Baru saja mau menutup panggilan, eh ada notifikasi masuk. Mbak Tiwi udah balas, Say.
"Jo ... Jo ... orangnya udah balas." Wahyu memberitahu dengan kegirangan. Wajahnya yang tadi masam kini berubah menjadi senang.
"Ya udah cepet balas!" decit Wahyu.
"Dia bilang kabar baik masnya apa kabar?" Wahyu membacakan si pesan Tiwi.
"Terus aku harus jawab apa?" Tidak tahu sudah berapa kali Wahyu bertanya dengan hal yang sama. Sampai-sampai Bejo bosan mendengarnya, masa iya hal sepele seperti itu harus ditanyakan sie, Yu? Ini efek karena Si Bejo selalu memanjakan Wahyu, apa-apa dia yang sok pinter berantas masalahnya. Sekarang jadinya keterusan kan?
"Dia nanya kabarmu kan? Ya jawab aja kabar kamu gimana! Tulis, kabar aku buruk. Mbak."
"Kok buruk?" tanya Wahyu sembari mengerutkan keningnya.
"Nah kalau Mbak Tiwi ngerespon dia pasti bakal tanya yang sama kayak kamu tadi, terus jawab aja ... kabar aku buruk karena menantikan balasan chatmu, setelah kamu balas kabarku langsung membaik."
"Eya .... " seru Wahyu kegirangan.
"Memang mantab kamu kalo soal beginian," puji Wahyu sambil mengulurkan jempolnya ke arah kamera.
"Jempolmu item ngapain dipamer-pamerin ke aku?" ledek Bejo.
"Atas bawah item semua," balas Wahyu.
"Jadi yang di celana item juga? Udah duga sie," celetuk Bejo santai, tapi menusuk ulu hati Wahyu.
"Kaya pernah lihat yang di dalam celanaku aja! Sok tau!" geram Wahyu.
"Ya pernah-lah, kan kita suka mandi bareng. Wkwkwkwkwk." Bejo tergelak.
"Itu pas kita kecil, sekarang udah berubah warna," kekeh Wahyu.
"Jadi apa emang?" tanya Bejo kepo.
"Brown. Puas lu?" jawab Wahyu nyolot.
"Sama aja nggak ada beda," ledek Bejo dia kembali terkekeh.
"Tut .... tut ... tut ..." Wahyu memutus panggilan video secara mendadak tanpa bilang dulu pada lawan bicaranya.
"Balas dendam dia," gerutu Bejo, mengingat sebelum ini dia duluan yang matiin telepon Wahyu secara semena-mena.
Wahyu melaksanakan apa yang sudah Kanjeng Bejo ajarkan.
"Kabar buruk, Mbak," gumamnya sambil memainkan jemari tangannya di atas tuts-tuts huruf yang disebar secara acak.
"Oke aku send," kata Wahyu. Berharap kali ini si perempuan balasnya nggak terlalu lama.
Eh, bak pucuk dicinta ulam pun tiba. Si janda mempesona itu membalas kilat pesan Wahyu.
Prastiwi : Kok buruk kenapa, Mas? Eh panggil namaku aja, ya.
Wahyu senangnya bukan main, seperti yang baru aja dapat bonus besar dari Pak Alex, bosnya.
Wahyu : Iya kabar aku buruk karena nungguin balasan chatmu, tapi sekarang udah baik karena udah kamu balas. Send.
Ke dua bibir Wahyu tertarik simetris kanan dan kiri hingga menampakkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. Saking bahagianya dia sampai enggak bisa mingkem, Guys. Meringis terus sampai kering itu gigi kamu, Yu!
Ketularan authornya juga pamer gigi terus. Asyem ...
Prastiwi : Hahaha ... (pakai emoticon ketawa ngakak berjajar enam) aku kirain kenapa. Masnya bisa aja.
"Dia senang banget sama gombalanku."
Wahyu menelpon Bejo, kali ini panggilan suara doang nggak pakai video.
"Nape lagi?" tanya Bejo dengan nada jutek. Masih kesel gegara tadi, padahal dia yang ngajarin, giliran dibalas marah. Secara dia kan role modenya si Wahyu.
"Si Tiwi suka sama gombalanku," jawab Wahyu begitu bangga.
"Itu gombalan aku yang ngajari jadi dia sukanya sama aku bukan kamu!" ralat Bejo.
"Bodo amat!" sahut Wahyu keki lalu mematikan panggilannya sepihak seperti tadi.
"Kurang asyem tenan!" pekik Bejo tidak terima.
Wahyu : Tiwi lagi apa? Nggak ada yg marah kan aku chat?
Tumben pinter Si Wahyu, basa-basinya oke banget tuch.
Prastiwi : Lagi bengong aja kok, Mas. Nggak ada yang marah, kan aku udah pisah. Hehehehe ...
Wahyu meringis lagi, setiap Si Tiwi balas selalu saja pamer gigi. Untung nggak ada Bejo, kalau Bejo lihat bisa dibully habis-habisan dia.
"Ini saatnya aku sok perhatian dan sok sedih denger dia cerai, meski dalam hati aku melonjak kegirangan," tutur Wahyu. Nyatanya, otaknya bisa bekerja dengan baik biar pun nggak pakai arahan dari Bejo.
Wahyu : Ya Allah, kok cerai kenapa? (Emoticon mata berkaca-kaca berjajar sepuluh buah). Aku turut sedih dengernya.
"Siip banget!"
Prastiwi : Suamiku selingkuh, Mas. Udahlah ngak usak dibahas, aku udah ikhlas kok, Mas. Oya, masnya namanya siapa?
Kenapa pakai tanya nama? Memang di akun Wahyu nggak ada namanya?
Hm ... ada sie, tapi pake nama samaran. Nama yang nggak pantas buat dipakai untuk nama orang. Wkwkwkwk.
Wahyu : ALhamdulilah kalau kamu udah ikhlas. Nama aku Wahyu, Wi. Oya boleh minta nomor whatslap gak?
Mulai agresif si Wahyu langsung tembak minta nomor whatslap. Pinter juga lho nyatanya meski nggak pakai mandat dari yang mulia Bejo yang menyesatkan.
Prastiwi : Iya mas ... 08512345678910
"Yes ... " Wahyu berjingkat. Satu langkah lebih maju untuk mendekati si pujaan hati.
Tidak nunggu lama, udah nggak sabaran juga. Wahyu langsung menyimpan nomor contact Tiwi di memori ponselnya.
"Awal mula kasih nama Tiwi dulu, lama kelamaan jadi Sayang, eya ...." gumam Wahyu sambil berlompat-lompatan di atas spring bednya yang empuk.
Wahyu : Ini nomor aku, Wi. Wahyu.
"Bismillah .... semoga dia jodohku, udah lama juga ngejomblo pingin punya yayank, eh istri," kata Wahyu sangat berharap pada hubungannya dengan Tiwi akan berlabuh hingga ke pernikahan. Sebuah harapan yang masih jauuh sie, tapi tetap kudu optimis kan?
**
Wahyu bangun kesiangan. Sampai-sampai dia tidak sempat untuk sarapan. Kenapa bisa begitu? Keenakan bobonya, ya? Apa karena habis mimpi basah? Eitz ... authornya mulai ngaco ngomongnya!
Jadi tuch semalam dia chat-chatan sama Tiwi lama banget. Sampai jam dua belas malam lebih seperempatan. Banyak banget yang mereka obrolin salah satunya tentang kisah rumah tangganya dengan sang suami yang kandas akibat gangguan setan ... eh maksudnya gangguan orang ke tiga.
Konon katanya, mantan suami Tiwi berselingkuh dengan seorang janda rekan kerja si suami sudah dua tahun yang silam.
Kali ini Wahyu benar-benar simpati, bukan berpura-pura simpati seperti saat dia tahu kalau wanita itu bercerai. Bahagia sie ... itu artinya kesempatan dia untuk mendekati wanita itu sangat besar, tapi kalau mendengar mirisnya dia telantarkan dan disakiti oleh mantan suaminya, dia ikut merasakan sakit hati seperti yang Tiwi rasakan.
"Jangan nangis, Wi! Aku yakin pasti ada bahagia di depan kamu sana, akan ada lelaki baik yang mau menjadi suami dan juga ayah dari anak kamu," kata Wahyu membesarkan hati Tiwi saat wanita itu mengadu dan menangis terisak-isak di balik sambungan suara.
**
Di cafe milik Bejo malam harinya. Setelah memarkirkan tunggangan andalannya, Wahyu berjalan masuk ke dalam cafe tersebut dengan siulan yang terdengar kencang hingga ke tempat di mana Bejo berada saat ini.
"Yach ... datang dah tuch si anak emak," gumam Bejo sambil memerhatikan Wahyu sepintas dari kejauhan.
"Selamat malam, Mas Wahyu," sapa salah satu karyawan Bejo yang bernama Adel ketika ia hendak mengantar pesanan pelanggan dan berpapasan dengan Wahyu.
"Malam juga Adel tak kodel-kodel," sapa balik Wahyu, dia sudah biasa menggoda karyawan Bejo seperti ini. Ya maklum sie hasil ajarannya Si Bejo juga yang memang lucknut banget kalau jadi bos. Semua tingkah Wahyu perasaan ada campur tangan dari Bejo mulu sie, Thor? Ya kan author udah bilang, Bejo itu roles model buat Wahyu.
"Ck ... roman-romannya kamu lagi girang banget ni, Yu," cibir Bejo begitu si sahabat sudah ada di depan matanya. Bejo sedang membantu Sherli membuat jus karena kebetulan cafe sedang padat merayap.
"Jelas-lah!" jawab Wahyu mantab sambil menyeka rambutnya dengan sela-sela jemari tangannya.
"Perasaan klimis banget itu rambut, mana mengkilat kaya kecoa," ledek Bejo sambil menyalakan blender untuk menghancurkan jus apel washington merah yang dipesan oleh meja nomor tiga puluh dua.
"Bangcat ya kamu, Jo! Aku giling sekalian tau rasa lu!" umpat Wahyu.
"Wkwkwkwk ... gegayaan lu!" umpat balik Bejo sambil tertawa terbahak-bahak.
"Mas Wahyu tumben wangi banget kayak kuburan baru." Adel yang sudah kembali ke pantry ikutan meledek Wahyu.
"Dasar! Nggak bosnya nggak karyawannya giila semua!" umpat Wahyu kemudian memalingkan wajahnya kesal.
"Sahabat bosnya juga giila, Mas," sahut Sherli ikut-ikutan menjadi tim pembully Wahyu.
"Rasain kamu dikeroyok sama anak buahku," kata Bejo seraya mematikan penggiling buah yang tadi dia nyalakan. Sudah hancur dan halus sudah buah apel itu tercabik-cabik berbaur menjadi satu dengan s**u dan gula yang ada di dalamnya.
"Del, tuangin ke gelas! Aku mau ngeladenin kanjeng Wahyu dulu biar nggak berak sembarangan," intruksi Bejo pada anak buahnya, tidak lupa menghina dina Wahyu adalah hal yang wajib bagi Bejo.
"Sialan! Kamu pikir aku Casper!" omel Wahyu sambil berjalan mengekor pada Bejo yang menggiringnya untuk masuk ke dalam ruangan pribadinya yang sempit.
"Mending Casper, dikasih pasir dia tahu kalau itu buat pup, sedangkan kamu ... aku kasih pasir malah kamu makan," gumam Bejo.
Mereka sudah sampai di dalam kamar misterius milik Bejo. Kenapa aku bilang misterius? Ya karena kamar ini tidak boleh ada yang masuk selain Bejo, Casper dan juga Wahyu, kalau pun ada yang mengintip di balik pintu aja pasti udah Bejo omelin. Entah ada apa di ruangan ini, mungkin ada pesugihannya Si Bejo. Ilmu penglaris gitu ... wkwkwkwk ....
"Aku bahagia banget, Jo," seru Wahyu sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa.
"Busyeeet!" pekik Wahyu ketika bulu-bulu Casper berterbangan akibat hentakan tubuhnya yang besar.
"Meooong ....!" Casper yang lagi asyik tertidur nyenyak protes keras karena Wahyu membuat mimpi indahnya buyar begitu saja.
Mana ada kucing mimpi? Makin halu aja ini authornya. Ck ...
"Hatcing!" Wahyu bersin-bersin karena bulu Casper masuk ke dalam hidungnya. Sedang si kucing berbulu putih bersih itu kini tidur kembali dipelukan tuannya.
"Njiir ... divacum kenapa sie? Bikin pilek aja, Jo," gerutu Wahyu sambil mengusap-ngusap hidungnya.
"Jangan! Bulu Casper itu yang bikin cafe aku laris," tolak Bejo mentah-mentah.
"Ya Allah, jadi kamu pake pesugihan, Jo? Nggak nyangka ya kamu itu ... ckckck ...." Wahyu berdecak seperti cicak. Pesugihannya si casper. Wkwkwkwkw ...
"Bercanda geblek! Ntar ada yang denger mampus gua!" oceh Bejo.
"Terusin dech cerita kamu sama Mbak Tiwi!" perintah Bejo sambil menyeret kursi kayu yang ada di dekat pintu dan meletakkannya tepat di hadapan Wahyu.
Casper Bejo belai-belai layaknya membelai seorang wanita yang tertidur dalam pangkuannya. Dih ... Wahyu bergidik melihat kemesraan antara Bejo dan Casper, masih bagus kalau Casper itu betina, nah ini jantan .... masa hombreng with the cat?
"Jadi semalam dia udah cerita banyak gitu dech tentang hubungan dia sama si mantan, anak dia satu cewek masih usia tiga tahun gitu, Jo," jelas Wahyu mulai serius.
"Wah ... buy one get one (beli satu dapat satu) dong," celetuk Bejo.
"Hm ... aku kasihan aja sama nasib dia, padahal udah manis, sederhana gitu suaminya masih kurang terima. Sekarang dia masih sibuk nyari kerja, Jo. Kasian kan suaminya nggak ngurusin," ujar Wahyu.
"Nah sekarang yang mau aku tanya ... ini serius ya, Yu. Apa kamu udah siap nerima status Mbak Tiwi apa adanya? Ya menurutku ini terlalu dini sie untuk bicara secara kalian baru aja kenal di dunia maya dan belum pernah ketemu. Eh tapi dia tinggal di kota yang sama kan sama kita?"
"Iya, dia tinggal di kota yang sama."
"Ya udah kamu aja ketemuan aja besok Minggu," kata Bejo memberi ide.
"Iya kalau dianya mau ya, Jo. Aku juga lagi mikir bantu dia nyari kerjaan sie, kasian kan .... "
"Di kantor kamu nggak ada emang?" tanya Bejo.
"Nggak ada, Jo," jawab Wahyu lesu.
"Ya udah kita ngomongin ke depannya nie." Bejo udah mulai berlagak seperti Psikolog.
"Kalau aku lihat kamu kayaknya srek banget sama Mbak Tiwi padahal belum ketemu-"
"Ini tu rasanya kayak ada yang langsung greng aja, Jo. Paham nggak si kamu?" potong Wahyu berusaha mengekpresikan apa yang dia rasakan.
"Oh ... anumu?!" tanya Bejo sambil melihat ke celana Wahyu.
"Apaan anuku? Ngeres kan otak lu?" sungut Wahyu.
"Maksud aku hatiku yang greng, malah ke mana-mana pikiranmu! Geblek!" geram Wahyu.
"Ya kan wajar juga Yu kalau lelaki greng lihat janda bahenol," debat Bejo.
"Itu kamu! Lihat kucing betina tidur aja kamu greng," ledek Wahyu.
"Apaan? Jangan curhat deh!" Yang tadi niatnya mau ngobrol serius malah jadi ke mana-mana, ada kucing betina yang nggak ngerti apa-apa juga dibawa-bawa.
"Meooong!" Nah kan Si Casper nyaut aja.
"Kembali ke laptop! Jadi aku mau ngomong ini," gerutu Bejo.
"Ngomong tinggal ngomong!" sungut Wahyu.