Bab 19: Jalan Keluar

1775 Words
“Bagaimana? Pak Dalang bisa memberi kita tempo?” Atha menghela napas. Dalang adalah pemilik kios yang disewa oleh Atha. Tadi pagi, dia menemui Dalang seorang diri karena Haris harus mengantar anaknya yang demam ke klinik. Hasil pertemuan antara dia dan Dalang bisa digolongkan berhasil. Hanya saja, dia masih belum bisa memikirkan jalan keluar yang tepat. Saat ini, Atha berada di sebuah warung gorengan yang ada di dekat rumah Haris. Setelah melobi Dalang, dia ingin mendiskusikan solusinya dengan Haris. Meski tidak mau mengakui, Haris memang satu-satunya orang bisa diandalkan. Sejujurnya, dia tidak mau merepotkan orang lain. Namun, dia butuh orang yang bisa diajak diskusi. Di lain sisi, Haris juga tidak keberatan dijadikan teman saat sulit. Dia dan Atha sudah lama saling mengenal. Orang tua mereka bahkan dulunya merupakan sahabat selama bersekolah. Wajar saja jika mereka bisa sedekat itu. Lagi pula, mereka lebih mirip saudara ketimbang hanya teman biasa. Saling membantu sudah menjadi prinsip Haris. Apa lagi, Atha juga sangat ringan tangan ketika Haris membutuhkan sesuatu. Haris bukan orang yang mudah melupakan jasa seseorang. Jika bisa, dia akan membalas penolongnya berkali-kali lipat dari bantuan yang diberikan. Hidup memang harus saling bahu membahu, bukan? Jika kita mengharapkan pertolongan-Nya, maka terlebih dahulu permudahlah keperluan makhluk-Nya. Ditambah, Atha adalah pribadi yang baik. Sesama muslim harus membantu saudara muslim lainnya. Selama itu masih dalam hal kebaikan. Apa yang dilakukan Atha saat ini merupakan hal baik. Meski pada dasarnya juga dirugikan, dia tetap menanggung semua kerugian. Atha adalah contoh pemimpin yang bijak. Dia tidak lari dari apa yang seharusnya dia tanggung. Bahkan mungkin yang telah dilakukannya lebih dari cukup. Beberapa pekerja mendatangi Haris dan mengatakan kalau mereka menoleransi gaji mereka bulan ini. Mereka mengerti kalau Atha sedang ditimpa musibah dan tidak ingin membebani sang bos. Selama bekerja, mereka mendapat banyak kebaikan dari Atha. Jadi, mereka tidak akan menuntut banyak. Para pekerja merasa sungkan jika mengatakan hal ini secara langsung pada Atha. Mereka tidak mau membuat Atha berprasangka buruk atau menganggap Atha tidak mampu membayar gaji mereka. Menurut tabiat Atha, mereka sudah menduga kalau Atha akan tetap memberikan hak mereka, meski tengah berada dalam kesulitan. Kenyataan ini membuat Haris semakin segan pada sang sahabat. Meski terkesan dingin dan tidak perhatian, Atha sangat memperhatikan para pekerjanya. Dia selalu menyisihkan uang jika ada keluarga pekerja yang ditimpa musibah. Dan kalau punya waktu luang, dia akan pergi untuk menjenguk. Sikap Atha yang tampak tenang meski banyak beban patut diberi apresiasi. Meski sering berdiskusi dengan Haris, dia tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya secara berlebihan. Padahal Haris bisa melihat seberapa keras Atha menyembunyikan semua itu dari setiap orang yang dijumpai. Bahkan di hadapan sang istri, Atha tetap menampilkan wajah tanpa beban. Haris mengerti kalau ada banyak pertimbangan untuk menceritakan semua kegundahannya kepada Ziya. Jika menjadi Atha, dia juga akan melakukan hal yang sama, tetapi mungkin tidak akan sekuat sahabatnya itu. Belum lagi istri Haris yang tidak sesabar Ziya. Atha benar-benar beruntung karena mendapat dukungan dari istri sepintar Ziya. Saat sang suami tengah sibuk mencari dana untuk kerugian usahanya, Ziya berinisiatif membangun pekerjaan dari rumah. Bukankah mereka merupakan pasangan yang serasi? Keduanya sama-sama pandai di bidang masing-masing. Mereka juga suka menutupi beban yang dipikul. Meski begitu, terkadang Haris merasa jika Atha dan Ziya terlalu jauh untuk ukuran sepasang suami istri yang sudah bersama sekian lama. Pasangan juga perlu terbuka untuk saling memahami, bukan? Sekali dua kali, Haris mengungkapkan pemikirannya itu pada Atha. Akan tetapi, Atha hanya menanggapi sambil lalu. Penting sekali untuk memahami pasangan. Jika tidak, kemungkinan untuk terjadi kesalahpahaman akan sangat besar. Ya ... meski Atha dan Ziya tidak pernah berselisih secara terang-terangan. Haris bisa melihat kalau Ziya sering memperhatikan Atha diam-diam. Insting Haris sebagai laki-laki mengatakan kalau Ziya membutuhkan Atha lebih dari yang Atha duga. Kata-kata itu memang tidak pernah Ziya ucapkan, tetapi terlihat di kedua mata Ziya yang terus memancarkan binar bahagia ketika berbicara dengan Atha. Lalu, dia akan menelan kekecewaan jika Atha lebih memilih sibuk bekerja. “Bro? Apa hasilnya tidak sesuai keinginan?” Haris kembali bertanya. “Tidak juga. Pak Dalang sangat baik, tapi aku justru semakin terbebani.” “Maksud kamu?” “Dia tidak memberikan batas waktu untuk membayar. Semua terserah padaku. Jika aku sudah mampu membayar, baru melunasi. Dia juga memperbolehkan jika aku ingin mencicil setiap bulan. Intinya, terserah bagaimana aku mau membayarnya.” “Bukankah itu bagus? Kenapa mukamu malah lesu begitu?” “Aku jadi tidak tega menunda lebih lama untuk membayar, Ris. Orang sebaik Pak Dalang membuatku lebih segan.” “Sudahlah. Anggap saja ini adalah hasil kerja kerasmu selama ini. Bukannya kamu pernah bilang kalau Allah akan selalu memberikan bantuan dari berbagai penjuru. Ini salah satu jalan yang diberikan Allah pada kamu.” Atha spontan melihat ke arah Haris yang tersenyum sambil menepuk-nepuk pundaknya. Belakangan ini, Haris menjadi orang yang benar-benar berbeda. Dia jauh lebih bijak dari sebelumnya. Atau karena pikiran Atha yang sering buntu sehingga kata-kata Haris terdengar sangat baik di telinganya? Entahlah. Atha sendiri tidak yakin dengan jawaban yang tepat. Yang pasti, ada banyak kalimat Haris yang memotivasinya. Dalam beberapa kesempatan, Atha seakan menemukan pengganti Ziya. Haris menggantikan posisi sang istri untuk memberikan nasihat baik pada dirinya. Pada saat begini, Atha memang membutuhkan kata-kata yang penuh semangat. Setiap kalimat yang memotivasi bagaikan sebuah cambuk bagi Atha untuk bangkit kembali. Sekarang, dia bahkan membawa foto keluarga agar bisa mengingat bahwa masih ada mereka di setiap langkahnya. Senyum bahagia anak istrinya selalu membawa ratusan suntikan semangat untuk Atha. Tidak mengapa jika dia harus pontang-panting mencari rezeki, asal bisa kembali membahagiakan keluarga. Prioritas utamanya saat ini adalah menuntaskan tanggungan dan kembali menjadi pemimpin rumah tangga yang percaya diri. “Serius, Ris. Kenapa aku merasa kalau kamu itu pengganti Ziya,” ucap Atha terus terang. Haris yang mendengar itu malah menjauh darinya. “Jangan macam-macam. Aku tahu kalau kamu lagi banyak masalah, tapi jangan sampai belok. Amit-amit, Atha.” Ucapan Haris sangat tidak masuk akal. Ingin sekali Atha melayangkan satu bogem pada sahabatnya itu, tetapi ditahan. Dia tahu kalau Haris sengaja menggoda. Satu lagi keahlian Haris yang semakin meningkat, melemparkan candaan garing dan tidak masuk akal. Seperti yang diucapkan barusan. “Bersihkan pikiran kotormu itu. Jangan sampai istrimu mendengar,” ujar Atha sebal. “Dia pasti langsung memberikan pukulan maut saat mendengar ucapan kamu tadi. Lagi pula, siapa yang duluan mengatakan omong kosong.” “Aku mengatakan yang sebenarnya. Kamu jadi lebih bijak kayak Ziya.” “Dari dulu, aku memang bijak. Kamu saja yang tidak mau mengakui.” “Mulai lagi,” kata Atha. Dia mengembuskan napas. “Buang saja sikap terlalu percaya dirimu itu. Kamu itu seorang pria. Memangnya pantas bersikap narsis?” “Narsis? Aku memang punya kemampuan. Memangnya aku mengatakan omong kosong? Tidak sama sekali. Apa yang aku katakan sesuai kenyataan.” “Terserah kamu. Aku tidak mau berdebat sama kamu.” “Sebaiknya begitu. Atau aku akan lari dan bersembunyi.” “Memangnya kamu bisa melakukan itu?” “Iya, iya. Kamu akan selalu menemukan aku di mana pun berada.” Haris tiba-tiba menyipitkan mata. “Kamu tidak mengutak-atik handphone-ku, kan?” “Kamu berlebihan. Untuk apa aku melakukan itu? Aku sudah bilang untuk mengurangi rasa percaya diri kamu itu.” Haris tertawa terbahak-bahak. Sepertinya, dia sudah merasa ketagihan untuk menggoda Atha. Setiap kali ada kesempatan, dia akan melakukan dengan penuh kegembiraan. Wajah kesal Atha benar-benar bisa menjadi hiburan. Yang terpenting adalah Atha tidak pernah marah. Mungkin pernah terpikir untuk marah, tetapi Atha bisa mengontrol diri dengan baik. Jadi, jiwa kejailan Haris semakin meronta-ronta ingin dilepaskan. Saat masih bekerja di kios sablon milik Atha, Haris menjadikan para pekerja di sana sebagai sasaran. Karena sekarang hanya tersisa Atha, dia tidak punya pilihan lain. Lagi pula, Haris tahu kalau sebenarnya Atha menikmati gurauan yang dilemparkan. Atha butuh mencairkan suasana dan cara yang digunakan oleh Haris cukup mampu diandalkan. Meski Atha selalu memperlihatkan muka sebal, hati pria itu diam-diam terhibur mendengar lelucon Haris. Memang begitulah kenyataannya. Mulut Atha terus mengatakan kalau Haris terlalu percaya diri. Pada dasarnya, dia hanya menutupi perasaan agar tidak terlihat menyedihkan. Dia sudah cukup repot melakukan ini itu, jadi mana ada waktu untuk menghibur diri atau beristirahat sejenak. Terlalu banyak keinginan yang memenuhi kepala Atha. Dia tidak bisa diam untuk waktu yang lama. Baginya, hal itu tidak akan mendatangkan apa-apa. Sementara dia harus melangkah maju demi menyelamatkan harga diri dan para pihak yang telah dirugikan atas musibah kebakaran tersebut. Berdiam diri hanya menambah pikiran buruk di kepala Atha. Apa lagi jika dia melihat Ziya yang sekarang mulai sibuk di dapur. Dia semakin merasa sesak. Seolah ada sesuatu yang diambil darinya secara paksa. Ingin rasanya menolak perasaan ini tetapi dia terlalu lemah untuk melakukan hal itu. Jadi, hal terbaik yang bisa Atha lakukan adalah menghindari Ziya untuk sementara waktu. Bukan tidak menyukai ide Ziya membuka usaha baru. Dia mendukung hal itu. Namun, setelah dipikirkan lagi, dia mengkhawatirkan sesuatu. Bagaimana jika nantinya Ziya merasa tidak perlu bergantung pada sang suami? Ini memang terdengar sedikit berlebihan. Ziya buka tipe wanita yang suka mengunggulkan kelebihan. Dia lebih suka merendah ketimbang memperlihatkan apa yang membanggakan dalam dirinya. Toh, orang yang melihat bisa mempertimbangkan etikanya. Begitulah. kalimat yang senantiasa Ziya katakan. Setelah melihat Ziya berdiam diri di rumah setelah kehadiran Yazid, Atha tidak terbiasa dengan istri yang sibuk membuat kue di dapur. Tentu saja Ziya sudah menyelesaikan semua urusan rumah sebelum berkutat dengan tepung, telur, mentega, dan kawan-kawannya. Tetap saja, Atha merasa ada yang hilang. Yang sebenarnya adalah Atha lebih suka Ziya hanya mengurus rumah, suami, dana anak-anak. Lalu, Atha yang akan bertanggung jawab memikirkan cara untuk menghasilkan uang. Sekarang, Atha kehilangan sisi yang satu itu. Dia memang mencari duit, tetapi tidak untuk keluarganya. Betapa mirisnya menyadari jika Ziya mesti berusaha memperoleh tambahan penghasilan untuk membiayai keluarga. Wajahnya memang semringah selama mengerjakan hal itu, tetapi Atha merasa sakit setiap sang istri ingin memberikan bantuan. Padahal keinginan Ziya adalah lumrah. Istri mana yang tahan melihat suaminya menderita. Normalnya, seseorang selalu ingin memberikan perhatian lebih. Itulah yang Ziya lakukan selama ini. Dia ingin menjadi istri yang bisa diandalkan dalam berbagai kesempatan. Salah satunya dengan meringankan beban pasangan melalui usaha yang baru dia rintis. “Melamun lagi, Bro?” Haris meninju pundak Atha. Membuat pria itu mengaduh. Tinjuan sang teman lumayan keras. “Bisa tidak menggunakan kekerasan? Tangan kamu ringan sekali melakukannya.” “Habis kamu belakangan ini suka melamun. Aku hanya tidak mau kamu keterusan.” “Kamu mau mulai perang lagi?” Haris tertawa lagi. “Kamu mau mendengarkan aku atau tidak? Kalau tidak aku akan pergi sekarang.” “Iya, iya. Sensitif amat. Ayo, katakan apa rencanamu dan aku akan membantu seperti biasa. Ayo, mulai,” ujar Haris dengan wajahnya yang menyebalkan. Hari itu, Atha menjelaskan kepala Haris mengenai jalan keluar yang bisa mereka lakukan. Setelah kebakaran, Atha tidak bisa memikirkan cara untuk menghasilkan uang. Dia hanya menyukai bidang sablon menyablon. Belum pernah terpikirkan apa yang bisa dilakukan jika dia tidak bisa melakukan hal itu lagi. Sungguh sangat mengenaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD