“Apa yang sedang Kakak lakukan?”
“Jangan ganggu aku, Nin.” Ziya menatap Hanin yang tersenyum tanpa merasa bersalah. “Bukankah seharusnya kamu membantu suamimu?”
“Sudah selesai, Kak. Ini sudah siang. Kakak tidak butuh asisten? Aku cukup pintar mengayak tepung. Bagaimana?”
“Bisakah jangan terus berbicara? Aku sedang mencoba untuk berkonsentrasi.”
“Ini hanya kue, Kak. Tidak seserius itu, kan?”
Kali ini, Ziya menghentikan aktivitasnya menghias kue tart yang tengah dibuat sejak beberapa waktu lalu. Dia menyilangkan kedua tangan di d**a, lalu memejamkan mata di untuk menenangkan hati. Dalam situasi seperti ini, dia tidak boleh terpancing oleh sikap Hanin yang menyebalkan.
Jujur saja, jika itu orang lain pasti akan berbeda. Hanin memiliki segudang sikap menyebalkan yang bisa membuat banyak orang tidak menyukainya. Berbeda dengan Ziya, dia sudah terbiasa mendengar ocehan sang adik. Dia juga sudah tidak heran kalau kepercayaan diri Hanin tiba-tiba meninggi.
Berhadapan dengan orang yang tidak mengerti kata sungkan seperti Hanin, harus punya mengendalikan diri. Jika tidak, kalian hanya akan mengatakan hal-hal buruk. Hanin itu tipe orang yang jika tidak diberi tahu secara langsung, tidak akan mengerti. Jadi, ungkapkan saja apa yang harus dia lakukan. Ingat untuk menggunakan kalimat yang baik. Jangan sampai dia merasa tersinggung.
Ziya melirik Hanin yang mendekati kue hasil karyanya pelan-pelan. Ada binar terang yang memancar dari kedua mata sang adik. Jelas sekali kalau ada yang direncanakan oleh wanita berambut sebahu itu. Tangan kanannya terulur dan bersiap untuk menyentuh satu sisi kue indah yang menggiurkan.
Melihat tingkah Hanin yang sudah tidak tertolong lagi, Ziya segera menepis tangan adiknya. Dengan cepat, Hanin menarik diri sambil mengerucutkan bibir. Dia memandang sang kakak dengan tatapan protes. Ziya menghela napas. Sekarang, siapa yang seharusnya marah?
Sudah sejak pagi Ziya berjuang membuat kue yang sesuai dengan artikel. Dia bahkan berkali-kali harus memastikan takaran, urutan, dan cara menghias tart tersebut. Lelah sekali karena ini pertama kalinya dia menciptakan kue ulang tahun yang sangat berbeda. Lalu, tiba-tiba ada orang yang mau merusak. Bagaimana mungkin dia akan membiarkan hal itu terjadi?
Perjuangan yang telah dilakukan Ziya tidak akan berakhir sia-sia. Dia sudah berencana memperlihatkan hasil karyanya kepada Atha dan meminta pendapat. Kalau belum-belum ada yang merusak, dia tidak akan bersedia. Membayangkan senyum Atha yang mengembang saat melihat tart sudah membahagiakan Ziya.
Sebenarnya Ziya bukan tidak ingin berbagi kue ini dengan orang lain. Akan tetapi, dia hanya membuat satu dan khusus dipersiapkan untuk Atha. Apa Hanin tidak bisa melihat kata-kata yang Ziya ukir di atas kue? Juga bagaimana cara Ziya menghias kue tersebut? Jika sudah membaca dan masih ingin mengacau, berarti Hanin sangat tidak berperasaan.
Meski ulang tahun pernikahan Ziya dan Atha masih tiga bulan lagi, Ziya sengaja bereksperimen membuat kue. Tujuannya agar bisa memulai usaha pembuatan kue, terutama tart. Jika Atha suka dan setuju, dia akan mempelajari banyak trik agar menghasilkan kue cantik dan kreatif.
Memulai usaha yang disukai menimbulkan kesenangan tersendiri di hati Ziya. Sepanjang waktu, dia tersenyum. Membuat kue sudah menjadi hal yang sangat dia cintai. Selain karena membahagiakan, dia juga suka memakan semua jenis kue. Sebab itulah, dia memutuskan untuk menekuni usaha ini.
“Bisakah kamu lebih sopan?” tanya Ziya.
“Kakak, ini hanya kue ulang tahun, kan?” Hanin melirik kue tart yang tadi hendak dia colek. “Eh, ini kue untuk anniversary Kakak?”
“Menurutmu?” Ziya bertanya lagi.
“Maaf. Aku tidak tahu kalau ini dibuat khusus untuk merayakan anniversary Kakak. Tapi, seingatku anniversary Kakak bukan hari ini. Atau aku salah mengingat.”
“Hari ini memang bukan anniversary Kakak.”
“Jadi, aku boleh memakan kue ini, kan?”
Tangan Hanin sudah kembali terulur untuk menyentuh kue buatan Ziya. Namun, lagi-lagi, Ziya menepis. Dia memberikan tatapan peringatan pada Hanin yang protes. Hanin duduk agak jauh dari kue yang diincarnya. Tampilan kue itu sangat menggiurkan. Dia sangat ingin memakannya.
Hanya saja, melihat bagaimana cara Ziya melindungi, Hanin jadi sedikit segan. Ziya itu pendiam, tetapi jika sudah bertindak, semua orang bisa merasa tersingkir. Ziya memiliki aura yang tidak mudah ditaklukkan. Padahal kalimat yang keluar dari mulutnya selalu lemah lembut.
Ada sesuatu dalam diri Ziya yang menguatkan karakter wanita itu. Meski begitu, di depan Atha, dia seolah menjadi pribadi yang sangat penurut. Ini bukan hal yang salah. Seorang istri memang harus patuh pada suami, sepanjang apa yang dikatakannya adalah kebenaran dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Ketika melihat Ziya melotot, Hanin malah semakin bersemangat untuk mengusili sang kakak. Dia mengarahkan kedua tangan ke kue berbentuk hati itu sambil memasang wajah lapar. Sedikit lagi, dia bisa menyentuh tart yang terlihat lezat. Akan tetapi, tentu saja Ziya bisa melihat kelakuannya.
Entah kapan Hanin sudah bangkit dari duduk dan kembali menyerang kue hasil karya Ziya. Agar tidak kecolongan lagi, Ziya menuntun Hanin ke ruang tamu, lalu mendudukkan sang adik dengan tegas. Dia mengacungkan telunjuk sambil melebarkan kedua mata.
“Jangan coba-coba, Nin. Aku akan buatkan khusus buat kamu. Tapi yang ini tidak boleh disentuh. Oke?” ujar Ziya berjanji.
“Benarkah? Kalau Kak Ziya yang bilang begitu, aku akan percaya. Kakak orang yang paling jujur sedunia. Jadi, kapan Kakak akan membuatkan tart lezat untukku?”
“Besok, ya? Ini sudah siang.”
“Ya, ampun, Kak. Sekarang saja kenapa? Aku bantu, deh. Aku sudah pengin banget.”
“Tapi, Nin. Aku sudah lumayan capek. Sudah jam dua lebih. Besok saja, ya” ucap Ziya, mencoba merayu adiknya itu.
Membuat kue setelah sekian lama memakan banyak waktu. Apa lagi saat menghiasnya. Sebelum ini, Ziya belum pernah memperhatikan detail hiasan tart. Dia lebih sering membuat bolu biasa. Itu karena Atha dan Yazid tidak terlalu suka krim yang dioleskan di roti tart. Mereka lebih menyukai bolu jadul.
Kalau bisa dibilang, hanya Ziya yang menyukai tart. Dania, meski terkadang lahap memakan kue itu, Ziya tidak ingin dia terlalu banyak mengonsumsi sesuatu yang manis. Jadi, Ziya membatasi konsumsi kue tart untuk putri bungsunya. Harusnya, dia juga begitu. Biar bagaimana pun, gula yang berlebihan juga tidak baik.
Mau bagaimana. Sejak dulu, Ziya sangat menyukai segala hal yang manis. Bahkan untuk lauk pauk, dia lebih menyukai semur. Dia jarang memakan makanan pedas. Untungnya, Atha dan anak-anak tidak begitu menyukai sensasi cabai dalam makanan mereka. Sehingga Ziya tidak perlu khawatir ketika memasak.
Tidak bisa dibayangkan jika anggota keluarga kecil Ziya menyukai pedas. Dia bisa tersiksa seorang diri. Sesekali mereka memang makan pedas, tetapi masih dalam level yang bisa ditoleransi oleh lidah Ziya. Bersyukur sekali memiliki orang-orang yang selera makannya sama.
Omong-omong soal Atha, dia belum menghubungi Ziya sejak keluar pagi ini. Demikian juga sebaliknya. Karena sibuk berkutat dengan berbagai alat tempur memasak, Ziya jadi lupa diri sampai tidak menanyakan kabar sang suami. Bukankah harusnya Atha sedang memikirkan jalan keluar untuk masalah mereka?
Pikiran Ziya mulai menebak-nebak apa pick up Atha sudah terjual. Setelah kehilangan uang pinjaman dan tempat usaha, kini Atha bahkan harus rela melepas mobil kesayangannya. Pasti dalam lubuk hati terdalam Atha, pria itu sangat sedih. Meski tidak mengatakannya, Ziya bisa merasakan.
Ingin sekali rasanya Ziya merangkul atau memeluk Atha untuk memberi kekuatan. Akan tetapi, Atha adalah tipe pria yang tidak ingin terlihat menyedihkan. Jika mau menguatkan, lebih baik melalui perkataan atau diam dan mendukungnya tanpa protes. Itu cara terbaik untuk menunjukkan kasih sayang pada suami seperti Atha.
Tidak pernah terbayangkan apa yang akan terjadi jika Ziya memeluk Atha saat ada masalah kemarin. Mungkin dilihat dari satu sudut, hal itu sangat baik. Sebagai istri, sudah semestinya memberikan dukungan pada suami dalam berbagai bentuk. Bisakah sekali saja Ziya merangkul Atha saat tengah bersedih?
Entahlah. Ziya tidak merasa yakin dengan hal itu. Sejak awal menikah, Atha tidak menyukai hal-hal romantis. Atha suka bertindak langsung tanpa basa-basi. Seingat Ziya, Atha hanya mengucapkan ‘aku mencintaimu' padanya sebanyak dua kali. Pertama saat mendekati Ziya dan berniat menikahinya. Lalu, yang kedua adalah ketika hari pernikahan mereka.
Hanya dua kali dan sampai saat ini, Atha tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat manis. Jangan mimpi mendengar Atha mengatakan 'aku mencintaimu' atau 'aku merindukanmu'. Dari pada mengatakan hal-hal seperti itu, Atha lebih suka memberikan pelukan atau kecupan.
Jangan salahkan Atha atau Ziya. Atha memang orang yang sedikit kaku. Sementara Ziya tidak mau memaksa Atha berubah menjadi sosok lain. Jika nanti pun berubah, Ziya ingin, itu karena Atha memang mau mengubah diri. Ziya juga tidak suka jika ada orang lain yang tiba-tiba ingin mengubah kepribadiannya.
Sah-sah saja kalau berubah lebih baik. Toh, Allah memerintah semua umatnya untuk selalu meningkatkan kebaikan dalam hati. Hanya saja, untuk berubah itu adalah hal yang berbeda. Sebagai orang luar, kita bertugas untuk mengingatkan, bukan memaksa. Garis bawahi. Mengingatkan, bukan memaksa.
Jadi, itulah yang coba Ziya lakukan selama bertahun-tahun bersama Atha. Dia mengingatkan Atha setiap saat, meski terkadang tidak secara langsung. Akan tetapi, dia tidak pernah memaksa Atha berubah. Ada kalanya dia menginginkan Atha sedikit melembut dan perhatian. Tetap saja, dia tidak pernah menuntut lebih.
Ziya yakin kalau suatu hari akan tiba waktunya di mana Atha akan lebih terbuka dan romantis padanya. Asal dia sabar menunggu, masa-masa itu akan datang. Mungkin lebih cepat dari pada yang dia pikirkan. Atau mungkin juga lebih lambat. Pada akhirnya, dia hanya berharap Atha selalu bersamanya dalam keadaan baik.
Bahkan di saat tersulit dalam hidup Atha, Ziya ingin menjadi pendukung sekaligus sandaran. Dia tidak ingin Atha merasa ditinggalkan di tengah segala cobaan yang menghadang. Dia ingin menjadi orang yang bisa diandalkan oleh Atha untuk membantunya keluar dari permasalahan ini.
Itulah alasan utama Ziya melihat berbagai macam cara membuat aneka kue. Dia juga mulai meneliti model yang paling disukai pasaran dan berusaha mencoba. Mungkin dia belum bisa memulai usahanya dalam waktu dekat. Meski begitu, setidaknya dia sudah memiliki rencana jangka panjang untuk menolong keuangan keluarga.
Di lingkungan Ziya kebetulan belum ada yang mempunyai usaha di bidang kuliner seperti itu. Sementara banyak warga yang suka membeli kue untuk merayakan momen-momen bahagia seperti ulang tahun dan anniversary. Jadi, peluang untuk meraih keuntungan sangat besar.
Setelah Atha sudah cukup tenang, Ziya akan memberi tahu hal ini. Sementara Atha memikirkan jalan keluarnya sendiri, Ziya juga akan belajar keras untuk membuat kue yang berkualitas. Dia akan mempersiapkan semua hal dengan matang sehingga saat mulai menerima pesanan, dia sudah merasa siap.
Jangan sampai Ziya keteteran karena banyaknya pesanan dan dia tidak sanggup menyelesaikan. Dia juga susah memikirkan bagaimana cara mempromosikan usaha barunya pada warga sekitar. Bahkan dia sudah mempelajari cara menetapkan harga yang baik. Semua sudah dipersiapkan dengan matang. Tinggal eksekusinya.
“Ya, sudahlah. Besok juga tidak apa-apa,” ucap Hanin mengalah.
“Tapi bantu Kakak membuatnya besok. Setelah selesai membantu suamimu, segera ke sini. Kita buat sama-sama.”
“Bukannya Kakak yang akan membuatnya sendiri?”
“Mau tidak kuenya?”
“Iya, iya. Besok aku datang buat bantu.”
“Bagus. Cepat selesaikan pekerjaan dengan suamimu, lalu ke sini.”
“Siap, Bos. Laksanakan!”
Tawa Ziya pecah melihat Hanin yang melakukan gerakan seperti orang yang hormat pada bendera saat upacara. Dalam hati dia senang luar biasa. Meski tidak yakin dengan kemampuan Hanin, dia sudah merencanakan hal ini. Dia akan meminta bantuan adiknya di masa depan.