Bab 18: Bicara

1702 Words
Ziya meremas kedua tangan sambil melirik Atha yang sedari tadi hanya diam. Dia mengatur detak jantungnya agar tetap stabil. Cepat atau lambat, dia tetap harus memberi tahu Atha mengenai rencana pekerjaan. Sudah banyak yang dia pertimbangkan mengenai usaha barunya itu. Menurut Ziya, semakin cepat memulai usaha, akan semakin baik. Dia bisa menerima pesanan jenis kue yang dikuasainya dulu, seperti bolu karamel atau Bika Ambon. Membuat kue ulang tahun dasar juga tidak masalah bagi Ziya. Hanya saja, keahlian menghiasnya masih sangat kurang. Mengenai hal itu, dia akan berusaha lebih keras. Jika menunda lebih lama, Ziya khawatir akan menghambat usaha Atha. Ziya tahu kalau Atha sudah tidak memiliki simpanan lagi. Tidak ada yang bisa mereka andalkan untuk saat ini. Tabungan Ziya lebih dari cukup untuk membeli semua bahan. Dia tidak butuh bantuan dati sang suami untuk menambah modal. Kondisi keuangan Atha tidak memungkinkan untuk membantu Ziya. Kalaupun ada, Ziya tidak ingin merepotkan sang suami. Ada banyak hal yang dipikirkan oleh Atha. Tanggungan pinjaman bank mereka juga perlu dicari. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga butuh usaha lain untuk menopang. Atha belum mendiskusikan mengenai rencananya untuk mengganti usaha. Sebelum ini, Atha masih sibuk memikirkan cara mengganggu rugi semua kerugian. Baik untuk karyawan maupun konsumen. Belum lagi kerugian akibat kios yang terbakar. Pemilik bangunan juga membutuhkan kompensasi karena tempat miliknya hangus. Untuk masalah ganti rugi dengan pihak kios, Atha belum pernah membicarakannya dengan Ziya. Hasil penjualan pick up mungkin hanya bisa menutupi kerugian untuk para pekerja dan pelanggan Atha. Di mana kira-kira Atha akan mencari uang tambahan untuk mengganti rugi kios tersebut. Pemilik kios itu memiliki banyak tempat yang disewakan. Dari yang diceritakan oleh Atha sebelum menyewa dulu, pemiliknya sangat baik. Ziya berharap kalau sang pemilik bisa memberikan keringanan pada Atha. Misalnya dengan memperpanjang waktu pembayaran atau memperbolehkan Atha mencicil kerugian. Sementara Atha memutar otak untuk masalah kerugian, Ziya akan berusaha keras mengatasi keuangan di rumah. Mulai dari kebutuhan makan, uang sekolah, sampai uang saku anak-anak. Dia bisa mengusahakan itu melalui usaha barunya nanti. Untuk sementara, dia masih bisa mengandalkan sisa tabungan. “Jadi, kamu benar-benar ingin memulai usaha itu?” tanya Atha sambil menatap Ziya. Ziya mengangkat kepala, lalu mengangguk. “Selama kamu suka, Mas tidak masalah, Zi. Asal kamu tidak kecapaian. Kalau kamu capek, Mas jadi kasihan. Kamu sudah lelah mengurus rumah dan anak-anak. Jangan sampai kamu terlalu memforsir diri.” “Tidak, Mas. Aku tahu kemampuanku. Aku akan membatasi pesanan jika nanti terlalu banyak. Lagi pula, Hanin bakal bantu aku sesudah urusan rumahnya selesai.” “Hanin?” ulang Atha. Bagi Atha, Hanin adalah adik ipar yang sedikit berlebihan. Dia suka membesar-besarkan sesuatu. Padahal sebenarnya masalah yang dialami tidak seberat itu. Untungnya, dia mendapatkan suami yang cukup sabar. Rehan adalah salah satu kenalan Atha yang baik. Atha sedikit terkejut karena Rehan memilih Hanin sebagai seorang istri. Bukan bermaksud menyepelekan Hanin atau apa. Selain wajah yang cukup cantik dan mulut yang pandai berbicara, Hanin tidak memiliki kelebihan apa pun. Tentu saja itu dilihat dari kaca mata seorang Atha. Sebagai saudara yang masih dekat, Hanin dan Ziya bagaikan langit dan bumi. Sekali lagi, Atha tidak berniat menjatuhkan orang lain atau terlalu memuji sang istri. Kenyataannya, memang begitu yang terlihat. Setelah mengenal Hanin bertahun-tahun, Atha bahkan lebih banyak menjumpai sikap yang lebih tidak masuk akal. Entah Atha yang memang kurang memahami Hanin atau Rehan yang memiliki selera berbeda dari dirinya. Yang pasti, dalam pandangan Atha, Hanin lebih banyak bersikap ceroboh. Meski begitu, Atha senang karena Hanin juga mau mendampingi Rehan menjalankan usaha bakso mereka. Setidaknya, Hanin merupakan istri siaga dan setia menemani dalam setiap kesempatan. Mungkin itulah kelebihan yang dimiliki oleh Hanin. Dia bersedia mengikuti ke mana saja Rehan membawa. Tidak jarang wanita cantik seperti Hanin yang memilih pergi atau mencari yang baru ketimbang mendampingi usaha kecil sang suami. Usaha yang bahkan masih baru dibangun dari nol. Sama seperti Ziya yang terus memberikan dukungan di masa sulit Atha. Jika Ziya sudah memilih Hanin sebagai teman berjuang dalam membuka usaha, Atha akan percaya. Atha tahu kalau Ziya biasa memikirkan segala sesuatu dengan baik. Menjatuhkan pilihan pada Hanin tentu sudah melalui berbagai pemikiran. “Iya. Hanin, Mas. Aku sudah minta dia untuk membicarakan masalah ini dengan Rehan. Semoga saja Rehan tidak keberatan. Lagi pula, dia bisa membantuku sambil menemani Faris bermain. Ada Dania juga di sini.” “Apa justru tidak merepotkan? Kalian bisa mengatasi pesanan sambil mengasuh dua anak kecil begitu?” “Insya Allah bisa, Mas. Dania sudah cukup sering aku tinggal mengerjakan pekerjaan rumah dan dia tetap tenang. Faris juga sudah besar. Dia dan Dania juga akur. Jadi, aku rasa kami akan baik-baik saja.” “Jangan terlalu memaksakan diri. Mas tidak jatuh bangkrut hanya karena ujian yang sedang kita lalui. Mas masih bisa memikirkan jalan keluar untuk masalah keuangan keluarga kita, Zi. Sungguh.” “Aku tahu, Mas. Aku sangat yakin kalau Mas lebih dari mampu untuk melakukan semua itu. Aku memulai usaha ini karena merasa kalau ini saatnya aku mulai mandiri. Izinkan aku membantu Mas dan keluarga kita.” Atha menarik napas. “Mas sudah mengizinkan, Zi. Mas sudah bilang kalau Mas akan selalu dukung kamu apa pun yang kamu lakukan.” “Terima kasih, Mas. Mas fokus saja sama masalah Mas.” “Ingat untuk terus mengandalkan Mas.” Ziya mengangguk. “Untuk kerugian pelanggan dan hak pekerja sudah terselesaikan. Sekarang tinggal masalah kios. Mas akan bicara dengan pemiliknya besok.” “Alhamdulillah. Apa ... rencana Mas untuk mengatasi hal itu?” “Belum tahu, Zi. Sejauh ini, Mas hanya bisa berpikir untuk meminta waktu atau membayarkan secara bertahap. Simpanan Mas sudah terkuras habis.” “Semoga saja pemiliknya bisa mengerti. Aku mendoakan keberhasilan Mas dalam hal apa pun. Jangan patah semangat, ya.” “Insya Allah, Mas akan lebih kuat. Ada banyak hal yang harus Mas selesaikan. Kalau Mas lemah, bagaimana Mas bisa bertanggung jawab.” Senyum Ziya mengembang mendengar perkataan Atha. Dia memperhatikan paras Atha yang terlihat serius. Atha pasti sudah berusaha menenangkan diri agar bisa mengatakan semua itu. Wajah tenang Atha justru semakin membuat Ziya percaya kalau sang suami akan selalu menemaninya. Menerima cobaan besar berturut-turut merupakan hal sulit. Ziya tidak akan menyalahkan Atha jika pria itu sedikit memaksakan diri. Bersikap tegar di depan istri dan anak-anaknya jelas bukan perkara mudah. Dia bisa melihat ada kabut yang terus bergelayut di kedua mata sang suami. Demikian juga ketika mobil Atha terjual. Ziya bisa melihat kalau ada kesedihan yang disembunyikan oleh Atha. Itu terlihat jelas saat Atha terus menatap pick up kesayangannya sampai hilang dari pandangan. Cara Atha berbicara dengan Haris juga berbeda setelah kendaraannya pergi. Sejujurnya, Ziya penasaran dengan hal yang diobrolkan oleh Atha dan Haris di depan tadi. Ketika dia menyajikan kopi serta camilan, keduanya kompak berhenti. Mereka melempar senyum misterius tanpa mengatakan apapun. Setelah dia pergi, mereka baru mulai mengobrol lagi. Mau tidak mau, itu mengganggu pikiran Ziya. Dia tahu kalau di saat seperti ini, Atha tentu banyak menyembunyikan sesuatu darinya. Bukan sengaja tidak ingin mengatakan, melainkan karena tidak ingin membuat sang istri khawatir. Kebiasaan Atha yang suka memikirkan apa saja sendiri sulit sekali diubah. Sungguh, Ziya tidak merasa keberatan. Para pria selalu punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah. Mungkin ada satu dua hal yang harus disembunyikan agar mengurangi kekhawatiran. Sama seperti wanita yang juga memiliki rahasianya sendiri. Hidup itu perlu sedikit privasi, bukan? Jika memang Atha ingin memberi tahu, dia pasti akan melakukannya nanti. Seperti mengenai biaya ganti rugi untuk pekerja dan konsumen tadi. Tanpa Ziya minta, Atha sudah menceritakan hal itu padanya. Jadi, tidak ada gunanya mendesak seseorang yang tidak ingin berbagi dengan kita. Benar, bukan? Suatu hari nanti, segala hal yang disembunyikan oleh Atha hari ini akan terbongkar. Sekarang, Ziya yang harus memberikan ruang tersendiri bagi Atha untuk lebih mengembangkan diri. Mencari jalan keluar dalam keuangan mereka pasti tidak semudah yang dibayangkan. Ada banyak jalan yang mesti dilalui. “Aku bisa tenang kalau begitu. Jangan terlalu terbebani dengan aku dan anak-anak. Kami akan baik-baik saja. Mas pikirkan saja masalah ganti rugi kios.” “Jika kamu berkata begitu, Mas akan lebih tenang. Mas titip anak-anak untuk sementara. Mungkin Mas akan lebih sibuk belakangan ini. Mas khawatir mereka merasa Mas abaikan.” “Mas tenang saja. Aku sudah menjelaskan mengenai hal ini pada Yazid dan dia lumayan paham. Soal Dania, dia masih terlaku kecil untuk mengerti semua yang terjadi. Tapi, aku tetap memberikan penjelasan padanya.” “Terima kasih, Zi. Mas tidak tahu apa yang akan Mas lakukan tanpa kamu.” “Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri. Mas tidak usah bicara seolah aku ini orang asing.” “Mas tidak bermaksud begitu. Hanya saja. Mas merasa sangat beruntung karena memiliki istri yang sangat pengertian.” “Mas jadi lebih pandai merayu setelah mengalami semua cobaan itu?” “Di saat-saat seperti ini, Mas harus lebih banyak mengambil hati kamu. Supaya kamu tidak bisa pergi dari Mas.” Ziya tertawa. “Selama Mas tidak berusaha mendorong aku pergi, aku akan tetap di sini.” Ziya dia sebentar, lalu menggeleng berkali-kali. “Salah. Walaupun Mas mendorong aku untuk pergi, aku akan tetap di sini. Aku ini lebih keras kepala dari kelihatannya.” Giliran Atha yang tertawa mendengar ucapan Ziya. Bagaimana mungkin bisa Atha melepas Ziya dengan mudah. Harus ada alasan yang sangat kuat agar Atha memiliki kemampuan itu. Selama ini, Athalah yang takut akan ditinggalkan oleh Ziya. Terutama setelah musibah yang telah terjadi. Dengan segala kebaikan yang dimiliki oleh Ziya, wanita itu bisa saja memilih pergi. Banyak kerugian yang harus ditanggung Atha dan membuat kehidupan rumah tangga mereka berantakan. Atha bersyukur karena semua kekhawatirannya tidak menjadi kenyataan. Kalau sampai Ziya pergi sekarang, dia bisa saja kalap. Ziya sudah lama menjaga tempat Atha bergantung. Jika Atha mulai tergoda melakukan hal buruk, dia selalu mengingat wajah Ziya yang tersenyum. Kemudian, rencana tidak baiknya akan tersingkir begitu saja. Tanpa Ziya, dia mungkin akan tersesat dalam kegelapan. Ibadah yang dulunya sangat berat dijalankan menjadi ringan begitu Atha mengenal Ziya. Melihat bagaimana baiknya Ziya beribadah membuat Atha sedikit malu. Dia adalah seorang laki-laki. Kewajibannya menjaga keluarga dari siksa api neraka. Lalu, jika ilmu agamanya saja masih seujung kuku, bagaimana dia membimbing anak istri agar menjadi pribadi religi. “Kamu juga tahu kalau Mas keras kepala, bukan?" “Iya. Kita sama-sama keras kepala. Jadi, harus bekerja sama dengan baik.” “Setuju. Sesama orang yang keras kepala tidak boleh saling menyakiti.” “Sangat setuju.” Senyum Ziya yang manis menular pada Atha. Mereka saling tersenyum dan memandang untuk waktu yang lama. Dunia di sekeliling mereka terasa sepi. Hanya ada mereka berdua yang melempar senyuman satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD