Perjalanan menuju Bandung harus molor karena mereka terjebak macet di jalan tol. Jalan yang seharusnya bebas hambatan, tapi kini malah membuat pengguna jalan yang menuju arah Bandung berdiam sejenak karena terjadi kecelakaan mobil beruntun. Kurang lebih hampir tiga puluh menit sudah mereka terjebak macet, tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.
Mila sendiri sudah mulai gusar karena tak biasa berdua seperti ini, apalagi dengan bosnya. Pria menyebalkan yang suka seenaknya.
"Kamu kenapa? Dari tadi gelisah," tanya Nico membuka sabuk pengamannya sembari menurunkan sandaran kursinya.
"Lama banget di depan," sahut Mila berusaha melemparkan pandangan ke depan, walau sebenarnya kecelakaan itu tidak terlihat jelas dari tempatnya.
"Kamu bacain laporan keuangan yang tadi aja kalau gitu," ucap Nico yang membuat Mila menatap aneh pada pria yang ada di sampingnya. Bisa-bisanya Nico meminta hal semacam itu saat seperti ini.
"Bapak gak salah?" tanya Mila memastikan.
"Daripada kamu gak ada kerjaan, gelisah gak jelas kaya gitu," balas Nico.
Melepaskan sabuk pengaman yang ia kenakan, Mila memutar badannya ke arah belakang sembari naik ke kursi dan mengambil laporan yang ia letakkan di kursi belakang. Tak sengaja ia menyentuh lengan Nico saat hendak berbalik ke posisi awalnya tadi.
Perlahan ia membuka laporan keuangan itu, sambil berusaha mengingat ilmu membaca laporan keuangan yang pernah Pak Irwan ajarkan. Tanpa ragu ia mulai menyebutkan beberapa angka untuk pos-pos yang ada pada laporan yang sedang ia pegang.
"Jadi kesimpulannya apa?" tanya Nico yang sebenarnya tidak mendengarkan apa yang Mila paparkan sejak tadi.
Mila terdiam sejenak sambil memperhatikan angka yang ada pada lembar terakhir yang ia pegang.
"Laba meningkat sekitar 30 persen dibandingkan bulan kemarin," ucap Mila menutup laporan itu.
"Oke. Awas aja kalau sampai salah apa yang kamu jelaskan tadi," kata Nico dengan nada sedikit mengancam.
"Kalau Bapak gak percaya ya cek sendiri aja laporan keuangannya, jangan suruh saya," sahut Mila sewot sambil meletakkan laporan itu di pangkuan Nico dengan sedikit keras.
"Loh? Kenapa kamu jadi marah?" Nico melempar pelan laporan itu ke kursi belakang.
Mila cemberut menatap Nico. Sejak pergi dari kantor hingga sekarang, rasa betenya semakin menjadi-jadi.
Nico kemudian kembali memasang sabuk pengamannya dengan cepat lalu menginjak pedal gas perlahan, karena mobil yang ada di depannya mulai bergerak maju, sementara mobil yang berada di belakang sudah mulai ribut membunyikan klakson.
Mila mengucap syukur dalam hati saat Nico membelokkan mobilnya, masuk ke dalam salah satu rest area. Setelah mendapatkan parkiran, Mila meminta izin untuk ke kamar mandi dan membeli minuman. Ia melirik jam tangan setelah mengeringkan kedua tangannya yang basah dengan tisu. Ia mendesah gusar karena seharusnya mereka sudah tiba di tujuan, kalau saja kecelakaan di jalan tol tadi tidak terjadi.
Hampir tiga jam mereka di perjalanan dan baru sampai di rest area ke empat. Keluar dari toilet umum, gadis itu masuk ke dalam salah satu minimarket untuk membeli minum dan beberapa roti untuk mengganjal perutnya yang mulai lapar.
Sampai di salah satu rak yang memajang berbagai jenis roti, gadis berambut coklat itu langsung mengambil dan membuka sebungkus roti dengan rasa keju coklat. Rasanya begitu nikmat saat satu gigitan telah sampai dan mendarat di lambungnya. Ia segera menghabiskan sisa roti itu, kemudian mengambil tiga bungkus kecil roti lain bersama dengan minuman dingin.
"Ngapain kamu pegang bungkus roti kosong?" tanya Nico dari arah belakang mengagetkan Mila.
"Tadi rotinya sudah saya makan, Pak," sahut Mila.
"Gabung di sini aja," kata Nico menunjukan isi keranjang belanjanya yang cukup banyak berisi makanan dan minuman ringan.
"Gak usah, Pak. Saya bayar sendiri aja," tolak Mila.
"Gabung aja biar cepat," ucap Nico sedikit memaksa.
"Saya bisa bayar sendiri, Pak. Saya gak mau pakai uang perusahaan untuk keperluan pribadi," jelas Mila.
"Saya bayar pakai uang pribadi saya bukan uang perusahaan," ucap Nico mengambil alih barang yang Mila pegang kemudian langsung maju menuju kasir.
Mila bergeser beberapa langkah, menunggu Nico selesai membayar belanjaan mereka. Setelah memasukkan semua belanja ke dalam mobil, Mila langsung sigap mengambil keranjang belanja yang telah kosong untuk dikembalikan.
"Mil," panggil seseorang dari arah kanannya.
"Eh, Tris," jawab Mila sedikit kaget karena melihat teman sekolahnya, Tristan. Ia mendekat dan berbincang sebentar.
"Sama siapa ke Bandung?" tanya Tristan membuat Mila tersadar kalau Nico menunggunya di mobil.
"Astaga! Aku sama bos," kata Mila sedikit gugup, "aku duluan ya, Tris," lanjut Mila sambil melambai lalu berlari kecil menuju mobil bosnya.
Begitu membuka pintu mobil, terlibat wajah Nico berubah masam. Buru-buru Mila meminta maaf sebelum Nico beneran marah.
"Hampir aja kamu saya tinggal! Baru ketemu cowok langsung lupa kerjaan," ucap Nico mengomel.
Tahu kalau ia salah, Mila tak berkata-kata apa. Ia malah mengambil minuman dingin tadi dan meminumnya.
***
Mila merapikan sedikit penampilannya sebelum keluar dari mobil, begitu mereka tiba di tempat acara. Grand opening salah satu restoran jepang yang saat mereka datang, kondisinya telah ramai. Berjalan tak jauh dari Nico, ia mendampingi Nico yang terlibat begitu ramah dengan orang-orang yang hadir di sana.
"Aktingnya bagus banget," gumam Mila mencibir dalam hati, melihat sikap ramah Nico pada orang lain yang berbanding terbalik saat dengannya. Ia semakin tertegun saat Nico menarikan kursi dan mempersilahkan Mila duduk.
"Calon ya?" tanya salah satu pria yang ikut duduk di samping mereka.
"Sekretaris saya," ucap Nico tersenyum.
Mila ikut tersenyum karena orang yang ikut duduk semeja dengan mereka menatap ke arahnya.
Sambil berbincang-bincang, makanan mulai disuguhkan di atas meja. Tampak menggiurkan, Mila tak sungkan mengambil makanan lebih dulu, tentunya setelah dipersilahkan. Lapar yang hanya ia ganjal dengan roti tadi akhirnya plong juga setelah menikmati sajian yang ada di depannya.
"The best banget semuanya, Pak," puji Mila mengacungkan jempol saat pria di depannya menatap dirinya dengan senyum. Dari penampilannya Mila bisa menebak kalau pria itu adalah pemilik restoran Jepang ini.
"Terima kasih banyak pujian, Mbak," sahut pria itu, "Pak Nico bisa aja pilih sekretaris," lanjutnya lagi menatap Nico.
"Maksudnya apa nih," batin Mila bertanya-tanya, tapi masih memasang senyum.
Selesai makan Mila masih duduk di samping Nico yang terlihat begitu seru bertukar cerita dengan rekan bisnis lainnya, hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Mila dapat menarik nafas lega saat yang lain mulai beranjak dari kursinya, karena itu artinya sebentar lagi mereka akan pulang.
Namun, pada kenyataannya mereka bukannya pulang, tapi Nico malah diajak jalan dengan kliennya yang lain berganti tempat untuk nongkrong.
"Kamu bawa mobil, ikuti kami," perintah Nico memberikan kunci mobilnya kemudian ia masuk ke mobil lain.
"Pengen aku tinggal aja Bos nyebelin ini," gerutu Mila masuk ke dalam mobil kemudian mengikuti mobil di depannya. Ternyata mereka nongkrong di salah satu kedai kopi dan dengan santainya merokok. Beruntung di dekat tempat itu ada cafe lain, jadi ia bisa menunggu di sana tanpa harus ikut bergabung dengan mereka.
Si Bos
Ngapain kamu sendirian di sana?
Mila membaca pesan dari Nico. Dengan penuh emosi ia mengirimkan pesan balasan pada bosnya itu.
"Bosan tahu pengen pulang," umpat Mila sambil mengunyah roti yang ia beli tadi.