Part Six

1164 Words
"Mrs.Ayak guru Fefe yang barutadi ngeliatin Daddy kayak gini." Fefe menirukan gaya Mrs.Ayak yang tibatiba kaku dengan wajah bingung dihadapan Nico. Marcel melirik Nico yang masih sajasibuk dengan tugasnya. Lalu tertawa terbahak - bahak. Nico hanya menggelengkan kepalanya saat gadiskecilnya menggodanya. "Bahkan disekolah putrimu pun masih saja banyak wanita yang terpesona olehmu,co. Benar benarlelaki idaman memang kau ini,wajar jika banyak wanita yang menggilaimu. Apakah menurutTuan Putri ayahanda masuk kategori tampan?" Fefe tertawa cekikikan melihatekspresi wajah Acel Uncel yang dibuat buat dan menurutnya itu lucu. "Akumembayarmu bukan untuk bersendau gurau bersama putriku,dude. Segera selesaikanpekerjaanmu atau aku akan memecatmu." Marcel terkejut namun juga tertawa. Dia tahujika Nico hanya sedang bercanda. Dia tahu betul bagaimana sifat sahabatnya itu. "Fefe,sepertinyauncle harus kembali, Raja Singa sedang mengamuk. Lain kali kita bisa berbagicerita lagi lain waktu. See you." Marcel mencium pipi chubby Fefe dengansayang. Marcel sudahmenganggap Fefe seperti anaknya sendiri. Walaupun dia tidak tau betul bagaimanarasanya memiliki anak dari hasil darah dagingnya. Tentu saja karena dia belummenikah. Jangankan menikah,kekasih pun Marcel tak punya. Marcelberlalu meninggalkan ruangan Nico yang kelewat batas mewah itu. "Fefe lapardaddy" Nico tersenyum. "fefe mau makan apa? Mungkin daddy bisa meminta tolongkepada aunty Melly untuk memesankan makanan." "fefe maumakan ayam goreng daddy" ucap Fefe dengan girang. "mommy dulusering memasak ayam goreng untuk Fefe saat kami berada di Seoul." Nico membekuseketika. Ferina memang pandai untuk masalah dapur. Dia tahu akan hal itu. DuluFerina sering memasakan masakan untuk Nico. Ya itu dulu sebelum semuanyaterjadi. Sebelum Ferina pergi dan bersembunyi di Seoul selama bertahun tahun. Nicomengangguk lalu menekan tombol 1 pada telponnya yang menghubungkannya pada Melly.Sekretaris pribadinya. "Melly,tolongpesankan dua porsi nasi dan ayam goreng dari restaurant yang ada di depan kantor. Saya harap 20 menit makanan itu sudah ada dimeja saya." Ucap Nico dengan nada bossy miliknya. "baik Mr. Leviando. Secepatnya makanan itu akan tiba."Setelah menutup sambungan telponnya Melly memesan dua porsi nasi dan ayam goreng di Restaurant yang berada di depan kantor tempatnya bekerja. "Daddy,aku kenyang." Nico juga telah selesai dengan paket nasi dan ayam yang dipesannya dari restaurant masakan jawa di depan kantornya. Nico membereskan bungkus makananya dan juga Fefe lalu membuangnya ke sampah dekat pintu masuk ruangannya. Baru saja dia menaruh p****t seksinya ke kursi singgasananya, telpon mejanya berbunyi.Nico mengangkat telpon itu dengan nada yang dingin, "Sir hari ini ada meeting mendadak dengan para pemegang saham." Nico melirik Fefe yangsedang memainkan ipad miliknya. "Melly bisakah aku menambahkan satu pekerjaan padamu?" di depan ruangan Nico dan dimeja Melly. Dia menebak – nebak pekerjaan tambahan apa yang dimaksud oleh CEOnya itu. Mungki ini ada sangkut pautnya dengan gadis yang berada di ruangantuannya saat ini. Dia tak tausiapa gadis kecil itu. Banya pegawai mereka yang bertanya – tanya tentang siapa gadis kecil yang bersama CEO arrogant mereka itu. "pekerjaanapa sir?" Nico melihat Fefe dengan ragu – ragu. "aku titip putriku saat aku sedang meeting. Aku sangat meminta tolong padamu untuk menjaganya. Aku berharap itu tidak akan merepotkanmu" Melly terkejut. Putri? Setau Melly CEO nya itu belum menikah. Namun memang Melly tak bisa memungkiri ada kemiripan wajah antara gadis kecil itu dan Nico. "oh,tentu saja tidak merepotkan saya,sir. Saya akan menjaga putri anda dengan baik. Percayakan saja kepada saya sir." Nico mengangguk. Menyadari Melly tak bisa melihatnya mengangguk Nico membalas ucapan Melly. "terimakasih" dengan padat dan singkat. "siapkan meeting secepatnya. 15 menit lagi saya harap para pemegang saham, sudah berkumpul." "baik sir secepatnya saya siapkan." Ucap Melly. "fefe,daddy gak bisa nemenin Fefe main. Fefe main bersama Melly aunty ya? Daddy meetingdulu bersama uncle uncle membosankan." Fefe memasang tampang sedihnya yangmenurut Nico itu sangat menggemaskan. "daddy gak lama sayang. Dua jam lagi daddy kesini." Fefe tersenyum memaksakan lalumengangguk. Nico mengambil jas kebesarannya yang ia sampirkan dikursi singgasananya. Ia membenarkan jasnya dan juga letak dasinya agar kembali terlihat lebih rapi. Merasa tampilannya sudah kembali rapi,Nico keluar dari ruangannya menuju ruangan sekretaris didepan ruangannya yang berjarak beberapa meter dari ruangannya. "Melly,namanya Fefe. Dia sedang bermain ipad didalam. Dia gadis yang sedikit mudah lapar dan sewaktu waktu menginginkan makanan atau minuman. Jika dia meminta sesuatu turuti saja apapun keinginannya. Nanti aku akan menggantinya kerekeningmu. Kamu tetap bisa mengerjakan pekerjaanmu,tapi sesekalilah untuk mengawasinya." Jelas Nico panjang lebar. Beberapa tahun bekerja dengan seorang Nico Bintang Leviando, ini adalah pertama kalinya dia berbicara panjang terlebih mengenai gadis kecil yang disebut putrinya itu. Saat menjelaskan pekerjaan baru nya itu. Melly dapat melihat tatapan yang sedikit ragu dan khawatir. "baik sir,semuanya akan saya lakukan dengan sebaik mungkin." Ucap  Melly. Nico mengangguk perlahan lalu berlalumenuju ruangan meetingnya. Sebenarnya Fefe ingin ikut dengan daddynya. Tapi bermain permainan baru yang ia temukan diiPad milik daddynya lebih menarik. "kamu Fefe ya?" Fefe melihat ke arah pintu masuk. Dilihatnya wanita dengan blazer berwarna coklat dan rok selutut berwarna senada dengan warna blazernya juga kemeja berwarna hitam dan sepatu berhak kira kira 8cm berwarna hitam. Fefe mengangguk dan tersenyum. Melihat tidak ada wajah takut yang tercetak di wajah cantik Fefe. Melly mendekat dan duduk disampingnya. "aunty melly ya?" Melly mengangguk dan tersenyum. 'sangat berbeda jauh dengan ayahnya. Putrinya gadis yang hangat dan mudah senyum.' Sudah sejam beberapa kali Melly bolak balik antara ruang kerjanya dan CEO nya untuk sekedarmengecek putri CEO nya yang sedang bermain iPAd,menggambar di kertas yang tadi ia minta padanya atau menonton kartun. Wajahnya terlihat bosan,tapi Fefe tidak mengeluh pada Melly. Ia menyesal tidak bisa menemani Fefe karena pekerjaannya yang sangat menumpuk itu. Jam sudahmenunjukan pukul 16.00 WIB. Namun meeting baru saja berakhir. "Saya akhiri meeting hari ini. Selamat sore." Nico meninggalkan dengan cepat ruangan meetingyang membosankan itu. Nico sudah tidak sabar melihat wajah Fefe. Sejak tadi ia menebak ekspresi apa yang akanditunjukan Fefe nanti. Membayangkannya pun sudah membuatnya gemas dan sangatgemas. Nico tersenyum kecil. "dimana Fefe?" tanyanya pada Melly yang sedang memainkan ponsel nya. Jam kantor memangtelah berakhir. Jadi bukan masalah jika Melly memainkan ponselnya. Dia tau jika Melly pasti menunggunya hingga selesai meeting. "Fefe sedang tidur,sir." Ucap Melly sambil menyembukannya ponselnya. Takut jika Bosnya ituakan marah padanya. "jam kantor telah selesai,aku tak akan memecatmu atau memarahimu jika hanya bermain ponsel." Nico berlalu dan berjalan ke arah ruangannya. Dilihatnya gadis kecil yang sedang tertidur dengan lelapnya disofa miliknya tanpa selimut. Fefe menekuk tubuhnya untuk menghangatkan tubuhnya sendiri. Nico tersenyum lalu melepas jasnya dan menyelimutkan pada tubuh gadis kecilnya. Masih ada beberapa perkejaan Nico yang harus diselesaikan sekarang. Nico tak suka menunda pekerjaannya. Matahari telahbersembunyi dan langit telah berubah menjadi gelap. Nico merenggangkan tubuhnya yang pegal. Fefe menggeliat perlahan dan menguap lalucelingukan mencari daddynya. Dia telah menemukan daddynya yang sedang tersenyum lembut padanya. "daddy,Fefe mau pulang." Fefe menaruh jas Nico yang diletakan ditubuh Fefe tadi. "ayo kita pulang sayang." Ucap nico lalu mematikan laptop dan mengambil jasnyadisampirkan ditangannya. Dasinya sudah ia longgarkan. Nico menggandeng tangan Fefe keluar dari kantornya menuju basement kantornya. Semua karyawan telah pulang menyisakan keamanan yang tersenyum sopan dan segan padanya. Nico membalas dengan senyuman tipis. ----------------------------------------- Nico menaikan selimut hingga leher Fefe dan mencium puncak kepala Fefe. Hangat memang rasanya menjadi seorang ayah. "selamat malam my princess" Nico mematikan lampu dikamarnya dengan remote dan menyisakan lampu kecil untuk tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD