Dua sahabat ini tengah duduk-duduk di sebuah meja bernomor tiga belas. Konon katanya nomor itu sial, tapi entah kenapa Wahyu selalu memilih meja ini setiap kali mampir di cafe sahabatnya tersebut.
"Aku lihat dia itu sederhana, dia itu nggak neko-neko ... dia istri yang baik tentunya dan sesuai dengan wanita yang aku cari," tutur Wahyu. Kata-kata itu keluar begitu saja berdasarkan persepektif yang otaknya tangkap tentang Tiwi.
"Semua orang bisa menjadi siapa pun di dunia maya, Yu. Yang kaya bisa jadi miskin, yang miskin memperkaya diri. Yang baik sok jahat, yang jahat sok baik .... "
"Tapi aku yakin Prastiwi itu nggak fake, Jo," tandas Wahyu mematahkan semua opini Bejo tentang kehidupan manusia di dunia maya yang rata-rata memilih memakai topeng untuk membranding dirinya sendiri.
"Apa yang lu cari soal pasangan?" tanya Bejo. Kali ini pembicaraan mereka cukup serius.
"Pasangan yang nerima aku, diriku bukan hartaku," jawab Wahyu.
"Lu gampang nyari jodoh, semua wanita suka sama duit lu, tapi nggak yakin mereka masih bertahan di saat lu berada di fase terpuruk. Begitu kan maksud lu?" Bejo menjabarkan jawaban Wahyu dengan lebih detil lagi.
Wahyu menganggukkan kepalanya seraya meraih cangkir yang tergelatak di atas meja. Kopi hitam beraroma pandan yang Wahyu pesan untuk menemaninya bicara tentang cinta dan kehidupan.
"Saran gue, semua butuh diuji, Bro. Kalau lu udah nemu cewek yang menurut lu pas sesuai kriteria lu, semuanya tetap harus lu test dulu," cetus Bejo memberi ide kepada Wahyu.
"Di test gimana?" tanya Wahyu dengan kening yang berkerut-kerut.
"Cari dulu ceweknya nanti gua ajarin!"
Bejo sok-sokan ahli dalam urusan percintaan, padahal dia sendiri juga masih jomblo sampai saat ini. Bejo dan Wahyu adalah pasangan sahabat yang serasi, sama-sama payah soal percintaan. Namun, mereka berjanji untuk menikah bersama suatu saat nanti. Kalau Wahyu memiliki jodoh, Bejo juga harus mendapatkan jodoh.
o0o
Hari Minggu yang menjemukan. Setelah berkeliling untuk memeriksa toko-toko dan juga laundry bersama ayahnya, Wahyu kembali mengurung diri di kamar. Hal yang paling Wahyu suka memang berdiam di ruang pribadinya yang nyaman. Tak suka ia keluyuran, paling banter cuma nongkrong di cafe milik sahabatnya di kala malam untuk melepas penat.
Scroll media sosial adalah jalan ninja bagi Wahyu untuk mengusir kebosanan meski dia sendiri tipe orang yang tidak pernah alias jarang untuk mengirim pembaruan status atau menunjukkan foto dirinya di depan friend list pertemanannya.
'Kalau diri ini memang sudah tak dianggap penting lagi dalam hidupmu, berpisah adalah keputusan terbaik. Karena sejatinya rumah tangga adalah untuk saling melengkapi bukan untuk berjuang sendiri. Aku menyerah ... Maafkan ibu ya, Nak. Bila kamu terpaksa harus dewasa tanpa dampingan seorang ayah. #Divorceisbetter'
Wahyu membaca sebuah status yang baru lima menit akun Prastiwi DN unggah ke beranda f*******:.
"D-divorce?" gagap Wahyu mengulang kata terakhir yang berhastag yang Prastiwi DN tulis. Tangan Wahyu gemetaran dengan jantung yang berdebar-debar.
"Prastiwi cerai?!" Wahyu sampai mengulangnya berkali-kali, siapa tahu dirinyalah yang salah membaca.
Wahyu melongo, matanya berbinar dan senyumnya tersungging dengan sempurna. Moodnya yang beberapa hari ini anjlok mendadak naik pesat seperti menumpang jet yang melesat naik ke atas angkasa.
Bahagia? Perasaan jahat apakah yang Wahyu rasakan?! Dia merasa senang di tengah musibah yang menimpa Prastiwi.
"Demi Allah, aku nggak pernah doain rumah tanggamu kenapa-napa, tapi ... aku mau kok meski kamu jadi janda. Iyesss!" Wahyu melonjak-lonjak kegirangan.
Inilah yang dinamakan bersenang-senang di atas penderitaan orang. Sungguh bahagianya hati Wahyu tiada terkira, macam mendapatkan tender besar yang bisa dengan cepat membuatnya kaya raya.
"Bejooo! Ada kabar baik nih!" seru Wahyu yang dengan segera menghubungi sahabatnya.
> tanya Bejo penasaran. Namun, dia paham kalau saat ini sahabatnya tersebut tengah bahagia.
"Prastiwi cerai, Jo! Alhamdulillah!" seru Wahyu. Mata lelaki itu sampai berkaca-kaca saking bahagianya.
> decit Bejo sambil geleng-geleng kepala.
"Bodo amat! Kan cerainya bukan karena gua, Jo!"
>
"Ya jelaslah! Nggak masalah janda, buktinya banyak juga perawan yang rasa janda," sahut Wahyu.
> ujar Bejo mewanti-wanti.
"Terus aku mesti gimana sekarang?" Wahyu meminta pendapat kepada sahabatnya.
>
"Aku nerves sumpah saking senengnya. Jadi nggak apa kan ya kalau aku kirim chat ke dia lagi?" Wahyu semakin banyak ebrtanya saja.
> decit Bejo.
"Ya udin aku hubungi dia, ya?!" Wahyu meminta ijin sama Bejo.
> Bejo lama-lama gemes sendiri karena Wahyu yang masih saja bertanya.
Dengan desiran darah yang membuat Wahyu nerves setengah mati, akhirnya Wahyu memberanikan diri untuk masuk ke aplikasi messenger. Ia akan menghubungi Tiwi untuk kedua kalinya setelah yang pertama hatinya dibuat patah berserakan.
'Assalamualaikum.' Salam santun yang Wahyu ketik segera lelaki itu kirim.
"Semoga aja Tiwi buruan balas chat aku, ya," harap Wahyu.
Setelah beberapa hari berasa hidup tanpa tujuan alias hopeless, kini Wahyu bersemangat lagi untuk menjalani hidupnya. Cerita Wahyu sudah seperti film yang judulnya ku tunggu jandamu. Iya, menunggu jandanya Mbak Prastiwi DN.
"DN itu pasti singkatan namanya kan?" Wahyu bergumam. Penasaran dengan singkatan DN yang berada di belakang namanya. Hatinya benar-benar berbunga-bunga seolah keyakinannya untuk mendapatkan Prastiwi amatlah besar. Lelaki itu tak lepas menatap foto Prastiwi yang sejam yang lalu wanita itu perbarui.
"Dia itu manis dalam segala pose lho," puji Wahyu.
"Huuft!" Wahyu menghela napas kasar. "Aku deg-degan banget. Bismillah, ridloilah usaha anakmu untuk dapatin menantu yang baik buat ibu," gumam Wahyu berharap ibunya mau terus mendoakannya.
Tombol lingkaran hijau yang berada di sebelah foto Prastiwi terlihat jelas, yang menandakan bahwa wanita itu masih online di media sosial. Namun, sudah lima menit berlalu tapi wanita itu tak kunjung menjawab pesannya.
"PLease dong balas!" Wahyu buru-buru ingin mendapatkan jawaban. Hingga ia rasanya tak rela untuk keluar dari aplikasi.
Wahyu bergerak gelisah dan terus berdoa. "Apa jangan-jangan dia nggak mau ngrespon chatku, ya?"
Rasa insecure alias tak percaya diri mendadak mampir di hati Wahyu karena Tiwi yang mengabaikan pesannya dengan begitu lama. Hingga akhirnya, lelaki itu kembali bersorak ketika chatnya dibalas oleh wanita incaran hatinya.
'Walaikumsallam, Kak.'
"Yeesss!" seru Wahyu yang spontan berlonjak-lonjak kegirangan. Tingkahnya yang absurd ini pasti bakalan jadi bahan bullyan kalau Setyo dan Bejo melihatnya.
Kali ini Wahyu berjanji akan berusaha dengan keras untuk mendapatan jodohnya. Tidak masalah janda yang penting wanita itu baik dan bisa menjadi sandaran hatinya. Karena Wahyu membutuhkan pendamping yang bisa menemaninya baik di dalam suka dan duka. Bersama wanita asing yang belum terlalu dikenalnya tersebut, Wahyu menggantungkan asa yang besar. Semoga kali ini Tuhan mengambulkan munajat cintanya dan mengakhiri pertanyaan dari semua orang tentang kapan dia akan menikah.