Bab 7: Keinginan Ziya

1718 Words
“Jangan bengong pagi-pagi. Mikir apa?” Tangan Atha menepuk pundak Ziya dari belakang. Nyaris saja Ziya menjatuhkan piring yang tengah dipegang. Untung dia dengan sigap meletakkan benda itu di atas meja. Dia menoleh dan menatap Atha dengan mata bulat. Bukannya takut, Atha malah tersenyum lebar melihat tingkah sang istri. Kalau mau jujur, Atha bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Ziya. Sejak membicarakan masalah penipuan investasi mereka, Ziya sering tidak fokus. Sudah tiga hari sejak dia mendengar mengenai kebenaran itu dan tidak ada yang berubah. Dia juga belum sepenuhnya ikhlas, tetapi dia tidak ingin Ziya semakin khawatir. Jadi, dia berusaha menyembunyikan kegundahannya. Tidak sesuai janjinya, Noufal tidak pernah muncul lagi. Nomor teleponnya juga tidak aktif. Seolah apa yang dia ucapkan pada Atha tiga hari lalu hanya pemanis untuk menenangkan hati sang sahabat. Atha tidak berharap banyak. Dia hanya ingin Noufal beritikad baik dan membicarakan masalah investasi itu dengan para warga. Sampai hati ini, rumah Noufal tidak pernah sepi dari warga yang datang. Mereka benar-benar masih mengharapkan kemunculan Noufal. Sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah. Banyak yang menggantungkan asa dari investasi tersebut. Wajar saja jika mereka menginginkan keadilan. Beberapa orang bahkan menanyakan keberadaan Noufal pada Atha. Atha tidak pernah menutupi apa pun. Dia mengatakan yang sebenarnya, mengenai Noufal yang menghubungi dan berjanji akan segera pulang. Hanya itu. Dia berusaha menghibur para warga dan meminta mereka untuk tenang, tetapi dia tidak berani menjanjikan apa-apa mengenai kepulangan Noufal. Sebagai sahabat dan teman seperjuangan, Atha sedikit menyesalkan sikap Noufal. Warga-warga yang ikut investasi itu bukannya tidak bisa diajak berdiskusi. Jika Noufal menyikapi hal ini dengan lebih bijak, mungkin mereka bisa memaafkan Noufal meski tidak mengganti kerugian sepenuhnya. Yang lebih mengesalkan adalah sikap orang tua Noufal. Saat didatangi beberapa warga, mereka mengatakan kalau itu bukanlah tanggung jawab mereka. Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan investasi. Orang yang harus menanggung semua tak lain dan tak bukan hanya Noufal seorang. Sikap orang tua Noufal ini sedikit aneh. Biasanya, mereka merupakan orang yang ramah. Atha pikir, mereka akan melindungi Noufal dengan menenangkan para warga. Siapa sangka, mereka malah mengatakan hal tidak terduga begitu. Benar-benar mengecewakan semua pihak. Apa orang tua Noufal tidak menyadari posisi mereka yang menjadi salah satu tetua di lingkungan mereka. Mestinya mereka malu atas sikap Noufal yang meninggalkan kewajiban. Bukankah tugas orang tua untuk selalu melindungi anak? Apa mereka lantas lepas tangan saat anak mereka sudah menikah? Katakanlah kalau itu memang benar. Lalu, apakah sebagai orang tua, tidak lagi berkewajiban menasihati anak setelah sang buat hati berkeluarga? Bahkan sesama muslim yang tidak memiliki ikatan darah, kita diperintahkan untuk saling mengingatkan. Bagaimana dengan keluarga sendiri? Bukan mau ikut campur masalah keluarga Noufal. Atha juga bukan orang yang paham mengenai hukum agama dengan baik. Dia hanya melihat dari sisi kemanusiaan dan kedamaian. Posisi Noufal saat ini sudah cukup memprihatinkan. Kalau bukan saudara atau sahabatnya yang memberi dukungan, lalu siapa lagi? Untuk hal ini, Atha juga belum bisa meyakinkan diri sendiri. Dia tidak bisa mempercayai Noufal seperti dulu. Setelah merasa dicurangi, kepercayaan itu tidak utuh lagi. Meski begitu, dia tetap berusaha berbaik sangka pada sang sahabat dan berharap untuk kebaikannya. Menghadapi masalah yang melibatkan orang banyak memang bukan perkara mudah. Terutama dalam hal yang negatif seperti penipuan investasi. Para warga memang tampak tenang, tetapi siapa yang tahu kalau mereka memiliki pemikiran lain dalam hati mereka. Itulah yang harusnya diantisipasi. Jangan mereka meledak saat nanti Noufal muncul tanpa solusi. Padahal dia sempat menghilang. Dari sisi