Lelaki itu duduk di atas ranjang dan kembali fokus pada ponselnya. Busyet ... tangan Wahyu sampai gemeteran lho padahal cuma perkara mau ngebalas pesan dari cewek incarannya doang. Udah yang kayak mau atraksi debus aja Yu ... Wahyu ... Ck ... Dan handphone di tangannya udah berasa seperti golok yang mau dia sabetkan ke lehernya.
"Kalau pertama-tama itu sepantasnya nanyain kabar dulu kali, Ya?" Wahyu ngedumel sendirian.
"Oke jadi aku ketik .... " Tangan Wahyu sudah siap meletakkan jemari tangannya di atas touchscreen hapenya.
"Hai, Mbak. Apa kabar?" kata Wahyu sambil mengetikkan apa yang dia ucapkan itu pada bidang yang tersedia di messenger.
Nah pesan sudah dikirim, tapi belum dibaca oleh si cewek. Wahyu menunggu beberapa saat dengan kegalauan yang super tinggi.
Sedetik ... Dua detik ... Tiga detik ... Sepuluh menit ...
"Lama bangeet sie? Ya Allah!" Wahyu semakin tidak sabaran, berharap si pujaan hati segera membalas pesannya.
Sambil menunggu jawaban si perempuan, Wahyu berjalan keluar kamar untuk makan malam bersama keluarga besarnya.
"Assalamu'alaikum, Pak, Bu," sapa Wahyu pada orang tuanya yang sudah menunggunya di depan meja makan.
Ada adik lelakinya juga di sana.
"Walaikumsallam anak tertuanya Ibu," sahut Ibu.
"Walaikumsallam anak tergantengnya ayah," sambung Bapak dengan senyum sumringah tersungging di bibir beliau.
"Percuma ganteng kalau jomblo terus," cela Setyo adik lelaki Wahyu yang tidak pernah akur dengan kakaknya tersebut.
"Jangan ngeledek! Kalau ada orang salam itu dijawab! Malah nyela!" omel Wahyu sambil menarik kursi yang ada di sisi adiknya.
"Lha Abang aja tadi cuma nyalamin Ibu sama Bapak kan? Terus salah aku di mana coba?" cibir Setyo.
"Udah kalian ini nggak usah berdebat gitu! Ayo jawab salam Abangmu dulu!" perintah Ibu.
Meski dengan berat hati, Setyo pun menuruti perintah Ibunya, dari pada dicoret dari daftar kartu keluarga.
"Walaikumsallam Abangku yang paling ngeselin." Setyo membalas salam abangnya diakhiri dengan sebuah celaan.
"Biarin ngeselin juga gantengan aku," ketus Wahyu.
"Udah ayo kita mulai makan! Bapak udah lapar ini malah kalian debat terus dari tadi!" lerai Bapak sambil membalik piring yang tertelungkup di hadapan beliau.
Makan malam pun dimulai. Mula-mula memang harus Bapak yang diambilkan makanan oleh Ibu, kemudian Wahyu yang diambilkan makanan oleh Ibunya. Dasar anak Ibu!
"Bu, udang goreng tepungnya aja yang banyak sambelnya juga!" kata Wahyu.
"Udah gede juga harusnya istri Abang yang ngurusin!" sungut Setyo yang justru lebih mandiri dari Abangnya. Dia mengambil nasi sendiri, lauk pun dia raih sendiri tanpa bantuan siapa pun.
"Istri dari Hongkong! Pacar aja aku ngak punya," gerutu Wahyu dan sendok nasi pertama plus udang yang sudah diselimuti dengan tepung pun masuk ke dalam mulutnya.
"Kapan sih Yu kamu mau ngasih Ibu sama Bapak cucu? Ibu sama Bapak keburu tua, tapi kamunya nggak nikah-nikah," ucap Bapak dengan suara yang tidak terlalu jelas karena sambil mengunyah.
"Iya, Yu. Teman SD kamu aja udah pada punya anak lho, masa kamu ya betah sendiri terus?" sambung Ibu.
"Jangan kan cucu, lha wong pacar juga nggak ada kok, Pak," sosor Setyo sambil melirik usil abangnya yang nampak tenang meski didesak dari berbagai arah oleh Ibu, Bapak dan juga adiknya secara bergantian.
"Ini juga lagi proses pedekate, Bu, Pak. Sabar dulu lah!" jawab Wahyu santai kayak di pantai.
"Kok malah pitek kate kamu bawa-bawa sie, Yu? Ibu minta cucu bukan minta pitek!" protes Ibu sambil mengarahkan garpu yang beliau bawa ke arah Wahyu yang duduk di hadapan beliau.
Setyo terkekeh.
"Masya Allah, Bu. Yang aku maksud itu PE-DE-KA-TE bukan pitek kate! Pedekate itu artinya pendekatan, tapi kalau pitek kate itu jenis ayam," jelas Wahyu sedikit ngotot.
"Ya kan ibu nggak tahu, Yu. Jaman ibu sama bapak pacaran dulu nggak ada istilah begituan soalnya," decit Ibu sambil menusuk daging empal yang menggoda dengan bumbu cokelat penuh rempah yang menggugah selera menggunakan garpu yang tadi Ibu ulurkan ke arah Wahyu.
"Memang Ibu sama Bapak maunya aku dapat istri yang kayak gimana?" tanya Wahyu, perlu pendapat orang tua juga kan dalam memilih pasangan yang akan sehidup semati mendampingi kita?
"Yang penting jangan kayak Bejo!" jawab Bapak nyeleneh.
"Ting ....!" Sendok dan garpu yang ada di tangan Wahyu terlepas hingga menciptakan suara dentingan.
"Ya jelas to, Pak. Masa iya kayak Bejo?! Aku kan masih normal," decak Wahyu dengan nada tinggi.
"Normal gimana? Orang ke mana-mana Ibu lihat kamu mainnya sama Bejo mulu, Ibu tu ya khawatir kalian ada ehem-ehem," serang Ibu, lagi-lagi garpu yang ada di tangan beliau terulur ke arah wajah Wahyu.
"Set, belain abang kenapa sie? Jadi adek berguna dikit napa?" Wahyu meminta tolong adiknya. Dia menepuk pundak Setyo dengan kencang.
"Bapak sama ibu jangan berpikir buruk gitu dong!" Wahyu agak lega nih karena dibela adiknya.
"Bang Wahyu sama Bang Bejo itu nggak ada ehem-ehem, mereka memang sudah berikrar untuk sehidup semati sampai maut memisahkan," lanjutnya.
"Astagfirullah!" seru Ibu dan Bapak bersamaan.
"Plak!" Pukulan kembali mampir di pundak Setyo dan kini lebih kencang dari yang sebelumnya.
"Kenapa kamu malah bikin ibu sama Bapak makin aneh-aneh pikirannya?!" sembur Wahyu keki.
"Aku mah jujur, Bang. Orang tak lihat Abang sama Bang Bejo berduaan terus, udah sama-sama tua masih pada betah ngejomblo. Orang yang ngelihat juga taunya kalian hombreng," jelas Setyo.
"Hish ... malah pada ngelantur ke mana-mana. Ya udah Ibu sama Bapak maunya aku kawin sama perempuan yang kayak apa?" Wahyu mengulang pertanyaannya.
"Yang pasti seperti yang selalu Ibu bilang, jangan matre!" ucap Ibu.
Kalau yang itu Wahyu juga udah hapal, Bu.
"Terus?" tanya Wahyu singkat. Mereka ngobrol sambil mengunyah, tapi anehnya mereka bisa saling paham apa yang sedang mereka obrolkan meski suaranya terdengar tidak jelas karena suara yang keluar berebut dengan suara makanan yang tercabik-cabik.
"Pokoknya dia harus nerima kamu apa adanya, Yu. Nemeni kamu suka dan duka, karena hidup orang itu nggak cuma bahagia doang, ada susahnya juga," jelas Ibu.
"Yang penting manusia kalo Bapak mah," sambung Bapak.
"Ya kali masa setan, Pak?" protes Wahyu.
**
Wahyu merenung di kamarnya. Ia memikirkan perbincangannya tadi di meja makan dengan Ibu Bapaknya.
"Iya, ibu sama Bapak semakin lama semakin tua dan aku belum punya pilihan yang tepat buat menikah dengan siapa," gumamnya.
Lelaki itu membuka aplikasi media sosial dan men-stalker profil dari cewek yang baru dia incar.
'PrasTiwi' Itulah nama akunnya. Yang diam-diam sudah memikat hati Wahyu dengan paras manisnya. Wanita itu terlihat sederhana, tapi begitu menggoda. Namun, hati Wahyu sempat dibuat patah hati karena dulu dia masih memiliki suami. Sekarang, pintu untuk berkenalan dan mengenal lebih dekat semakin terbuka lebar. Meski baru melihat dari foto ptofil aja, yang kata orang jaman sekarang banyak editannya, atau efek kamera jahat, tapi Wahyu yakin kalau Prastiwi ini emang aslinya manis. Dan yang paling penting yang dia cari adalah akhlaknya bukan dari segi fisiknya.
Seperti biasa kalau Wahyu lagi galau dia pasti teringat sama Si Bejo. Dengan gerakan cepat dia meraba-raba tempat tidurnya-mencari di mana benda pipih itu berada.
Nah, akhirnya ketemu. Ponsel itu terselip di antara dua buah guling yang tiap malam menemani tidur nyenyaknya.
"Bismillah, ini aku lagi otewe gantiin kalian sama manusia bernyawa buat nemenin aku bobo. Doain aku ya, ling!" Wahyu mengajak gulingnya bicara.
"Iya, Bang Wahyu." Wahyu bergumam seolah guling-guling itu menjawab omongannya.
Di saat itu ternyata ada Si Setyo yang mengintip dari celah pintu kamar kakaknya yang terbuka sedikit, ya kira-kira sejengkal tangan orang dewasa-lah. Setyo terkekeh, apalagi ketika Wahyu memeluk guling itu dan menciumnya.
Mendengar suara tawa adiknya yang makin kencang, Wahyu pun menoleh.
"Hahahaha." Setyo bukannya takut, tapi makan mengencangkan tawanya.
"Kampret! Ngapain kamu ngintipin Abang? Aku doain bintittan tahu rasa!" omel Wahyu sambil beringsut turun dari tempat tidurnya.
Dan ... "Baag!" Wahyu menimpuk kepala adiknya dengan guling yang dia bawa.
"Wkwkwkwkwk .... Abang emang kudu cepat-cepat nyari bini biar nggak gila, biar nggak sayang-sayangan terus sama Bang Bejo," ledeknya. Sehari tanpa meledek kakaknya, hidup Setyo bagaikan sayur tanpa garam, bagaikan ambulance tanpa uwiw uwiw ....
"Anak kampret!" pekik Wahyu kesal.
"Wkwkwkwk .... Ibu, Bapak! kalian dikatain kampret sama Bang Wahyu .... " teriak Setyo sambil berlari tunggang langgang.
Wahyu tidak tinggal diam, ia mengejar adiknya.
"Siapa yang ngatain Bapak sama Ibu? Aku ngatain kamu! Dasar adik lucknut! Nggak ada akhlak!" teriak balik Wahyu. Jadilah ke dua anak yang sudah tidak sepantasnya main kejar-kejaran ini justru bertingkah konyol macam kucing dan anjing yang nggak pernah akur.
Mereka belari ke sana kemari, memutari ruang tamu, lalu beralih ke ruang keluarga di mana Ibu Bapak mereka sedang menonton berita. Rumah Wahyu sangat lapang dan mewah. Maklum Bapaknya adalah pengusaha material bahan bangunan dengan cabang toko yang sudah menyebar di mana-mana.
"Astagfirullah, kalian ini udah pada tua masih bertingkah kayak bocah!" omel Ibu.
"Abang duluan, Bu. Dia ngatain Ibu sama Bapak kampret," cetus Setyo yang kini berlindung di balik sofa yang dibuat orang tuanya untuk duduk, sedang Wahyu berdiri di depan televisi masih tetap membawa gulingnya.
"Apaan aku ngatain kamu bukan ibu bapak," bantah Wahyu.
"Tadi abang bilang dasar anak kampret! Nah kalau aku anak kampret berarti Ibu bapak kampret juga dong. Dan abang juga kampret. Wkwkwkwkwk." Setyo terkekeh.
"Ya Allah, kalian ini!" Bapak geleng-geleng kepala.
"Pada diem atau bapak coret-"
"Ampun, Pak!" tukas Wahyu dan Setyo bersamaan, meski Bapak beum selesai berbicara, tapi mereka tahu apa yang akan Bapak mereka katakan. Selalu itu ancaman andalan Bapak untuk menakut-nakuti mereka.
Wahyu dan Setyo menyudahi aksi bermain kucing dan tikus. Tanpa bapak banyak bicara lagi, mereka pun berbondong-bondong masuk ke dalam kamar masing-masing.
"Dasar anak kampret!" pekik Wahyu sambil mengeluarkan kepalanya dari baik pintu yang sudah dia tutup sebagian.
Kamar Wahyu dan Setyo bersebrangan.
"Abang kampret!" balas Setyo lalu menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
"Deeer ....!"
Wahyu menutup pintu kamar dengan kencang. Dia kembali teringat pada handphone-nya. Dia periksa notifikasi, tidak ada balasan chat dari Prastiwi.
Huft Abang Wahyu kecewa berat rupanya.
"Jo .... " Wahyu menghubungi sahabat di luar kandungannya menggunakan video call. Maka tampaklah sudah wajah melas Wahyu yang galau-galau merindu karena merasa Mbak Tiwi tidak merespons niat baiknya.
"Yu, tampang kamu tuch ya ... standar nasional, eh ... masih juga dimelas-melasin gitu, makin turun dari standar jadinya," cela Bejo. Lelaki itu sedang bercengekrama dengan kucingnya Casper.
"Biarin standar nasional juga, dari pada muka kamu ... standard tengah!" ledek balik Wahyu.
"Sialan! Kamu pikir kendaraan?!" omel Bejo.
Uyel-uyel Casper. Diciumin pucuk kepalanya. Uyel-uyel lagi, digendong-gendong, dielus-elus.
"Busyet, malah pamer kemesraan sama si casper. Aku mau curhat ini," gerutu Wahyu ketika dipameri adegan tidak senonoh antara majikan dan juga peliharaannya.
"Aslinya authornya yang pikirannya nggak senonoh," teriak pembaca di ujung kulon.
"Makasih pujiannya, ya!" balas author yang baik hati.
"Iya, cepetan ngomong aku dengerin. Pasti masalah Mbak Tiwi kan?" tembak Bejo. Apalagi yang mau dikeluhkan sama Wahyu?
Duit dia udah punya banyak. Anak orang kaya, kerjaan juga udah mapan dengan gaji besar. Nggak mungkin Wahyu mau minta diutangin duit, kalau Bejo yang utang baru mungkin syekaaaliih. Wkwkwkwk ....
"Chat aku dikacangin lagi sama dia," keluh Wahyu dengan wajah masam.
"Kacang apa dulu, Yu? Tergantung kacangnya juga. Kalau kacang mete kan lumayan, mahal dan gurih. Kalau cuma kacang tanah biasa mending kamu nyari yang lain," balas Bejo masih juga belum bisa diajak ngomong serius. Memang kudu pemanasan dulu kalau mau diskusi sama Bejo. Harus punya stock sabar yang banyak biar nggak cepat kena serangan jantung. Hanya Casper yang bisa memahami Bejo sampai ke sumsum-sumsumnya.
"Meong .... meong ... meong .... " Si Casper mulai nyari perhatian Bejo.
"A-"
"Tunggu! Aku mau ngambilin Casper makan dulu!" potong Bejo sambil menggendong Casper. Dan lelaki itu pun lenyap dari layar hape Wahyu, hanya menyisakan sofa butut yang tadi diduduki oleh si empunya yang suka nggak ada akhlak. Ckckck ...
"Asyem ... lebih mentingin Casper dari pada aku," desah Wahyu keki.
Lima menit kemudian Bejo baru kembali setelah memberikan cemilan untuk si honey, bunny, sweety-nya. Dan Si Casper sudah tidak ada dalam gendongan Bejo, hanya tersisa bulu-bulu putihnya yang menempel di baju hitam Bejo.
"Terus permasalahan kacang tadi gimana?" tanya Bejo sambil meletakkan pantatnya kembali ke sofa bututnya.
"Bukan kacang, tapi Tiwi!" ralat Wahyu.
"Oke kacangnya Mbak Tiwi," celetuk Bejo ngasal.
"Hush! Ngomong yang bener!" tegur Wahyu.
"Hish! Pikiranmu yang bener!" tegur balik Bejo.
"Mbak Tiwi kan punya kacang juga di rumah, orang habis lebaran. Pikiranmu itu yang ruwet!" lanjutnya menyalahkan Wahyu, padahal emang tadi arahnya ke situ, wkwkwk ... dasar Bejo.
"Iya-iya otak aku yang kotor, puas kamu? Cepetan ngomong aku kudu gimana?" tanya Wahyu. Dari tadi ngobrol ngalur-ngidul, tapi nggak nemu inti pembahasan yang sebenanrya.
"Ya kalau Mbak Tiwi nggak ngerespons ya kamu chat lagi kayak yang tadi pagi aku ajarin, gitu aja kok nggak ngerti-ngerti sie, Yu?"
"Oh gitu, ya?" celetuk Wahyu singkat sambil memamerkan Wajah innocent-nya.
"Oh gitu, ya?" Bejo menirukan omongan sahabatnya.
"Buruan dichat lagi! Malah nelponin aku terus!" omel Bejo.
"Iya-iya," balas Wahyu lesu.