Atha memarkir pick up kesayangannya dengan hati-hati di halaman rumah. Matahari sudah hampir tenggelam saat itu. Dia melihat pintu rumah yang sudah tertutup. Samar-samar, dia mendengar alunan qari anak yang membaca surat Annaba. Suara merdu yang sangat dia kenal.
Sejak awal menikah, Ziya punya kebiasaan memutar pengajian atau bacaan Al Quran. Biasanya di pagi hari setelah salat Subuh atau sore sebelum salat Magrib. Tidak lama. Hanya sekitar sepuluh sampai tiga puluh menit. Jadi Atha sudah sangat terbiasa dengan hal ini.
Kehangatan perlahan merambat dalam hati Atha. Bacaan ayat-ayat suci Al Quran memang selalu bisa memberikan ketenangan. Beruntung sekali orang yang bisa membaca kitab itu dengan baik. Atha terkadang iri mendengar betapa bagusnya cara Ziya mengalunkan Al Quran setiap hari.
Lain dengan Ziya, sejak kecil Atha tidak terlalu mengenal agama. Orang tuanya kurang memahami Islam sehingga dia terlambat belajar. Ditambah lagi lingkungan dan pergaulannya yang jauh dari Allah. Bisa dibilang jika Ziya yang banyak memotivasi Atha untuk kembali mempelajari agamanya itu.
Sayang, ego yang tinggi terkadang masih tertanam dalam diri Atha. Dia tidak mau belajar dari sang istri. Hanya sekali dua kali dia membaca Al Quran dalam artian bulan. Salat pun masih acak-acakan. Dia selalu mencari alasan saat Ziya mengingatkan. Sepertinya iman yang dia miliki masih belum cukup kuat.
“Sepertinya dia tidak akan pulang dalam waktu dekat.”
Ucapan Haris kembali mengganggu ketenangan Atha. Dia tahu kalau kemungkinan itu sangat besar saat Noufal menghubungi. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan kalau uang hasil pinjamannya melayang begitu saja. Bagaimana tepatnya dia harus menjelaskan semua ini pada Ziya?
Wajah cantik Ziya yang syok sambil memeluk kedua anaknya terbayang di kepala Atha. Selain sang istri, Atha masih punya tanggung jawab untuk memberi penjelasan pada orang tua dan mertua. Pemikiran itu membuat Atha memejamkan mata. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut.
Harga yang dibayar untuk hal ini ternyata sangat rumit. Atha tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi begini dalam hidup. Dia merasakan penyesalan yang belum pernah dialami sebelumnya. Itu sangat menyiksa. Rasanya, Atha ingin melampiaskan emosi yang kini sudah mendidih, tetapi tidak tahu hendak menyalurkan pada apa.
Kemampuan Atha dalam mengelola emosi memang tidak baik, tetapi bukan berarti dia mudah melampiaskan. Semarah apa pun, dia tidak akan kasar saat di rumah, terutama pada anak istrinya. Lain lagi jika dia berada di luar. Dia bisa lebih mengekspresikan diri dengan mengeluarkan kekesalannya.
Wajah pria itu memang sangat jarang menampilkan senyuman. Atha tidak terbiasa beramah tamah jika tidak diperlukan, kecuali pada orang-orang yang sudah dia kenal. Padahal bisa dibilang dia mudah bergaul. Entah apa yang ditakuti Atha saat harus bermuka manis di depan orang baru.
“Mas melamun?”
Ketukan dari jendela mobil mengejutkan Atha. Dia mengelus d**a sambil mengatur napas yang sedikit cepat. Ada Ziya yang memperhatikan dari luar. Atha menurunkan kaca mobil, lalu memberikan tatapan protes pada Ziya yang hanya tersenyum. Terkadang, Ziya suka membuat sang suami terkejut.
Meski Atha sudah mengingatkan berkali-kali pada Ziya kalau dia tidak suka jika dikejutkan, Ziya tetap melakukannya. Bukan apa-apa, Atha kadang melakukan hal yang impulsif saat tengah terkejut. Dia takut akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang buruk pada Ziya.
“Ziya, kapan kebiasaan kamu mengejutkan orang ini berhenti?”
“Habis Mas sudah pulang, tapi tidak segera masuk. Aku jadi khawatir. Ternyata sedang melamun,” ujar Ziya, masih dengan tersenyum. “Mas melamunkan apa, sih?”
Pertanyaan Ziya menarik Atha kembali ke gua yang tadinya sudah dia lewati. Pembicaraan dengan Noufal dan Haris berdesakan memenuhi kepala. Dia menghela napas. Apa pun itu, pada akhirnya dia mesti mengatakan semua pada Ziya. Sang istri cukup peka jika dia menyembunyikan sesuatu.
“Mas masuk dan mandi dulu. Sebentar lagi Magrib.”
“Ya, sudah. Kita akan bicara setelah Magrib.”
“Kita akan bicara setelah Magrib?” Atha membeo ucapan Ziya.
“Iya. Membicarakan alasan Mas melamun sampai tidak masuk-masuk rumah.”
Atha menghela napas, lalu berkata dengan pelan, “Baiklah. Kita akan bicara setelah Magrib. Anak-anak sedang apa?”
“Seperti biasa, main sambil mendengar qiraah.”
Dengan wajah datar, Atha mengikuti langkah Ziya memasuki rumah mereka. Suara tawa Yazid dan Nadia menyambut begitu pintu dibuka. Atha bersyukur karena kedua anaknya cukup akur saat bermain. Mereka hanya sesekali bertengkar untuk memperebutkan sesuatu. Itu pun jarang sekali.
Kebahagiaan sederhana itu selalu mampu membuat Atha betah berada di rumah. Diam-diam, dia mengucapkan permohonan maaf dalam hati pada ketiga orang yang dikasihinya. Dia menyesal karena sudah mengecewakan mereka. Semoga saja, mereka tidak terpengaruh dengan berita buruk yang akan dia sampaikan nanti.
***
“Jadi, apa yang akan Mas sampaikan?”
Sudut mata Atha melirik Ziya yang sedang meletakkan teh dan secangkir kopi di meja. Tak jauh dari tempat mereka duduk, ada Yazid yang sibuk mewarnai. Sementara Dania mencoret-coret kertas yang sudah disiapkan oleh Ziya. Atha menarik napas sebelum membuka mulut.
“Yazid tidak punya tugas?” tanya Atha tanpa melihat Ziya.
“Tugasnya sudah dia kerjakan sepulang sekolah tadi, Mas.”
Sejujurnya, Ziya tahu kalau Atha masih enggan untuk mengatakan apa pun yang kini dia pikirkan. Sejak tadi, Atha selalu menghindari Ziya. Atha juga berusaha lari saat dia menghampiri. Dia menebak jika sesuatu yang mengganggu pikiran Atha adalah hal buruk. Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan investasi.
Ketika melihat Atha melamun di dalam mobil setelah pulang kerja, Ziya sudah curiga. Atha tidak pernah ingin membebani dirinya dengan segala permasalahan. Karena itu, dia tidak pernah berbagi cerita padanya. Setiap ada masalah, Atha hanya diam dan berusaha mencari jalan keluar seorang diri.
Sikap Atha yang seperti itu justru membuat Ziya sedih. Dia merasa jika Atha tidak terlalu percaya pada kemampuannya. Meski tidak bisa memberi solusi, setidaknya dia bisa menjadi tempat untuk menumpahkan masalah. Dengan begitu, Atha tidak akan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Sudah beberapa kali Ziya mengatakan kalau seorang istri bukan hanya hiasan. Istri adalah pendamping suami yang harus mendukung dan menolong saat ada permasalahan. Bahkan dengan pengalaman yang minim, Ziya bisa memberi beberapa bantuan untuk sang suami.
Tetap saja, Atha mengabaikan semua ucapan Ziya. Wanita itu tidak pernah tahu permasalahan apa saja yang telah menimpa suaminya. Kalau pun akhirnya tahu, sudah terlambat. Atha pasti sudah membereskan masalah sebelum Ziya menyadari ada yang salah dengannya.
Kenyataan ini terkadang membuat Ziya berpikir. Apa dia begitu tidak berkualitas sehingga Atha enggan membuka diri. Mereka sudah menikah cukup lama dan Atha masih saja tertutup. Ziya berusaha memahami sikap Atha, tetapi pria itu bahkan tidak tahu apa makanan favorit Ziya.
Itu memang terdengar sepele, tetapi bukanlah seharusnya hal sekecil ini bisa dimengerti oleh setiap pasangan yang telah hidup bersama selama hampir enam tahun. Ziya bahkan mengetahui semua kebiasaan Atha. Bagaimana bisa Atha bahkan tidak pernah ingat hari ulang tahun Ziya setiap tahun?
Sungguh, Ziya tidak ingin dimanja atau diberi hadiah mahal. Dia hanya ingin sedikit diperhatikan. Keberadaan Ziya di rumah seolah sekadar tambahan untuk mengurus keluarga. Atha seakan tidak memberinya hak untuk mendampingi. Sikap cuek Atha terkadang memang keterlaluan.
Beruntung stok kesabaran Ziya menumpuk, jadi dia masih bisa mempertahankan perasaannya pada Atha. Dengan kepribadian yang cuek, sedikit berbicara, dan bahkan kurang perhatian, seharusnya wanita merasa tidak nyaman. Ziya juga merasakan hal itu di awal pernikahannya dengan Atha.
Kemudian, lambat lain Ziya menyadari jika sikap Atha memang seperti itu. Sedikit demi sedikit dia mulai memahami sang suami. Sayang, hal itu tidak berlaku pada Atha. Atha tetap sama. Dia seakan tidak ingin tahu mengenai Ziya. Tidak sekali pun Atha bertanya mengenai diri Ziya. Tidak sekali pun.
Apa Ziya kecewa? Iya. Terkadang dia merasa kalau hanya dia yang berusaha untuk belajar memahami Atha. Lalu, dia tahu kalau Atha memang kesulitan mengekspresikan sesuatu pada lawan jenis. Pada banyak kesempatan, Atha melakukan segalanya untuk Ziya.
Jadi, demi menjaga hubungan dan mempertahankan sikap baik Atha pada keluarga, Ziya memutuskan untuk abai. Dia tetap berharap kalau Atha akan sedikit lebih perhatian padanya, tetapi tidak akan menuntut. Toh, Atha selalu bertanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah.
“Jadi, Mas mau cerita atau mau main tebak-tebakan?” tanya Ziya sambil menyodorkan secangkir kopi pada Atha.
Dengan senyum geli, Atha meraih cangkir. Dia menghirup aroma yang menguar dari benda cair berwarna hitam itu. Ziya ikut tersenyum melihat kelakuan sang suami yang dinilai berlebihan. Sepertinya, Atha masih ingin mengulur waktu untuk memberi tahu kebenaran pada Ziya.
“Cepat diminum, Mas. Lalu, mulailah bercerita,” kata Ziya sambil menunjuk cangkir dengan dagu. Atha mengangguk dan menyeruput kopinya sedikit, lalu meletakkan kembali cangkirnya di meja.
“Sudah tidak sabar?”
“Menurut Mas? Apa itu perlu ditanyakan lagi? Aku tahu kalau Mas sengaja mengulur waktu. Memangnya apa yang begitu mengganggu Mas kali ini?”
“Ini tentang ....” Atha menggantung kalimatnya.
“Tentang apa, Mas? Apa ini mengenai ....”
Wajah Ziya yang tadinya dihiasi senyum mendadak murung ketika melihat Atha hanya diam. Dia sudah memikirkan hal ini setelah Atha pulang. Sikap diam Atha menjawab semua pertanyaan yang Ziya simpan. Kenapa dia merasa kecewa? Bukankah dia sudah menebak kalau itulah yang terjadi.
“Jadi, investasi itu benar-benar hanya kedok untuk menipu?” Atha menghela napas, lalu mengangguk. “Bagaimana dengan Mas Noufal.”
“Dia pergi ke kantor pusat untuk memastikan berita ini dan ... ya, begitulah. Semuanya benar. Kita semua menjadi korban penipuan.”
“Lalu, apa yang akan terjadi pada kita? Bagaimana dengan warga lain, Mas? Banyak yang sudah mengikuti investasi ini. Mereka berharap bisa memiliki keuntungan.”
“Mas tahu, Zi. Maaf, Mas sudah mengecewakan.”
Ziya langsung menoleh dan memperhatikan Atha begitu mendengar kalimat itu. Ada ketulusan di kedua mata Atha yang kini tengah menatapnya. Dia tidak bermaksud untuk menyalahkan Atha. Semua orang bisa berbuat salah. Ziya tidak akan menyalahkan Atha atas apa yang telah terjadi.
“Bukan begitu, Mas. Aku lebih khawatir pada Mas.”
“Khawatir pada Mas? Mas baik-baik saja.”
“Tapi utang kita cukup banyak, Mas. Mas bisa mengatasi?” Atha diam. “Bagaimana kalau aku kerja lagi? Aku bisa sedikit membantu Mas.”
“Tidak perlu, Zi. Anak-anak masih kecil. Kasihan kalau mereka harus kamu tinggal kerja,” ujar Atha, berusaha tenang. “Jangan memikirkan apa pun. Insya Allah, Mas akan menemukan jalan keluarnya. Kamu bantu Mas dengan doa.”
“Selalu, Mas. Aku selalu mendoakan Mas. Tapi Mas harus janji satu hal.”
“Apa?”
“Beri tahu kalau ada yang bisa aku bantu. Ini bukan hanya masalah Mas. Ini masalah kita. Jadi, jangan membebani diri.”
“Istri Mas memang sangat pengertian,” ucap Atha sambil tersenyum. Dia mengelus puncak kepala Ziya. Setelah sekian lama, Ziya merasa sangat bahagia hari ini. Hanya dengan perhatian kecil dari Atha.