sahabat dan korban, Atha pribadi tidak menyimpan dendam. Dia akan berusaha mengikhlaskan hal ini dan menjadikannya sebagai pelajaran. Apa lagi Ziya sudah banyak menanggung kerugian. Jangan sampai Ziya bertambah bingung karena Atha terus mengungkit masalah investasi. “Mas melarangku untuk berhenti mengejutkan. Tapi, Mas masih suka berbuat begitu,” protes Ziya sambil mengerucutkan bibir. “Iya, deh. Maaf. Mas tidak bermaksud begitu. Dania mana?” “Masih tidur. Kok, cepat sekali sudah pulang?” “Cuma mengantar Yazid, memangnya butuh waktu lama? Kalau kamu yang mengantar, kamu pasti ngobrol dulu. Makanya lama. Iya, kan?” “Kan, cuma ngobrol, Mas. Kami tidak menggosipkan orang.” Atha mangut-mangut. “Jangan melamun pagi-pagi. Tidak baik buat kesehatan. Pagi itu seharusnya diawali dengan penuh semangat. Bukan dengan melamunkan hal-hal yang tidak penting.” “Aku cuma kepikiran masalah kerjaan, Mas,” ujar Ziya dengan wajah serius. “Masalah kerjaan? Maksud kamu?” “Aku ... pengin punya pekerjaan. Pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, Mas.” Ziya menambahkan kalimat terakhir dengan cepat begitu melihat reaksi Atha. “Mas sudah bilang kalau Mas akan mengurus semuanya. Kenapa kamu mulai memikirkan hal itu lagi?” “Aku cuma berpikir kalau akan mengasyikan saat punya kesibukan. Aku lumayan bosan, Mas. Yazid sudah sekolah dan Dania sangat pintar. Tidak masalah, kan, kalau aku mau kerja. Yang penting, kewajibanku tidak terabaikan. Bagaimana?” Atha menghela napas. Dia memperhatikan wajah semringah sang istri saat menyampaikan keinginannya. Entah pekerjaan apa yang tengah dipikirkan oleh Ziya saat ini. Dia tidak mau Ziya merasa tertekan hanya karena masalah utang mereka. Dengan penghasilan dari usaha sablon, dia masih bisa menutupi bulanan yang harus mereka bayar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Akan tetapi, Ziya sepertinya benar-benar ingin memiliki pekerjaan sendiri. Berada di rumah seharian hanya untuk mengurus rumah dan anak pasti sangat membosankan. Ditambah lagi, Atha sangat jarang membantu. Mereka juga tidak memiliki asisten karena merasa itu tidak perlu. Melihat keadaan itu, bukankah sudah sepatutnya Atha mempertimbangkan keinginan Ziya. Lagi pula, apa yang dikatakan Ziya benar. Kedua anak mereka sudah cukup mandiri. Ziya mungkin akan lebih bersemangat dan berbahagia saat memiliki kesibukannya sendiri selama di rumah. Meski begitu, sebelum menyetujui usulan Ziya, terlebih dahulu Atha harus memastikan berapa modal yang dibutuhkan. Dengan begitu, dia bisa mempersiapkan kebutuhan sang istri. Dia berharap semoga saja pekerjaan baru yang dibicarakan oleh Ziya tidak membutuhkan banyak uang. Bukan pelit atau tidak mendukung kemauan Ziya. Keadaan saat ini tidak memungkinkan Atha untuk mengeluarkan banyak uang. Tanggungan bank masih harus dipikirkan. Mereka harus berhemat agar bisa menanggulangi pengeluaran rumah tangga. Dia tidak ingin keluarganya merasa kekurangan setelah masalah penipuan yang menimpa mereka. Penghasilan Atha di bidan sablon cukup banyak untuk menutupi kerugian. Memang. Ada banyak lubang yang nantinya akan sulit ditambal. Namun, selama dia bisa mengendalikan omset, semua akan baik-baik saja. Dia memikirkan banyak strategi agar penjualan makin meningkat selama tiga hari terakhir. Hal ini dilakukan Atha bukan semata demi dirinya. Para pekerjanya juga menjadi korban investasi bodong Noufal. Mereka sekarang bergantung pada usaha milik Atha. Jadi, dia harus membuat gebrakan agar omset mereka melesat sehingga penghasilan bisa meningkat. Sebagai pemimpin, dia memiliki tanggung jawab untuk menyejahterakan bawahan mereka, bukan? “Memangnya kamu mau pekerjaan baru seperti apa?” “Soal itu ... aku belum tahu, Mas. Apa Mas punya usul?” Sudut bibir Atha naik. “Kamu maunya pekerjaan yang bagaimana? Coba pikirkan hal yang paling kamu sukai dan kamu akan merasa nyaman saat melakukannya.” “Apa, ya? Aku menyukai banyak hal, jadi ....” “Pilih yang kamu sukai.” Atha tersenyum. “Jangan buru-buru. Pikirkan pelan-pelan. Kalau sudah memutuskan, beri tahu Mas. Oke?” “Jadi, Mas setuju?” tanya Ziya dengan mata berbinar. “Tentu saja. Selama kamu menyukainya, Mas akan mendukung.” Senyum Atha menular pada Ziya. Mereka berbalas senyuman untuk beberapa waktu sebelum suara tangis Dania memecahkan kesunyian di antara mereka. Ziya segera berlari ke kamar untuk menenangkan Dania dan kembali sambil menggendong sang anak yang sudah tenang. Begitu melihat Atha, Dania langsung meminta gendong. Ziya tertawa, lalu menyerahkan sang putri pada Atha. Untuk sesaat, dia melupakan pembicaraannya dengan Atha. Dia memperhatikan Atha yang berusaha memberikan ciuman dan pelukan pada Dania. Anak perempuan itu tertawa diperlakukan begitu. Walau Atha jarang menghabiskan waktu dengan anak-anaknya, dia berusaha mendekati mereka di lain kesempatan. Dia memang tidak bisa membandingkan kedekatan dengan kedua anaknya dengan Ziya. Setiap saat, Ziya yang selalu menemani. Sedangkan Atha hanya sesekali bergabung. “Malam ini Mas lembur. Ada banyak pesanan yang harus diselesaikan. Jangan tunggu Mas pulang,” kata Atha. Dia melirik jam dinding yang ada di dapur. Sudah hampir jam setengah delapan. Dapur Atha didesain dengan sangat baik. Sesuai permintaan Ziya yang menginginkan dapur luas. Begitulah yang terjadi. Ruangan itu berukuran enam kali empat. Dilengkapi dengan peralatan dapur lengkap yang dikoleksi Ziya sejak sebelum mereka menikah. Hobinya mencoba resep baru membuat wanita itu betah berlama-lama di sana. Ada kalanya Atha heran karena Ziya menghabiskan terlalu banyak waktu di dapur. Terutama di saat Atha libur. Bukannya menemani sang suami bersantai di taman atau ruang keluarga. Ziya memilih untuk sibuk dengan berbagai peralatan memasak. Dia bilang kalau keberadaan Atha bisa membuatnya semakin tenang mencoba berbagai resep. Ada yang menjaga Yazid dan Dania. Sehingga Ziya tidak perlu khawatir. Ziya sebenarnya lebih suka membuat kue kering atau berbagai cake dibandingkan dengan varian makanan berat dan lauk. Dia kerap membuat berbagai macam camilan untuk keluarga. Cara suami dan kedua anaknya menghabiskan hasil karyanya sangat membahagiakan. Dia jadi ketagihan untuk membuat jajanan lain. “Benarkah? Padahal rencananya aku mau buat bika Ambon.” Sengaja Ziya menekankan dua kata terakhir karena itu merupakan camilan kesukaan Atha. Sesuai tebakan, kedua mata Atha langsung bersinar. Ziya bersorak dalam hati. Dia selalu bisa meluluhkan Atha. Setelah ini, Atha pasti akan merengek untuk mengirimkan Bika Ambon ke tempatnya bekerja. “Kamu, kan, bisa mengirimkannya ke tempat kerja Mas.” Ziya tersenyum. “Mas makan setelah pulang saja. Aku sisakan buat Mas. Tenang saja.” “Setelah mendengar kamu akan membuat Bika Ambon, mana bisa Mas menunggu sampai malam.” Atha mencoba merayu. “Baiklah. Aku akan berbaik hati mengantarkan ke tempat Mas. Tapi, satu saja, ya. Aku cuma mau buat dua.” “Siap. Mas tunggu. Kalau begitu, Mas berangkat. Assalamualaikum.” Atha menyerahkan Dania kembali pada Ziya. Ziya menjawab salam Atha, lalu menyalami sang suami. Dia mengantar Atha sampai memasuki pick up yang terparkir di halaman. Pandangannya terus mengikuti mobil Atha yang menjauh. Tiba-tiba sesuatu yang aneh seakan menusuk d**a Ziya. Dia menelan ludah ketika merasakan firasat aneh. Tidak lagi. Ziya langsung menggumamkan berbagai doa perlindungan untuk sang suami. Mereka baru saja diberi cobaan dan masih berusaha mencari jalan keluar. Semoga tidak akan ada lagi masalah lain yang datang. Keadaan saat ini sudah cukup buruk, jangan sampai bertambah parah. Kepala Ziya menengadah. Matahari sudah mulai naik. Sepertinya hari ini akan sangat cerah. Dia berharap keadaan akan menjadi secerah mentari pagi. Kehangatan menusuk kulit wajah Ziya. Dia memejamkan mata untuk sesaat, merasakan kelembutan angin yang bertiup. Kedua mata Ziya terbuka begitu mendengar ocehan Dania yang berada dalam gendongannya. Dia memberikan ciuman di pipi tembam sang putri. Dania kembali mengoceh. Ziya tersenyum. Dia membelai pipi Dania, lalu membawanya masuk rumah. Saatnya Dania mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD