“Mas kelihatan lelah,” ujar Ziya. Dia menyajikan kopi, lalu duduk di samping Atha. “Tidak apa-apa, Zi. Mas hanya sedang berpikir mengenai usaha baru.” “Usaha baru? Mas bermaksud membuka usaha baru?” “Tentu saja. Mas tidak mungkin diam dan menunggu uang datang dengan sendirinya, bukan?” Atha menyunggingkan senyum. Ziya membalas dengan kikuk. Seberapa berat beban yang dipikul sang suami saat ini, Ziya paham betul. Karenanya, dia tidak pernah mendesak Atha untuk menceritakan kembali apa yang dialami. Bukan tidak perhatian. Justru sebaliknya, dia sangat memperhatikan keadaan Atha sehingga tidak mau menambah kesulitan. Cukup dengan menemani Atha ketika butuh. Menyiapkan semua kebutuhan sang suami seperti biasa. Melakukan setiap aktivitas seolah tidak terjadi apa-apa. Ziya mencoba untuk mem

