Lenny melihat dari belakang cara berjalan Desi sangat cantik dan anggun, sehingga baik kaum laki-laki maupun perempuan yang melihatnya melintas, mereka akan menoleh ke arah Desi yang bertubuh seksi dan menawan.
"Apakah karena itu, ia mendapat perhatian dari Mas Ghiyan?" gumam Lenny.
Bluuk!
Suara sandal jepit milik Ghiyan melayang di atas kepala Lenny dan membentur tembok. Lenny melongo sambil mengelus perut melihat kejadian itu, ia tidak tahu kenapa sandal jepit itu melayang ke arahnya.
"Untung tidak kena perutku," gumam Lenny.
"Hei, kau!" seru Ghiyan sambil menunjuk ke arah Lenny dengan pandangan mata tajam.
"Aku!"
"Iya, kamu!"
"Ada apa?"
"Kamu tidak tahu, salahmu?" geram Ghiyan.
"Aku salah apa?" jawab Lenny yang merasa tak berdosa.
"Aku bilang mau istirahat sebentar, lalu kenapa Mama dan Desi bisa masuk, kamar?"
"Mereka memaksa masuk, Mas!"
"Harusnya kamu larang orang masuk agar aku bisa istirahat dengan tenang, tau!"
"Mama tadi maksa masuk kamar, Mas!"
"Halah, itu alasan kamu biar aku kena marah anakku, kan?" sahut Bu Jayanti.
'Iya, Mas! Tadi pintu kamar terbuka, makanya kami masuk, Mas!" sela Desi dengan suara merdu merayu.
"Hah! Kenapa sekarang aku yang tersudut? Ya Allah, nih manusia bermuka dua ini yang bikin aku terlihat bersalah di mata Mas Ghiyan, ya Allah!" gumam Lenny sambil mengelus dadanya.
Ghiyan terlihat kesal karena tidurnya terganggu, lalu amarahnya ia luapkan pada Lenny istrinya yang tidak berdosa.
"Kamu ini bisanya, apa sih?!"
"Aku sudah menjaga dengan baik tidur Mas Ghiyan, tapi Mama tadi memaksa masuk ke dalam, Mas!"
"Dasar pembohong!"
"Terserah kamu aja, aku malas bertengkar dengan kalian."
"Aku belum selesai bicara denganmu!" teriak Ghiyan, tapi tidak dipedulikan oleh Lenny.
Lenny dengan rasa kecewa memilih pergi ke luar kamar, ia lalu duduk di teras rumah sambil menikmati indahnya suasana sore hari, walau langit terlihat sedikit mendung, tapi masih menyisakan suasana indah di langit senja hari.
"Non Lenny ...."
Mendengar ada orang yang memanggil namanya, ia lalu menoleh. Ternyata Mbok Ginem berdiri dengan membawa bungkusan plastik bening yang isinya cilok bumbu kacang kesukaan Lenny.
"Mbok, itu cilok, kan?"
"Iya, Non."
"Asik! Apa itu untukku?"
"Iya Non, Cak Udin yang belikan, tadi kebetulan Cak Udin beli cilok saat ke luar ke perempatan depan perumahan, Non!"
"Alhamdulillah, saya suka sekali sama cilok bumbu kacang kayak gini, Mbok!"
"Itulah kenapa Cak Udin belikan buat Non Lenny."
"Terima kasih ya, Mbok! Oh, sama Cak Udin juga, hehehe."
"Iya Non, sama-sama. Kami senang bila Non Lenny juga senang hatinya, kami sayang sama Non Lenny."
"Ah, jadi pingin nangis karena terharu."
Mbok Ginem tersenyum manis saat melihat Lenny begitu bahagia menyantap cilok yang tadi ia bawa, "Non Lenny yang sabar, ya!"
"Iya, Mbok! Aku akan selalu sabar."
Lenny lalu melanjutkan mengunyah makanannya, ia begitu menikmati jajanan yang ia suka dari kecil sampai dewasa, yaitu buletan kecil yang rasanya kenyal terbuat dari tepung kanji yang di rebus dengan campuran bumbu kacang tanah yang dihaluskan.
"Ini enak, Mbok!"
"Eh Non, ngomong-ngomong tadi waktu di perempatan, Cak Udin ketemu pria muda yang tampan dan penampilan pria itu seperti orang kaya. Kata Cak Udin, pria itu mencari wanita bernama Lenny Puspitasari, gitu Non."
"Lalu, Cak Udin jawab apa?"
"Cak Udin bilang kalau istri juragannya namanya Lenny, tapi gak tahu Lenny siapa nama panjangnya?"
"Terus, terus?" desak Lenny yang semakin penasaran dengan cerita Mbok Ginem.
"Cak Udin lalu di kasih nomor telepon pria itu, dia bilang kalau suruh telepon pria itu kalau memang juragannya namanya Lenny Puspitasari, gitu Non!"
Lenny terdiam, ia lagi berpikir siapa kiranya pria muda yang sedang mencari dirinya? Lenny tidak banyak teman, apalagi berteman dengan seorang pria kaya.
"Siapa yang mencariku, ya?"
"Non Lenny nama panjangnya betul Lenny Puspitasari?"
"Iya, betul itu namaku, Mbok!"
"Jadi yang mencari Non Lenny itu, pasti teman Non Lenny."
"Mungkin iya, mungkin tidak!"
"Aduh, Non Lenny jangan bikin aku bingung?"
Lenny tertawa ringan saat melihat Mbok Ginem yang cemberut, ia sangat terhibur dengan wajah lucu Mbok Ginem yang tembem dan penuh kerutan karena usia Mbok Ginem yang sudah memasuki usia 45 tahun.
"Mbok, tolong suruh Cak Udin ke sini, ya!"
"Baik, Non!"
Dengan berlari kecil Mbok Ginem menuju ke arah pintu pagar rumah Ghiyan yang di sisi sebelah kanan ada bangunan kecil tempat satpam jaga. Cak Udin adalah satpam yang bertugas untuk menjaga rumah keluarga Ghiyan.
Setelah beberapa saat Mbok Ginem datang kembali ke tempat Lenny dengan bersama seorang pria yang kira-kira berumur 35 tahun dengan tubuh tinggi, tegap dan kekar.
"Non Lenny memanggil saya?" tanya Cak Udin.
"Iya, Cak."
"Ada yang bisa saya bantu, Non?"
"Tolong ceritakan tentang pria yang mencariku tadi, Cak!"
"Orang itu mencari teman semasa SMA yang bernama Lenny Puspitasari, dan pria itu suruh telepon ke nomor ini, bila tahu wanita yang ia cari tersebut, Non."
Cak Udin merogoh kantong celananya dan mengeluarkan secarik kertas yang berisi nomor telepon pria tersebut dan menyerahkan ke tangan Lenny.
"Terima kasih, Cak!"
"Sama-sama. Maaf boleh saya kembali ke pos saya?"
"Iya silahkan, Cak!*
Lenny membaca tulisan yang ada di atas kertas itu, coretan pena itu tertulis nama yang tidak asing buat Lenny.
"Reyndra Diningrat, apakah ini Reyndra Diningrat yang pernah aku kenal dulu?" gumam Lenny.
Lenny mengambil ponsel yang ada di saku bajunya dan mulai mengetik angka di keyboard ponselnya. Satu demi satu angka yang ada di kertas itu, ia ketik di monitor ponselnya.
"Aku berharap, ini nomor telepon Reyndra temanku yang dulu aku kenal," gumam Lenny.
Saat sedang asik dengan monitor ponselnya, Lenny dikejutkan oleh suara Ghiyan. la sudah memakai jas rapi dan Desi dengan mengenakan gaun yang indah berdiri di samping sambil merangkul lengan Ghiyan.
"Hei, aku mau ke pesta dengan Desi, jadi jangan menunggu aku pulang karena aku akan pulang larut malam."
Sebelum Lenny menjawab, Ghiyan sudah berlalu pergi meninggalkan Lenny yang melongo melihat mereka berdua berjalan begitu mesra di depan matanya.
"Apa? Yang benar saja! Mereka pergi berdua? Dasar kurang ajar!" gerutu Lenny.
Plok, plok, plok, plok!
Suara tepuk tangan dari Bu Jayanti saat Ghiyan dan Desi berlalu pergi, "Mereka pasangan yang serasi, kan?" ucap Bu Jayanti.
Lenny menatap Bu Jayanti dengan pandangan mata yang tajam, Lenny ingin berteriak, tapi percuma saja, teriakan darinya tidak akan merubah keadaan.
"Mama anggap aku apa?"
"Emmm, aku tak tahu. Hahaha!"
Bu Jayanti tertawa jahat, wanita yang sudah tidak punya suami karena suaminya meninggal dua tahun yang lalu itu, terlihat sangat puas melihat Lenny kesal.
"Teruslah bermimpi memiliki anakku, tapi ingatlah Ghiyan anakku, jadi jangan kira aku tak bisa memisahkan kalian, hah!"
"Mama kenapa melakukan semua ini, padaku?"
Bu Jayanti mendekati Lenny sambil menunjuk ke arah kening Lenny dan berkata, "Aku tidak pernah menyukai kamu, ngerti!"
Setelah berkata kasar pada Lenny, Bu Jayanti langsung pergi masuk ke dalam rumah. Sedangkan Lenny termenung meratapi nasibnya.
"Aku sedang hamil, jadi aku harus sabar, aku tidak boleh stres, lebih baik aku menelepon nomor kontak tadi, siapa tahu itu Reyndra Diningrat teman aku."
Lenny membuka layar monitor ponselnya dan menekan nomor kontak yang barusan ia masukkan, tidak berapa lama terdengar suara seorang pria dengan suara yang lembut, merdu merayu terdengar dari seberang telepon.
"Halo, assalamualaikum!"
"Wa alaikum salam."
Saat mendengar suara itu, jantung Lenny berdebar kencang, suara pria yang pernah mengisi hatinya dulu itu, kini terdengar lagi.
"Mas Reyndra, apakah ini betul Mas Reyndra?"
"Iya betul, aku Reyndra Diningrat, siapa kamu?"
"Mas lupa suaraku?"
"Tit-tidak, tapi aku hanya ingin memastikan kalau aku tidak salah orang saja, aku masih ingat suara indahmu, Dik!"
Mendengar pujian dari Reyndra, Lenny menangis haru. Sudah lama dirinya tidak mendengar suara pria yang dulu pernah menjadi cinta pertamanya.