Bab 13: Mencari Kunci

1674 Words
Langkah Atha menyusuri reruntuhan bangunan kios yang terbakar. Dia sudah berjalan ke sana sini beberapa waktu dan tidak menemukan apa-apa. Sejujurnya, dia juga tidak tahu apa yang ingin ditemukan. Ucapan Ziya pagi tadi sedikit mengganggu pikiran pria itu. Jadi, dia mencoba mencari hal lain di tempat ini. Demi memuaskan rasa ingin tahu, Atha juga bertanya pada orang-orang yang berada di sekitar kios. Tidak ada yang menyadari jika ada percikan api di tempat Atha. Mereka baru tahu ada kebakaran saat seseorang berteriak. Apakah kebakaran itu memang karena korsleting listrik? Aneh memang karena api melahap semua bangunan dengan cepat. Setidaknya, sumber awal si jago merah itu pasti sudah ada sejak lama. Mengherankan karena tidak seorang pun menyadarinya. Jika ada sesuatu yang terbakar, bukankah semestinya menimbulkan bau yang cukup menyengat? Apa yang sesungguhnya terjadi? Atha juga sangat ingin tahu. Kalaupun penyebab kebakaran adalah salah satu dari karyawannya, dia tidak akan menuntut. Dia hanya ingin mengetahui apa alasan sang karyawan melakukan itu. Selama si karyawan punya niat baik, dia akan membukakan pintu maaf. Singkirkan itu dulu. Karyawan Atha tidak mungkin melakukan tindakan sembrono secara sengaja. Pasti ada yang salah. Mereka sudah dibekali pengetahuan dasar sebelum akhirnya mengerjakan sesuatu. Kecil sekali kemungkinannya kalau mereka bersikap ceroboh dan membahayakan orang lain. Kejadian ini menyisakan teka teki untuk Atha. Bukan. Atha bukan tidak percaya pada orang-orang yang sudah bekerja lama di kios. Dia hanya ingin tahu apa ada yang tanpa sengaja membuat kelalaian sehingga mengakibatkan kebakaran. Sebatas itu. Dia ingin tahu mengenai kebenaran dibalik musibah yang menimpanya. Seperti kata Ziya, jika Atha mengetahui penyebab dari terjadinya kebakaran, pria itu bisa lebih berhati-hati. Nah, dia bingung sendiri sekarang, langkah apa yang harus diambil agar dapat menemukan sumber permasalahan. Dia tidak terbiasa melakukan investigasi seperti ini. “Menemukan sesuatu?” tanya Haris. Untuk meyakinkan diri, Atha mengajak Haris untuk membantu. Dua orang lebih baik dibandingkan sendiri, bukan? Lagi pula, Haris orang yang bisa diandalkan. Atha bisa berbagi pemikiran dan menemukan kebenaran. Sayang, melihat wajah Haris sekarang, tampaknya pria itu juga tidak mendapatkan apa-apa. Ketika Atha menggeleng, Haris menghela napas dengan sangat berat. Haris tidak pernah ingin melakukan investigasi seperti ini. Baginya, kebakaran yang terjadi sudah menjadi salah satu ketentuan dalam hidup. Buat apa repot-repot mencari sebab dari sebuah musibah yang sudah berlalu. Semua yang sudah terjadi, tidak akan kembali lagi. Namun, melihat wajah Atha yang terlihat sangat ingin melakukan penelitian, Haris terpaksa menurut. Setidaknya, dia bisa membantu dan menghibur sang sahabat yang tengah berduka. Tidak ada salahnya dia mengikuti permainan Atha, bukan? “Jadi, bagaimana? Masih ingin mencari kebenaran?” tanya Haris lagi. Dia melangkah mendekati pick up dan bersandar. “Entahlah. Jujur saja, aku juga tidak mau melakukan ini,” ujar Atha setelah menyusul Haris. Dia memasukkan kedua tangan dalam saku jaket. “Kalau tidak mau melakukan, kenapa datang?” “Aku ... sepertinya aku terpengaruh dengan ucapan Ziya.” “Ziya? Memangnya Ziya bilang apa?” “Dia hanya penasaran kenapa kebakaran itu bisa terjadi, jadi ....” “Jadi, dia minta kamu buat menyelidikinya?” “Bukan. Dia tidak memintaku untuk menyelidiki. Dia hanya ingin memastikan penyebab kebakaran agar bisa berhati-hati ke depannya.” “Ah, aku mengerti. Sudah sepatutnya dia khawatir. Aku tidak menyalahkan dia, Tha.” Haris menoleh pada Atha yang menengadah ke langit. “Apa dia baik-baik saja?” “Untuk sementara iya.” “Apa maksud kamu dengan untuk sementara?” “Keadaan keuangan kami sangat tidak stabil, apa menurutmu dia akan terus baik-baik saja?” Atha memejamkan mata. Membayangkan Ziya akan melalui masa sulit karena ketidakmampuannya, menyakiti hati Atha. Ziya berasal dari keluarga yang cukup kaya. Atha memahami bagaimana kehidupan Ziya sebelum mereka menikah. Dia hanya tidak ingin hidup Ziya berubah buruk setelah berstatus sebagai istrinya. Seorang pria sejati tidak akan membuat orang tersayangnya menderita, bukan? Meski di hadapan Ziya dan anak-anak, dia tetaplah memiliki hati yang penuh kasih. Dia seseorang yang bertanggung jawab pada sebuah komitmen. Secara sadar, dia sudah menikahi Ziya. Jadi, Ziya berada dalam perlindungannya. Jika mau, Ziya bisa memilih pria yang lebih baik dalam segala hal dibandingkan Atha. Namun, Ziya mempercayakan diri padanya. Memang, jodoh sudah ditetapkan. Biar begitu, di saat terpuruk seperti ini, dia merasa sangat buruk. Dia jadi kasihan karena Ziya harus melalui semua penderitaan ketika bersamanya. Dulu, saat ayah Ziya bertanya apa alasan mau menikahi sang anak, Atha dengan bangga mengatakan kalau dia sudah merasa sanggup menjadi penjaga Ziya. Selama enam tahun terakhir, dia berhasil mempertahankan status itu. Setelah kedua musibah menimpa, dia kehilangan keyakinan. Katakanlah jika Atha merasa kecewa pada dirinya sendiri. Memang ada sedikit penyesalan dan kekesalan di hati, tetapi dia berusaha mengontrol. Tidak ada gunanya emosi. Dia tahu itu. Hanya saja, semua yang terjadi tidak mudah diterima oleh seorang pria seperti Atha. Selama bertahun-tahun, Atha hidup dengan harga diri yang tinggi. Bagaimana bisa dia menghadapi orang tua dan mertua setelah semua masalah ini mencuat. Dia atau Ziya atau yang lainnya bisa menyembunyikan untuk sementara waktu. Lalu, apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui kelak? “Tapi Ziya bukan wanita yang gila harta. Aku yakin dia akan selalu mendukung kamu.” “Justru itu, Ris. Sikapnya itu akan semakin membuat aku merasa bersalah. Lebih baik dia marah padaku. Itu lebih melegakan hatiku.” “Ya, ampun, Tha! Dengan kepribadian Ziya yang seperti itu, mana mungkin dia akan marah. Aku rasa, urat sabarnya sangat kuat. Kamu seharusnya merasa beruntung.” “Beruntung karena memiliki istri sesempurna Ziya?” “Tentu saja. Coba lihat istriku. Dia suka marah hanya karena hal sepele. Tidak ingat ulang tahunnya lah. Tidak ingat anniversary kami lah. Tidak ingat ulang tahun anak-anak kami lah. Semuanya. Ada banyak alasan dia marah.” “Bukannya itu hal baik? Sesekali sepasang suami istri perlu berdebat, kan?” “Sesekali? Sebenarnya apa yang mau kamu katakan?” “Aku hanya merasa Ziya terlalu tertutup. Kami sudah lama menikah, tapi tidak pernah sekali pun bertengkar. Bukankah itu aneh?” “Aneh apanya? Banyak, kok, pasangan yang selalu harmonis sepanjang hidup. Kamu dan Ziya bukan satu-satunya.” Haris mendengkus saat melihat ekspresi Atha yang datar. Dia tidak bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu. Sejauh penglihatannya, Ziya adalah wanita yang baik. Sikap dan kepribadiannya sangat mengagumkan. Kedua orang tua Ziya membesarkan sang anak dengan baik. Memangnya kenapa kalau Ziya kelewat sabar. Bagi Haris, itu merupakan hal baik. Meski lulusan universitas dan sempat memiliki karir bagus di kota, dia rela meninggalkan semua demi menikah dengan Atha. Lebih tepatnya, Ziya resign sesaat sebelum melahirkan Yazid. Lalu, di mana letak kesalahan Ziya? Atha membicarakan Ziya seolah wanita itu bersalah karena tidak mau melawannya. Bukankah artinya Ziya adalah istri salehah. Dia menuruti semua keinginan Atha dan menekan emosi agar tidak memicu pertengkaran. Jarang sekali bukan ada wanita seperti dia? “Bro, kamu terlalu banyak berpikir. Ziya itu istri dan ibu yang baik. Apa kamu tidak bisa merasakannya?” Atha memberikan tatapan tajam pada Haris. “Kenapa aku merasa kalau kamu sangat menyukai istriku?” “Memang iya.” Jawaban Haris membuat mata Atha semakin melebar. “Maksudku ... aku menyukainya sebagai istrimu. Bukan suka yang seperti itu. Aku mengagumi sikapnya yang baik. Itu maksudku.” Buru-buru, Haris menambahkan kalimat panjang itu. Dia memang hanya sekadar kagum. Dia masih waras sehingga tidak mungkin jatuh hati pada wanita beristri. Lagi pula, dia sudah memiliki istri di rumah. Meski tidak sebaik Ziya, sang istri adalah wanita terbaik dalam hatinya. Semua suami juga begitu, bukan? Terkadang terlihat dingin di luar, tetapi hangat di dalam. Sama seperti yang Atha lakukan. Dia hanya merasa Ziya terlalu sempurna baginya dan mulai ketakutan. Sepertinya dia menjadi khawatir karena masalah penipuan investasi dan kebakaran itu. Wajar saja jika Atha merasa takut, tetapi sikapnya sedikit berlebihan. Bagaimana kalau Ziya tahu apa yang dia pikirkan saat ini? Wanita itu pasti akan sedih. Pada momen begini, seharusnya mereka lebih banyak berkomunikasi dan bekerja sama. Sehingga tidak akan terjadi salah paham. Atha hanya sedang sensitif. Dia cenderung menyalahkan diri sendiri dan ketakutan. Belum pernah ada masalah sebesar ini dalam hidupnya. Kalian juga akan merasa tertekan saat mimpi dan perjuangan kalian hancur, bukan? Begitulah yang dirasakan oleh Atha sekarang. Haris sangat mengerti posisi Atha saat ini. Atha berada dalam dilema besar karena masalah yang timbul belakangan. Dia merasa tidak akan mampu membahagiakan Ziya seperti dulu. Pada titik begini, yang dia butuhkan adalah dukungan dan perhatian. Jika dibiarkan, dia mungkin akan semakin tersesat di dunianya yang sunyi. “Tidak perlu dijelaskan. Aku tahu maksudmu.” “Kamu sengaja, ya?” Haris ganti melotot. “Tidak usah melotot begitu. Kalau mata kamu sampai pegal dan sakit, aku tidak punya uang lagi buat ganti rugi.” Haris tergelak. “Omong-omong soal ganti rugi, aku sudah tawarkan pick up kamu ke temanku yang di kota. Katanya ada yang tertarik. Kalau harganya cocok, dia akan ke sini untuk melihat langsung.” “Kamu atur saja. Aku percaya sama kamu.” “Harus, dong. Biasanya juga begitu, kan? Aku adalah orang kepercayaan kamu.” “Mulai merasa besar kepala?” “Bukan besar kepala. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Memangnya bukan seperti itu?” Haris membuat gerakan seolah dia sedang memperbaiki kerah baju, padahal dia sedang memakai kaos oblong. “Kurangi sikap percaya dirimu itu. Kamu terlalu narsis untuk ukuran orang kampung.” “Ya, elah. Memang orang kampung tidak boleh percaya diri. Justru karena kita tinggal di kampus, rasa percaya diri harus lebih tinggi. Biar kita tidak ditindas sama orang kota. Kalau ketahuan minder, kamu bakal habis.” “Kamu kebanyakan nonton sinetron. Tidak semua orang kota suka menindas.” “Iya, iya. Apa saja katamu. Terserah kamu.” Giliran Atha yang tertawa. “Jadi, kapan dia akan ke sini buat lihat pick up-nya?” “Kita tunggu saja kabar dari temanku,” ujar Haris. Atha mangut-mangut. “Omong-omong, apa kamu mau kasih kejutan buat Ziya? Sebagai pelipir lara hati.” Kedua tangan Haris berada di pundak Atha. Dia memberikan tepukan beberapa kali sambil menatap jail. Bibirnya menyunggingkan senyum miring yang lebih mirip orang mengancam dibandingkan dengan menggoda. Haris harus banyak belajar mengenai cara memengaruhi seorang Atha yang bagaikan es. Dengan cepat dan sedikit kasar, Atha menepis kedua tangan Haris yang sangat mengganggu itu. Bukannya marah, Haris malah tertawa terbahak-bahak. Mendengar tawa Haris yang menjengkelkan, Atha semakin meradang. Dia masuk ke dalam pick up, lalu memencet klakson beberapa kali. Tawa Haris bukan berhenti, tetapi malah bertambah keras. Dia sangat senang karena berhasil membuat Atha, lagi-lagi, marah. Melihat Atha kesal adalah sebuah hiburan tersendiri baginya. Apa lagi kalau itu bisa bertahan sampai beberapa waktu. Indahnya saat itu bagi Haris.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD