“Aku sudah merincikan detail para konsumen yang masih punya sangkutan dengan kita. Ada jumlah yang harus kita bayar juga,” ujar Haris sambil menunjukkan lembaran-lembaran kertas yang menampilkan sebuah tabel.
“Wah, ini sangat membantu. Terima kasih, ya, Bro.”
Telunjuk kanan Atha meneliti setiap nama dan detail jumlah uang yang harus dibayarkan. Dia menghela napas begitu sampai pada lembaran terakhir yang menuliskan seluruh tanggungan mereka pada konsumen. Nominal yang cukup banyak bagi seorang Atha sekarang.
Jika Atha membaca laporan ini beberapa hari lalu sebelum kejadian naas yang menimpa kios, jumlahnya tentu tidak seberapa. Saat itu, dia masih memiliki aset yang bisa dikatakan sangat cukup untuk membiayai semua kebutuhan. Lain halnya dengan sekarang. Dia terus memutar otak agar anggaran yang dimiliki bisa mencakup semua kewajiban.
Atha melirik Haris yang juga memeriksa tabel di sampingnya. Hanya saja miliki Haris tidak sama. Dia sedikit mendekat agar dapat melihat apa yang ditampilkan oleh tabel di hadapan Haris. Kepala Atha kembali berdenyut ketika membaca sederet nama yang sangat dikenal. Lagi-lagi, dia menghela napas.
“Ini gaji karyawan yang seharusnya kita bayarkan bulan ini,” kata Haris menjelaskan.
Tanpa harus dikatakan, Atha sudah mengetahui hal itu. Ini sudah hampir awal bulan. Jika saja kebakaran tidak terjadi, dia sudah mempersiapkan gaji para pekerjanya dengan tenang. Tentu saja dia sudah mengantongi sejumlah uang yang diperlukan. Namun, karena keadaan genting yang terjadi, ada sebagian dana terpakai.
Biaya operasi latah tulang yang harus ditanggung oleh Atha tidaklah sedikit. Apa lagi untuk ukuran orang kampung yang jarang bersentuhan dengan rumah sakit. Sang pekerja juga tidak memiliki kartu kesehatan yang dapat meringankan biaya pengobatan. Jadi, Atha yang mengatasi semua keperluan.
Sudah semestinya. Atha tidak ingin membebani diri lebih dalam. Dia berusaha menguatkan hati dan berkali-kali berkata bahwa semua ini adalah salah satu tangga menuju kesuksesan. Ada banyak orang gagal sebelum pada akhirnya berhasil di luar sana. Untuk apa Atha takut menghadapi cobaan dari Sang Pencipta?
Tidak bermaksud mengatakan kalau kegagalan bisa dijadikan patokan keberhasilan. Hanya saja, sebagai makhluk yang beriman, meyakini ketentuan-Nya merupakan suatu kewajiban. Setiap orang memiliki cerita sendiri dalam kesuksesan mereka. Ada yang diawali dengan kegagalan. Ada pula yang memang terus mengalami keberhasilan sejak pertama melakukan usaha.
Apa pun itu, bukan hal yang penting. Yang harus diperhatikan adalah memaksimalkan usaha dan doa. Hadirkan Allah di setiap tangga yang kita lalui. Melakukan usaha yang baik setiap saat. Baik usaha yang berhubungan dengan Allah, maupun yang berhubungan dengan sosial.
Semua hubungan harus diperbaiki agar menghasilkan keberhasilan. Jangan mengabaikan orang-orang di sekitar kita dan menganggap mereka tidak penting. Justru mereka yang harus kita rangkul. Keharmonisan dengan sesama manusia bisa mendatangkan banyak manfaat, termasuk keberhasilan dalam pekerjaan.
Yang tak kalah penting adalah memperbaiki hubungan dengan Sang Khalik. Perbaiki ibadah wajib dan perbanyak ibadah sunah. Jangan sampai hanya meminta, tetapi tidak berusaha mendekati Allah. Karena sesungguhnya Allah adalah Sang Penerima Doa. Dia yang mengabulkan semua permintaan kita.
Jangan bersikap sombong dengan hanya berusaha memperbaiki hubungan antara sesama manusia. Sikap takabur bisa mendatangkan banyak bala. Berhati-hatilah dalam setiap tindakan. Jangan bersikap gegabah dan menuruti nafsu belaka, lalu berakhir dengan penyesalan.
“Dananya sudah mencukupi, Tha. Tapi, kamu benar-benar tidak memiliki sisa kekayaan,” kata Haris. Dia menepuk pundak Atha sambil tersenyum, bermaksud untuk memberi semangat kepada sang sahabat.
“Alhamdulillah. Ini lebih dari apa yang aku pikirkan. Untung saja semua bisa tercukupi. Soal kekayaan, itu bisa dicari lagi nanti.”
“Beri tahu aku jika kamu butuh bantuan.”
“Memangnya siapa lagi yang bisa aku andalkan sekarang selain kamu.” Atha melirik Haris ragu. “Bagaimana soal ....”
Haris mendongak. Melihat ekspresi Atha, dia tersenyum, lalu berkata, “Katakan saja. Aku sudah kebal dengan berita buruk apa pun.”
“Tentang masalah investasi itu. Apa kamu sudah mendapatkan jalan keluar?”
“Oh, masalah itu,” gumam Haris tidak jelas. “Tidak masalah. Aku hanya perlu menjelaskan. Lagi pula, kami masih kerabat. Kami akan baik-baik saja. Bagaimana dengan Ziya? Kalian sudah bicara lagi?” Atha menggeleng.
“Aku bingung harus mengatakan apa. Rasanya semua hal terasa salah. Bagaimana kalau aku membuat kesalahan lagi dan mengecewakan Ziya?”
“Jangan membebani diri sendiri seperti itu. Bicarakan pelan-pelan dengan Ziya. Dia pasti mengerti.” Haris menoleh ke pintu depan Atha yang terbuka. “Sepertinya sudah merencanakan sesuatu sebagai solusi.”
“Dia ... sepertinya ingin membuka usaha di bidang kuliner. Semacam kue ulang tahun atau semacamnya. Ya ... Seperti itulah.”
“Apa maksud kamu dengan sepertinya?” tanya Haris dengan kening berkerut.
“Waktu kami membicarakan hal ini sebelumnya, dia belum memberi tahu mengenai usaha apa yang ingin ditekuni. Dia hanya bilang kalau ingin mencari kesibukan di rumah. Lagi pula, aku masih sibuk mengurusi masalah kita. Mungkin dia menunggu suasana lebih tenang.”
“Tidak ada salahnya kalau kamu yang bertanya. Jadi, dia merasa direstui sama kamu. Iya, kan?” Haris menaik-turunkan alis. Atha mendengkus.
Sejak dulu, Atha tahu kalau Ziya sangat menyukai bidang kuliner. Meski sebelum menikah keahlian memasak sang istri tidak begitu baik, kemampuan itu meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Ziya semakin ahli membuat berbagai menu yang lezat. Dijamin, semua orang yang mencoba akan ketagihan.
Selain itu, kesenangan Ziya mengonsumsi camilan, mendorongnya untuk belajar membuat berbagai macam kue. Andalan Ziya adalah Bika Ambon dan bolu karamel. Dia terkadang juga memberi kejutan dengan kue tart buatan sendiri saat ada momen-momen tertentu.
Tentu saja, rasa yang ditawarkan oleh kue-kue buatan Ziya tergolong enak. Banyak tetangga dan saudara memuji setelah mencicipi. Atha tidak membesar-besarkan. Dia yang tidak terlalu menyukai kue manis, bahkan sudah terbius dengan hasil tangan sang istri. Sekarang, dia tidak akan menolak makanan manis semacam tart.
Jika Ziya memang bermaksud membuka usaha di bidang itu, Atha akan memberi dukungan penuh. Selama Ziya suka, Atha mendukung sampai akhir. Dia juga mengetahui Ziya terlihat paling bahagia saat berkutat di dapur dan mencoba resep-resep baru. Lalu, dia akan menyajikan hasil karyanya dengan senyum lebar.
Jarang sekali orang bisa mengoptimalkan sesuatu yang disukai dan menjadikannya sebagai pekerjaan. Kalau kalian bisa melakukannya, itu merupakan anugerah yang sangat berharga. Kebahagiaan yang didapat bisa berlipat ganda. Selalu mengerjakan hal yang disukai dan berbonus penghasilan. Bukankah sangat menyenangkan?
Lagi pula, saat melakukan hal yang disukai, kita tidak akan merasa bosan. Jadi, kemungkinan usaha yang dijalankan gagal sangat kecil. Bahkan sebaliknya. Banyak peluang untuk berhasil. Karena itu, lebih baik memilih pekerjaan yang berhubungan dengan hal-hal yang menjadi kesukaan kalian.
Jika memang tidak bisa menggali potensi dari hal yang kita sukai, tidak mengapa. Cintai apa yang kalian kerjakan. Dengan begitu, pekerjaan akan menjadi lebih menyenangkan dan membahagiakan. Jangan menjadikan sebuah pekerjaan sebagai beban. Niatkan untuk beribadah sehingga bisa mendatangkan pahala.
“Apa menurut kamu usaha Ziya punya peluang?” tanya Atha. Dia menatap lurus ke depan. Pikirannya kosong. Karena Ziya menyukai bidang kuliner, Atha tidak mau sang istri merasa kecewa saat pekerjaan yang dipilih membuat kecewa.
“Sepertinya lumayan berpeluang. Di sekitar sini belum ada usaha seperti itu. Sementara lingkungan kita banyak yang suka membuat perayaan. Bukankah peluang untuk berkembang bisa sangat baik?”
“Aku juga berpikir begitu. Ziya sangat bahagia saat membuat roti-roti itu. Rasanya tidak tega kalau dia harus kecewa jika usaha ini gagal.”
“Sepertinya kamu cukup perhatian dengan istri kamu itu.”
“Apa maksud ucapan kamu itu? Bukankah sudah seharusnya seorang suami mendukung pekerjaan istri. Ziya selalu melakukan hal itu sejak awal pernikahan kami. Sekarang, giliranku yang memberikan dukungan.”
“Betul sekali. Aku tidak menyangka kalau kamu bisa sehangat itu,” ucap Haris. Dia tersenyum sambil bertepuk tangan. Tampangnya terlihat menyebalkan di mata Atha.
“Sebaiknya aku tidak usaha membicarakan hal ini dengan orang seperti kamu.”
“Seperti aku? Kenapa aku merasa kalau kamu sedang mengolok aku?”
“Benarkah? Tumben sekali tingkat kesadaranmu itu bagus. Biasanya kamu akan masa bodoh dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.”
“Terus saja sindir aku. Aku memang selalu buruk di mata kamu.”
Haris menampilkan wajah sedih yang membuat Atha bergidik. Pria itu bahkan membuat gerakan seperti tengah menyeka air mata. Atha memutar bola mata, lalu bersandar pada bangku panjang yang didudukinya. Dia lebih memilih untuk menatap langit cerah ketimbang melihat tampang Haris yang terlalu mengerikan.
Saat ini, Atha sedang berada di halaman depan rumahnya. Ada dua kursi panjang yang sengaja disiapkan untuk duduk-duduk dan digunakan untuk menghabiskan waktu pada saat cuaca bagus. Atha lumayan sering melalui sore atau pagi bersama keluarga di tempat itu.
Rumah milik Atha memiliki halaman yang cukup luas. Ziya yang baru-baru ini suka menanam bunga memenuhi pelataran mereka dengan berbagai jenis tumbuhan itu. Dia mengatur sedemikian rupa agar terlihat menarik, meski potnya hanya dari bahan daur ulang seperti botoh bekas.
Dengan adanya bunga berwarna-warni, rumah Atha dan Ziya semakin bertambah meriah. Atha juga jadi lebih betah melihat pemandangan di halaman mereka. Pot-pot dari botol bekas beraneka ukuran diwarnai sehingga menjadi sangat sedap dipandang mata. Ziya benar-benar istri yang kreatif.
Meski dengan anggaran minim, Ziya bisa menghias halaman dengan sangat apik. Atha jadi penasaran, dari mana istrinya itu mempelajari cara bercocok tanam. Setahu Atha, Ziya tidak mengerti masalah tanam menanam. Usut punya usut, ternyata Ziya banyak belajar dari berbagai media daring.
Dengan telaten, Ziya mempraktikkan apa yang dilihatnya. Otak cerdasnya sangat membantu. Dia melakukan berbagai percobaan sebelum akhirnya berhasil. Sama seperti memasak. Wanita itu juga belajar secara autodidak melalui berbagai media yang dilihat dan dibaca.
Perkembangan zaman sungguh sangat pesat sehingga kita bisa lebih mudah mendapatkan berbagai informasi. Tidak perlu pergi ke tempat tertentu untuk belajar. Sekarang sudah banyak media daring yang menyediakan pembelajaran secara lengkap dan jelas. Yang lebih menyenangkan, semua itu gratis. Hanya perlu kuota internet untuk menyambungkan.
Atha merasa beruntung karena memiliki istri yang pembelajar. Jadi, meski hanya di rumah sang istri bisa mengikuti perkembangan dunia luar. Ziya sangat pintar memilih berita yang baik dan tidak. Atha tidak perlu khawatir jika istrinya itu akan melakukan kesalahan karena mengikuti pembelajaran yang salah.