6. Burung Dikandangin Yang Bener

2041 Words
"Jadi kalau misalnya itumu udah greng sama Mbak Tiwi." Bejo kembali melihat ke tubuh bagian bawah Wahyu. "Semprul! Aku tendang itumu tahu rasa lu!" ancamnya. "Yo ojo! Belum pernah kepake ini," decak Bejo. "Nggak percaya! Aplikasi noodlechat terus buat apaan kalau buat BO?" cecar Wahyu. "Yo ... cuma berani pegang-pegang doang nggak berani masuk, Yu. Hehehe." Bejo nyengir sekenanya. "Wkwkwkwk ... apaan pegang-pegang doang? Geblek kamu mah!" ledek Wahyu. "Mending aku nggak ada aplikasi maksiat kaya begitu. Ngomong-ngomong kalau pegang doang berapa?" selidik Wahyu mendadak menjadi kepo. "Pegang doang dua ratus," jawab Bejo. "Kalau masuk empat ratus, itu pakai pengaman lho," lanjutnya. Si Bejo sama Si Wahyu lagi ngomongin apa sie, Thor? Tiket masuk taman bermain! Hm ... "Hapal ya kamu? Wes jian angel-angel!" Wahyu menepuk keningnya sendiri. "Hish ... ini mau bahas kamu sama Mbak Tiwi malah ke mana-mana!" decak Bejo. "Aku mau tanya nich, kamu udah siap sama status Mbak Tiwi? Dia janda anak satu sedangkan kamu single masih perjaka segelan, nggak pingin apa dapat yang rapet?" Pertanyaan Bejo selalu saja nggak ada yang bener, eh ini bener sie? Untuk memantabkan hati Si Wahyu biar nggak menyesal dalam mengambil keputusan. Menikah itu kan untuk sehidup dan semati. "Sekarang mikirnya gini aja, Jo!" Wahyu menyilangkan satu kakinya, duduk dengan gaya sok santuy kaya di pantai, tinggal pakai topi sama kaca mata doang ini ... angin dari kipas udah sama kaya semilirnya angin sepoi di pinggir pantai. "Yang aku tanyain, memang kamu punya pikiran?" Pertanyaan yang berkamuflase sebagai sebuah hinaan. Eh kebalik, hinaan yang bertopengkan pertanyaan. "Semprul emang kamu tuch!" Wahyu melempar bantal yang ada di dekatnya tepat mengenai wajah Bejo dan jatuh menimpa Casper. "Meong ... !" Kucing itu kaget kemudian melompat turun dari pangkuan Bejo. "Casper, makan sana!" perintah Bejo sambil menunjuk ke piring makan makhluk berbulu nan imut tersebut yang tergeletak di dekat pintu masuk. "Meong ... Meong .... " Kucing itu menyahut seperti mengerti saja apa yang dikatakan oleh Tuannya. Namun, nyatanya dia memang paham apa yang Bejo katakan lho. Casper segera berjalan pelan-pelan, berhenti sebentar untuk menguap lebar kemudian makan ... Hm ... Mungkin itu hanya kebetulan saja Caspernya memang lagi kelaparan. Bukan karena dia mengerti apa yang Bejo katakan. Bejo kan bukan Nabi Sulaeman yang bisa bahasa binatang. "Sekarang banyak perawan yang aslinya udah nggak perawan, Jo. Cuma status doang di KTP. Ya kayak orang Islam, tapi nggak salat alias Islam KTP," terang Wahyu kembali ke pokok permasalahan. "Intinya ... biar aku kelihatannya dapat perawan, tapi pas malam pertama eh ... nggak segelan!" lanjutnya. "Nah mending sekalian sama janda, mereka jelas udah pernah menikah dan punya anak, bukan karena zina," jelas Wahyu menurut analisa pemikirannya yangs sedang waras. "Ya untuk menghindari penipuan status di KTP, kamu bisa kok test drive dulu!" celetuk Bejo. "Test drive gundulmu itu!" pekik Wahyu. "Bisa digantung sama Ibu Bapak kalau ketahuan!" "Ya, kamu yang pinter dikit dong, Yu! Masa iya habis check in kamu laporan bapak ibumu, itu namanya hasempruul tenan," tutur Bejo, enteng banget dia ngomong. "Aku bisa bohongin Ibu Bapak, tapi aku nggak bisa ngebohongin Allah," ungkap Wahyu sembari menunjukkan jari telunjuknya ke atas di mana Tuhan berada. Sisi religinya mulai keluar. "Udah kalah aku kalau menyangkut itu." Bejo angkat tangan. Memang secara agama mereka berdua pondasinya sangat berbeda, Wahyu lebih taat karena didikan kedua orang tuanya, sedangkan Bejo lebih slengekan dan salat kalau ingat. "Dari pada aku dapat dosa mending nggak usah, Jo." "Nah, terus apa kamu yakin orang tuamu bakalan setuju?" Pertanyaan Bejo ini yang masih menjadi beban pikiran buat Wahyu. "Mmm .... " Wahyu bergumam sambil menatap ke langit-langit ruangan. "Jangan bilang kamu nggak tahu bagaimana respons keluargamu ya, Yu! Aku tampol nanti!" sungut Bejo, seperti sudah paham apa yang ada di pikiran sahabatnya. "Sejujurnya aku belum pernah ngebahas tentang ini sama Ibu Bapak, Jo. Tapi mereka masih ngedesak aku buat nikah terus, puyeng kan palaku!" "Jadi yang harus kamu lakuin adalah ... pancing pembicaraan tentang ini ... tentang jodohmu kalau semisal dikasih janda beranak satu sama Allah mereka siap enggak, tapi sebelumnya kamu juga harus ketemu dulu sama Mbak Tiwi! Jadi jangan sampai udah cinta pas ketemu menderita. Maksud aku takutnya Mbak Tiwi kecewa sama penampakan wajah kamu yang standar nasional ini, Yu." Selalu saja mencela dan Wahyu juga udah terbiasa juga sie. ** Selepas pulang dari Cafe milik Bejo, Wahyu melamun di kamar. Semenit yang lalu dia baru saja menyudahi obrolannya dengan Tiwi melalui sambungan suara di whatslapp, belum berani video call karena masih malu-malu kucing. "Tok ... tok ... tok ... !" Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Wahyu tentang sosok Tiwi yang baru bisa dia lihat parasnya melalui foto-foto di sosial medianya. Berharap dia akan segera bertemu langsung dengan wanita itu tanpa menunggu waktu yang lama. Wahyu membuka pintu setelah suara teriakan ibu menembus masuk hingga ke dalam kamarnya. "Kenapa, Bu?" tanya Wahyu. Jam menunjukkan pukul sembilan lebih seperempat, sudah lebih dari jam makan malam jadi tidak mungkin Ibu mengajak dia makan. Lagian Ibu pasti tahu kalau main di cafe Bejo pasti Wahyu tidak akan kelaparan. "Bapak sama Ibu mau ngomong sama kamu, Yu," jawab Ibu membuat jantung Wahyu berdebar sangat kencang. Aduh ... ada apa, ya? "Iya, Bu." Wahyu menurut saja dan berjalan beriringan bersama Ibu ke ruang keluarga. Sampai di sana sudah ada Bapak dan Setyo, sang adik. Bapak berdiri dengan posisi membelakangi pintu, sedangkan Setyo duduk di sofa dengan posisi kepala tertunduk lesu. Wahyu menduga pasti ada kesalahan yang dilakukan oleh adiknya hingga Setyo hanya berani menundukkan kepalanya. "Wahyu, duduk di dekat adikmu!" perintah Bapak tegas sambil berbalik badan ketika mendengar langkah kaki Ibu dan Wahyu semakin mendekat masuk ke dalam ruang keluarga. "I-Iya, Pak," sahut Wahyu dengan gugup. Dia kembali mengingat-ingat apa yang terjadi hari ini atau beberapa hari sebelum ini. Kayaknya aku nggak buat salah apa-apa, seingatku sie. Gumamnya dalam batin. Hanya tadi pagi saja bangun kesiangan. Lanjutnya sambil mendudukkan pantatnya di sisi adiknya. Bapak kembali berbalik badan sambil menyilangkan ke dua tangannya ke belakang. Kalau Bapak sudah begini, pastilah saja ada sesuatu hal yang penting dan bisa saja beliau akan marah besar setelahnya. "Shut ... !" Wahyu berdesis sambil menyenggol pelan lutut adiknya yang sejak tadi masih saja menundukkan kepalanya. Setyo menoleh ke abangnya. "Bapak kenapa? Kamu bikin ulah, ya?" tuduh Wahyu membuat jantung Setyo yang sejak tadi bertabuh kencang semakin dibuat kelabakan. "Wahyu, Bapak mau tanya .... " Bapak mulai bicara dengan nada yang tegas. "I-iya, Pak," jawab Wahyu masih gugup. "Kamu nggak pernah main wanita yang aneh-aneh kan?" tanya Bapak sambil berbalik badan. Sementara itu, Ibu duduk di sofa yang berbeda dari Wahyu dan Setyo nampak terlihat sangat sedih dan menahan tangis. "Main? Maksud Bapak main itu gimana?" tanya Wahyu dengan lugunya. "Bapak rasa kamu paham arah pembicaraan Bapak kan? Jangan pura-pura polos! Adikmu saja bisa menghamili anak orang ... apalagi kamu-" "Apa?" potong Wahyu menghentikan ucapan Bapak. "Ba-Bapak lagi bercanda?" tanya Wahyu memastikan. Nggak percaya aja sama apa yang diomongin Bapak barusan, Setyo menghamili anak orang kata Bapak. "Tanya adikmu!" jawab Bapak sambil menunjuk ke arah Setyo. Wahyu memutar kepalanya menatap adiknya yang masih diam membisu. "Seriusan, Set?" tanya Wahyu shock berat. Setyo mengangguk. "Plaak ...!" Wahyu refleks memukul bahu Setyo dengan cukup kencang. "Eh gila kamu, ya! Bisa-bisanya ngelakuin itu?! Kamu bikin Bapak sama Ibu malu tau nggak sie?" tegur Wahyu marah besar. "Bang ... aku khilaf, Bang," kata Setyo dengan ekspresi ketakutan. "Khilaf apaan sampai hamil? Kalau udah kebelet ya nikah jangan gituan! Ah lu mah payah! Siapa yang kamu hamili?" desak Wahyu. "Ya pacar aku-lah, Bang." "Nadia?" Setyo mengangguk. "Lagian kamu kan udah kerja juga, pacaran juga udah lama ngapain nggak nikah aja sie malam main-main, burung lu nggak ada akhlak emang!" omel Wahyu. Ingin sekali dia mematahkan perkutut adiknya. "Aku ngerti aku salah, Bang. Makanya aku mau tanggung jawab, aku mau nikah, Bang. Sebelum kandungan Nadia tambah gede," tegas Setyo. Nasi sudah terlanjur menjadi bubur, tidak ada yang bisa dilakukan. Kejadian ini justru memberi banyak pelajaran buat Wahyu dan secara tidak langsung dia malah bersyukur karena diberi nikmat jomblo yang membuatnya jauh dari maksiat dan zina. "Bapak mau marah ya gimana? Udah nggak bisa lagi diapa-apain kalau kayak gini selain kita ijab kan. Udah terlanjur bunting mau bagaimana lagi? Makanya Bapak kan suka desak kamu untuk segera nikah, bukan karena Bapak cerewet, tapi Bapak tahu jaman sekarang itu jaman edan. Terus gimana? Orang tua Nadia udah tahu apa yang terjadi?" ujar Bapak. Tadinya ketika Setyo bilang perkututnya udah bikin bunting anak orang ya beliau kaget, jelas marah bangetlah ... tapi setelah beliau pikir-pikir, percuma juga ngamuk habisin tenaga doang, toh nggak bisa bikin keadaan jadi membaik kan. Kalau orang hamil ya jalan keluar satu-satunya ya dinikahin, itu doang tanggung jawabnya. Kecuali kalau main narkoba, mungkin memang seharusnya butuh diomelin panjang lebar, disadarin biar nggak ngulang, diobatin biar kecanduannya ngilang. "Udah tahu, Pak. Makanya pipi aku yang sebelah kiri lebam," jawab Setyo sambil menunjukkan pipinya yang sebelah kiri. Terlihat luka itu membiru dengan bentuk bulat seperti telur asin. "Syukurin! Kena bogem mentah Bapaknya kan kamu?" ledek Wahyu. "Itu udah pantas kamu dapatin! Kalau Wahyu dihamili orang juga bakal Bapak jotos muka itu perempuan!" sambung Bapak yang bukannya ngamuk malah bercanda, balik tadi seperti yang author bilang ... percuma ngamuk udah terlanjur enak ... eh terlanjur bunting. "Bapak, hish!" gerundel Wahyu. "Ini buat pelajaran kamu, Yu. Kudu ati-ati nahan hawa napsu, kalau sekiranya udah saling cocok ya nikah, ngapain pacaran lama-lama? Mau numpuk dosa? Bapak kecewa sama kamu, Set. Tapi ... yach ... mau bagaimana lagi kalau udah terlanjut. Besok kita harus segera ke rumah Nadia buat mempertanggungjawabkan perbuatan anak kita, Bu. Ibu sudah siap?" Bapak melempar pertanyaan pada Ibu yang sejak tadi hanya diam membisu. "Ibu pinginnya Wahyu dulu yang nikah, Pak. Dia kan anak pertama masa dilompati adiknya?" jawab Ibu dan balik bertanya. Kasihan tuch kalau adiknya nikah duluan dari kakaknya. "Ya mau bagaimana lagi to, Bu? Orang Wahyu juga belum ada jodoh, ini anak bungsumu yang harus diselamatkan dulu," tegas Bapak. "Ya bagaimana Wahyunya juga, Pak. Ikhlas gak dia dilangkahi adiknya duluan?" cetus Ibu sambil memerhatikan Wahyu. "Ya silahkan kalau aku mau dilangkahi, aku ikhlas aja, tapi ...." Wahyu menggantung kalimatnya membuat semua orang penasaran. ".... jatah langkahannya harus yang oke," lanjutnya sambil nyengir jahat ke arah adiknya. "Memang Abang mau apa?" tanya Setyo. "Lamborghini, hahaha," jawab Wahyu kemudian tertawa. "Busyeeet!" Setyo berteriak. "Mana cukup tabungan aku buat beliin Abang lamborghini? Gila ini abang gue!" sungutnya kesal. "Lu yang gila! Makanya burung itu dikandangin yang bener!" oceh Wahyu sambil menonyor jidat adiknya. "Ini juga udah bener abang, udah pas sesuai kandangnya makanya bisa tekdung!" serang balik Setyo dengan berapi-api. "Emang abang pedang-pedangan mulu sama Mas Bejo!" imbuh Setyo mulai membawa-bawa Bejo yang tidak berdosa apa-apa dalam masalah ini. "Mulai ribut lagi kan! Udah pada diem! Bapak mau ngomong serius! Set, jadikan ini pelajaran jangan sampai kamu ulangi lagi!" nasehat Bapak. "Kalau udah nikah ya aku ulangi, Pak," balas Setyo. "Itu beda urusannya, Kampret!" decak Wahyu. "Kalau udah sah mah terserah mau kamu giling berapa kali juga nggak dosa nggak ada yang ngelarang!" "Dan kamu Wahyu!" Gantian Wahyu yang menjadi sasaran Bapaknya. "Iya, Pak." "Jangan sampai kamu ikuti apa yang adikmu lakukan! Bapak malu! Bapak jadi ngerasa gagal jadi orang tua karena nggak bisa mendidik akhlaknya dengan baik. Kamu harapan Bapak sama Ibu satu-satunya. Jangan kecewakan kita juga! Kalau udah ada wanitanya langsung nikah aja, asal baik, seagama dan bisa nerima kamu apa adanya bukan ada apanya," nasehat Bapak untuk Wahyu. "Janda nggak apa, Pak?" celetuk Wahyu secara spontan membuat Setyo, Ibu dan juga Bapak langsung menghunuskan pandangan mata mereka ke arahnya. "Kalau itu tergantung jadi jandanya karena apa, Yu," kata Ibu. "Kalau janda nggak bener Bapak ya nggak setuju," sambung Bapak. "Janda memang lebih menggoda sie," gumam Setyo. "Janda yang nggak bener itu macam mana pula, Pak?" Mendadak logat Wahyu jadi kayak orang Medan aja. "Janda yang nggak bener itu misalnya dia diceraiin suaminya karena dia selingkuh atau ngelakuin hal-hal negatif lainnya," jelas Bapak. "Kalau dia yang diselingkuhin, Pak? Orangnya manis kok, sederhana, baik lagi," cetus Wahyu dengan lancar jaya udah yang kayak mobil melesat tajam di jalan tol Semarang - Solo. "Lhah, Bang Wahyu kesengsem sama janda?" celetuk Setyo membuat Wahyu seketika itu juga membungkam mulutnya dengan ke dua telapak tangan. Keceplosan aku. Pikirnya sambil garuk-garuk kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD