Pagi harinya setelah Arra terbangun dari tidurnya, ia langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Arra duduk di kursi sambil meneguk segelas air putih yang ada di genggaman, entah mengapa ia minum sambil melamun, yang ada di dalam pikirannya hanyalah kejadian kemarin sore saat ia bertabrakan dengan laki-laki itu. Rama yang melihat adiknya sedang melamun itu langsung menghampiri dan berniat untuk mengagetinya.
“HAYYO lagi ngelamunin apaan lo?” Rama sengaja membuat kaget adiknya.
“Uhukk uhukk”Arra yang kaget itu langsung tersedak dan batuk. Rama yang melihatnya itu malah tertawa ketika Arra kaget.
“Apaansih lo Kak? Jahat banget pagi=pagi udah bikin gue jantungan” ucap Arra kepada kakaknya itu yang pagi-pagi sudah membuatnya kesal.
“Ya lo ngapain pagi-pagi udah ngelamun aja?” tanya Rama sambil masih menahan tawanya agar tidak membuncah.
“Bukan urusan lo” balas Arra sambil beranjak meninggalkan Kakaknya itu.
“Galak amat lo” Rama membalasan ucapan Arra yang kesal kepadanya sambil masih tertawa kecil.
Arra meninggalkan Rama yang masih di dapur dan mengambil handuknya untuk segera mandi. Setelah selesai mandi ia sudah disambut Mamahnya itu mengajaknya untuk sarapan bersama.
“Ayo sayang sarapan” Ratna mengajak putrinya itu untuk makan bersama.
“Iya Mah bentar mau naruh handuk dulu” balas Arra saat Mamahnya itu mengajaknya sarapan bersama.
“Yaudah Mamah tunggu di meja makan” ucap Ratna sambil berjalan meninggalkan Arra.
“Oke Ma” Arra mebalas ucapan Mamahnya. Setelah Arra menaruh handuknya ia langsung bergegas menuju ruang makan.
Setelah selesai makan Arra memberesken semua piring kotor di tempat cucian piring dan mulai membersihkannya. Setelah semua beres, ia kemudian langsung menuju rruang tv untuk menemui kakaknya itu.
“Kak ntar anterin gue dong, mau lihat-lihat kampus” ucap Arra kepada Rama yang masih asyik menonton tv.
“Ogah ah males, suruh siapa tadi marah-marah sama gue” ucap Rama sambil masih mencoba menjaili adiknya itu.
“Yaelah suruh siapa juga lo ngagetin gue” balas Arra berusaha membela dirinya.
“Hmm mau nggak ya” ucap Rama yang berkata seperti itu sambil bergurau.
“KAK RAMA” Arra langsung berteriak karena ia dibuat kesal lagi oleh kakaknya itu. Rama yang melihat adiknya kesal itu membuat ia tertawa lagi karena ia berhasil menjahili adiknya.
“Ada apa sih pagi-pagi kok udah teriak-teriak aja” ucap Aryo yang mendengar teriakan Arra.
“Tuh Pah, Kak Rama, masa dia nggak mau nemenin Arra buat liat-liat kampus sih” Arra mengadu kepada Papahnya itu. Rama yang melihatnya pun masih tidak berhenti tertawa.
“Bercanda doang Pah” balas Rama sambil tertawa kecil.
“Rama, jangan gitu ah, tuh liat wajah adikmu udah kesel banget kayak gitu” Aryo berusaha menasehati Rama secara halus.
“Iya Pah hehehe, yaudah kalo gitu gue minta maaf deh, maafin gue ya udah bikin gue kesel” Rama akhirnya meminta maaf kepada adiknya yang sudah terlanjur kesal.
“Yaudah kali ini gue maafin karena gue lagi butuh ditemenin ke kampus, awas aja besok-besok nggak gue maafin” ucap Arra langsung meninggalkan Papah dan Kakaknya itu dan pergi ke kamar untuk bersiap-siap ke kampus yang ia mau daftar.
Setelah Arra siap untuk pergi bersama Kakaknya, ia kemudian keluar dari kamarnya dan berpamitan kepada kedua orangtua nya, setelah itu ia berjalan ke depan rumah. Tampak Rama yang sudah berada di depan menunggu di depan mobilnya.
“Masih cemberut aja adik gue tersayang” ucap Rama sambil tertawa kecil.
“Sayang sayang sayang” Rama menghampiri Arra dan memeluknya sambil mengelus-elus rambutnya. Arra yang merasa geli pun akhirnya tertawa. Ia tidak bisa marah sama Rama dalam kurun waktu yang lama, pasti selalu ada hal yang dilakukan Rama yang membuatnya tertawa.
“Nah gini dong ketawa, nggak kayak tadi cemberut aja kan gue udah minta maaf” ucap Rama dengan wajah memelasnya yang membuat Arra semakin tertawa, namun kemudian meninggalkan Rama dan langsung masuk kedalam mobil dan Rama pun menyusulnya.
Perjalanan ke kampus yang akan mereka tuju kurang lebih setengah jam. Saat perjalanan pun Arra tak lupa menyetel musik di dalam mobil sambil menikmati lalu-lalang kendaraan di Jakarta. Sesampainya di kampus yang ia tuju, ia kemudian meminta Kakaknya itu untuk menemaninya berkeliling kampus.
“Kak ayo temenin” ajak Arra kepada Kakaknya.
“Kita mau kemana kemana dulu Ra emangnya?” tanya Rama.
“Ke Fakultas Teknik” ucap Arra yang membuat Rama tercengang seketika, pasalnya dulu ketika masih kecil Arra ingin bercita-cita sebagai guru, tapi kenapa sekarang berubah drastis.
“Hah?Apa? teknik? Gue nggak salah denger nih dek? Bukannya dulu lo pengen jadi guru?” tanya Rama memastikan ucapan Adiknya barusan yang membuat ia tercengang
“Iya, gue serius, ayo cepetan” jawab Arra singkat dan langsung menarik tangan Kakaknya itu. Rama menggelengkan kepalanya takpercaya dengan ucapan Adiknya itu.
Setelah hampir lima belas menit mereka berdua mngitari Fakultas Teknik, Rama merasa capek.
“Ra capek Ra, duduk dulu yuk” Rama mengajak Arra untuk beristirahat sebentar.
“Baru sebentar udah capek? Nih ketahuan nggak pernah olahraga nih jadinya kayak gini?” ledek Arra kepada Rama.
“Enak aja lo sebentar, orang udah lima belas menit jalan mulu” Rama menjawab dengan nada ngosngosan.
“Hah? Lima belas menit? Perasaan baru lima menitr doang?” tanya Arra dengan heran.“Yah lo kan terlalu exited makanya kerasa cepet” balas Rama.
“Iya, yaudah kita istirahat sebentar, gue beliin minum dulu aja deh Kak, lo tunggu sini aja” Ucap Arra sambil meninggalkan Kakaknya.
“Yang dingin Ra” Rama meneriaki Arra yang sudah mulai menjauh dan dibalas anggukan oleh Arra.
Arra memutuskan untukk membeli minumann di kantin kampus tersebut.
“Bu, beli air mineral dingin dong dua” ucap Arra kepada Ibu-ibu yang berjualan di kantin tersebut.
“Oke neng tunggu bentar ya” balas Ibu tersebut. Ibu tersebut kemudian memngambilkan minuman dingin dan langsung memeberikannya ke Arra.
“Makasi ya Bu” ucap Arra setelah menerima minuman dan membayarnya. Ia kemudian kembali ke tempat Kakaknya duduk tadi.
Ketika Arra melewati koridor kampus dan ingin berbelok arah, ia kaget dan menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
“Aduh maaf kak maaf nggak sengaja” ucap Arra sambil mengambil air minumnya yang jatuh dan mencoba melihat orang ditabraknya.
“E LO?” betapa terkejutnya Arra ketika melihat siapa yang bertabrakan olehnya. Cowok itu pun mengernyitkan wajahnya dan mengingat-ngingat cewek yang ada dihadapannya itu. Seketika itu ia ingat kalau ia pernah bertabrakan waktu di taman kemaren sore. Cowok itupun langsung meninggalkan Arra karena ia malas berdebat seperti kemarin di taman.
“Woy, bener-bener ye lo, udah nabrak, nggak nolongin, sekarang main pergi aja lo” Arra meneriaki cowok dengan jengkelnya ia meremas minuman botol yang ada digenggamannya.
Arra kemudian berjalan kembali menuju tempat Kakaknya beristirahat dengan tampang kesalnya. Rama yang melihat kedatangan Arra denngan wajah kesal pun bingung.
“Kenapa wajah lo kesel gitu dek? Ada apa lagi?” tanya Rama.
“Gue abis ketemu lagi sama cowok ngeselin yang nabrak gue kemarin, tadi gue tabrakan lagi sama dia dan lebih keselnya lagi dia nggak nolongin gue malah langsung main pergi aja ninggalin gue” Arra menjelaskan hal yang barusan ia alami. Rama pun tertawa setelah mendengar cerita adiknya itu.
“Tuh kan, makanya jangan benci-benci sama orang, jadi ketemu terus kan, ati-ati ntar lama-lama lo jadi suka sama dia baru tau rasa lo” balas Rama sambil tak henti-hentinya tertawa.
“Amit-amit kalo gue bisa suka sama cowok nngeselin kayak dia” ucap Arra membalas ucapan Kakaknya tadi.
Setelah selesai beristirahat mereka berdua pun memutuskan untuk pergi ke restoran terdekat di sekitar kampus.