“Bagaimana rasanya menerima pesanan untuk pertama kali?” tanya Hanin dengan wajah dihiasi senyum.
“Sangat menyenangkan. Kita baru saja memulai dan sudah ada yang memesan. Bukankah ini sangat menakjubkan?” Ziya tersenyum lebih lebar.
“Selamat, ya, Kak. Aku tahu kalau Kakak akan sukses.”
“Masih terlalu dini menyimpulkan kesuksesan, Nin. Tapi, Kakak harap kita bisa memberikan pelayanan terbaik untuk para pelanggan.”
“Sip. Aku bakal dukung Kakak. Semoga usaha Kakak berjalan dengan baik dan sukses. Jadi, Kakak bisa lebih tenang.”
“Amin.” Ziya mengusapkan kedua tangan ke wajah. Lalu, dia menyadari sesuatu. “Apa maksud kamu dengan Kakak bisa lebih tenang?”
“Memangnya tidak? Sejak Mas Atha kena musibah, Kakak berusaha keras untuk membantu, kan? Alasan Kakak membuka usaha ini adalah demi meringankan beban Mas Atha. Iya, kan?”
Bibir Ziya tertutup rapat. Apa yang dikatakan oleh Hanin sangat benar. Jadi, dia tidak memiliki kalimat penyangkal. Dia hanya tidak menyangka kalau Hanin bisa menebak dengan tepat. Padahal biasanya dia tidak peka terhadap sesuatu yang terjadi di sekitarnya selama ini.
Setelah berpamitan untuk berjumpa pemilik kios, Atha belum kembali. Pria itu juga tidak menghubungi atau mengirimkan pesan. Ziya berharap apa yang menjadi tujuan sang suami bisa tercapai. Mengganti rugi kios yang terbakar pasti membutuhkan banyak uang. Ke mana Atha akan mencarinya setelah si kuda besi terjual?
Tabungan yang dimiliki Atha sudah digunakan berinvestasi. Sementara keuntungan kios yang tersisa disisihkan untuk menggaji para pekerja. Siapa sangka kalau Atha akan memerlukan biaya pengobatan rumah sakit. Pada akhirnya, semua simpanan tak lagi ada demi menutupi kerugian.
Mengingat kembali semua cobaan itu membuat Ziya menghela napas. Dia menguatkan hati sambil membaca beberapa zikir penyejuk kalbu. Meski hanya melantunkan dalam diam, dia cukup terbantu dan tenang. Apa yang telah terjadi tidak boleh menjadikan Ziya sebagai pribadi lemah.
Sebelum cobaan yang tampak tidak menyenangkan ini terjadi, Ziya sudah banyak mendapat kenikmatan. Lalu, mengapa dia harus menyalahkan Allah atas apa yang telah Dia tentukan? Pantaskah dia melakukan hal itu padahal kenikmatan yang Allah berikan padanya lebih banyak dari pada musibah?
Rasanya terlalu angkuh untuk mengatakan bahwa dirinya tidak patut mendapat cobaan. Siapa Ziya? Hanya muslimah yang masih lemah dan harus banyak belajar memperbaiki diri. Kelebihan apa yang membuatnya berani berkata jika seharusnya dia selalu bahagia tanpa menderita?
Bahkan para nabi yang berhati mulia saja masih diberi ujian oleh Allah. Mereka mengalami banyak cobaan dalam berbagai hal. Lalu, perlahan menemukan titik terang dari permasalahan mereka. Bukankah sangat tidak pantas menyombongkan diri yang memiliki keimanan tak seberapa itu?
Ziya sadar jika setiap kehidupan memiliki hambatannya sendiri. Jalan menuju kesuksesan tidak selalu tampak indah. Terkadang kita harus melalui pegunungan yang terjal, sungai yang berombak tinggi, atau hutan belantara yang berisi makhluk buas mengerikan. Bukankah hidup memang seperti itu?
Allah telah menetapkan segala sesuatu. Dia tidak akan membiarkan umat-Nya yang taat tersesat di jalan keburukan. Selama kita bisa menerima ketentuan Allah dengan ikhlas, baik atau buruk, Allah akan melindungi kita. Sesungguhnya Allah maha melihat dan mengetahui apa yang tersembunyi di hati setiap umat-Nya.
Kita bisa saja mengatakan sesuatu dengan mulut, padahal dalam hati mengingkari. Meski manusia tidak dapat melihat dalamnya hati seseorang, Allah mampu melakukan. Itu sebabnya jangan berbuat baik hanya karena ada orang lain yang menyaksikan perbuatan kita. Ikhlaslah dalam beramal, niscaya Allah akan memberikan ganti berkali-kali lipat.
Itulah yang coba Ziya lakukan sekarang. Dia berusaha mengikhlaskan semua hal yang terjadi dan memulai dari awal. Allah pasti akan selalu menunjukkan jalan padanya selama dia mau meminta. Dan saat ini, Allah sudah memberikan titik terang dari masalah yang dialami oleh Ziya.
Mata Ziya memperhatikan layar telepon seluler yang masih menyala. Ada tiga pesan yang membuatnya tersenyum senang. Mereka memesan Bika Ambon dan bolu karamel untuk acara arisan lusa. Masing-masing lima belas loyang. Pesanan pertama yang membawa kebahagiaan.
Baru saja mempromosikan dagangan pagi ini melalui sosial media. Ziya tidak menyangka kalau ada yang tertarik memesan secepat ini. Itu pun orang yang tidak dia kenal. Hanya saja, kebetulan si pemesan mengenal Hanin karena sudah berlangganan baksonya.
Secara tidak langsung, Hanin sudah membuat Ziya menerima pesanan pertamanya. Bagi Ziya, menekuni bidang kuliner itu harus didasari pada kejujuran. Tetap menjaga kualitas dan kuantitas bahan adalah kunci utama. Jangan sampai mengubah resep hanya karena ada kenaikan harga atau kelangkaan.
Lain halnya jika ingin mengembangkan suatu resep. Kita bisa bermain bahan dengan menambah dan mengurangi. Pengembangan ini juga penting untuk mempertahankan bisnis kuliner. Beberapa orang mungkin lebih menyukai resep kuno. Akan tetapi, tidak sedikit yang menginginkan rasa baru.
Di sinilah tantangan pebisnis kuliner. Untuk bertahan dan mampu bersaing dengan pasar, harus ada inovasi yang menarik. Tidak hanya dari segi rasa. Bisa juga mengubah bentuk, cara penyajian atau pengemasan, bahkan dengan menambahkan bonus pada setiap pembelian dapat mendatangkan keuntungan tersendiri.
Mengenai semua itu, Ziya sudah mempelajari. Akan tetapi, saat ini, dia masih fokus pada resep asli. Seiring berjalannya waktu nanti, dia akan lebih banyak belajar mengenai perkembangan kuliner, sehingga bisa meneliti apa yang diminati oleh pasar dalam periode tertentu.
Ahli dalam membuat Bika Ambon dan bolu karamel adalah bekal utama bagi Ziya. Untuk permulaan, dia memang hanya mempromosikan kedua produk tersebut. Jika sudah cukup percaya diri dengan teknik menghias kue ulang tahun, dia akan segera menerima pesanan untuk acara-acara istimewa.
Tingkat kesulitan dalam membuat Bika Ambon dan bolu karamel banyak membuat orang menyerah saat mencoba praktik. Dulu, Ziya juga sempat mogok mempraktikkan kedua jenis roti itu. Namun, karena memang menyukai keduanya, dia kembali mencari cara agar berhasil menikmati kue buatannya sendiri.
Begitulah perjalanan Ziya menemukan resep rahasia setelah mencoba berkali-kali. Jika dibandingkan dengan beberapa outlet yang menjual oleh-oleh, Bika Ambon dan bolu karamelnya tidak kalah lezat. Ziya berani jamin jika hasil karyanya sangat memuaskan dan meninggalkan kesan yang menyenangkan.
Bukannya mau mengatakan omong kosong. Ziya hanya berkata sesuai fakta. Semua orang yang pernah mencicipi kedua kue tersebut sudah mengakui. Beberapa orang juga sudah menyarankan Ziya untuk menerima pesanan. Akan tetapi, saat itu dia belum menemukan alasan mengapa harus memulai usaha.
Sekarang, setelah hatinya yakin dengan pilihan ini, Ziya bertekad untuk mewujudkan impian memiliki toko kue. Suatu hari nanti, dia ingin melihat berbagai jenis kue terpajang rapi dan indah di sepanjang rak toko. Semuanya lezat dan terjamin kualitasnya. Mimpi Ziya tidak terlalu muluk, bukan?
“Terima kasih karena sudah membantu, Nin,” ucap Ziya tulus.
“Aku hanya menuruti keinginan Kak Ziya.”
“Tapi pelanggan pertama ini adalah teman kamu. Kamu sudah membantuku meyakinkan dia mengenai kualitas kue yang kita buat.”
“Semua yang aku katakan sesuai dengan kenyataan. Aku sangat menyukai Bika Ambon dan bolu karamel buatan Kakak. Rasanya tidak ada duanya. Toko kue langganan itu bahkan tidak memiliki rasa luar biasa seperti buatan Kakak.”
“Kata-katamu itu terlalu berlebihan. Kamu hanya tidak tahu di mana letak toko kue yang memiliki cita rasa mantap. Iya, kan?”
“Serius, Kak. Aku mengatakan yang sejujurnya, bukan karena Kakak yang membuat. Kakak tahu, kan, kalau aku paling ahli dalam menilai apa pun. Selama semua itu berhubungan dengan makanan atau minuman.”
“Baiklah. Aku akan mempercayaimu kali ini.”
“Tidak bisakah Kakak percaya padaku kali ini saja?”
Memasang wajah serius hanya membuat Ziya tertawa. Hanin sama sekali tidak cocok dengan muka seperti itu. Dia lebih pantas menampilkan ekspresi jail seperti biasa. Kepribadian Hanin membuatnya tampak lucu dengan tampang lurus. Benar-benar tidak sesuai dengan keseharian Hanin.
“Berhenti bersikap aneh, Nin. Aku malas melihat wajah asing itu.”
“Kakak benar-benar tidak asyik. Apa susahnya pura-pura percaya padaku?”
“Kakak tidak suka bohong. Kamu tahu itu.”
“Iya, iya. Aku yang salah,” ujar Hanin sambil melipat wajah. “Perasaan, aku selalu saja salah. Kapan benarnya coba?” Dia bergumam pada dirinya sendiri.
“Sudahlah. Jangan berpikir aneh-aneh. Kita masih harus menyiapkan bahan untuk pemesanan perdana kita.”
“Siap, Bos. Aku akan menuruti semua perintah kakak tercintaku. Kalau tidak, dia akan mulai protes dan memberikan petuah sepanjang jalan kenangan.”
“Kamu sungguh tidak bisa menempatkan diri. Waktunya serius, serius. Waktunya bercanda, silakan bercanda. Kamu harus mulai belajar menempatkan diri di berbagai keadaan. Supaya apa? Supaya kamu tidak salah langkah.”
“Oke, Kak Ziya yang cantik. Apa masih ada petuah yang lain?”
“Untuk sementara belum.”
“Sementara? Kakak tidak bermaksud memberikan ceramah panjang kali lebar, kan?”
“Aku sudah bilang dengan jelas. Untuk sementara, aku akan diam.”
“Dan Kakak akan mulai saat waktunya tepat.”
“Keren! Kamu benar-benar luar biasa. Tebakanmu sangat tepat.”
“Tidak usah macam-macam atau Kakak akan kehilangan asisten di hari pertama kerja. Jarang-jarang mendapatkan asisten yang luar biasa sepertiku, kan?”
“Apa ini sebuah ancaman?” Hanin tersenyum.
“Mana berani aku mengancam bos baik seperti kakakku ini.”
“Terus saja puji. Aku tidak akan menaikkan gajimu. Lagi pula, memangnya aku mau memberi gaji pada orang yang tidak memenuhi kualitas?”
“Jadi, aku bekerja tanpa gaji. Kenapa nasibku begini? Harusnya aku membuat perjanjian sebelum memulai pekerjaan hari ini.”
“Ya, Allah, Nin. Aku harus mengakui kalau kamu sangat luar biasa.”
“Memang iya. Apa Kakak memerlukan banyak waktu untuk mencerna semua itu?”
“Maaf. Kakak tidak bermaksud begitu.” Ziya memberikan senyum manis pada sang adik. “Mari, bekerja sama dengan baik.”
“Iya. Ayo bekerja sama.” Hanin melirik Ziya. “Apa semua pesanan itu bisa diselesaikan tepat waktu?”
“Insya Allah bisa. Asal kamu bersedia membantu.”
“Tentu saja. Apa kita harus mulai hari ini?”
“Iya, dong. Siapkan diri untuk pesanan perdana yang spesial.”
“Siap! Laksanakan!”