**
"Busyet! Apa kamu nggak ngerasa terhina tu, Yu?" tanya Bejo dari ujung telepon. Memang udah kayak orang pacaran sie mereka, baru tadi ketemu udah telpon-telponan lagi.
"Terhina dari segi mananya geblek?" umpat Wahyu ngegas.
"Nah, perkututmu aja nggak guna punya adikmu udah berkiprah dengan baik lho, udah terbukti berfungsi sebagaimana mestinya," celoteh Bejo.
Udah Wahyu duga pasti omongan Bejo nggak akan ada serius-seriusnya. Eh, tapinya tetap aja kalau ada apa-apa ya sharingnya sama Bejo, emang udah nggak ada temen lain lagi sie selain Bejo doang.
"Besok juga akan berguna kalau udah nikah," tutur Wahyu santai meski agak kesel.
"Nah kamu aja pacaran nggak pernah ciuman nggak pernah pegang-pegang, aku tuch berasa kayak gimana ya .... "
"Udah dech nggak usah ngedrama, Jo! Aku racunin Si Casper tau rasa lu!" ancam Wahyu.
"Santai, kopi sianida siap antar kalau kamu berani racunin kucingku. Terus tujuan kamu nelpon aku apaan?"
"Ya cuma mau ngasih tahu doang kalau adikku mau nikah."
"Jangan lupa minta langkahan yang wow!" Bejo mengompori, tapi Wahyu udah paham kalau ini.
"Udah! Aku minta lamborghini."
"Busyet! Itu nyekik leher, Jon! Rumah aja yang di cluster mewah!"
"Sama aja, Bambang!"
"Kasian kamu, Yu. Dilangkahi adikmu. Ckckckck." Entah ini maksudnya beneran bersimpati atau ngeledek.
"Pokoknya kalo kamu mantab sama Mbak Tiwi, ajak dia buat ketemu! Biar kalau uda ketemu kan jelas mau dibawa ke mana arahnya."
"Iya aku ngerti," kata Wahyu.
**
Tiwi sudah selesai berdandan, kemudian "Cekrek-cekrek ... " Dia berpose di depan kamera kemudian berswafoto ria.
Entalah, semenjak jadi janda kenapa dia jadi centil nggak karuan. Eh, ngaruh kah?
"Tinggal upload," kata wanita berumur tiga puluh tahun itu dan segera mengunggah foto hasil jepretan kamera depannya di story facegedebook.
Tak lama berselang setelah diupload, ada beberapa messenger masuk salah satunya adalah dari Wahyu.
"Mas Wahyu, nggak tahu kenapa kok aku udah ada feel sama dia sejak awal dia chat aku, ya. Dia itu sopan, pas aku bilang aku udah punya suami dia langsung mundur dan baru mau chat lagi setelah aku pisah. Langka lho lelaki kayak gitu," gumam Tiwi.
Sejak malam mereka bertukar nomor whatslap, komunikasi mereka menjadi lebih intens. Mereka kerap melempar perhatian, saling bertanya sedang apa, sudah makan atau belum dan berbagai basa-basi busuk lainnya.
Beberapa hari selanjutnya tepatnya hari Minggu sore, Wahyu mengajak Tiwi untuk bertemu di CasCisCus Cafe alias cafe milik Bejo. Lagi-lagi Bejo diikut sertakan, bukan hanya ikut serta, malahan semua yang Wahyu lakukan atas arahan dari Mas Bejo.
"Kamu tunggu dia di sini! Ini meja yang nomornya membawa keberuntungan dari meja-meja yang lainnya," jelas Bejo. Dia mengarahkan sahabat di luar kandungannya tersebut di sebuah table bernomor tiga belas yang ada di dekat pintu keluar samping di mana di dekat situ ada jendela kaca besar dengan sebuah pemandangan taman yang ada air mancurnya di tengah.
"Perasaan tiga belas itu bukannya unlucky number (nomor sial), ya, Jo?" protes Wahyu.
"Itu menurut orang-orang, tapi menurut aku enggak," debat Bejo.
