“Kamu sudah bisa ngubungi Noufal?” Haris, salah satu teman sekaligus rekan kerja Atha bertanya tanpa mengalihkan perhatian dari layar telepon seluler.
“Kamu ... juga menghubungi dia?” Atha balik bertanya.
“Tentu saja. Ada berita sebesar ini dan dia malah menghilang. Wajar, kan, kalau semua orang merasa khawatir? Memangnya kamu tidak?”
Mendengar pertanyaan Haris, Atha terdiam cukup lama. Menghilangnya Noufal memang menyisakan banyak teka-teki bagi Atha. Dia tidak ingin berprasangka buruk pada sang sahabat. Akan tetapi, sudut hatinya yang lain mulai merasakan kegundahan. Bagaimana jika apa yang dibicarakan orang-orang benar?
Berita yang tersebar sudah begitu jauh. Bukan satu dua orang yang mengetahui. Jadi, kemungkinan kabar ini benar mencapai hampir seratus persen. Sepanjang hari, Atha mendengar para karyawan di tempatnya membicarakan mengenai penipuan investasi yang dilakukan oleh Noufal.
Tidak bisa dipungkiri kalau banyak orang yang waswas. Noufal sudah berhasil meyakinkan para warga untuk berinvestasi. Saat ada masalah yang muncul, tentu saja semua ingin mendapat penjelasan dari orang yang mengajak mereka bergabung dalam investasi ini. Masalahnya, kenapa Noufal justru memilih pergi tanpa kabar?
Sekali lagi, Atha sungguh tidak ingin memojokkan Noufal yang belum tentu terlibat. Namun, dia tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan sahabatnya itu. Kalaupun tidak berjumpa, bukankah Noufal bisa mengirimkan pesan? Atha benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Noufal.
Bisa dimengerti kalau Noufal mungkin saja sedikit takut dengan reaksi para warga. Dalam pandangan Atha, Noufal tidak terlihat seperti seorang pengecut yang suka lempar batu sembunyi tangan. Atau jangan-jangan dia juga terperdaya, sama dengan ratusan orang di luar sana yang meletakkan kepercayaan pada Noufal.
“Menurutmu Noufal akan melakukan penipuan?” tanya Atha kembali. Haris mendengkus.
“Mungkin tidak. Mungkin juga iya. Aku juga merasa diperdaya, Tha. Kita sudah saling mengenal lama. Rasanya tidak percaya kalau dia tega berkhianat. Tapi, dengan menghilang saat ada masalah, bukankah dia hanya menambah keruh suasana?”
“Benar sekali, Ris. Kalau aku bilang aku tidak cemas, itu bohong. Masalah ini sepertinya tidak sesederhana yang kita lihat. Noufal bisa terlibat masalah besar kalau dia benar-benar menjadi salah satu pelaku penipuan.”
“Tentu saja. Banyak orang yang dirugikan. Sudah pasti mereka akan meminta keadilan. Aku bahkan ...,” Haris menghela napas. “memakai uang ayahku untuk menambah investasi. Bayangkan saja kalau sampai beliau tahu aku ditipu. Uang itu simpanan keluarga kami.”
“Aku tidak lebih baik, Ris. Uang yang aku gunakan adalah pinjaman bank dan aku baru saja bergabung. Keuntungan yang aku dapat baru seujung kuku. Aku lebih khawatir bagaimana menghadapi Ziya.”
“Dia pasti mengerti. Dia selalu berpikir positif, kan?”
“Sebenarnya dia tidak begitu mendukung keputusanku untuk investasi ini. Akulah yang meyakinkan dia. Kalau sudah begini, apa yang harus aku lakukan?”
Haris menepuk pundak Atha beberapa kali. Jarang sekali Atha mengeluhkan sesuatu. Dia lebih suka menyembunyikan hal buruk dari orang-orang di sekitarnya, memilih untuk menanggung seorang diri. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan Ziya. Bagi Atha, berbagi hanya berlaku untuk kabar baik, bukan sebaliknya.
Hanya saja, keadaan saat ini berbeda. Atha sungguh merasa sangat gelisah jika harus menghadapi Ziya. Wanita itu memang tidak mungkin marah-marah dan menyalahkannya. Dengan sikap Ziya yang penurut dan penuh kasih, Atha yakin kalau istrinya justru akan menghibur. Itulah yang membuat Atha semakin bersalah.
Awalnya, investasi menjadi pilihan Atha untuk lebih membahagiakan Ziya dan keluarga. Namun, masalah tak terduga seperti sekarang melenyapkan angan-angan itu. Atha bahkan membawa keluarganya ke jurang yang dalam. Bagaimana bisa dia bertemu dengan Ziya setelah membuat kesalahan sebesar ini?
Bukan hanya puluhan juta yang harus dibayar oleh Atha. Seratus juta. Di mana dia harus meletakkan wajahnya saat berhadapan dengan Ziya. Belum lagi kalau nanti orang tua dan mertuanya tahu. Mereka memang tidak berada di kota yang sama dengan Ziya, tetapi beberapa kerabat ada di sekitar sini.
Mungkin saja Atha bisa menyembunyikan masalah ini untuk sementara. Akan tetapi, cepat atau lambat para orang tua akan mengetahui. Bukankah lebih buruk jika mereka mendapat berita dari orang lain? Sepertinya Atha harus menyiapkan penjelasan yang masuk akal agar para orang tua tidak kecewa.
Biar bagaimanapun, keputusan untuk ikut serta dalam investasi adalah Atha. Sebagai pria sejati, dia harus bertanggung jawab hingga akhir. Ziya bukannya tidak memperingatkan. Sayang, dia lebih mempercayai ucapan Noufal dari pada sang istri. Dia tidak bermaksud menyalahkan Noufal. Toh, selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Noufal hanya sedang ditimpa musibah.
“Handphone kamu bunyi, tuh, dari tadi,” ujar Haris seraya menunjuk layar telepon seluler milik Atha.
Tangan Atha dengan sigap mengambil benda pipih itu. Namun, begitu melihat nama yang tertera di layar, dia kembali meletakkan telepon selulernya. Dia memejamkan mata, lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba menulikan telinga mendengar nada dering khusus sang istri.
Belum ada kejelasan mengenai penipuan investasi. Atha tidak boleh terburu-buru membebani Ziya dengan berita yang masih simpang siur. Lebih baik mereka membicarakan hal ini secara langsung saat Atha pulang nanti. Dia tahu kalau Ziya tengah dilanda kecemasan, tetapi menceritakan kondisi sekarang akan menambah beban istri tercinta.
“Kenapa Ziya dicuekin?” tanya Haris setelah panggilan Ziya berakhir.
“Aku tidak bisa menceritakan masalah investasi itu sekarang, Ris. Ziya pasti akan sangat khawatir.”
“Tapi, dia akan semakin khawatir kalau kamu abaikan begini,” kata Haris mengingatkan. Atha menatapnya sebentar, lalu mendengkus.
“Bukannya mau mengabaikan. Berita ini masih belum jelas. Sebaiknya kami berbicara saat aku sudah pulang.”
“Terserah kamu saja. Aku tidak mau ikut campur masalah dalam negeri.”
Atha tertawa mendengar ucapan Haris. Dia meraih telepon selulernya dan mengirimkan pesan pada Ziya. Sang istri pasti sedang mondar-mandir di ruang tamu sambil menatap layar handphone. Atha tidak tega melihat Ziya menampilkan wajah khawatir dan itu disebabkan oleh dirinya.
Tentu saja Ziya tidak akan menyalahkan Atha meski mereka memang tertipu. Ziya adalah wanita terbaik yang Atha kenal. Dianugerahi istri seperti Ziya merupakan berkah dalam kehidupan Atha. Dan itu yang justru membuat Atha terkadang merasa rendah diri di hadapan Ziya.
Apa coba yang tidak Ziya miliki sebagai seorang wanita. Dia cantik dengan tubuh proporsional. Pendidikan bagus. Tutur bahasa dan perilaku sangat baik. Tingkat kecerdasannya juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Ziya juga berasal dari keluarga terpandang dan kaya.
Dibandingkan Ziya, Atha memang memiliki banyak kelemahan. Orang tua Atha hanya memiliki kebun yang menjadi penopang hidup. Dia hanya sekolah sampai tingkat sekolah menengah atas dan tidak memiliki pengalaman bekerja di luar usahanya. Setelah lulus, dia memutuskan untuk membuka kios sablon yang sudah berkembang hingga saat ini.
Usaha Atha memang tidak sebanding dengan perusahaan besar, tetapi dia memiliki banyak pelanggan. Pekerja yang berada di bawah kepemimpinannya juga lumayan. Ada dua puluh orang lebih. Atha bahkan berencana membuka cabang di kota dalam waktu dekat.
Melihat kondisi genting seperti saat ini, sepertinya Atha harus menunda keinginan untuk meluaskan usaha. Dia harus fokus dulu untuk menyelesaikan kasus investasi. Jika sudah jelas, dia baru akan memikirkan lagi rencananya. Memikirkan hal itu, membuat Atha sedikit sedih.
Jika investasi yang ditawarkan oleh Noufal memang hanya tipuan, akan banyak masalah yang timbul bagi Atha. Dia terbiasa merencanakan segala hal dalam hidup. Jadi, saat ada salah satu rencana yang terganggu, rencana lain juga ikut terpengaruh. Ya, walaupun dia selalu menyiapkan rencana cadangan. Tetap tidak akan menutupi kerugian pinjaman.
Entah bagaimana Atha bisa tergiur untuk berutang sebanyak itu untuk investasi. Tampaknya ada yang salah dengan keputusan Atha, tetapi menyesal sekarang tidak berguna. Semua sudah terjadi dan dia tidak bisa mengubah apa yang telah ditentukan. Ini adalah buah dari sikapnya yang tergesa-gesa.
“Bos, barang sudah masuk gudang. Mau dicek sekarang?”
Salah satu pekerja Atha masuk begitu saja. Meski dia memiliki banyak anak buah, setiap ada barang yang masuk, dia akan memeriksanya sendiri. Bukan tidak percaya pada para pegawai, dia hanya ingin memastikan kalau tidak ada yang salah dalam pengerjaan setiap pesanan.
“Kamu periksa saja. Ingat untuk memeriksa semua detailnya dengan teliti. Jangan sampai ada yang salah. Ukurannya, kainnya, jahitannya. Semua. Jangan ada yang terlewat. Nanti lapor saja kalau sudah selesai.”
“Bos tidak akan memeriksa sendiri?”
“Kenapa? Bukannya kalian senang kalau aku tidak mengawasi.”
“Mana mungkin, Bos.” Si pekerja tertawa. “Baiklah, Bos. Nanti saya laporkan sesuai perintah Bos. Siang, Bos.”
“Tumben,” ucap Haris menyindir.
“Lagi tidak berminat memeriksa tumpukan kain. Lagi pula, mereka bisa mengerjakan dengan sangat baik. Aku terlalu membebani diri sendiri.”
“Wah! Keren! Sejak kapan kamu sepercaya itu sama mereka.” Lagi-lagi, Haris menyindir. Atha melirik tajam.
“Tidak usah bawel. Ini bukan pertama kalinya aku tidak memeriksa barang masuk. Tidak usah membesar-besarkan. Kalau tidak ada yang mau kamu bicarakan, kembali bekerja. Kamu digaji bukan buat ngobrol sama aku.”
“Begitu banget. Kita, kan, sedang bersedih. Lagi pula, pekerjaanku tidak sebanyak itu.”
“Benarkah? Haruskah aku menambah pekerjaan kamu? Sepertinya kamu sangat santai. Desain baru untuk klub sepak bola sudah kamu selesaikan?”
“Eh, soal itu ... belum, Bos. Kan, pengerjaannya masih lama.”
“Sudah pintar cari alasan, ya. Sana keluar atau aku potong gaji kamu bulan ini.”
“Ya elah, Bos. Tega sekali. Ya, sudah. Saya permisi, Bos besar.”
Haris sengaja menarik kursi yang didudukinya dengan keras agar menimbulkan bunyi. Dia tahu kalau Atha sangat sebal dengan suara decitan kursi di lantai. Mengerjai sahabat sekaligus bon sesekali tidak apa-apa, bukan? Begitu melihat mata Atha yang membesar, Haris berlari sambil tertawa.
Kelakuan Haris yang menurut Atha kekanakan itu memberi hiburan tersendiri. Beban yang memenuhi kepala sedikit terangkat. Sebagai orang yang selalu serius dalam berbagai hal, Atha jarang menunjukkan sisi humor dalam dirinya. Karena itu, banyak yang salah mengartikan sikap diam Atha dengan sikap kaku dan membatasi. Padahal kalau sudah kenal, Atha termasuk pria yang bocor.