Tingkah Menyebalkan Nico

1032 Words
Rasanya begitu sulit bagi Mila menerima kenyataan, kalau ternyata Nico yang merupakan bosnya di kantor adalah tetangga sendiri. Ia merasa ruang geraknya menjadi terbatas. Seperti hari ini kala Mila sedang menerima makanan yang ia pesan melalui salah satu aplikasi online, Nico yang baru keluar dari rumahnya secara tak terduga menghampirinya. Padahal itu sudah hampir pukul sepuluh malam, terang saja ia merasa was-was. Apalagi tahu rumah tangga Nico yang sedang bermasalah. "Kamu pesan apa?" tanya Nico melihat ke tangan Mila yang tengah memegang bungkusan plastik. "Nasi goreng, Pak," sahut Mila menarik tangannya sedikit ke belakang, menyembunyikan makanan yang ia pesan tadi. "Kamu pesan berapa porsi?" tanya Nico semakin membuat Mila bingung. Untuk apa pria itu menanyakan hal seperti itu, jangan bilang dia mau minta makan. Belum sempat Mila menjawab, Nico langsung menyebutkan nama tempat di mana Mila beli nasi goreng yang terkenal dengan porsinya yang banyak. "Kamu yakin habis satu porsi nasi goreng itu? Porsinya kan banyak?" tebak Nico. Mila benar-benar bingung harus berkata apa. Kalau begini sudah jelas Nico minta makan padanya. Apa yang Nico bilang tadi memang benar adanya, kalau warung nasi goreng tempat ia pesan tadi memberikan porsi nasi goreng yang banyak. Nico yang terus berdiri di depannya, membuat gadis itu mau tak mau mempersilahkan pria itu masuk ke dalam rumahnya. "Ya ampun dosa apa sih aku?" rutuk Mila dengan wajah cemberut membagi nasi gorengnya ke dalam dua piring kemudian membawanya ke depan. Rona wajah Nico seketika berubah kala melihat nasi goreng yang Mila sajikan di depannya. "Maaf seadanya, Pak," ucap Mila menyodorkan sebotol air mineral pada Nico. Mila yang duduk di depan Nico yang tengah makan dengan layaknya, memandang bingung kepada pria itu. Kenapa ia tidak memesan sendiri makanannya, malah minta ke tetangga. Secara mengejutkan, Nico membuka aplikasi ojek online dan menunjukkannya pada Mila bahwa aplikasinya sedang error sehingga tidak bisa melakukan order. "Bisa tahu gitu ya dia," gumam Mila dalam hatikaget meneruskan makannya. Tak mengira Nico bisa menebak apa isi pikirannya. *** Sejak kejadian ia membentak Nico, Mila jadi benar-benar menjaga sikapnya. Walau kadang harus makan hati dengan sikap menyebalkan bosnya itu. Seperti pagi ini, ia yang telah menyiapkan bahan untuk Nico bawa pada saat meeting harus terima kalau ia juga harus ikut meeting dengan Nico. Padahal sebelumnya Nico memintanya untuk tetap stay di kantor guna memeriksa beberapa laporan dari divisi keuangan, tapi yang ada Nico malah berubah pikiran. Akibatnya ia harus membatalkan janji makan siang dengan Ica hari ini. "Apa saya sebaiknya tetap di kantor aja, Pak? Jadi laporan keuangan yang Bapak minta bisa saya cek dulu sesuai omongan Bapak tadi?" tanya Mila kala mereka berada di dalam lift. Gadis itu masih berusaha agar ia tidak jadi ikut meeting dengan Nico. "Laporan itu bisa kita periksa setelah pulang meeting," sahut Nico dengan pandangan lurus ke depan, lalu keluar dari lift saat pintu terbuka tepat di lantai satu. Mila menghela napas panjang, ia berharap kali ini pertemuan Nico dengan rekan bisnisnya berjalan tidak lama. Setibanya di salah gedung pencakar langit yang ada di Jakarta, Mila mendampingi Nico menuju lantai dua puluh tempat pertemuan hari ini berlangsung. Rupanya Rangga juga turut hadir di tempat