"Udah nggak udah banyak protes! Kamu nurut aja!" lanjutnya memaksa Wahyu untuk mengikuti semua perkataannya.
"Iya wes iya, tapi penampilan aku udah oke kan?" tanya Wahyu meminta Bejo menilai penampilannya yang lain dari pada yang lain, ini juga atas arahan Bejo.
Pokoknya kamu harus dandan setampan mungkin biar dia terpesona di pertama kali dia melihat kamu. Begitu kata Bejo by phone kemarin sore.
"Ini udah maksimal, ya, Yu? Wanginya udah oke sie kayak kuburan baru." Sudah paham kan? Selalu saja ada celaan disetiap ucapannya yang membagongkan.
Bejo memperhatikan Wahyu dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Sialan! Udah bentukan mukaku dari pabrik begini mau diapain lagi? Kaya kamu ganteng aja!" omel Wahyu nyolot.
"Sama Casper lebih ganteng Casper malahan," ledek Bejo. Belum puas dia ngehina sahabatnya sampai harus disamain sama kucing peliharaannya juga, emang sahabat lucknut!
"Lu ya bukannya bikin kepercayaan diri gue naik malah bikin kemaluan gue yang membesar! Kampret emang!" sosor Wahyu sambil mengibaskan blazer semi formalnya yang berwarna biru tua yang dilengkapi kaos V-neck berwarna putih di dalamnya.
"Wkwkwkwk ... emang bisa gitu? Nggak yakin aku mah," ledek Bejo sambil terkekeh.
"Maksud aku rasa malu bukan yang onoh! Ngeres mulu! Buruan kawin sana!" ketus Wahyu lalu menoyor jidat nonong Bejo yang selapangan bola.
"Kan kita udah janjian mau nikah bareng, resepsi bareng, malam pertama bareng, orang pas bayi aja kita copot tali puser barengan juga, sunat pun juga bareng kan? Jangan lupa janji setia kita, Yu!" tutur Bejo dengan ekspresi yang sok dimelas-melasin.
Wahyu malah jijik eh denger yang Bejo omongin barusan. Lelaki itu mengedikan ke dua bahunya sambil menjulurkan lidahnya.
"Nggak naik kelas pun kita barengan," imbuh Bejo.
"Apaan? Ngigau ya kamu? Aku naik terus mana pernah enggak naik?" Wahyu protes keras.
"Oh aku mimpi berarti." Bejo garuk-garuk kepala.
Wahyu melihat jam yang melingkar di tangannya. Lima belas menit lagi, dia harap Tiwi tidak datang terlambat. Jantungnya sudah berdag-dig-dug ria sejak tadi. Rasa nerves yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Harapan yang besar sudah dia berikan pada hubungannya dengan wanita itu, semoga bisa seperti yang diingankan, mereka bisa cocok dan menjalin cinta hingga di pelaminan. Nggak mau kalah juga sama adiknya yang udah mau menikah.
"Kamu bawa mobil kamu yang paling mahal kan?" tanya Bejo.
"Iya seperti yang kamu mau," jawab Wahyu.
"Aduh ... aku deg-degan lho, Jo," imbuhnya. Tangan Wahyu sampai dingin dan gemeteran.
"Tarik napas dalam-dalam! Jangan keluarin, oke?"
"Mati dong, Kisanak!"
Tak lama berselang ada seorang wanita datang, dia berdiri di depan pintu masuk sambil menyisirkan pandangan matanya.
"Di mana Mas Wahyu, ya?" gumam Wanita itu. Maklum saja dia tidak pernah melihat foto Wahyu secara jelas, photo profil whatslapnya pun menundukkan kepala jadi mana Tiwi hapal wajahnya, sedangkan di facegedebook jarang upload foto juga orangnya.
Dari kejauhan justru Bejo yang peka. Dia memperhatikan gelagat mbaknya yang kebingungan sambil sesekali melihat ke hape yang dibawanya.
"Yu, itu bukan? Janjian dia pake baju apa?" tanya Bejo sambil menunjukkan tangannya ke arah si mbak-mbak yang manis dan sexy yang masih berdiri di tempatnya, meski tidak berpakaian terbuka, tapi auranya bisa terlihat sexy dan menggoda.
"Eh iya bener, Jo. Pakai baju merah, Masya Allah manis banget. Eh beneran udah oke kan aku?" Wahyu langsung salah tingkah. Dia memperhatikan kembali penampilannya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"Udah maksimal segitu ya udah dipede-pedein aja, Jo!" jawab Bejo santai.
"Deg-degan banget. Eh hape aku bunyi." Rupanya Tiwi menelpon karena beberapa chatnya tidak dibalas juga oleh Wahyu, saking sibuknya memperhatikan Tiwi dari kejauhan sampai nggak ngeh kalau ada pesan masuk.
"Eh, Wi, kamu yang berdiri di dekat pintu kan? Sini!" Wahyu melambaikan tangan.
Tiwi menegok ke arah Wahyu kemudian melempar senyum dan mematikan panggilan suara. Wanita itu berjalan mendekat pada si lelaki yang sudah mau jantungan karena nerves sejak tadi menunggunya.
Duh ... kok gemeteran sie? Tubuh Wahyu makin nggak bisa dikontrol.
"Assalamualaikum, Mas Wahyu, ya?" tanya Tiwi pada Bejo, eh malah salah sasaran.
"B-Bukan, Mbak," jawab Bejo yang malah ikutan gemeteran. Kalau dilihat lebih dekat ternyata lebih manis, mana baunya wangi banget, semerbak parfum elegan yang nggak murahan meski harganya murah. Wkwkwkwk ...
"Hahaha." Tiwi tertawa.
Duh ... bisa kena diabetes aku. Pikir Wahyu menatap tawa Tiwi yang aduhai.
"Iya, udah tahu, kok. Sengaja biar Mas Wahyu deg-degan kalau aku salah ngenalin orang," canda Tiwi kemudian melihat malu-malu ke arah Wahyu.
"Hai, Wi! Senang banget bisa ketemu kamu," sapa Wahyu plus basa-basi busuk yang udah pasaran dia lontarkan. Tangannya pun secara spontan terulur ke arah wanita itu.
"Hi, Mas Wahyu! Seneng juga bisa ketemu kamu," sapa balik Tiwi sambil menyambut uluran tangan Wahyu.
"Halus banget tangannya, Jo." Bisa-bisanya Wahyu berbisik seperti itu di telinga Bejo yang masih berdiri di sampingnya.
"Mas Wahyu kok tangannya dingin banget? Mana basah lagi," tegur Tiwi sembari tersenyum simpul.
"Oh, ini karena nerves mau ketemu kamu," jawab Wahyu jujur.
"Hahahaha ... kayak mau ketemu siapa aja sie Mas pakai nerves?" ledek Tiwi sampai akhirnya dia menarik tangannya karena Wahyu tak kunjung melepas jabatan tangan mereka.
"Silahkan duduk, Mbak! Setelah ini akan banyak menu spesial dari cafe kami," kata Bejo dengan sopan.
"Wow ... keren!" Tiwi mengulurkan jempolnya sambil memicingkan satu matanya. Tak lupa senyum itu masih terlukis jelas di bibir merahnya.
"Woey, peka dikit!" Bejo memukul p****t Wahyu, memberi kode pada sahabatnya itu untuk menarikkan kursi supaya bisa diduduki sama Tiwi. Ya ... ala-ala cowok romantis masa kini gitu lho.
Wahyu langsung paham kode yang diberikan oleh sahabatnya tersebut. Dia segera berpindah tempat untuk meraih kursi kosong yang sudah dipersiapkan untuk wanita pujaan hatinya tersebut.
"Silahkan duduk, Wi! Nggak usah malu-malu! Anggap aja cafe sendiri," kata Wahyu dengan diselingi gurauan biar nggak begitu tegang.
Eh, orang Tiwinya biasa aja, tapi justru dia yang tegang banget. Yang bawah aman kan, Yu? Kalo ikutan tegang kan repot ... wkwkwkwk ... authornya porno. ^_^
"Makasih ya, Mas Wahyu," sambut Tiwi sambil mendudukkan pantatnya di kursi yang dipersiapkan oleh Wahyu.
"Sama-sama, Wi." Wahyu kembali ke tempat duduknya, tapi sebelum itu dia balas memukul p****t Bejo kemudian berkata, "Bisa pergi nggak?" bertanya sambil membelalakkan bola matanya.
"Ck ... iya-iya." Bejo tidak mau mengganggu kesenengan sahabatnya. Memang Bejo sahabat yang baik meski sedikit lukcnut.
Setelah Bejo pergi, tinggal mereka berdua saja. Cafe malam ini ramai, tapi memang di tempat Wahyu dan Tiwi ini letaknya lebih menepi dan jauh dari keramaian, macam semi privat gitu lah.
Mendadak suasana jadi romantis, lampu cafe disetting remang-remang dengan suara gemericik air dari kolam plus lagu cinta yang sengaja Bejo putarkan untuk menemani kencan pertama Wahyu dan Tiwi.
Agak malu-malu awalnya. Malah pada sibuk saling melempar senyum. Bejo mengamati tingkah Wahyu dari kejauhan.
"Ajak ngobrol, Geblek! Malah kaya orang bego senyam senyum terus!" pekik Bejo gemas-gemas jengkel jadinya.
"Kamu tadi ke sini naik apa?" tanya Wahyu basa-basi.
"Naik ojek online, Mas. Habisan mau naik apa lagi? Aku nggak berani naik motor jauh-jauh," jawab Tiwi.
Tak lama beberapa makanan dan minuman datang dibawakan oleh dua orang waiters suruhan Bejo.
"Wah ... ini kan makanan dan minuman kesukaan aku semua, Mas?" Tiwi senang semua menu yang dihidangkan adalah favoritnya. Padahal ini nggak ada acara pesan dulu, pilih-pilih menu kayak orang biasanya kalau mau makan di cafe gitu kan, baru juga Tiwi duduk nggak ada lima menit, eh makanan udah datang aja.
"Spesial buat kamu, Wi," kata Wahyu.
Beberapa hari mereka berkomunikasi, sudah banyak info yang mereka ketahui satu sama lain. Bahkan kebiasaan sehari-hari mereka pun juga udah hapal. Jadi Wahyu sengaja memesankan semua makanan dan minuman yang jadi favorit Tiwi, ya ... biar berkesan di hati gitu dech maksudnya.
Pokoknya dia berterima kasih banyak sama Bejo yang udah siap siaga banget bantuin dia. Termasuk menyiapkan semua menu yang Tiwi suka, nah kaya lumpia ... ini makanan kan nggak tersedia di cafe Bejo, tapi Bejo usahain buat ada, ya meski harus hunting dulu di beberapa tempat yang jual makanan itu.
"Ya Allah, Mas Wahyu ini repot-repot banget, ya. Aku jadi nggak enak," ucap Tiwi. Beneran nggak enak lho, baru juga ketemu udah dijamu dengan spesial seperti ini.
Adel dan Sherli menata semua makanan di atas meja. Mereka menahan senyum, rasa hati pingin banget ngledekin Wahyu seperti yang biasa mereka lakuin, tapi untuk kali ini nggak bisa karena takut diamuk Bos mereka. Wkkwkw ...
"Silahkan dinikmati, Mas, Mbak," kata Sherli dan Adel bersamaan, kayak yang udah dilatih ini mah bisa kompakan gitu.
"Makasih, Mbak," sambut Tiwi seraya melempar senyum simpul.
"Ayo, Wi! Dimakan yang banyak biar gendutan," kata Wahyu.
"Memang aku kurus banget ya, Mas?" tanya Tiwi sambil memerhatikan dirinya sendiri.
"Gemukin dikit lagi tambah oke," jawab Wahyu. Sengaja Wahyu nggak terlalu lama memandang bagian leher ke bawah, karena takut khilaf.
"Iya ini efek masalah rumah tangga kemarin, Mas. Jadinya aku kurusan karena kurang makan," kata Tiwi disisipi dengan curhatan.
"Jadi sekarang harus makan yang banyak, biar cepat gemuk sama cepat move on juga," tutur Wahyu perhatian.
"Udah move on kok, Mas. Ngapain sie dipikirin orang yang udah nyakitin kita?" kata Tiwi sambil mencomot satu lumpia kesukaannya.
"Aku makan ya, Mas," imbuhnya.
"Iya, ini kan buat kamu semua," kata Wahyu.
Tiwi menggigit lumpia isi rebung, udang dan telur tersebut dengan mantab setelah ia cocolkan ke sausnya.
"Wow ... ini enak banget lho, Mas," puji Tiwi sambil mengunyah dengan semangat.
"Syukurlah kalau kamu suka," sahut Wahyu sambil menatap mata wanita itu lekat-lekat.
"Mas Wahyu kok nggak makan malah ngelihatin aku makan. Ayo a' aku suapin!" pinta Tiwi sambil menyodorkan lumpia yang ada di tangannya.
"Eh nggak apa kan makan satu gigitan sama aku? Aku sehat kok," kata Tiwi, takutnya Wahyu jijik kan karena bekas dia.
"Enggak kok santai aja!" sambut Wahyu lalu menerima suapan dari Tiwi. Eh gigitnya kurang kenceng itu, Yu. Isiannya sampai jatuh-jatuh dan membuat Tiwi tertawa.
"Makannya semangat amat, ya," canda Tiwi. Ia menarik tissu untuk mengelap bibir Wahyu yang belepotan.
"Maaf, Mas. Jadi kayak anak bayi makan disuapin emaknya, hahaha." Tiwi terkekeh selepas menggoda Wahyu.
Dari kejauhan Bejo geleng-geleng kepala. "Wah ... Si Wahyu ini emang kurang agresif kalo aku bilang," gumamnya.
Suasana yang tadinya agak canggung dan malu-malu, kini sudah mulai asyik. Memang beda waktu ketemuan sama ngobrol di chat doang. Pas saling tukar pesan sie udah santai banget mereka, bercandaan juga udah biasa, eh pas tatap muka malah jadi deg-degan dan agak bingung mau mulai ngobrol dari mana. Namun, rasa-rasa itu sudah bisa dicairkan. Mereka kini bisa ngobrol asyik berdua disisipi dengan candaan yang mereka lemparkan.
Alhamdulilah dinner malam ini berjalan dengan baik. Wahyu menawarkan pada Tiwi untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Awalnya Tiwi menolak karena mengingat statusnya yang masih dalam proses perceraian alias belum ketuk palu, dia takut kalau tetangga menggunjingkan Wahyu dan dirinya. Namun, mengingat ini sudah larut malam dan Wahyu takut ada lelaki iseng yang menggoda wanita itu, maka dia pun sedikit memaksa. Bukan bermaksud kurang ajar, cuma ingin memastikan kalau Tiwi sampai di rumah dengan selamat.
Wahyu mengantar Tiwi pulang ke rumah menggunakan mobil berwarna merah kesayangannya. Mobil yang pertama kali dia beli dengan hasil kerjanya sendiri, jadi dia bangga banget kalau naik mobil itu, kendaraan hasil dari memeras keringat sepanjang hari alias nggak minta orang tua.
Rumah Tiwi dari cafe milik Bejo ternyata jauh banget. Untung Wahyu tadi udah maksa buat nganter wanita itu pulang. Mana jalannya sepi dan gelap. Lelaki mana yang nggak silau lihat body goal Tiwi yang menggoda. Wahyu aja sampai nggak berani kelamaan memandang, takut zina mata yang berujung kebablasan. Takut nurunin jejak adiknya yang bikin malu nama orang tua.
"Wi, kamu nggak nyesel kan ketemu aku? Aku kan jelek banget," tanya Wahyu. Aslinya dalam hati dia takut dan was-was, banyak juga kan yang hubungan menjadi bubar jalan setelah kopi darat alias bertatap muka secara nyata. Wahyu sadar kok wajahnya standar nasional seperti yang Bejo bilang. Jelek engga, cakep juga enggak ...
