Patah Hati Sebelum Jadian

1128 Words
o0o Maaf, Mas. Saya sudah memiliki suami dan seorang anak. Pesan singkat dari seorang wanita masuk pada aplikasi messenger yang terpasang di telepon seluler lelaki yang bernama lengkap Wahyu Saputro. Padahal sudah sejak tadi ia menunggu si wanita membalas pesan yang ia kirimkan. Namun ternyata jawaban target tak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Wahyu melemaskan kedua pundaknya, kecewa. Helaan napas kasar juga ia tembakan ke udara. Inikah yang dinamakan patah hati sebelum jadian? Hanya satu kalimat, tapi sukses membuat asa yang telah ia gantungkan menjadi berantakan. Seraya memandangi wajah seorang perempuan yang fotonya terpasang pada profil akun media sosial bernama 'Prastiwi DN' Wahyu bergumam, "Inilah akibatnya kalau wanita yang udah bersuami dan punya anak nggak pernah post foto sama suaminya." Wahyu tertipu, pasalnya tak terpampang status di laman biografi si wanita incarannya. Siapa Prastiwi DN? Dia adalah pemilik akun media sosial yang berhasil menarik perhatian Wahyu hanya dalam sekali saja memandang fotonya. Wajah wanita itu sungguh manis dengan senyum merekah di bibir merahnya. Ingin sekali Wahyu membelai rambut indah Prastiwi yang panjang dan hitam bak model-model iklan sampo di televisi. Konyol bila dipikir, ia patah hati kepada wanita yang belum pernah ia temui secara langsung. Bahkan ia hanya baru tahu nama dan wajahnya saja belum dengan kehidupannya, tapi nyatanya Wahyu benar-benar kecewa. "Dia memang wanita yang baik," gumam Wahyu menilai sosok istri yang kebetulan tinggal satu kota dengannya. Dunia maya, tapi sakitnya begitu nyata. Memilih jalur sosial media untuk mencari jodoh bukanlah hal yang tabu lagi dilakukan oleh orang-orang jaman sekarang. Pasalnya sudah tiga kali Wahyu berpacaran dengan wanita yang ia jumpai di dunia nyata, tapi tak ada satu pun yang berhasil. Kisah cinta pertama Wahyu gagal karena si cewek yang matrenya nggak ketulungan. Mereka hanya berpacaran dua bulan saja lalu Wahyu memutuskan untuk mengakhirinya. Bukan karena tak mampu untuk membiayai gaya hidup glamor si pacar, tapi Wahyu adalah sosok lelaki yang memikirkan jangka ke depannya. Hidup itu tak selamanya ada di atas, terkadang dunia yang kerap mengajak bercanda bisa membuat orang kaya menjadi miskin seketika. Jika, ia memiliki pasangan yang menilai dirinya dari harta Wahyu takut jika wanita itu akan pergi ketika dia tertimpa kemalangan. Pacar kedua, hanya bertahan dua setengah bulan saja. Sebab kandasnya hubungan mereka karena si cewek yang ternyata memiliki pria idaman lain yang kerap bertandang diam-diam ke kostan si wanita. Wahyu memergoki perselingkuhan itu di depan mata dan kepalanya sendiri. Niat hati ingin memberi kejutan dengan datang diam-diam ke kostan kekasihnya, eh tidak tahunya malah Wahyu yang dibuat terkejut melihat pria lain bertelanjang d**a sedang berbaring di atas ranjang. Demi Tuhan! Inilah yang paling membuat Wahyu trauma dari sekian pengalaman kisah cintanya. Karena Wahyu sendiri tak pernah berbuat aneh-aneh selama berpacaran. Dia jijik dan langsung memutuskan hubungan saat itu juga. Pacar ketiga yaitu Tiya Areyla. Karena seringnya bertemu setiap hari membuat cinta di antara keduanya bertumbuh tanpa disadari. Wahyu mengutarakan perasaannya yang langsung dijawab dengan kata 'Iya' oleh Tiya. Namun, hubungan yang dipikir akan bertahan lama karena setiap hari bertemu dan bersama justru tak sesuai ekpektasi mereka. Wahyu dan Tiya kerap kali bertengkar hanya karena hal-hal sepele yang itu tak hanya mempengaruhi hubungan mereka saja, tapi juga berimbas pada pekerjaan. Merasa hal ini tidak baik untuk diteruskan, maka Wahyu dan Tiya bersepakat untuk mengakhiri hubungan dan kembali menjadi rekan profesional. "Kutukan apa sie sampai aku gagal mulu?! Malu anjir setiap hari cuma pergi sama Bejo doang dan nggak pernah gandeng perempuan," desah Wahyu seraya mengacak rambutnya kasar. Bayangan wajah Tiwi masih terbayang dalam ingatan. Baru saja diletakkan, gaway Wahyu bernyanyi-nyanyi merdu. Wajah Bejo alias Beni Atmadiharjo menghiasi layar ponsel lelaki bertubuh gagah tersebut. "Hm ... iya, kenawhy?" tanya Wahyu tak antusias. > Bejo bertanya dengan ngotot bin ngeyel. "Lagi malas aja aku," jawab Wahyu masih dengan malas-malasan. Ia berbaring di ranjang dengan posisi terlentang. Satu tangan memegang ponsel dan tangan yang satu lagi ia letakkan di bawah kepalanya. Wahyu sibuk menatap langit-langit kamar di mana wajah Prastiwi DN terasa terjiplak jelas di atas sana. > Bejo menebak-nebak dan tebakan sahabat di luar kandungan Wahyu itu pun sangatlah benar. Sudah sejak kecil mereka berteman, jadi bukan hal yang sulit untuk membaca isi hati Wahyu. "Dosa nggak sie kalau jatuh cinta sama istri orang?" tanya Wahyu. > jawab Bejo. Bukan Bejo namanya kalau tidak menyisipi candaan ketika bicara. "Aku masih normal, Ferguso!" sungut Wahyu kesal bukan main. Hari ini dia memang lagi tidak ingin diajak bercanda. > tanya Bejo penasaran. "Kamu ingat kan cewek yang nama akunnya Prastiwi DN?" Bejo menganggukkan kepalanya. "Woey jawab! Ingat kagak!" sentak Wahyu. > "Ya mana aku lihat?!" Wahyu benar-benar naik darah. > "Aku patah hati banget karena dia itu istri orang," cetus Wayah dengan bibir melengkung ke bawah membentuk emoticon sedih. > ledek Bejo. o0o Tujuh hari berlalu. Wahyu masih tetap berteman dengan Prastiwi DN di media sosial meskipun harapan untuk dekat sudah kandas sebelum dimulai. Rasanya terlalu sayang untuk menekan tombol unfriend meski Wahyu tahu ia tak mungkin menikung istri orang. Bisa kelar urusannya kalau sampai suaminya murka. Setiap harinya, di sela kesibukannya yang sudah tak lagi sesibuk dulu Wahyu tetap berselancar di dunia maya hanya untuk memantau status istri orang. Baginya mengagumi itu tidaklah masalah selama tidak berusaha untuk merusak rumah tangga yang ada. Begitulah keputusan Wahyu yang hanya memilih untuk menjadi pengagum rahasia Prastiwi saja tanpa berani untuk mengirimkan pesan lagi kepada wanita itu. "Seandainya dia wanita yang nggak bener, dia pasti udah respon chatku terus menerus. Dia juga berani jujur tentang statusnya. Dia ini memang wanita yang istimewa," tutur Wahyu memuji sikap Tiwi yang memilih untuk menjaga kehormatannya sebagai seorang istri dengan tidak menggubris chat dari lelaki asing. "Sayang aku kurang cepat dan udah terlanjur dinikahi orang. Memang hidupku tuh apes banget ya soal dunia percintaan," gersah Wahyu meratapi nasibnya. "Plak!" Sebuah tepukan mendarat kencang di bahu Wahyu membuat pria itu menoleh dengan segera. "Hai, Sayang!" sapa Bejo sambil menggerak-gerakkan ujung-ujung jarinya, melambai-lambai dengan genit seperti wanita jadi-jadian yang suka nongkrong di pinggir jalan. "Hish! Nggak usah gitu! Dilihatin Kodel itu lho!" sungut Wahyu menepis tangan Bejo yang masih ada di pundaknya dengan kasar. "Nikah woey nikah biar nggak jadi pasangan hombreng, Mas. Hahahaha .... " ledek Adel atau kerap disapa kodel oleh Wahyu. Wanita itu melintas ketika akan mengantarkan makanan ke meja pelanggan sesuai jobdesk-nya sebagai karyawan di Cascis Cafe milik Bejo. Menikah! Itu kata keramat yang amat sangat nggak ingin Wahyu dengar. "Lu kenapa sie masih murung gitu?" tanya Bejo. "Patah hatinya belum kelar ini?" "Masih keingat mulu, Jo. Padahal nggak ada hubungan apa-apa cuma lihat foto doang kok rasanya nyesek banget, ya?" resah Wahyu. "Karena ekspektasi lu udah tinggi banget. Memang apa yang bikin lu tertarik sama dia?" selidik Bejo. "Harus ada alasan gitu ya dalam mencintai?" Wahyu balik bertanya. "Ya, setidaknya ada satulah yang bikin lu kesengsem banget," cetus Bejo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD