10. Hompimpa Alaiyum Gambreng

2565 Words
** Tiwi bersemangat menyambut aktifitasnya pagi ini. Semalam dia lembur untuk membuat surat lamaran kerja yang mau dia bawa ke cafenya Bejo. Semua persyaratan sudah Tiwi siapkan dalam jumlah yang banyak, mulai dari pas foto, fotokopi ijasah, ktp, skck, dan yang lain-lain. Jadi tinggal buat lamaran yang ditulis di kertas folio aja kalau pas ada lowongan. "Ibu mau lamar kerjaan dulu ya, Dek. Arsyi nanti di rumah sama nenek," kata Tiwi berpamitan pada anaknya. "Bu ... itut ... mau itut," rengek Arsyi, dia bilang mau ikut ibunya. Si anak itu pun menangis, dia nggak pernah pisah dari ibunya, tiap hari juga nemplok sama ibu terus. Jadinya kalau mau ditinggal selalu rewel. Tiwi menggendong anaknya, bau sedap aroma minyak telon yang menempel pada tubuh si anak pun menguar hingga ke hidungnya. Maklum sehabis mandi pasti Arsyi baunya wangi, nanti agak siangan udah kecut lagi. Wajar banget karena dia anak kecil yang tergolong aktif dan nggak bisa diam. "Jangan nangis! Kamu di rumah sama nenek, ya!" Tiwi membujuk anaknya untuk mau menurut. Rasanya sakit banget kalau pas anak lagi rewel begini, jadi suka nyalahin keadaan. Andai bapak dari anaknya ini nggak nelantarin mereka, pasti dia nggak akan susah payah nyari kerja, pasti dia masih tetap bisa bersama-sama dengan anaknya setiap hari, mengurusnya dan mengawasi tubuh kembangnya. "Semua karena mantan suamimu yang baaajingan itu, Wi. Coba kalau dia nggak ninggalin kamu sama anak kamu," sambung Ibu kandung Tiwi yang keluar dari arah dapur rumah sederhana mereka. "Ibu, jangan bilang gitu di depan Arsyi! Nanti nggak baik buat mental dia," tegur Tiwi. "Ibu cukup doain aku aja, Ya! Aku titip anakku dulu, moga lolos kerja aku hari ini, ibu nggak usah khawatir, aku kuat kok," cetus Tiwi sambil mengelus-elus lengan ibunya yang menangis terisak-isak. Orang tua mana yang tidak sakit ketika tahu nasib anak dan cucunya seburuk ini? Sudah tidak tahu lagi berapa kali dia melihat ibu dan bapaknya menitikkan air mata, sakiit banget rasanya ... tapi Tiwi sudah bertekad untuk jadi wanita kuat, nggak boleh lemah sama sekali ... dia pingin buktiin kalau dia dan anaknya bisa hidup bahagia meski tanpa lelaki itu di sisinya. Setelah merayu-rayu akhirnya Tiwi pun berhasil membuat Asryi diam dan merelakan kepergian ibunya untuk mencari kerja. "Mas, aku nggak tega ninggalin Arsyi," keluh Tiwi pada Wahyu melalui sambungan suara. Pagi-pagi Mas Wahyu udah telepon aja buat ngecek keadaan si single parents pujaan hatinya. Posisi Tiwi lagi nunggu ojek online yang akan menjemputnya datang. "Iya aku tahu ini pasti bakalan berat banget, tapi kamu wajib semangat, ya! Demi si kecil," sambut Wahyu memberi semangat. "Iya, Mas. Siap!" Panggilan suara pun terputus ketika tukang ojek datang. Selepas Wahyu menegurnya tentang penampilan, kini Tiwi lebih berhati-hati dalam memilih busana. Apalagi ini konsepnya dia mau melamar kerja, jadinya harus yang sopan. Wanita itu memakai kemeja berwarna kotak merah hitam dengan celana kain berwarna hitam panjang. Sementara Tiwi masih di perjalanan, maka Wahyu menggunakan waktunya sebelum jam kantor tiba untuk menelpon sahabat di luar kandungannya. Si Bejo dipaksa untuk ijin masuk kantor siang karena Wahyu maunya Si Tiwi langsung Bejo yang interview bukan karyawannya. "Iya-iya ini aku mau ke cafe, diih ... nggak percayaan amat sama aku," gerundel Bejo sambil masuk ke dalam mobilnya. Kalau lagi kerja gini casper ditinggal di rumah, cukup disediain makanan, minuman sama tempat pup kucing pintar itu udah paham apa yang harus dia lakuin. Ya ... meski pun kadang kalau pas lagi bete tetap aja itu anabul pup di sembarang tempat dan nyariin kerjaan Bejo. "Harus nggak percaya kalau sama kamu tuch. Pokoknya aku mau kamu terima Tiwi, aku nggak mau terima berbagai alasan kamu buat nolak dia," desak Wahyu. "Hm ... udah tahu, udah paham, lagian kamu juga udah ngomongin ini berkali-kali sama aku," sahut Bejo sambil menyalakan mesin mobilnya. "Dan ingat jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan! Tiwi itu udah jadi jatah aku, kamu cukup sama casper aja!" tegaas Wahyu, ealah takut banget kena tikung Si Bejo. "Astagfirullah, nyebut, Yu! Mana ada aku nikung? Ya kalau Mbak Tiwi mau sama aku itu resiko kamu ... cewek kan tau mana laki yang bening," gerutu Bejo diembel-embeli dengan memuji dirinya sendiri di akhir kalimat. "Hahaha ... Bening macam kolam sepuluh tahun kagak dikuras airnya," ledek Wahyu. "Kampreet lu!" umpat Bejo. ** "Selamat pagi, Mbak. Aku mau ketemu sama Mas Bejo buat interview," kata Tiwi pada salah satu karyawan Bejo yang sedang membersihkan cafe. Ini masih jam setengah delapan dan cafe baru buka jam sepuluhan gitu. "Oh Mbak Tiwi, ya? Yang kemarin ketemuan sama Mas Wahyu kan? tanya karyawan bernama Adel tersebut sambil menghentikan aktivitas menyapunya. "Hm ... iya, Mbak. Mbak masih ingat sama aku?" tanya balik Tiwi selepas dia menjawab pertanyaan Adel. "Masih lah, Mbak. Oya, kata Mas Bejo Mbak Tiwi suruh tunggu di meja nomor tiga belas, di sana, Mbak." Adel menunjukkan meja yang dia maksud. "Oh jadi gitu? Oke, dech ... Makasih ya, Mbak Adel," sahut Tiwi segera menuju ke meja itu. Hampir sepuluh menit Tiwi menunggu, akhirnya yang dinanti nongol juga. Keren banget lihat Bejo pake kemeja dan celana kerja macam begitu, sepersekian detik Tiwi terpesona, detik selanjutnya biasa saja. Untung nggak kebablasan ya kan, kalo sampai keterusan bisa-bisa drama pertikungan antara Bejo dan Wahyu terjadi betulan. Bejo melempar senyum ketika Tiwi memperhatikannya, Tiwi balik senyum. Nggak lama ponsel yang Bejo taruh di dalam saku celananya bergetar dan sekarang Poto profil Wahyu mencemari layar handphonenya. "Si kampret telepon lagi!" pekik Bejo kesal. Bejo memberi isyarat dengan telapak tangan pada Tiwi untuk menunggunya lagi. Tiwi pun hanya mengangguk sembari mengulas senyum. Sementara Bejo berjalan menjauhi meja untuk menjawab telepon dari Si Wahyu. "Apa lagi sie? Udah hapal aku apa yang mau kamu bilang," cibir Bejo dengan nada tinggi. Tiwi dari kejauhan hanya bisa memperhatikan punggung Bejo tanpa bisa mendengar suara lelaki itu. Sepertinya telepon penting banget, pikir Tiwi. Fokus Tiwi pada punggung Bejo yang nggak gagah macam Ceo-ceo terpecah akibat Adel yang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah nampan yang berisi minuman dan cemilan. "Mbak Tiwi lihatin apa?" tanya Adel kepo maksimal. "Enggak kok, Mbak," jawab Tiwi nggak mau ngaku kalau dia lagi merhatiin bosnya Adel. Adel menengok ke arah Bejo yang masih sok asik bertukar suara dengan Wahyu, setelah mengamati bosnya, Adel kembali memutar leher dan melihat Tiwi yang duduk di depannya. "Pasti lagi merhatiin Mas Bejo, ya?" tembak Adel. "Kok tau?" tanya Tiwi singkat. "Taulah. Mas Bejo pasti lagi telponan sama Mas Wahyu, aku yakin itu .... " kata Adel. "Ya biasa sie kan mereka sahabatan," sambut Tiwi santai. "Lebih dari biasa, ini spesial, Mbak," kata Adel dengan suara yang super pelan seperti takut didengar orang. "Spesial gimana ya maksudnya?" tanya Tiwi nggak ngerti, kening wanita itu sampai berkerut-kerut. "Udah kayak martabak aja mbak ada yang spesial," gerutu Tiwi. "Tapi aku tanya dulu ini sama Mbak Tiwi. Mbak Tiwi pacarnya Mas Wahyu bukan?" Makin kepo aja ini Si Adel, tepok jidat jadinya. "Aku bukan pacarnya Mas Wahyu sie, masih teman doang. Memangnya kenapa?" "Nah kan!" Tetiba Adel menjentikkan jarinya. "Nah kan apanya?" Tiwi makin dibuat bingung oleh satu karyawan Bejo ini, eh nantinya dia akan jadi partner kerja kamu lho, Wi. Jadinya kudu siapin mental nanggapin tingkah dia yang kadang suka aneh dan asal jeplak kalau bicara. "Issue ini udah beredar lama di kalangan orang-orang yang kenal Mas Wahyu sama Mas Bejo," tutur Adel dengan suara yang masih pelan tak lupa dia mengamati keberadaan bosnya. Aman! Bejo masih sibuk ngobrol di sudut tembok cafe yang nun jauh di sana. Kalau udah ngobrol asik pasti bakalan lama. "Issue apaan emang?" Tiwi ikutan pelan ngomongnya. Tiwi dan Adel sama-sama memajukan wajah mereka karena ada meja di tengah yang menjadi pembatas di antara mereka. Yang penting jangan ada dusta di antara kita! Eyaaalah ... Kayak lirik lagu.. "Mas Bejo sama Mas Wahyu itu pasangan hompimpa alaiyum gambreng, Mbak," cetus Adel membuat Tiwi yang baru saja akan menyeruput jus alpukat buatan Adel pun mengurungkan niatnya. "Hompimpa alaiyum gambreng? Maksudnya?" Tiwi garuk-garuk kepala. "Itu kan mainan pas jaman anak-anak," lanjut Tiwi masih belum paham. "Maksud aku Mas Bejo sama Mas Wahyu itu ho-" "Shuut ...." Tiwi berdesis sambil menendang-nendang kaki Adel beberapa kali. Adel hanya mengintip kakinya sebentar lalu kembali berbicara. "Mas Wahyu sama Mas Bejo itu ho-" Tiwi menggigit bibirnya dan sekali lagi menendang kaki Adel dengan lebih kencang dari sebelumnya. "Kamu kenapa sie, Mbak? Kebelet, ya?" tanya Adel nggak paham juga kalau Tiwi lagi ngode dia. "Oke, aku lanjutin, ya. Jadi Mas Wahyu dan Mas Bejo itu ho-" "Plaak!" Tetiba ada tangan besar yang memukul pundak Adel. Seketika Adel membungkam mulut dan memutar lehernya. Maka dilihat jelas wajah Bejo yang galak sambil menaik-naikkan alisnya. "Ngomong apa kamu tadi? Aku sama Wahyu ho apa?" selidik Bejo sambil meletakkan ke dua tangannya di pinggang. Tiwi menundukkan kepalanya. Dalam hati dia berkata, "Mbak Adel sie aku kasih kode nggak paham-paham juga." Tiwi udah sejak tadi berusaha ngebungkam mulut Adel karena Bejo yang udah dekat sama mereka, eh malah nggak mudeng yang dikode. "Oh maksud aku Mas Wahyu dan Mas Bejo itu hoo .... " Adel garuk-garuk kepala. Ayo mikir, Del! Dodol bener dech ah jadi manusia! Adel mengomeli dirinya sendiri. "Ho apa?" Bejo melingkas lengan kemejanya, menakut-nakuti Adel yang udah ketakutan. "Hoorang yang baik kan maksudnya Mbak Adel?" tembak Tiwi membantu menyelamatkan Adel yang otaknya mendadak tumpul karena salah tingkah ke gap lagi jelek-jelekin bosnya, emang karyawan lucknut itu si Adel. "Nah iya! Itu maksud aku, Mas." Adel menjentikkan jarinya sambil memasang senyum lebar, selembar jidatnya yang nonong bak lapangan bola. "Untung Mbak Tiwi pinter nangkap omongan aku," imbuhnya sambil mengelus-elus d**a. Selamet ... Selamet ... Batin Adel. "Cepet pergi kerja! Atau mau aku nikahin sama Casper? Mumpung dia lagi birahii berat." Ancaman yang membagongkan. "Dih ... Kucingnya aja tau rasanya biraahi masa yang punya kagak?!" cibir Adel sambil turun dari tempat duduk dengan memeluk nampan yang dia letakkan di atas meja sejak tadi. "Kampret! Kamu mau nyoba apa gimana?" Bejo memegang gaspernya lalu dia gerak-gerakkan layaknya orang yang mau melepas celananya. "Oh my God!" decak Tiwi sembari menutup wajahnya dengan amplop cokelat yang dia bawa. "Mas Bejo iki (ini) sembrono!" omel Adel. "Makanya pergi dah tuh ke dapur! Kalau mau nyobain aku nanti aja!" sungut Bejo sambil meletakkan pantatnya di tempat duduk bekas Adel. "Diih ... Ngeres!" cicit Adel. "Kamu yang ngeres, maksudku nyobain masakanku ... Lha pikiranmu yang ke mana-mana malah ngatain orang," cibir Bejo. Tiwi terkekeh melihat kelucuan bos dan karyawan ini. "Maaf ya, Mbak Tiwi! Si Adel belum minum baygoon hari ini jadi memang agak oleng dikit," kata Bejo meledek anak buahnya. "Yang minum baygoon aku, yang nyemilin botolnya dia, Mbak," sembur Adel sambil berjalan menjauh dari mereka. "Hahaha ...." Tiwi terkekeh makin kencang. Enak juga kalau punya bos macam Mas Bejo ya, lucu ... Mana suka main hompimpa alaiyuum gambreng lagi. Pikir Tiwi sambil senyam-senyum. "Maaf ya, Wi! Jadi malu karena tingkah Adel yang kebanyakan drama, pokoknya kalau dia ngomong apapun nggak usah didengerin!" oceh Wahyu. "Iya, Mas. Santai aja!" sahut Tiwi. "Oya, ini surat lamaran aku. Silahkan dilihat dulu, Mas!" lanjutnya sambil menyodorkan amplop cokelat itu pada calon pimpinannya. "Oh ini, udah bawa pulang lagi aja! Lumayan bisa dikumpulin buat diloakkin, Wi. Besok mulai kerja, Ya!" jelas Bejo sembari mendorong amplop yang tersodor ke arahnya. "Lho, Mas .... " Bukannya seneng Tiwi malah linglung. "Nggak mau dibuka dulu gitu terus dibaca, siapa tahu background pendidikan aku nggak cocok sama keinginan Mas Bejo," jelas Tiwi. Masa iya belum juga dibaca, eh jangankan dibaca dibuka juga kagak. Udah main terima-terima aja. Nggak ada juga wawancara, tanya jawab atau apa kek sebagai formalitas, tapi udah bisa ngambil keputusan diterima. "Cocok kok, Wi. Udah klik aku sama kamu," cetus Bejo sembari nyengir hingga deretan gigi putihnya terpampang jelas di mata Tiwi. "Mas ... Itu ada cabe nyangkut dikit di gigi depan," kata Tiwi kemudian tertawa kecil. Bejo seketika jadi tengsin, dia membungkam mulutnya rapat sambil menggerak-gerakkan lidahnya berpatroli di antara gigi-giginya untuk membersihkan cabe lucknut yang membuat senyum pepsodentnya gagal total. "Hehe ... Tadi habis sarapan nasi goreng jadinya nyelip," kata Bejo setelah yakin kalau cabe itu sudah lenyap dari giginya. "Oh ... untung cuma cabe nggak sepiringnya juga yang nyangkut di gigi Mas Bejo," canda Tiwi. "Ya udah nggak usah bahas cabe, biarkan dia tenang di alamnya, hehehe .... jadi besok kamu aku tunggu di cafe sebagai anggota baru di tim kami, selamat bergabung, Tiwi," jelas Bejo sambil mengulurkan tangannya pada Tiwi. Tiwi kembali bengong, terus garuk-garuk kepala. Masih agak aneh aja kalau ada orang ngelamar, nggak diwawancara , nggak dibaca CV-nya, tapi tahu-tahu udah diterima. "Wi, woey!" tegur Bejo sambil menggerak-gerakkan tangannya yang terulur. "Aku diterima bukan karena bujukan dari Mas Wahyu kan ya, Mas?" tanya Tiwi, polos amat sie, yang penting kerja dulu napa ... hm ... "Ooh ... enggak kok, santai aja! Aku mah orangnya independent, nggak mempan dimakan bujuk rayu, apalagi sama Wahyu ... piih .... " tutur Bejo sok banget bilang nggak mempan, padahal dibalik itu .... "Nanti kamu aku beliin motor baru dech kalau mau nerima Tiwi kerja di tempat kamu, ingat buat dia istimewa dari karyawanmu yang lain! Awas kalau sampai dia ngadu karena kamu galakin, nggak cuma Casper yang bakal aku sunat anu-nya, tapi juga anumu aku bikin bujel!" Begitu kata Wahyu tadi melalui sambungan suara, ancaman dan juga iming-iming yang menggiurkan untuk Bejo yang mata duitan. Langsung dech bilang oke asal dapat motor baru, lumayan buat tambah-tambah koleksi di rumah. "Oh syukur dech, Mas. Kan aku nggak enak kalau Mas Bejo nerima aku karena terpaksa," gumam Tiwi. "Oh sama sekali nggak terpaksa kok, Wi. Dengan senang hati aku menerimamu ... eyaaa ...." Wajah Wahyu seketika muncul di otak Bejo. "Jangan genit ya, Jo! Motor hangus!" "Astagfirullah!" Bejo langsung nyebut dan mengusap-usap wajahnya, jangan sampai motor itu hangus cuma karena dia kelepasan genit sama pujaan hatinya Si Wahyu. "Kenapa, Mas?" tanya Tiwi heran. Kayak yang habis lihat setan aja ekpresinya Bejo. "Nggak apa-apa kok, Wi. Hehehe ... terus kapan kita salamannya?" tanya Bejo, tangannya udah terulur sejak tadi lho .... "Oh, iya. Maaf, Mas! Hahahaha ... oke, deal. Besok aku mulai kerja ya, Mas. Terima kasih banget karena Mas Bejo udah baik hati nerima aku ... semoga Mas Bejo panjang umur, sehat selalu, murah rejeki dan cepetan dapat jodoh," ucap Tiwi mendoakan Bejo yang udah baik hati nerima dia kerja tanpa banyak cing-cong dan babibu. Ini namanya ngelamar kerja jalur ekspres. "Alhamdulillah dapat doa banyak banget dari kamu. Amin ... amin ... amin ... makasih ya ... semoga kamu betah kerja di sini," sahut Bejo. "Amin, Mas. Makasih, ya!" Tiwi mengatupkan tangannya. "Sama-sama, Sayang. Eh sayang ... bisa mampus aku kalau ketahuan Wahyu," gerutu Bejo komat-kamit karena keceplosan manggil Tiwi sayang. "Eh gimana-gimana, Mas?" tanya Tiwi pura-pura nggak denger, padahal aslinya emang nggak denger ... wkwkwk ... "Nggak apa kok, Wi. Hehehe," jawab Bejo cengengesan . Suka banget dia pamer gigi. "Oh ya udah aku pulang ya, Mas. Assalamualaikum." Tiwi berpamitan. "Mau aku anter pulang sekalian? Mumpung aku mau jalan ke kantor, rumah kita searah kan?" Bejo menawarkan pulang bareng. Ya dari pada Tiwi buang duit buat ongkos ojol kan, ya? Mas Bejo memang baik hati dan peka banget jadi cowok. "Memang Mas Bejo tau di mana rumahku?" tanya Tiwi. "Ya taulah," jawab Bejo mantab. Dia tau semuanya karena Wahyu yang cerita. Mulut dia terlalu ember sampai apapun juga diceritain ke Bejo. "Oh .... " Tiwi manggut-manggut. "Oke kalau nggak ngerepotin Mas Bejo aku mau aja," kata Tiwi dengan senang hati menerim tawaran dari Bejo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD