" anak gue,sama... Ferina." Ucap Nico dan Angel membulatkan matanya terkejut.
"Are you seriously?" Tanya Angel kaget. Nico mengangguk sambil membersihkan sekitar bibir Fefe yang kotor.
"Kok gue baru tau kemarin waktu Ferina balik ke Indonesia." Ucap Nico lelah.
"Terus Ferina kemana sekarang?" Angel celingukan mencari Ferina.
Fefe menatap Angel dengan wajah yang suli diartikan. Ada raut sedih diwajah Fefe.
"Mommy istirahat aunty. Tapi aku gak bisa lihat mommy lagi,mommy tidur didalam sebuah peti dengan gaun yang indah. Kecantikan mommy sama sekali tidak hilang. Aku bingung apa mommy bisa nafas ya didalam sana." Fefe menatap ke arah meja diseberang fefe yang disana sedang ada seorang ibu muda yang menyuapi anak lelakinya dengan sayang.
Angel menatap Nico dan Dery bergantian dengan wajah bingung serta iba. Angel bukan gadis yang bodoh tidak mengerti dengan apa yang diucapkan gadis kecil dihadapannya. Dia mengerti arah bicara Fefe. Namun dia tak yakin.
Dery dan Nico mengangguk bersamaan.
Sungguh malang memang nasib anak sahabatnya itu.
"Oke oke,gimana kalo lo makan sekalian disini? Lo mau makan juga kan? Gue traktir" ucap Nico mencairkan suasana yang berubah menjadi haru. Nico benci suasana seperti itu.
"Bolehkah fefe ? Aunty angel ikut bergabung?" Tanya Angel penuh harap.
Fefe tertawa dan mengangguk senang.
"Boleh dong aunty" ucap Fefe dengan senang.
"Pesen apapun yang lo mau,gue traktir deh" ucap Nico.
Angel memanggil salah satu pelayan restaurant tersebut dan memesan makanan apa yang ingin ia pesan.
"Ngel,lo kan cewek tuh,lo ngerti gak tentang taman kanak kanak?" Tanya Nico yang jujur saja dia sedang kebingungan mencari sekolah yang tepat untuk putri kecilnya itu.
"Tau dong,temen gue banyak kok yang punya TK. Tapi tergantung dari minat anak sih setau gue" ucap Angel sambil mencari kontak salah satu teman pemilik TK.
"Lo inget Dheva? Satu kampus sama kita tapi beda jurusan. Dia pemilik TK International. Ya isinya anak anak konglomerat gitu. Cocok buat anak lo." Ucap Angel yang kini sudah berhasil menemukan kontak Dheva.
"Nic,gue saranin kalo bisa mending anak lo sekolah di sekolah yang paling dekat sama kantor. Lo mau tinggalin anak lo diapartement atau bakalan ajak anak lo itu kerja?" Tanya Derry pada Nico yang terlihat sedang berpikir. Usulan Dery bagus juga. Jadi dia bisa menjemput dan mengantar Fefe dengan mudah.
Tapi mengajak Fefe ke kantor bukan usulan yang baik. Bukan maksud mengganggu. Nico yang notabenenya seorang CEO pastilah sangat sibuk.
"TK yang paling deket sama kantor gue ada gak sih,ngel?" Angel berpikir dan kemudian mengutak atik ponselnya kembali.
"Bentar,co gue bantu lo cari deh." Ucap Angel sambil mencari TK yang paling dekat dengan kantor temannya.
"Ada! Setau gue kalo TK ini mengacu sama kesenian anak gitu. Jadi gak belajar terus" ucap Angel menjelaskan.
"Kok lo tau ngel tentang TK? Lo diem diem udah punya anak ya?" Derry menggoda Angel yang sejak tadi menjelaskan panjang lebar.
"Enak aja lo,der! Gue masih ting ting tau." Ucap Angel membela diri.
Si gadis kecil yang sedang dicarikan TK pun hanya diam sambil melahap pizzanya. Matanya masih menatap ke arah yang sama. Seorang ibu muda dan anak lelakinya. Ia sungguh merindukan mommy nya.
Nico yang heran sejak tadi anaknya diam saja pun akhirnya bertanya "fefe kenapa sayang? Makanannya gak suka?" Nico bertanya pelan sambil mengikuti arah pandang Fefe. Akhirnya Nico tau apa yang membuat Fefe menjadi diam sejak tadi.
Angel dan Dery mengikuti pula arah pandang Fefe. Angel yang memiliki sifat keibuan pun akhirnya menyuapi Fefe.
"Aunty suapin ya sayang" tanya Angel pada Fefe. Ia mengangguk pelan.
Angel memotong pizza fefe menjadi potongan kecil. Lalu menyuapkan ke mulut mungil fefe. Fefe tersenyum senang dengan perlakuan Angel.
Dery dan Nico yang melihat itu ikut tersenyum.
"Daddy,besok kita daftar sekolah Fefe ya." Nico mengangguk dan tersenyum.
"Fefe,pingin daftar ke TK yang kayak gimana?" Tanya Angel sambil menyuapi Fefe.
"Yang banyak mainannya,yang warna warni,yang banyak temennya,yang nyanyi terus. Ada kan aunty?" Tanya Fefe pada Angel setelah menelan pizzanya.
"Ada sayang,nanti aunty Angel bantu Fefe ya." Ucap angel lalu tersenyum.
"Besok lo bisa temenin gue gak ngel?" Nico adalah seorang pebisnis. Wajar jika dia buta akan hal Taman Kanak Kanak.
"Beneran gue gak ngerti deh." Ucap Nico dengan mengacak rambutnya perlahan. Hmmmm menambah kesan seksi.
"Besok gue ada acara,Co. Gini aja deh gue kasih tau TK yang deket sama kantor lo deket juga sama apartement lo. Jadi gak terlalu jauh." Ucap Angel sambil menaruh piring pizza Fefe yang telah habis tak tersisa.
"Oke, thanks ya!" Ucap Nico sambil mengecek iPhone nya.
Mengecek jadwal apa saja yang memungkinkan untuk bisa dicancel.
Nico biasa menyimpan jadwal meeting atau jadwal kantornya diponselnya. Mempermudahnya untuk mengatur ulang.
"Nico,thankyou traktirannya." Ucap Angel sumringah.
Nico mengangguk perlahan sambil mengelus lembut rambut Fefe.
"Eh udah sore nih,gue mesti balik. Gue duluan ya co,der. Fefe sayang,aunty pulang dulu ya." Ucap Angel sambil mencium kedua pipi chubby Fefe.
"Iya aunty,hati - hati ya" ucap Fefe sambil melambaikan tangan pada Angel. Angel membalas lambaian tangan Fefe,lalu berjalan meninggalkan Fefe,Nico dan Dery.
"Der,kita balik sekarang. Fefe udah capek kayaknya." Ucap Nico lalu menggandeng tangan Fefe lembut.
-------+---------+++---
"Bibi..." Fefe membuka pintu lalu berteriak pada Bibi Minah yang sedang membersihkan beberapa figura foto pun sedikit terkejut.
"Eh Nona cantik sudah pulang? Darimana aja non? Beli apa aja?" Tanya Bi Minah antusias.
Bi Minah memang sangat menyayangi putri tuan mudanya itu. Anaknya ramah dan ceria.
"Banyak sekali bi. Daddy membelikan tas bergambar Hello Kitty" Fefe bercerita sambil duduk disofa.
Nico berjalan sambil membawa barang barang Fefe.
"Tuan muda,mau disiapkan makan malam?" Tanya Bi Minah pada Nico.
"Kalo aku gak laper,bi. Fefe mau makan malem sayang?" Tanya Nico lalu duduk disamping Fefe.
"Ehmmm.. aku laper daddy" ucap Fefe sambil menyengir.
"Masak aja,bi. Buat Fefe aja" Ucap Nico lalu berdiri dan bersiap untuk mandi.
"Daddy mau mandi dulu sayang. Kamu juga mandi gih sana." Ucap Nico sambil mengusap lembut Fefe.
Fefe mengangguk lalu berlari ke kamarnya.
"Non Fefe udah gak keliatan sedih lagi ya,tuan?" Tanya Bi Minah sambil melihat ke arah kamar Fefe.
Nico mengangguk lemah. Fefe memang tidak terlihat sedih. Namun Fefe termasuk gadis yang mudah menyembunyikan perasaan. Diluarnya dia terlihat ceria namun didalamnya terlihat sedih. Nico dapat membaca dari kilauan matanya walaupun wajahnya senang.
"Fefe itu pintar menyimpan perasaan,Bi. Dia bisa senyum tapi kilauan matanya gak bisa bohongin aku kalo dia lagi sedih." Ucap Nico terlihat sedih pula.
"Tapi aku janji bakalan bahagiain Fefe,Bi. Aku rela kehilangan semua yang aku miliki demi Fefe." Nico mengucapkan dengan tulus.
Bi Minah yang mendengarpun ikut terharu. Benar - benar tuan mudanya telah berubah hanya dengan gadis kecil yang ceria.
"Saya yakin tuan muda bisa bahagiain nona Fefe." Ucap Bi Minah dengan senyum.
"Yaudah bi,aku mau mandi dulu." Ucap Nico lalu berjalan ke arah kamarnya.
Nico menaruh kunci mobil,ponsel dan dompet yang ada disaku celananya dimeja.
Dia mulai membuka baju polonya. Menampakan tubuh yang sungguh bagus. Perut six-packnya terlihat sangat sempurna.
-----------------------
Fefe menggunakan baju rumahan bergambar doraemon. Gadis kecil itu membayangkan sekolahnya yang baru nanti. Dimanakah dia akan bersekolah.
Dia benar benar tidak sabar.
Dia turun dari tempat tidurnya dan mengambil boneka barbie lalu menyisir rambutnya dengan sisir mungil khusus untuk barbie.
Nico perlahan membuka knop pintu bercat putih dengan perlahan. Dilihat gadis kecilnya sedang menyisir rambut barbienya dengan lembut. Nico tau putrinya itu kesepian.
Nico berjalan lalu duduk disamping gadisnya.
"Ada yang mau dibagi dengan daddy sayang?" Tanya Nico sedikit membingungkan untuk Fefe. MEMBAGI? Apa yang dimaksud membagi oleh daddy?
"Membagi apa daddy?" Tanya Fefe dengan kerlingan mata polos.
"Berbagi cerita dengan daddy. fefe merindukan mommy?" Tanya Nico pelan takut membuat Fefe mengingat mommynya.
Fefe mengangguk perlahan. Tak ada yang bisa ia lakukan. Ia rindu rumahnya dengan Mommy. Rumah yang berwarna warni. Mommy yang selalu bercanda dengannya,tidur dengannya,memeluknya,menciumnya. Yang sangat ia rindukan adalah harum tubuh mommy dan wajah mommy yang ceria.
Nico juga sangat merindukan wanita yang selama ini telah merubahnya. Nico yang humoris dan ceria mulai berubah menjadi arrogant dan mudah marah ketika Ferina pergi.
Lama Nico mencari dan justru ketika Nico mendengar nama wanita itu kembali,nyawanya telah hilang. Hanya jasad Ferina yang Nico masih sangat ingat.
Nico masih sangat mengingat suara Ferina,senyum tulus Ferina,Ferina yang sering tertawa akan hal kecil,Ferina yang mudah takut dengan sesuatu hal,Ferina yang ceria.
Namun ketika Tuhan telah mengijinkan Nico melihat Ferina. Tuhan justru memberi Nico pengganti Ferina. FEFE.
Menurut Nico, Fefe maupun Ferina sama sama berarti untuk Nico.
Ferina adalah sepenuh hati Nico dan Fefe adalah sepenuh hati dan juga bagian tubuh Nico.
Darah Fefe mengalir darah Nico. Wajah Fefe yang sangat mirip dengan Ferina terkadang membuatnya ingin berteriak.
Nico sangat menyesali kebodohannya. Namun ia juga tak bisa menyalahkan Mamanya. Karena percuma ia menyalahkan mamanya. Semua tak akan kembali.
"Daddy juga kangen mommy." Nico melemah jika sudah menyangkut pada Ferina.
Ferina adalah gadis yang membuatnya menjadi lemah.
Fefe menguap lalu turun dari kasurnya dan menaruh barbie kedalam rak mainanny.
"Daddy,bisa kita tidur? Fefe ngantuk sekali." Ucap Fefe dengan nada khas ngantuk.
"Oke sayang" ucap Nico lalu menggendong gadis kecilnya.
----------------------------------------
"Ayo,fe. Katanya Fefe mau daftar sekolah?" Kini Nico dan Fefe telah tiba di salah satu taman kanak kanak didaerah jakarta pusat.
"Fefe takut daddy" Wajah Fefe yang sumringah kini berubah menjadi takut.
"Ada daddy sayang" Nico menggenggam tangan mungil Fefe lalu berjalan perlahan menuju kantor kepala sekolah.
Orang - orang yang rata rata berisi ibu muda itu pun saling bisik. Ini pemandangan pertama di Taman Kanak Kanak tersebut. Seorang lelaki tampan dan sangat mempesona dengan gadis kecil yang cantik namun wajahnya terlihat takut.
Nico mengetuk pintu bertuliskan Kepala Sekolah. Kemudian dipemilik rungan mengijinkan Nico masuk.
Dilihatnya Ibu yang kira kira berumur 51 tahun itu dengan jilbab yang rapi.
"Silahkan,duduk" ucap ibu tersebut sambil mempersilahkan Nico dan Fefe yang terus menggenggam ujung jas Nico dengan erat.
"Saya kepala sekolah disini. Nama saya Tika Atiningsih,panggil saja Tika" ucap Ibu itu sambil mengulurkan tangannya.
Nico membalas mengulurkan tangannya. "Saya Nico Bintang. Panggil saya Nico" ucapnya sopan.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya bu Tika dengan lembut.
"Saya ingin mendaftarkan putri saya sekolah disini" ucap Nico dengan sopan pula.
"Ini putrinya?" Tanya bu Tika sambil melihat kearah Fefe.
"Iya,bu. Fefe jangan takut sayang daddy disini. Kenalin nama Fefe dong."
"Ferdina Milly Leviando. Panggil aja Fefe bu Tika." Ucap Fefe dengan nada imut dan menggemaskan.
"Kamu cantik sekali. Sebentar ibu panggilkan calon ibu guru kamu ya." Ibu Tika berjalan kearah meja kantornya lalu menelpon guru yang ia maksud.
"Mrs.Ayak bisa keruangan saya sekarang?" "Oke saya tunggu"
Bu Tika kembali duduk dihadapan Fefe dan Nico.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut dari luar.
"Masuk" ucap buTika sedikit meninggikan suaranya.
Terlihat Guru yang masih cukup muda. Dengan rambut yang dijepit setengah,baju yang rapi dan sepatu wedges menambah kesan tinggi.
Dia tersenyum pada Bu Tika "ada yang bisa saya bantu bu?" Tanya nya lembut.
"Mrs.Ayak ini Mr.Nico dan ini putrinya Fefe." Mrs.Ayak melihat kearah lelaki tampan dan gadis kecil disebelahnya.
Lelaki itu sangat tampan dan terlihat mapan. Dengan rambut yang sedikit berantakan,rahang tegas,kemeja berwarna putih ditutupi dengan jas berwarna biru donker dan dasi yang berwarna senada dengan jasnya.
Seketika tubuh Mrs.Ayak membeku. Lalu begitu tersadar ia langsung mengulurkan tangannya.
"Ayak. Panggil saja mrs.Ayak" ucapnya lalu tersenyum.
Mrs.Ayak melihat gadis kecil disamping Nico.
"Hai,cantik.. kamu yang bernama Fefe?" Fefe mangangguk dengan malu malu.
"Fefe mau ikut mrs.Ayak melihat kelas Fefe nanti?" Tanya mrs.Ayak dengan lembut.
Fefe melihat ke arah Nico dengan takut takut. Nico mengangguk tanda setuju.
Fefe melepas perlahan pegangan erat pada ujung jas Nico. Lalu tangan mungilnya menerima gandengan dari tangan Mrs.Ayak.
Mrs.Ayak dan Fefe keluar dari ruangan kepala sekolah dan mulai menuju kelas Fefe yang baru.
"Sebenarnya ada sedikit masalah dengan Fefe. Ibunya baru saja meninggal dan saya juga baru ketemu dengan dia setelah ibunya meninggal. Dia adalah gadis yang ceria, dia pandai menutupi kesedihannya. Saya sedikit bingung." Ucap Nico menceritakan sedikit masalahnya.
"Saya mengerti Mr.Nico. Sebisa mungkin saya dan para guru disini akan membantu anda." Ucap Bu Tika dengan sangat sopan
Sejak ditaman kanak kanak hingga tiba di Kantor Nico. Fefe terus saja menceritakan apa yang ia lakukan dengan Mrs.Ayak dan teman - teman barunya.
Ia tak salah memilih TK yang dipilihkan oleh Angel.
"Nah udah sampe tuan putri" ucap Nico lalu Fefe tertawa gembira.
Nico menggendong tubuh mungil Fefe lalu memberikan kunci mobil mclaren miliknya pada pegawai valet dikantornya.
Para pegawai yang melihat Nico tersenyum sopan. Ada beberapa pegawai perempuan yang tersenyum dengan malu malu pada Nico.
Nico masih sibuk dengan gadis kecil yang ada digendongannya.
"Hai Fefe.." sapa Marcel tiba tiba saat mereka tiba di lift.
"Hai uncle Acel. Uncle Acel Fefe sudah mendaftar sekolah baru. Nanti diruangan Daddy Fefe ceritain ya." Marcel pun mengangguk dan tertawa.
Tiba diruangan Nico. Disana ada sekertaris Nico yang tersenyum menyapa Nico,Fefe serta Marcel.
Fefe dan Marcel duduk disofa, sedangkan Nico duduk dikursi kebesarannya lalu menghidupkan Macbook Pro miliknya untuk melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.
Nico membiarkan Fefe bercerita tentang tadi ia di Sekolah barunya pada Marcel. Ceritanya persis dengan apa yang Fefe ceritakan dimobil. Namun ada yang sedikit beda.
"Mrs.Ayak guru Fefe yang baru tadi ngeliatin Daddy kayak gini." Fefe menirukan gaya Mrs.Ayak yang tiba tiba kaku dengan wajah bingung dihadapan Nico.
Marcel melirik Nico yang masih saja sibuk dengan tugasnya.
Lalu tertawa terbahak - bahak. Nico hanya menggelengkan kepalanya saat gadis kecilnya menggodanya.