Setelah kemarin pulang malam, hari ini Mila harus kembali pulang malam gara-gara ulah Nico. Tepatnya pukul setengah delapan ia baru bisa absen pulang. Pria itu memintanya untuk membantu memeriksa beberapa dokumen di ruangan. Matanya sampai perih karena melihat layar laptop terlalu lama. Beberapa kali ia terlihat menyeka sudut matanya yang sedikit berair.
"Kamu nangis? Cuma disuruh buat ngecekin dokumen ini?" tanya Nico menatap sekretarisnya sekilas kemudian kembali fokus dengan kertas yang ia pegang.
"Gak, Pak. Saya gak nangis," elak Mila masih tetap menyeka sudut matanya.
"Itu mata kamu berair," ucap Nico bersikukuh.
"Mata saya perih, Pak." Mila menatap Nico dengan sedikit mencondongkan wajahnya ke arah pria itu, menunjukkan kalau ia memang tidak menangis. Untuk beberapa saat mata mereka saling beradu tatap sebelum akhirnya saling membuang pandangan, karena merasa ada yang aneh.
"Kamu balik aja sana, besok dilanjutkan," perintah Nico lebih dulu menjauh, kemudian menarik dan membuka dasinya kasar.
Aktivitas biasa yang menarik untuk Mila perhatian.
"Apa? Kamu gak mau keluar? Gak mau pulang?" Suara Nico meninggi membuat Mila sadar lalu bergegas meninggalkan ruangan Nico. Secepat kilat ia membereskan meja kerjanya agar tidak bertemu lagi dengan bos menyebalkan itu.
Mengendarai mobil berwarna hitam miliknya, Mila melipir sebentar membeli sate padang untuk menu makan malamnya.
Begitu tiba di rumah ia langsung memarkirkan mobilnya. Sedang berjalan ke arah pintu, bukan main terkejutnya Mila kala melihat Nico keluar dari pintu rumah sebelah. Langkahnya terhenti dan matanya melotot, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Perasaan ia lebih dulu pulang dari kantor, tapi kenapa Nico bisa lebih dulu sampai di rumah. Saat beli makan malam tadi pun ia hanya sebentar, kalau dihitung-hitung seharusnya tetap ia yang lebih dulu sampai.
"Yang bener aja?" gumam Mila heran mengambil langkah seribu masuk ke dalam rumah, sebelum Nico melihatnya.
Gadis itu segera duduk dan menyantap sate padang yang ia beli tadi sebelum mood-nya berubah karena melihat Nico barusan.
***
Pukul setengah enam pagi ia terbangun karena merasa hawa kamarnya cukup panas. Gadis itu kaget saat membuka mata dan mendapati kamarnya dalam keadaan gelap. Padahal seingatnya, ia tidak mematikan lampu saat tidur kemarin. Meraih ponsel dan menyalakan lampu senternya, Mila berjalan keluar kamar dengan hati-hati. Hendak memastikan kalau listrik yang mati bukan hanya di rumahnya saja. Namun, ia semakin kaget saat membuka pintu rumah dan melihat rumah yang berada di sekitarnya dalam posisi terang benderang, termasuk rumah Nico yang berada di rumahnya. Ia berjalan mengecek meteran listrik yang ternyata dalam posisi mati. Untuk segala macam tagihan baik listrik dan air ia selalu membayarnya di awal bulan, jadi mustahil ia terkena pemutusan listrik secara sepihak.
"Rumah Pak Nico nyala juga," ucapnya berjalan sedikit ke sebelah kanan ingin melihat ke rumah sebelah. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat Nico yang sedang berolahraga di halaman depan rumah di balik mobilnya yang terparkir.
"Kenapa kamu?" tanya Nico mendongakkan kepalanya sedikit ke atas menatap Mila.
"Eh, tunggu-tunggu," ucap pria itu lagi mencegah Mila pergi.
"Rumah kamu kenapa listriknya mati?" Nico melihat ke arah rumah Mila yang tampak gelap.
Mila menggelengkan kepala, ia sendiri tidak tahu kenapa listrik di rumahnya mati. Baru akan berbalik, Nico kembali memanggilnya dan meminta gadis itu untuk bersiap-siap lebih awal karena pagi ini mereka harus pergi ke Bandung.
"Kayaknya di jadwal Bapak gak ada," protes Mila. Ia sudah tahu jadwal Nico hingga minggu depan dari Priska yang sudah memberitahunya tadi malam.
"Ini undangan mendadak dari salah satu klien besar kita di Bandung. Kalau rumah kamu mati listrik begitu, kamu gimana mandinya?" tanya Nico.
Mila menatap tajam ke arah Nico, karena merasa aneh mendengar pertanyaan yang pria itu lontarkan padanya.
"Ya saya gak mau kamu terlambat ke kantor hanya karena alasan sepele," lanjut Nico.
"Saya bisa mandi di hotel depan," sahut Mila cuek.
"Buat mandi aja kamu sampai buka room ke hotel?" Nico mengulangi ucapan Mila, "kamu mandi di tempat saya saja, biar cepat."
"Gak usah ya, Pak."
"Kamu aneh. Saya sudah berbaik hati tapi kamu malah kaya gitu," ucap Nico lagi.
"Terima kasih atas kebaikan hati, Bapak." Mila berbalik dan masuk ke dalam rumah yang masih dalam keadaan gelap.
Dengan diterangi cahaya senter, ia mandi dengan air dingin, padahal biasanya ia selalu mandi dengan air hangat. Alhasil tak sampai lima menit ia sudah keluar dari kamar mandi.
Membawa beberapa peralatan makeup-nya, Mila segera meninggalkan rumah. Tak lupa ia menghubungi Bu Ira yang biasa membersihkan rumah, untuk meminta tolong dicarikan orang yang bisa mengecek masalah apa yang terjadi pada aliran listrik di rumahnya.
Setibanya di kantor Mila tak menuju ke ruangannya, melainkan belok ke ruangan lamanya.
"Tumben sudah di kantor, De?" tanya Mila kala membuka pintu dan melihat Dea telah duduk di kursinya.
"Kamu juga tumben, Mil? Mana masih polosan gitu mukanya," ucap Dea mengomentari wajah Mila yang terlihat sangat natural.
"Listrik di rumah aku mati, De. Makanya aku ke kantor pagi-pagi," ucap Mila, "terus kamu?" lanjutnya lagi.
Dengan sedikit bersungut-sungut Dea mengatakan kalau Pak Irwan atas permintaan Nico, meminta untuk disajikan laporan keuangan secara minggu di hari setiap hari jumat.
"Astaga kamu tahu gak, De?" Mila begitu menggebu-gebu sambil memegang pensil alisnya yang baru saja selesai melukis di salah satu alisnya. Matanya melebar siap memberitahu berita ini.
"Apaan?" Dea masih fokus dengan layar komputer mengecek kembali laporan itu agar tidak terjadi kesalahan.
"Rumah dinas Pak Nico itu ternyata di sebelah rumah aku," ucap Mila.
Mendengar ucapan Mila barusan, dengan mata melotot Dea berpaling menatap Mila. "Hah!? Kamu yang benar, Mil? Demi apa coba?" Dea tak percaya.
Mila kemudian menceritakan awal kejadian saat ia mengetahui kalau Nico adalah tetangganya. Kala ia membentak Nico yang parkir sembarangan. Namun, ekspresi keterkejutan Dea tadi kemudian berubah jadi tawa, yang membuat Mila mengerutkan kening bingung.
"Jodoh kali kamu sama Pak bos. Sekarang jadi sekretaris lalu jadi tetangga, nanti jadi teman hidup," ledek Dea dengan gelak tawa.
"Sialan kamu, De," ucap Mila melempar gumpalan tisu ke wajah temannya itu.
Gelak tawa mereka yang cukup nyaring terdengar hingga keluar ruangan, membuat Nico yang kebetulan melintas langsung membuka pintu. Kejadian itu spontan membuat Mila dan Dea terdiam.
"Laporan keuangan saya tunggu sebelum jam setengah delapan," ucap Nico datar menatap Dea, "kamu cepat bereskan dandanan kamu dan kembali ke ruangan," sambung Nico menatap Mila kemudian menutup pintu itu sedikit keras.
Mila dan Dea saling beradu tatap beberapa detik kemudian mempercepat aktivitasnya sebelum Nico kembali datang.
Melihat ekspresi wajah Nico yang datar tadi, nyali Dea langsung ciut. Ia tidak berani mengantarkan laporan itu langsung pada Nico, alhasil ia meminta bantuan Mila. Dengan langkah terburu-buru ia segera keluar dari ruangan meninggalkan Mila sebelum permintaannya ditolak.
"Bikin kerjaan aja nih si Dea," gumam Mila.
Ia mengetuk pintu ruangan Nico kemudian masuk ke dalam dan memberikan laporan keuangan itu.
"Laporan ini kamu bawa aja, sekalian siapin mobil. Sepuluh menit lagi kita berangkat," perintah Nico mengembalikan lagi laporan itu.
Dengan wajah sedikit cemberut, Mila kembali ke ruangan. Mengambil barang-barangnya kemudian ke lantai bawah untuk memberitahu supir kantor. Namun, baru saja keluar dari lift, Nico menelpon dan mengatakan kalau Pak Andi yang merupakan supirnya sedang tidak masuk ke kantor karena anaknya sakit. Mila sudah mengusulkan untuk memakai supir dari divisi lain, tapi Nico bersikeras akan menyetir sendiri.
"Kamu minta tolong sama supir yang lain untuk cek keadaan mobil sebelum kita berangkat," perintah Nico dari balik telepon lantas mengakhiri panggilan itu.
"Itu artinya, aku ke Bandung berdua doang sama bos. Ck," gumam Mila sembari menekan keningnya berkali-kali, pening seketika melanda.