Tiwi tersenyum. "Ya enggaklah, Mas. Mas Wahyu manis kok siapa bilang jelek? Lagian kan orang yang dilihat hatinya bukan tampangnya, Mas. Yang ada mungkin Mas Wahyu yang nyesel ketemu sama aku," jelas Tiwi sambil memerhatikan dereta pohon dan tiang-tiang listrik dari jendela mobil.
"Enggaklah! Kamu manis banget sama kayak yang di foto, malah lebih manis sie," kata Wahyu. Ini jujur ya bukan peres.
"Alhamdulilah, jadi nggak ada masalah ya, Mas? Kita masih bisa temenan kayak biasanya kan?" tanya Tiwi sembari memutar lehernya menghadap ke Wahyu yang juga menengok ke arahnya sejenak sebelum kembali fokus melihat keadaan di depannya.
"Aku malah maunya lebih dari teman .... ya ... kalau Allah meridloi," ujar Wahyu membuat jantung Tiwi menjadi berdebar kencang.
Eh, ini bukannya terlalu terburu-buru, ya? Ntar kalau Tiwinya ilfeel gimana? Sialan aku dikerjain Bejo jangan-jangan! Gerutu Wahyu. Iya ... Si Bejo yang nyuruh Wahyu bilang begitu, karena menurut dia Wahyu itu kurang agresif. Jangan membuang banyak waktu! Kalau udah cocok, pastiin kalau Tiwi wanita baik-baik, kemudian nggak usah pacaran lama-lama, sikat langsung nikah! Masa iya adiknya udah punya anak dia masih jojoba? Jomblo-jomblo bahagia. Wkwkwkwk ....
"Insya Allah kalau jodoh mah nggak akan ke mana, Mas," jawaban klise terlontar dari mulut Tiwi.
Namun, Wahyu bener-bener berharap bisa lanjut ke pernikahan sama Tiwi. Biar kata single parents juga dia terima, setelah status Tiwi sah, dia akan segera mendekatkan diri pada anak Tiwi, mau belajar jadi ayah yang baik. Harapan yang terlalu muluk-muluk nggak sie? Eh, tapinya orang hidup kan memang harus punya harapan kan? Biar semangat karena ada yang kita tuju, bukan cuma sekedar kerja, nyari duit, makan, tidur, begitu seterusnya sepanjang hari.
"Oya, Mas. Tadi kayaknya di cafe tempat teman Mas Wahyu tadi lagi buka lowongan, ya? Aku mau dong Mas kalau diijinin," kata Tiwi. Saat mereka keluar dari cafe Bejo tadi, nggak sengaja lihat pengumuman yang tertempel di depan pintu kalau cafe tersebut membutuhkan karyawan baru sebagai waiters dan kasir.
"Iya memang lagi ada lowongan, Wi. Memang kamu nggak malu kerja di situ?"
"Ya enggak lah, Mas. Ngapain malu? Yang penting kan halal bisa buat makan anak."
Wahyu semakin dibuat bangga dengan sosok perempuan kuat yang ada di dekatnya saat ini. Wanita yang apa adanya, wanita yang nggak penah malu dengan apa yang dia punya. Dia rela ngelakuin apa aja demi anaknya selama itu halal.
"Ya udah bikin lamaran aja, biar besok aku bilang sama Bejo, ya," kata Wahyu bersedia membantu Tiwi.
"Makasih ya, Mas. Tapi, jangan bilang juga sama teman Mas Wahyu, takutnya ntar jadi kkn, diterima kerja karena aku temennya Mas Wahyu."
"Nggak kok, Wi. Tenang aja." Padahal dalam hati Wahyu akan berusaha supaya Tiwi dapat kerjaan di cafe Bejo. Cuma Bejo kan? Kecil ....
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di depan gang perumahan Tiwi. Sengaja di depan gang aja turunnya, enggak di depan rumah, biar nggak ada tetangga yang tahu. Takut jadi fitnah dan bahan ghibah.
"Makasih ya, Mas," kata Tiwi sambil membuka sabuk pengaman yang melilit pinggangnya.
"Sama-sama, Wi. Oya, aku boleh ngomong nggak?" tanya Wahyu meminta ijin terlebih dulu.
"Boleh kok, Mas. Silahkan!"