mirip dengan Non Lenny." Lenny tertawa ringan, ia merasa tersanjung dan sedikit senang mendengar ucapan Mbok Ginem. "Non Lenny sebaiknya tidur," ucap Mbok Ginem. "Mas Ghiyan kenapa belum pulang, ya?" "Non, mereka sedang ada di pesta, jadi kita tidak tahu kapan mereka akan pulang, Non." "Iya juga, besok aku harus mengerjakan tugas dari Ibu mertuaku, kalau aku tidak istirahat, aku takut akan mempengaruhi bayi yang ada dalam kandunganku." Mbok Ginem lalu duduk di sebelah Lenny, "Non, permisi saya duduk di samping Non Lenny." "Mbok, tidak apa-apa, lagi pula kita cuman berdua di sini, jadi santai saja." Mbok Ginem memegang tangan Lenny dengan penuh kasih sayang, ia lalu menarik nafas dalam-dalam, ia seakan ikut merasakan gundah gulana hatinya Lenny. "Non, kenapa masih bertahan di sini? Kalau Mbok jadi Non Lenny, Mbok akan pergi saja dari sini, Non." "Aku sebetulnya juga ingin pergi, tapi aku masih butuh bantuan Mas Ghiyan untuk pengobatan ibuku. Aku juga mencintai Mas Ghiyan, lagi pula aku sedang hamil sekarang, Mbok." "Iya juga ya, Non. Tapi Non, bila Den Ghiyan bersama dengan Non Desi, lalu Non Lenny gimana?" "Hah ...?" Lenny melongo menatap Mbok Ginem. "Non, Mbok lihat Non Desi pergi sama Den Ghiyan, terus ...?" "Terus apa ...?" Sesaat suasana hening, Mbok Ginem tidak berani meneruskan ucapannya. Ia hanya menunduk. "Mbok, kenapa diam? Terus apa, Mbok?" "Non, aku takut salah bicara Non." "Mbok, di rumah ini, cuman Mbok teman bicara dan teman curhat hatiku di saat galau, jadi aku tak akan marah bila Mbok salah bicara, aku akan saring semua ucapan Mbok, yang baik aku masukin hati dan yang tidak baik aku buang." "Terima kasih, Non. Mbok juga sangat sayang Non Lenny." Mendengar ucapan Mbok Ginem, Lenny langsung memegang tangannya dan tersenyum bahagia. "Aku yang harusnya berterima kasih, Mbok memang pembantu di sini, tapi Mbok sudah seperti teman baik dan juga sudah seperti ibuku sendiri." "Terima kasih, Non." Mereka lalu saling diam dan duduk di sofa, sejenak suasana malam itu nampak sepi dan mencekam, sinar lampu yang temaram membuat suasana di ruangan itu sedikit menakutkan. "Non, yuk masuk ke dalam kamar!" "Sebentar Mbok, aku nunggu Mas Ghiyan." "Non, sebaiknya kembali ke kamar. Non, menurut Mbok, jangan menunggu Den Ghiyan, aku takut Non nanti melihat hal-hal yang tidak diinginkan." "Hal apa itu Mbok?" "Bagaimana kalau mereka pulang dalam keadaan mabuk dan terus mereka berdua lagi gituan." "Maksudnya mereka bermesraan, gitu?" "Iya itu maksudku, Non." Lenny terdiam, ia memikirkan ucapan Mbok Ginem, bila ia melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain, terus apa yang akan dia lakukan? "Non Lenny tidak apa-apa kan? Kenapa Non, diam?" "Aku sedang mikirkan ucapan Mbok tadi." "Non, jangan di masukkan ke dalam hati, itu cuman seandainya saja Non." Lenny terdiam, tapi tidak berselang lama kemudian, terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah. "Non, itu pasti Den Ghiyan," ucap Mbok Ginem. "Iya, kayaknya itu memang mobil Mas Ghiyan, Mbok." Lenny beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke luar, ia memandang dari balik tirai jendela. Mobil itu parkir, tapi tak ada yang ke luar dari dalam mobil. "Kenapa mereka berdua tidak ke luar?" gumam Lenny. "Mungkin masih siap-siap ke luar, Non!" sahut Mbok Ginem dari belakang Lenny. Tapi lama kelamaan mobil itu bergoyang pelan dan lama kelamaan mobil itu bergoyang dengan hebatnya. Hati Lenny terdiam, dalam pikirannya, terbayang perbuatan yang tidak seharusnya terjadi, ia membayangkan adegan yang biasanya ada dalam film yang pernah Lenny tonton. "Apa mereka sedang ber-" ucapan Lenny terhenti, ia tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan dengan derai air mata yang mengalir di pipinya. "Non, jangan dilihat lagi, ayok masuk kamar," ucap Mbok Ginem sambil memegang pundak Lenny. "Mbok, apa mereka sedang-" "Non, apa lagi yang dilakukan kedua manusia beda kelamin di satu mobil dan mobilnya bergoyang seperti itu?" sela Mbok Ginem ketus. "Mbok aku akan ke sana, aku akan obrak-abrik mereka berdua." "Non Lenny mau dapat masalah besar? Kalau Non buat keributan di malam hari seperti ini dan Nyonya besar tahu, maka Non tahu apa akibatnya?" Mendengar ucapan Mbok Ginem, Lenny tubuhnya menjadi lemas, ia tak bisa berdiri dengan tegak, untung saja Mbok Ginem langsung memegang tubuh Lenny. "Non Lenny sabar ya, aku yakin Non Lenny bisa tabah menghadapi semua ini." "Sampai kapan Mbok? Sampai kapan aku terus begini? Aku lelah, Mbok." "Non, aku antar ke kamar ya?" "He-eh." Lenny menjawab lirih ucapan Mbok Ginem. Hatinya telah hancur, ia tidak bisa lagi membawa derita hatinya yang selama ini ia bawa. "Aku lelah, aku tidak kuat lagi," ucapnya lirih. "Sabar ya, Non." Derai air mata mengalir deras di pipinya Lenny, ia sudah cukup lama bersabar dengan kelakuan ibu mertuanya, ia bertahan karena cintanya pada Ghiyan, tapi sekarang suaminya telah membagi cintanya pada wanita lain, kini Lenny bingung harus bagaimana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD