Bab 5: Berita Baru

1628 Words
Pandangan Atha masih terpaku pada layar handphone yang menghitam. Dia berharap Noufal segera memberi kabar dan memastikan semua omong kosong ini. Tidak masalah jika yang dikatakan Noufal adalah hal buruk. Asalkan itu bisa memperjelas keadaan sekarang. Merasa tidak sabar karena panggilan yang ditunggu tak kunjung diterima, Atha meraih telepon seluler itu dan mencari kontak Noufal. Untuk ke sekian kalinya, dia harus dikecewakan. Nomor Noufal tidak bisa dihubungi. Sepertinya Noufal sengaja mematikan handphone-nya untuk suatu alasan. Apa pun itu, pasti bukan hal yang baik. Noufal belum pernah melakukan ini sebelumnya. Bagi Noufal, telepon seluler adalah sesuatu yang penting. Dia tidak pernah mengabaikan setiap pesan atau panggilan yang ditujukan padanya. Kenapa sekarang Noufal seolah menghilang? Baiklah. Atha tidak mau melanjutkan pikiran buruknya mengenai Noufal. Kepribadian Noufal sangat jauh dari kata penipu. Atha tahu sekali kalau sahabatnya itu salah satu orang yang taat beragama. Noufal menjaga salat dan mengaji dengan baik. Dia terkadang juga mengimbau warga untuk meramaikan masjid. Dengan sikap agamis begitu, apa mungkin Noufal berani berbuat curang dan memperdaya para warga. Sebagian besar bahkan kerabat dan teman dekatnya sendiri. Hal positif yang bisa Atha pikirkan sekarang adalah bahwa Noufal juga menjadi korban penipuan dalam investasi ini. Hanya saja, masyarakat kita suka sekali mencari kambing hitam dari segala kesalahan yang terjadi. Itulah yang kini tengah berlangsung. Noufal merupakan jembatan para warga untuk melakukan investasi. Wajar jika semua ingin meminta tanggung jawab Noufal. Jari jemari Atha mengetuk meja berkali-kali. Semakin lama, suara yang ditimbulkan semakin keras. Siapa peduli. Di dalam ruangan hanya ada dia. Sekarang, dia ingin menenangkan diri. Kegelisahan yang terus merongrongnya bertambah. Entah bagaimana reaksi Ziya jika melihatnya. Gangguan datang dari nada dering telepon seluler Atha yang tergeletak di meja. Dia melirik malas pada layarnya yang menyala. Hanya sedetik. Begitu melihat nama sang pemanggil, Atha meraih benda pipih itu secepat kilat. Dia menarik napas begitu mendengar suara di seberang sana. “Assalamualaikum, Tha. Kamu lagi di mana?” “Waalaikumsalam. Aku di kantor. Kamu ... di mana?” Bukannya menjawab, Atha malah balik bertanya. Dia harus segera menggali informasi dari sumber masalah. Bisa jadi, Noufal akan kembali menghilang setelah melakukan panggilan kali ini. “Aku di kantor pusat, Tha. Semalam, aku langsung terbang begitu dapat kabar yang tidak menyenangkan mengenai investasi kita.” Atha menahan napas menunggu kalimat lanjutan dari Noufal. Dia sedikit tidak sabar karena sahabatnya itu terdiam cukup lama. Mungkin Noufal sedang menyusun kata-kata untuk memberi penjelasan. Jadi, Atha menahan diri dan tidak berniat mendesak Noufal. Toh, akhirnya Noufal akan mengatakan semua kebenaran. “Maaf, Tha. Kita semua tertimpa musibah,” ucap Noufal lirih. Meski sudah memperkirakan kalau hal ini akan terjadi, Atha tetap merasakan hantaman keras di d**a. Dia memijat pelipis sambil memejamkan mata. Kebenaran sudah sangat jelas, tetapi Atha tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Terus terang saja, dia ingin marah dan berteriak pada Noufal. Kemudian, Atha sadar kalau kemarahan tidak akan menyelesaikan permasalahan apa pun. Meski kepalanya sudah mengepulkan asap karena terlalu panas, dia harus tetap tenang dan mengontrol emosi. Lagi pula, Noufal terdengar cukup depresi. Perlukah dia menambah beban sang sahabat. Apa yang terjadi memang berkaitan dengan Noufal. Dia yang meyakinkan Atha. Akan tetapi, Atha yang memutuskan untuk berinvestasi. Berkali-kali, Noufal menjelaskan dan Atha tidak merasa tertarik. Jika akhirnya dia memutuskan bergabung, apa itu adalah kesalahan Noufal? Kedengarannya sedikit naif. Seorang Atha lebih terkenal dengan emosi yang meledak-ledak. Dia kurang dapat mengontrol diri ketika sudah sangat marah. Atau kesalahan yang dilakukan Noufal tidak cukup membuatnya meradang? Atau dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyalurkan kemarahan? “Jadi, berita itu benar?” Atha mengepalkan tangan kanannya saat Noufal tak kunjung menjawab pertanyaan itu. “Noufal!” “Maaf, Tha. Aku benar-benar tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Perusahaan itu legal dan punya izin operasi. Aku bahkan sudah mengunjungi perusahaan mereka untuk memastikan semua informasi. Setiap penjelasan mereka sangat masuk akal.” “Dengar, Tha. Yang melakukan penipuan hanya oknum di perusahaan mereka. Para pekerja mereka juga banyak yang merasa dirugikan. Mereka tidak tahu apa-apa. Para atasan mereka yang membawa kabur uang kita.” Noufal diam lagi. “Kantor mereka penuh dengan orang yang protes, tapi perusahaan tidak bisa menjamin kalau mereka akan mengganti rugi. Bos besarnya sudah terlebih dulu kabur entah ke mana. Yang tersisa hanya alat-alat mereka untuk mencapai kesuksesan.” “Apa yang harus kita lakukan, Tha?” “Kita?” ulang Atha. Ini tanggung jawab Noufal. Tidak ada hubungannya dengan dia. “Aku tahu kalau ini terdengar kekanakan, tapi aku sungguh bingung bagaimana harus menghadapi semua warga di tempat kita.” “Lalu, apa rencanamu?” Entah mengapa, Atha merasa akan ada kabar buruk selanjutnya. Dia tidak ingin membenarkan kemungkinan yang dipikirkannya sekarang. Noufal tidak mungkin melarikan diri, bukan? Meski tidak bisa mengganti kerugian material sepenuhnya, bukankah dia masih harus memberi penjelasan? Lalu, mengapa Atha bisa berpikir kalau Noufal akan meninggalkan tanggung jawabnya. Materi yang harus diganti oleh Noufal pasti sangat banyak. Tidak hanya ratusan juta, kalau Atha perkirakan. Pasti ada lebih dari satu miliar. Dari mana Noufal mendapatkan uang sebanyak itu. Keluarga Noufal cukup kaya. Orang tuanya memiliki ladang yang sangat luas. Cukupkah semua itu untuk mengganti rugi investasi? Jika Noufal tidak punya tanggungan lain, mungkin saja semua bisa diatasi. Meskipun Noufal akan berakhir tanpa memiliki apa pun. Sebagai anak tunggal, orang tua Noufal tidak akan keberatan untuk melindungi anak mereka. Masalahnya sudah sepelik ini. Tidak mungkin mereka lepas tangan dan membiarkan Noufal menanggung malu. Benarkah begitu? Bagaimana kalau pemikiran Atha tidak sesuai dengan kenyataan nanti? Suara Noufal tidak terdengar baik-baik saja. Jika dia sudah memikirkan kemungkinan yang Atha pikirkan, bukankah seharusnya dia tidak seputus ada itu? Fakta ini membuat Atha kembali terlempar jauh. Jangan-jangan, kekayaan orang tua Noufal tidak seperti kelihatannya. “Aku belum tahu,” kata Noufal. Suaranya semakin lirih. Noufal seolah berubah menjadi orang lain. Biasanya dia adalah pribadi yang optimis dan tenang. Dia memiliki banyak jalan keluar untuk setiap permasalahan. Lalu, kenapa sekarang dia malah terpuruk dalam masalahnya sendiri. Tampaknya dia tidak mampu menyelesaikan permasalahan ini. Benar kata orang. Memberikan nasihat dan semangat pada orang lain yang tertimpa masalah itu sangat mudah. Yang tersulit adalah menguatkan diri sendiri ketika sesuatu yang buruk menimpa. Kita cenderung memandang rendah usaha kita dan merasa bersalah, lalu terpuruk dalam lubang penyesalan. Merasa bersalah atau menyesal bukanlah hal buruk. Tentu saja jika kita bisa mengelola perasaan itu dengan baik. Kalau tidak, bukannya menemukan solusi dan jalan keluar, kita justru akan terjebak dalam kesedihan dan keputusasaan. Padalah Allah melarang umat-Nya untuk berputus asa. Sebagai orang yang lebih memahami ilmu agama, seharusnya Noufal mengetahui dengan jelas hal ini. Berbeda dengan Atha yang masih setengah-setengah memahami Islam. Jika Atha berada di posisi Noufal, dia mungkin akan lari sejauh mungkin dari para warga. Yang terburuk adalah jika para warga melaporkan masalah ini pada polisi. Bukankah Noufal bisa mendekam di penjara? Kalau saja Noufal bukan sahabatnya, Atha mungkin akan membuat laporan itu. Sudah jelas kalau dia dirugikan. Tentunya harus ada yang mengganti kerugian, bukan? Bagaimana dengan sekarang? Kalaupun Atha melepas Noufal dan berusaha mengikhlaskan seratus jutanya yang melayang, bagaimana dengan warga lain? Tidak semua orang bisa menerima penjelasan Noufal, bukan? Meski Noufal juga korban, dialah yang menyeret para warga untuk bergabung. “Jadi, apa keputusanmu untuk saat ini?” “Bagaimana keadaan di sana?” Noufal mengajukan pertanyaan lain. “Buruk untuk kamu. Pagi ini, rumah kamu dipenuhi para warga. Mereka terlihat ingin menuntut kamu.” Tidak ada gunanya berbohong. Noufal harus mengetahui hal itu. “Kamu tidak bermaksud untuk lari dari tanggung jawab, kan?” “Tapi aku tidak punya apa-apa. Kalau semua kekayaanku dijual pun, tidak akan cukup untuk menutupi semua kerugian.” Noufal menghela napas. “Aku ... bisa mengganti uangmu, Tha.” “Kamu tahu kalau bukan itu maksudku. Jadi, apa kamu akan kembali dan menjelaskan pada kami?” Cukup lama Noufal terdiam sebelum menjawab. “Itu yang harus aku lakukan, bukan?” Atha tidak menjawab. “Terima kasih sudah mendengar penjelasanku. Aku bersiap pulang. Assalamualaikum.” Panggilan berakhir setelah Atha menjawab salam Noufal. Atha mengenal napas. Hari ini, entah sudah berapa kali dia melakukan hal itu. Rasanya pikirannya sangat kacau dan dia tidak menemukan jalan keluar. Ternyata, penjelasan Noufal tidak sedikit pun mengurangi beban di hati Atha. “Melamun di siang bolong, Bos?” Haris kembali muncul. Atha langsung melayangkan tatapan setajam pisau. “Santai, Tha. Makin kacau saja kayaknya. Noufal sudah telepon?” lanjut Haris. “Barusan,” jawab Atha tak acuh. “Barusan? Serius? Dia bilang apa?” “Dia bilang kalau dia mau pulang.” “Benarkah?” tanya Haris tak percaya. “Jadi, investasi itu benar-benar hanya tipuan?” Atha diam beberapa saat sebelum mengangguk. “Bagaimana menurut kamu?” “Apanya yang bagaimana? Apa dia bilang akan bertanggung jawab?” “Dia bilang, bahkan kalau semua kekayaannya dijual, itu tidak akan menutupi semua kerugian.” Haris mematung mendengar kalimat Atha. “Jadi, bagaimana cara dia mengatasi masalah ini?” “Dia belum punya solusi.” “Kita memang tidak bisa menyalahkan Noufal sepenuhnya. Tapi, pada dasar dia tetap harus bertanggung jawab. Selain kita, ada banyak orang yang menunggu itikad baiknya. Iya, kan?” “Aku tahu, Ris. Kita tunggu saja. Aku harap dia benar-benar akan pulang.” “Kenapa kalau aku melihat ada keraguan di mata kamu.” Haris meneliti wajah Atha. Membuat Atha mendengkus. “Beban ini terlalu berat. Mungkin saja dia akan butuh waktu untuk menenangkan diri.” “Bukannya tadi kamu bilang kalau dia akan pulang?” “Dia memang bilang begitu. Hanya saja ....” Atha berdeham. “Aku tidak tahu kenapa aku bisa berburuk sangka begini. Aku hanya merasa semuanya tidak akan berjalan semudah itu.” “Kalau begitu, hubungi dia lagi. Pastikan kalau dia benar-benar akan pulang.” Meski diliputi keraguan, Atha tetap memenuhi keinginan Haris. Panggilan pertama tidak tersambung. Panggilan kedua tidak tersambung lagi. Panggilan ketiga juga sama. Atha tidak habis pikir dengan jalan pikiran Noufal. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh pria itu? Kepala Atha menggeleng. Haris yang berdiri di sampingnya lantas terduduk di kursi. Kini, harapan yang mulai terlihat, kembali menghilang. Atha tidak tahu harus percaya pada siapa. Kenapa Noufal melakukan hal ini padanya? Bukankah mereka adalah teman baik? Apa tadi Noufal sekadar basa-basi? Entahlah. Atha tidak bisa berpikir lagi. Otaknya tiba-tiba membeku karena kekecewaan atas sikap Noufal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD