Cahaya matahari kini memaksa sepasang ayah dan anak yang sedang terlelap dengan nyenyaknya dibalik selimut.
*kriiiiiiiing kriiiiiiiiiiing*
Bunyi jam weker membuat si ayah memaksa kedua matanya untuk terbuka.
Diraihnya jam weker yang sedang berteriak heboh tersebut.
"Wake up princess" ucap Nico pada gadis kecilnya. Sambil sesekali mencium pipi chubby putrinya tersebut agar merasa terganggu.
"Oke oke dad,fefe bangun." Fefe turun dari kasur Nico lalu berjalan menuju kamarnya sendiri.
Fefe tidur dikamar Nico. Namun setelah pagi tiba Fefe akan kembali ke kamarnya untuk mandi. Karena barang barang miliknya ada dikamarnya sendiri.
-----------------------------------------------
Fefe mulai mengenakan seragam barunya. Hari ini adalah hari sekolah pertamanya.
Dia mengenakan seragam sekolah barunya yang berwarna biru muda.
Bi Minah mengikat rambut panjang fefe menjadi dua lalu memberinya pita berwarna senada dengan seragamnya.
Sipemilik rambut malah bernyanyi tak jelas didepan cermin. Sesekali tertawa karena geli dengan ekspresi atau suaranya sendiri.
"Nona kecil,rambutnya sudah selesai diikat. Ada lagi yang bisa bibi bantu?" Tanya Bi Minah sambil merapikan kembali rambut Fefe agar terlihat lebih rapi.
"Gak ada bibi,terimakasih ya fefe jadi tambah cantik" Bi Minah tersenyun senang melihat putri kecil tuan mudanya yang kini begitu bahagia.
Sebenarnya Bi Minah tau apa yang dirasakan Fefe.
"Nona Ferina adalah wanita yang kuat dan hebat. Ntah bagaimana caranya dia bisa mendidik dan menjaga gadis kecil dihadapanku ini dengan kesabaran yang begitu besar. Hamil tanpa suami dan keluarga,hidup sendirian,berjuang keras sendirian. Maka dari itu gadis kecil dihadapanku begitu kuat dan tegar." Batin Bi Minah dalam hati.
"Bibi,fefe mau s**u coklat" fefe turun dari kursi meja riasnya lalu berlari ke arah meja belajarnya untuk mengambil tas sekolahnya.
"Makanan sudah siap nona cantik" Fefe tersenyum senang lalu berlalu keluar dari kamarnya yang super mewah.
"Morning daddy" ucap Fefe mendekat ke arah Nico.
"Morning too sweety" ucap Nico lalu mencium pipi Fefe lembut.
Fefe duduk disamping Nico lalu mengambil segelas s**u coklat dengan tangannya yang mungil.
"Pelan pelan sayang nanti seragam kamu kotor" ucap Nico sambil membaca koran online yang berada di iPadnya.
"Putri daddy terlihat sangat cantik dan sangat bahagia" Fefe tersenyum lalu tertawa malu malu.
"Fefe udah gak sabar tiba disekolah daddy. Ayo buruan antar Fefe ke sekolah" Fefe menarik tangan besar Nico dengan seluruh tenaganya.
"Oke oke sayang. Semua perlatan sekolah Fefe tidak ada yang ketinggalan kan? Sudah siap semua?" Nico bertanya sebelum berjalan keluar menuju parkiran dimana mobil mewahnya itu terpakir cantik.
"Semua sudah siap kapten" ucap Fefe sambil menaruh jarinya pelipis dan menekuk ibu jarinya lalu membentuk angka empat. (Hormat pemirsah)
"Oke... ayo kita berangkat" Nico menggenggam jemari mungil fefe.
"BI MINAH KITA BERANGKAT DULU" ucap Nico sedikit berteriak agar bi Minah mendengar.
--------------------------------------------
Mobil Range Rover milik Nico telah memasuk kawasan Taman Kanak Kanak.
Nico memarkirkan mobilnya.
Nico menggenggam tangan mungil fefe yang sedikit dingin.
"Fefe gugup sayang?" Fefe sangat takut hari ini padahal tadi pagi ia sangat antusias.
Fefe mengangguk kecil.
"Daddy tunggu fefe sampai fefe pulang ya,fefe takut."
Sifat Fefe yang Nico ketahui sangat mirip dengan Ferina adalah sifatnya yang penakut akan hal hal baru.
"Gak bisa sayang,daddy banyak kerjaan. Nanti sepulang sekolah Daddy jemput Fefe ya.'' Nico meyakinkan gadis kecilnya.
"janji ya daddy?" Nico mengangguk dan tersenyum.
Hampir semua murid diantarkan oleh ibu mereka. Rata rata dari mereka adalah ibu ibu muda dan tentu saja ibu ibu dari kalangan atas karena mengingat sekolah Fefe termasuk sekolah elite.
Beberapa ibu tersebut saling berbisik saat Nico melintas.
Beberapa dari mereka yang istri seorang pebisnis tentu saja tau seorang Nico Bintang Leviando.
Seorang pebisnis yang tampan,muda,berbakat dan juga sangat kaya. Nico terkenal dengan predikat single nya maka dari itu mereka yang mengetahui Nico saling bertanya siapa gadis kecil yang ada disampingnya.
Nico tak memperdulikannya jika ia menjadi bahan omongan di sekolah putrinya. Yang ia perdulikan hanyalah mengantarkan Fefe lalu pergi ke kantor dan bertemu dengan tumpukan pekerjaan yang membosankan.
Nico dan Fefe tiba di batas antar murid.
"Daddy pergi dulu ya sayang,nanti pulang sekolah daddy jemput fefe" nico mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Fefe lalu mencium puncak kepalanya.
"Iya daddy. See you"
------------------------------------------------
Setelah mengantar gadis kecilnya ke sekolah kini Nico telah tiba di kantor yang ia rintis bersama papanya.
Ia berjalan dengan angkuhnya tanpa memperdulikan sekitarnya yang menatapnya dengan tatapan kagum.
Nico memasuki lift pribadinya.
Tiba tiba Marcel menyelonong masuk ke dalam lift.
"Lift ini gak bakal sampai ke ruangan lo,cel" ucap Nico dengan nada dingin.
"Gue tau,eh mana ponakan gue?" "Sekolah dong. Hari ini adalah hari sekolah pertamanya." Marcel mengangguk.
*tiiing*
Tiba dilantai paling atas gedung kantor milik Nico.
Nico berjalan ke arah sekretarisnya.
"Melly,apa saja jadwalku hari ini " Melly membuka notes kecilnya yang berisi jadwal apa saja yang harus Nico lakukan.
"Jam setengah sembilan ada meeting dengan clien lalu ada juga kunjungan ke beberapa kantor cabang." Nico mengangguk lalu masuk kedalam ruangannya.
Marcel mengikuti Nico dan duduk di hadapan Nico.
"Co,sebenernya gimana sih rasanya jadi single daddy?" Nico menatap Marcel sejenak lalu mulai bercerita.
"Ada rasa bahagia yang gak bisa gue jelasin,ada perasaan ingin menjaga dan merawat dengan sepenuh hati,ada tujuan untuk apa gue hidup sebenernya. Mungkin lo harus coba,cel"
"Coba? Apa? Menjadi single daddy? Sorry gue gak minat" Marcel menggelengkan kepalanya.
"No! Menjadi seorang orang tua." Marcel mengangguk tak tertarik.
"Gue belum ada niatan untuk serius ngejalanin suatu hubungan. Gue masih suka coba coba. Gue belum nemu sosok yang pas sama gue."
"Lo terlalu pemilih sih,cel" Nico membuka macbook pro nya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
"Balik sana kerja lo,semua pegawai pada kerja kenapa lo malah nongkrong gak jelas disini. Lo mau gue pecat?" Marcel langsung nyengir dan keluar dari ruangan Nico.
-----------------------------------------------
Fefe sedang melipat kertas lipatnya menjadi burung.
Mrs Ayak mencontohkannya didepan kelas dengan sangat pelan pelan.
"Nah... ayo anak anak ikuti mrs ayak untuk menyelesaikan lipatan kalian ya" ucap mrs ayak sambil membenarkan lipatan anak anak lain.
"Wah punya Fefe rapi sekali,sudah terbentuk" Fefe tersenyum pada mrs ayak.
Bel tanda istirahat pun telah bernyanyi.
Fefe memasukan barangnya ke dalam tas.
Fefe berjalan sendirian sambil celingukan karena hari ini adalah hari pertamanya jadi dia belum memiliki teman dekat.
Fefe duduk di ayunan lalu mengayunkan ayunan tersebut.
Tiba tiba seorang gadis cantik dengan bando berwarna merah muda mendekati fefe dan duduk disamping fefe.
"Kamu teman baru aku ya?" Tanya gadis itu polos.
Fefe mengangguk lalu tersenyum.
"Iya,nama aku fefe nama kamu siapa?"
"Nama aku flora" ucapnya sambil tersenyum pula.
Mereka berdua bermain bersama sepanjang istirahat ini. Sesekali mereka tertawa akibat gurauan dari Flora.
Ternyata flora juga anak ceria dan juga suka bercanda.
Waktu istirahat telah habis. Semua murid masuk ke dalam kelas masing masing dan duduk di kursi mereka.
"Nah... waktunya makan bersama" ucap mrs ayak dan semua muridpun teriak senang.
Semua murid mengeluarkan kotak bekal makanan mereka.
Tapi tidak dengan fefe, Bi Minah tidak menyiapkan kotak bekal makanan untuknya. Mungkin Bi Minah lupa.
Semua murid makan bekal mereka dengan begitu lahapnya.
"Fefe,kenapa kamu gak makan?" Tanya salah seorang gadis kecil yang duduk disamping fefe.
"Bi Minah lupa menyiapkan bekal" ucap Fefe sedih. Andai saja mommy nya masih ada pasti ia tidak akan lupa.
Bi Minah lupa mungkin karena memang pekerjaannya juga numpuk.
Gadis kecil tadi memakan sandwich berisi telur dan sayuran.
"Mamaku nyiapin bekal makanan setiap pagi bahkan sebelum aku bangun tidur. Memangnya mama kamu gak siapin makanan buat kamu" fefe terdiam. Fefe sedih dan rasanya ingin menangis.
"Mommy tidur didalam sebuah peti. Aku gak bisa liat mommy lagi" ucap Fefe dengan lirih dan sangat sedih.
"Memangnya mommy kamu bisa bernafas?" Fefe mengendikan bahu tidak tahu.
Sungguh ia ingin menangis jika mengingat mommy cantiknya.
Sebenarnya ia senang hidup dengan daddy namun ia juga merindukan mommy.
Mrs Ayak mendekati Fefe
"Loh fefe gak bawa bekal makan sayang?" Tanya Mrs ayak lembut.
Fefe menggeleng perlahan.
Mrs Ayak meninggalkan Fefe lalu mengambil sebungkus roti yang ada didalam tasnya.
Mrs ayak memberikannya pada Fefe.
"Ini sayang,fefe makan roti ini ya" fefe tersenyum senang bahkan melupakan apa yang tadi membuat ia sedih.
"Terimakasih mrs ayak" sebenarnya itu hanya roti. Nico bisa membelikannya sendiri bahkan tokonya sekalipun. Namun bukan begitu yang dipikirkan Fefe. Ia hanya berpikir dia bisa makan bersama teman temannya.
--------------------------------------------------
"Mungkin saya akan menanda tangani persetujuan saya setelah saya melihat sendiri bagaimana bentuk dari hotel tersebut mr.Sergio" ucap Nico dengan nada dinginnya.
"Bagaimana jika mr.Leviando menandatangani persetujuan kerja sama sekarang, lalu mr. Leviando bisa ikut mendesign bentuk hotelnya sesuai persen yang sudah dijanjikan." Nico menimbang nimbang beberapa saat lalu menyetujuinya dengan mudah.
"Oke,meeting hari ini saya tutup. Selamat siang"
Jam telah menunjukan pukul 11.30WIB.
Ada waktu satu setengah jam lagi sebelum ia menjemput Fefe. Mungkin Nico bisa datang ke kantor cabang terlebih dahulu.
Nico keluar dari ruanganny lalu bersama dengan Derry orang kepercayaaannya dan juga Melly sekertarisnya menuju kantor cabang.
Perjalanan dari kantor Nico menuju kantor cabang menghabiskan waktu setengah jam.
Dimobil Nico hanya diam sambil sesekali membaca pekerjaannya yang akan ia tanda tangani.
Beberapa pekerjaan Nico letakan di iPad nya agar lebih mudah dan dimanapun ia dapat bekerja.
Nico,Derry dan Melly turun dari mobil.
Nico mengecek beberapa data keuangan yang menurutnya ada sedikit keganjilan.
Hasil data keuangan dan data sumber keungan tidak sinkron.
"Ini kenapa data keungan dan sumbernya berbeda? Harusnya jika dari data sumber keuangnnya kita bisa mendapatkan hasil sekitar 250 juta. Tapi kenapa disini hanya ada 175 juta" ucap Nico bertanya tanya.
Semua pegawai pun terdiam membisu. Tak ada yang berani menjawab maupun memberi keterangan.
"Saya beri waktu sebulan untuk menyamakan hasil data keuangan dan sumber keuangan" ucap Nico lalu keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh Derry dan Melly.
-------------------------------------------------
Pukul 15.00WIB. Itu berarti jam sekolah Fefe telah selesai.
Namun karena ia belum melihat daddynya menjemput dia duduk sendiri diayunan sambil menggoyangkan ayunan tersebut perlahan.
Tiba tiba seorang gadis duduk di ayunan samping tempat Fefe duduk.
"Kamu anak baru ya? Nama kamu siapa?" Tanya seorang gadis kecil yang sedikit lebih tinggi dari Fefe.
"Fefe,nama kamu siapa?" Fefe balik bertanya kepada gadis kecil itu.
"Amel" ucapnya dengan nada lucu sambil membenarkan letak rambutnya.
Fefe mengangguk lembut.
"Amel sayaang,yuk nak kita pulang" seseorang ibu muda mengajak Amel pulang.
Fefe melihat kearah Amel dan ibunya. Itu membuat dia semakin merindukan mommynya.
Andai saja mommy masih ada,pasti mommy juga akan melakukan hal yang sama seperti ibu amel.
"Ibu... ayo bu,kita pulang. Amel udah laper" ucap Amel sambil melompat dari ayunannya.
"Ibu juga udah masakin kamu masakan kesukaan kamu." Fefe hanya melihat dengan iri. Fefe merindukan mommy nya. Sungguh sangat merindukan mommynya.
"Fefe aku pulang dulu ya." Ucap Amel lalu pergi dengan menggandeng tangan ibunya.
Fefe mengangguk lemah.
Matanya kini tlah berkaca kaca.
Bukan hanya Amel dan ibunya. Tapi hampir semua temannya dijemput oleh ibu mereka.
Sudah setengah jam berlalu namun Nico belum juga menjemput Fefe.
Kini hanya tinggal beberapa anak yang tersisa disekolahnya.
Fefe lebih memilih duduk diayunan sendiri sambil sesekali mengingat kenangannya bersama mommynya.
Kini mata Fefe berkaca-kaca. Berlian mata Fefe hampir jatuh.
Bahkan sudah jatuh. Fefe menangis sesenggukan tanpa bersuara.
Fefe ingin memeluk mommynya. Fefe ingin bermanja manja dengan mommynya. Fefe ingin bercanda dengan mommynya. Namun sekarang ia hanya bisa menangis sambil membayangkan itu semua bersama angin.
----------------------------------------------
Nico melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sungguh ia benar benar lupa bahwa kini Fefe telah bersekolah dan pulang pukul 15.00WIB.
Bahkan dia merelakan ratusan juta melayang hanya untuk putrinya.
Kehilangan ratusan juta pun Nico tak perduli. Bahkan semua kekayaan miliknya sekalipun.
Menurutnya harta yang ia miliki sekarang tak sebanding dengan Fefe yang sangat sangat mahal dan berharga itu.
Tak jarang Nico mengumpat karena macetnya jalanan.
Bahkan dasinya pun tlah ia longgarkan,jasnya tergeletak sembarangan,rambutnya acak acakan.
Nico sangat merasa bersalah karena sudah sejam dari jam pulang Fefe seharusnya.
"Shiit!!!!" Nico menekan klakson beberapa kali agar mobil didepannya segera melajukan mobilnya. Namun apa daya jalanan sangat padat.
Perlahan lahan Nico berjalan. Namun selalu saja ia mengumpat kesal.
Nico menghentikan mobilnya diparkiran sekolah Fefe. Nico segera berlari dengan sangat kencang.
Mungkin perasaan Nico acak adut tak karuan. Tetapi bagi wanita yang melihatnya,ia terlihat sangat seksi.
Nico berlari mencari keberadaan Fefe. Ia berlari dengan kecepatan yang ia mampu.
Nico memelankan larinya saat ia mata hazelnya menemukan gadis kecil yang sedang menangis sesenggukan.
Nico berjalan lemah melihat gadis kecilnya menangis. Ia tak pernah melihat Fefe menangis hingga seperti ini.
"Fefe sayang.." suara bariton Nico membuat fefe mendongakan kepalanya ke atas.
Dilihatnya daddynya yang kini sudah berantkan.
Kini mata fefe sembab,wajahnya lelah dan berubah merah,rambutnya yang dikucir rapi kini sedikit berantakan.
"Daddy" suara Fefe bahkan sudah serak.
Nico mensejajarjan tubuhnya dengan Fefe. "Fefe ,daddy minta maaf ya sayang. Daddy ada meeting mendadak,jadi daddy jemput fefe telat." Ucap Nico dengan sangat merasa bersalah.
Fefe tersenyum lemah lalu mengangguk.
"Ayo sayang kita pulang." Nico menggendong tubuh kecil Fefe.
Nico membawa tas kecil fefe yang menurut nico sangat ringan.
Fefe menaruh kepalanya diantara bahu dan leher Nico. Ia menghirup aroma Nico yang membuatnya tenang.
Nico membuka pintu penumpang lalu menurunkan Fefe dari gendongannya dan meletakan tas kecil Fefe disamping Fefe.
"Kita pulang ya sayang,pasti Fefe lelah." Ucap Nico lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata.
----------------------------------------------------
Mungkin karena lelah menangis. Fefe tertidur sepanjang jalan sekolah dan Apartemennya.
Nico menggendong Fefe dengan begitu lembut. Terkadang mengelus punggungnya perlahan saat ada penghuni apartemen lain yang sedikit berisik agar Fefe tetap tenang.
Tiba dipintu apartemen miliknya.
Nico sedikit kesulitan menekan kunci keamanan apartemennya.
Dengan perjuangan penuh akhirnya Nico menekan dengan benar.
Pintu terbuka.
Bi Minah yang melihat majikannya kesulitan segera berlari dan mengambil tas kecil nona mudanya agar tuan mudanya sedikit terbantu.
"Non Fefe kenapa tuan?" Tanya bi Minah dengan sangat pelan takut mengganggu Fefe.
"Aku tadi telat jemput Fefe bi. Aku bener bener lupa,tapi waktu aku jemput dia udah nangis sambil duduk di ayunan sendirian.'' Cerita Nico sambil menaruh putri kecilnya dikasur.
"Bibi,aku minta tolong lepasin baju sama sepatu Fefe ya,usap aja tubuhnya pake waslap dan air. Aku gak tega bangunin dia mandi." Ucap Nico lalu keluar kamar menuju ruang kerjanya.
Nico berdiri dihadapan dinding kaca yang dapat melihat seluruh penjuru kota jakarta.
Nico meneteskan air mata mengingat Ferina. Ntah apa yang membuat Fefe menangis,tapi Nico yakin ini ada hubungannya dengan Ferina.