itu, padahal mereka baru saja ketemu kemarin. "Duduk di dekat saya, jangan ke mana-mana!" Nico mengultimatum Mila saat melihat pandang mata Rangga tak henti menatap ke arah sekretarisnya itu. Meski Nico telah meminta Mila untuk terus berada di sampingnya, hal itu tidak mengurungkan niat Rangga untuk mendekati Mila. Terbukti, Rangga dan Mila saling bertukar pesan w******p selama pertemuan itu berlangsung. Pun saat pertemuan itu sudah selesai dan di lanjut dengan acara jamuan makan, Rangga tetap berusaha mendekati Mila setiap ada kesempatan. "Senang banget bisa ketemu lagi, Mil," ucap Rangga yang tahu-tahu sudah ada di sampingnya saat Mila sedang mengambilkan potongan buah untuk Nico. Mereka sempat berbincang sebentar sebelum akhirnya Mila pamit terlebih dahulu untuk menghampiri Nico, karena ia melihat Nico menatap tajam ke arahnya. Selesai dari acara pertemuan tersebut, dengan diantar supir mereka berdua kembali ke kantor. Mila segera membawa laporan keuangan itu ke ruangan Nico dan mulai memeriksa bersama. Rasanya begitu puyeng melihat angka yang begitu banyak tertera di laporan itu. Hingga jam pulang menjelang, pekerjaan Mila tak kunjung selesai entah apa yang membuat hal itu terjadi. Beberapa kali ia menatap gusar pada jam di tangannya serta jam yang ada di dinding secara bergantian. Hingga langit berubah menjadi hitam, pekerjaan itu juga belum selesai. Perasaan saat ia membuat laporan keuangan di divisi dulu, ia tak pernah sampai selama ini. "Kamu kenapa? Ada janji keluar sama orang, dari tadi kelihatan gak fokus," ucap Nico tanpa memandang Mila. "Iya, Pak, tapi kenapa dari tadi ini gak selesai-selesai ya," sahut Mila bingung. "Ya itu artinya kamu gak bisa pulang sebelum ini selesai," jawab Nico santai membuat Mila semakin bete. Dengan sangat terpaksa, ia akhirnya membatalkan lagi janji dengan Ica. Sebagai ganti makan siang yang batal tadi, sebenarnya Mila ingin menggantinya dengan pergi clubbing malam ini. Namun, apa daya kalau sudah begini, ia tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan bos menyebalkan itu. Mila cukup kaget saat melewati ruangan yang dulu sebelum pulang, ia pikir hanya ia dan Nico saja yang lembur. Ternyata Dea, Pak Irwan, dan yang lain juga masih lengkap di ruangan. Lantas Mila melipir terlebih dulu sebelum pulang. Duduk di kursinya, ia menceritakan tingkah Nico yang menyebalkan dan sering membuatnya kesal. Begitu menggebu-gebu ia bercerita hingga keluar satu kata yang membuat Pak Irwan spontan mendekatinya. "Kamu jangan resign, Mil. Jadi sekretaris Pak Nico kan gak lama, cuma tiga bulan selama Priska cuti melahirkan. Setelah itu kamu bakal balik ke sini. Nanti biar Bapak langsung yang ngomong ke Pak Fikar buat ngembaliin kamu ke sini, kamu gak usah khawatir. Kinerja kamu bagus, sayang kalau harus resign," ucap Pak Irwan menasehati. Ia tidak ingin Mila mengambil keputusan untuk berhenti bekerja pada emosi begini. Mila terdiam sejenak merenungkan ucapan Pak Irwan tadi. Yang dikatakan Pak Irwan memang ada benarnya, ia hanya sementara berada di posisi ini. "Iya jangan gegabah gitu, Mil. Sayang kerjaan kamu," timpal Dea menambahi. Ia tersenyum tipis menatap Dea. Sebenarnya ia juga berat kalau harus resign dari sini, terlepas dari sikap Nico yang sering membuatnya kesal, lingkungan kerja di sini sangat nyaman buatnya. Kali ini ia akan mendengarkan ucapan Pak Irwan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD