Sudah hampir satu jam Ziya membaca berbagai macam artikel mengenai pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Dia meneliti setiap baris agar bisa menemukan apa yang dia cari. Keningnya berkerut beberapa kali saat tidak memahami istilah yang dibaca. Ternyata, tidak semua tulisan menggunakan bahasa baku.
Untuk ukuran orang yang tidak terlalu mengikuti tren, bisa dibilang Ziya cukup tertinggal. Dia tidak terlalu memahami perkembangan bahasa pergaulan yang sedang hits. Toh, semua istilah itu tidak begitu penting baginya. Bukankah dia tinggal di lingkungan yang juga tidak memedulikan hal itu. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kepala Ziya menoleh saat mendengar suara Dania. Dia tersenyum begitu menyadari jika Dania hanya menggumam dalam tidurnya. Sang putri adalah hiburan paling menyenangkan bagi Ziya. Semua kelelahan seolah menghilang setelah melihat tingkah lucu Dania. Benar kata orang, anak bisa menjadi penguat sekaligus penghibur bagi orang tua. Anak bisa menjadi jalan kebahagiaan bagi ayah bunda.
Menjadi ibu dari seorang Yazid dan Dania adalah anugerah terindah. Yazid, meski suka protes, tetapi selalu memperhatikan Ziya saat dia bersikap tidak seperti biasa. Dania dengan wajah polos dan ocehan lucu memberikan kehangatan sendiri dalam kehidupan Ziya. Jika ada harta yang sangat berharga di dunia ini, maka mereka berdualah jawabannya.
Tinggal jauh dari kedua orang tua dan mertua membuat Ziya lebih mandiri. Dia cukup lihai mempelajari semua hal baru setelah menikah dengan Atha. Wanita yang dulunya tidak suka mengerjakan pekerjaan rumah itu, kini sangat ahli mengurus keluarga. Sebelum pernikahan, dia bahkan paling benci dengan suasana dapur.
Aktivitas memasak menjadi hal sangat membosankan bagi Ziya muda. Dia lebih memilih untuk membeli lauk matang. Merantau sejak kuliah membuat Ziya lebih mandiri. Meski begitu, dia tetap tidak menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan rumah.
Tidak ada yang menyangka kalau Ziya akan menjadi ibu rumah tangga sebaik sekarang. Dia menyelesaikan semua tugas dengan sangat baik dan rapi. Masakannya juga enak sekali dinikmati. Tampaknya, walaupun jarang menyentuh urusan rumah, dia berbakat untuk melakukan hal itu.
Tentu saja apa yang dilalui Ziya selama berproses tidak mudah. Dia membaca banyak buku dan melihat berbagai acara parenting. Dia berusaha menjadi istri serta ibu yang baik. Hanya butuh waktu sebentar bagi Ziya untuk menjadi sosok yang tak tergantikan di dalam keluarga. Atha dan kedua anaknya sangat bergantung pada wanita itu.
Jika Ziya sakit atau pergi sehari saja, Atha bakal kelimpungan mengurus Yazid dan Dania. Kedua anak mereka terlalu biasa bersama Ziya. Jadi, saat hanya tinggal dengan sang ayah, mereka akan merasa ada yang kurang. Mereka bisa mengabaikan kehadiran Atha, tetapi tidak dengan keberadaan Ziya.
Wajar, bukan? Dari hal kecil, seperti menyiapkan baju sampai memilih lauk yang di masak, Ziya putuskan sendiri. Atha hanya bertugas mencari nafkah atau memberi bantuan saat Ziya memerlukan. Selama ini, Atha belum pernah sekalipun menawarkan diri untuk membantu pekerjaan rumah. Kecuali saat Ziya tidak sehat.
Hal itu tidak membuat Ziya kecewa. Setelah memutuskan berhenti bekerja, dia menyerahkan urusan keuangan pada Atha. Jika Atha kemudian menjadi lebih sibuk, dia tidak mau menyalahkan. Atha sudah lelah bekerja seharian, bahkan terkadang sampai lembur. Lalu, apa hak Ziya untuk merasa kecewa?
Memang, di awal pernikahan Ziya pernah merasa tidak diperhatikan karena kesibukan Atha bekerja. Namun, seiring berjalannya waktu, dia lebih membuka diri dan hati. Menjadi pendamping dari seorang Atha haruslah penuh kesabaran. Kalau tidak, Ziya tidak mungkin bisa bertahan sampai saat ini.
Meski banyak yang menilai Atha memiliki sikap buruk, Ziya tidak peduli. Ada sifat-sifat yang tidak Atha perlihatkan pada orang lain. Atha terlihat seperti sosok yang keras kepala dan mudah marah. Akan tetapi, sebenarnya dia juga orang yang pengertian. Ya, walaupun tidak semanis penggombal di televisi.
Jangan mengharapkan Atha mengeluarkan kata-kata romantis seperti aku mencintaimu atau aku rindu padamu. Bahkan kata pujian jarang sekali keluar dari mulut Atha. Seakan jika mengungkapkan semua itu, dia akan diprotes dan dianggap salah. Jadi, Atha mungkin saja menyimpan hal-hal berbau roman dalam ruangan di dirinya. Kemudian, dia mengunci dengan rapat.
Menjadi istri Atha selama hampir enam tahun tidak memberikan hak istimewa bagi Ziya. Meski belakang Atha sudah lebih sering tersenyum dan terbuka, pria itu masih sedikit kaku saat berada di dekatnya. Ziya jadi bertanya-tanya bagaimana Atha berhubungan dengan para mantan pacarnya dulu.
Menurut penuturan Atha, dia pernah menjalin hubungan beberapa kali. Jadi, pacaran seperti apa yang dijalankan oleh pria itu. Bagaimana bisa berpacaran dengan gadis dengan wajah datar begitu. Belum lagi sikapnya yang tidak perhatian. Ziya penasaran bagaimana para gadis bertahan di samping Atha.
Kalau dipikir lagi, sikap dingin Athalah yang membuat Ziya terpikat dan menerima lamaran pria itu. Padahal mereka baru mengenal sebentar. Ziya mengabaikan kabar kalau Atha seorang playboy. Dia tahu kalau Atha memiliki sederet mantan dari berbagai tipe. Dia juga tahu kalau Atha tidak pernah bertahan pacaran lebih dari enam bulan. Sangat menakjubkan, bukan?
Dengan temperamen yang cukup buruk, Atha masih saja terlihat memesona di mata para gadis. Setelah menikah dan mengenal kepribadian Atha lebih baik, Ziya jadi lebih memahami Atha. Rumor yang mengatakan kalau Atha mudah bosan pada sebuah hubungan terbukti tidak akurat.
Sejauh ini, hubungan Atha dan Ziya baik-baik saja. Ziya bertanggung jawab dengan semua pekerjaan di rumah. Sementara Atha bertugas mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Tidak ada yang dirugikan di sini.
Jujur saja, sikap Atha mirip dengan Ziya. Ziya juga suka menyendiri dan tidak suka diganggu. Dia tidak banyak berinteraksi dengan orang lain. Beberapa orang bahkan mengira dia sombong. Padahal dia hanya merasa canggung saat harus memulai pembicaraan. Dalam sebuah hubungan, dia adalah orang yang sangat setia.
Untuk yang satu ini, Ziya memang berbeda dari Atha. Dalam hidup Ziya, dia hanya jatuh cinta sekali. Saat hubungannya berakhir, dia terpuruk selama beberapa waktu. Sesekali dia masih menangis ketika mengingat kebersamaannya dengan sang mantan. Lalu, pertemuan dengan Atha memberikan dunia baru bagi Ziya.
Atha adalah pria pertama yang membuat Ziya melupakan cinta masa lalunya. Begitu melihat Atha, dia langsung jatuh hati. Tentu saja, dia tidak secara terang-terangan memperlihatkan hal itu. Dia sangat senang saat Atha menyampaikan isi hati dan bermaksud untuk mengajukan lamaran pada Ziya.
Tanpa banyak pertimbangan, Ziya setuju. Masa perkenalan dengan kedua keluarga juga berjalan baik. Semua pihak saluang menyukai dan menyetujui pernikahan Atha dan Ziya. Mungkin itu merupakan pertanda kalau mereka memang ditakdirkan untuk berjodoh. Luar biasa!
“Memasaklah dengan hati dan sampaikan perasaanmu dengan berani.”
Suara dari televisi mengalihkan perhatian Ziya. Dia mengamati seorang chef cantik yang tengah membuat cake ulang tahun yang berbentuk hati. Cake itu dibaluri cokelat lezat. Di atasnya dihiasi dengan miniatur pria dan wanita. Di sekitar miniatur itu ada berbagai aksesori tambahan, seperti gambar hati dan beberapa pohon.
Kedua mata Ziya berbinar. Dia menyimak acara itu dengan cermat. Kebahagiaan menyeruak dalam hati. Sepertinya dia sudah menemukan sesuatu yang dia sukai. Dia membuka laman pencarian di handphone, lalu mengetikkan kata cake cantik. Berbagai gambar kue menggiurkan langsung bertebaran.
Jari telunjuk Ziya menelusuri setiap gambar. Wajahnya dihiasi dengan senyuman manis. Kepala wanita itu sudah terisi banyak ide. Dia harus segera mempelajari dan mempraktikkan ilmu yang dia dapatkan hari ini. Jangan sampai semua menguap dan hilang dalam sekejap.
“Menarik,” gumam Ziya pada dirinya sendiri.
***
“Akhirnya datang juga. Sini, Sayang ayah.”
Tangan Atha meraih Dania dan Yazid bersamaan, lalu memberikan pelukan pada mereka. Di belakang keduanya, Ziya tersenyum lebar. Wanita itu meletakkan bungkusan plastik yang dibawa di atas meja. Dia mulai memperhatikan ruangan tempat Atha menghabiskan waktu untuk bekerja.
Ruangan itu hanya berukuran empat kali empat. Hanya ada satu meja kerja, satu lemari, dan sofa panjang dengan meja mungil. Ada beberapa foto yang tergantung di dinding. Kebanyakan adalah momen kebersamaan Atha dengan para karyawannya. Di sebuah sudut, ada foto keluarga dan tiga foto kedua anaknya yang tersenyum lebar.
Di meja Atha bertumpuk kertas yang tampaknya merupakan desain produk para pelanggan. Ziya bisa melihat ada dua foto keluarga di pigura kecil di samping komputer Atha. Saat Ziya datang, Atha tengah sibuk dengan komputernya. Dia berharap kalau kedatangannya tidak mengganggu pekerjaan sang suami.
Meski sudah cukup lama menikah, Ziya tidak begitu sering mengunjungi tempat kerja Atha. Alasannya sangat sederhana. Atha terkadang terlalu sibuk untuk menyambut kedatangan Ziya. Sementara Ziya sendiri tidak mau mengganggu pekerjaan sang suami yang menumpuk.
“Dari rumah langsung ke sini?”
“Iya. Nanti bikanya keburu tidak enak. Makan dulu, Mas. Sudah aku potong-potong. Aku juga buatkan bolu untuk karyawan Mas. Sudah aku kasih ke Mas Harus di depan tadi,” ucap Ziya sambil membuka kotak makanan yang dibawa.
“Wah, harum sekali. Mas tidak sabar untuk menghabiskannya.” Atha menerima sepotong Bika Ambon yang disodorkan Ziya. “Mas Yazid sama Dik Dania mau?”
“Yazid sudah makan tadi di rumah. Sudah kenyang. Untuk Ayah saja,” ujar si sulung, Yazid, dengan wajah semringah. Dia berlari ke sofa, lalu duduk dengan tenang.
“Dania mau?” Atha mendekatkan Bika Ambon miliknya ke mulut Dania, tetapi sang putri itu menutup rapat mulutnya, lalu mulai mengoceh.
Menyaksikan tingkah lucu Dania, Atha tertawa. Dia menurunkan Dania dan membiarkannya berjalan mendekati Yazid yang duduk di sofa. Keduanya mulai bermain bersama. Atha melahap potongan pertama Bika Ambon favoritnya, lalu mengambil lagi dari kotak makanan.
“Bika Ambon buatan kamu memang yang terbaik,” kata Atha. Ziya tersenyum. Tumben sekali Atha memujinya begitu.
“Bukankah rasanya selalu sama?”
“Itulah yang mau Mas katakan. Semua masakan kamu selalu sama enaknya.”
“Mas tumben, lho, banyak memuji aku.”
“Memangnya Mas tidak boleh memuji istri sendiri?”
“Tentu saja boleh. Teruskan saja makannya.” Ziya melangkah ke sofa dan duduk di samping Yazid. “Sepertinya pekerjaan Mas banyak sekali.”
“Alhamdulillah. Rezeki kita dipermudah. Ada banyak pesanan akhir-akhir ini. Makanya semua orang lembur.”
“Kalau begitu, aku tidak akan lama-lama di sini. Lagi pula, ini sudah terlalu sore. Aku langsung pulang saja, ya.”
“Tidak mau lihat-lihat dulu. Jarang, kan, kamu bisa berkunjung ke sini. Kami juga sebentar lagi istirahat buat salat Magrib berjamaah di musala depan itu.”
“Tidak perlu Mas. Aku pulang saja.”
“Ya, sudah kalau begitu. Hati-hati, ya.”
Ziya mengangguk. Setelah bersalaman dan mengucap salam, dia pulang dengan kedua anaknya. Hati wanita itu mendadak sesak saat keluar dari bangunan tempat Atha bekerja. Dia memperhatikan ruko tua yang disewa oleh Atha. Posisinya lumayan jauh dari ruko yang lain.
Pernah suatu kali Ziya menyarankan Atha untuk mencari lokasi baru yang lebih strategis. Namun, menemukan tempat yang sesuai dengan harga terjangkau bukanlah hal mudah. Jadi, Atha masih bertahan di tempat yang lama.
Sepanjang perjalanan, Ziya benar-benar tidak tenang. Dia tidak tahu apa tepatnya yang mengganggu pikiran. Yang dia tahu, otaknya penuh dengan bayangan Atha yang bekerja di depan tumpukan berkas. Jarak tempuh untuk kembali ke rumah menjadi sangat lambat karena dia menjalankan motornya perlahan.
Azan Magrib sudah berkumandang begitu Ziya memasuki pekarangan rumah. Perasaannya bahkan tak kunjung membaik setelah dia menghadap Allah dan membaca Al Quran. Dia berdoa semoga ini bukan pertanda buruk.
Lalu, dering telepon seluler mengejutkan Ziya. Dia melirik layar handphone yang menampilkan nama Haris. Pikirannya sungguh semakin kacau. Tidak biasanya Haris menelepon. Begitu mengangkat panggilan dan mendengar suara Haris di seberang sana, mata wanita itu terbuka lebar. Kegelisahannya terjawab sudah. Apa ini?