Jika diijinkan untuk jujur,Nico ingin menangis,meraung dan berteriak.
Nico tak menyalahkan Tuhan yang memberinya cobaan seperti ini. Nico hanya merasa sedih,sakit dan kecewa.
Ini sudah takdir Tuhan yang diberikan padanya. Nico tau akan hal itu.
Nico mengusap pelan air matanya.
Sepasang matanya masih menatap bintang bintang yang berkerlip dilangit gelap.
"Fer,maafin aku ya gak bisa jaga Fefe dengan baik. Aku gak bisa bikin dia bahagia terus. Aku minta maaf fer." Ucap Nico sambil berharap Ferina mendengarkannya.
Nico berjalan ke arah lemari penyimpanan wine miliknya yang memiliki harga sangat mahal itu.
Dan pilihan Nico jatuh pada Screaming Eagle Cabernet. Wine yang memiliki harga sangat fantastis tersebut.
Nico menuangkannya pada gelas kaca kecil.
Nico meminumnya perlahan.
Hanya beberapa gelas tak membuatnya mabuk.
Dia tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti dulu ketika ia dirundung masalah.
Ketika dulu dia pasti akan pergi ke club mabuk lalu one night stand dengan wanita w***********g yang siap menukarkan tubuh mereka dengan lembaran uang.
Masalahnya akan sedikit hilang,lalu ketika dia sadar masalahnya akan kembali semula.
Nico meminum gelas keempatnya,gelas terakhirnya.
Dia menutup kembali tutup botol wine tersebut lalu membuangnya ke sampah.
Nico mengambil ponsel dari saku jaketnya.
Dipandangi foto seorang wanita dan seorang gadis yang sedang senyum ke arah kamera.
Foto Fefe dan Ferina ketika berada di lotte world.
Nico mengambil foto foto Ferina dan Fefe dari ponsel Ferina.
Bahkan kini ponsel Ferina dibahwa oleh Nico.
Nico tersenyum miris melihat senyum Ferina.
Hatinya sungguh sakit. Rasanya seperti diremas dengan sangat kuat.
Karena tak sanggup melihatnya lagi,Nico memasukan ponselnya kedalam saku celananya lagi.
Lalu berjalan ke kamarnya,dan menaruh ponselnya yang sangat canggih itu.
Dia berniat mandi untuk sedikit memberikan kelegaan dan kesegaran agar otaknya kembali jernih.
-----------
Nico telah selesai mandi dan mengganti kemeja dan celana kainnya dengan kaos dan juga celana kolor.
Dia membaringkan tubuhnya disamping Fefe yang telah berganti baju dengan baju tidur bergambar doraemon itu.
Nico mengelus lembut rambut Fefe sambil sesekali menciumnya.
Mata Fefe masih terlihat bengkak. Dengan penuh kelembutan Nico mengelus mata Fefe.
"Maafin daddy ya sayang,daddy minta maaf udah bikin fefe dan mommy jadi menderita." Nico tersenyum berat.
Nico mulai memejamkan sepasang mata indahnya.
------------------
Nico melihat hamparan rumput luas dengan bunga bunga indah dan cantik berwarna warni.
Cahaya matahari bersinar dengan terangnya dan langit pun berwarna cerah.
Ada perasaan tenang dan damai. Namun juga ada perasaan bingung dan heran.
Dia berjalan dengan ringannya. Dilihatnya seorang gadis cantik sedang duduk diayunan kayu bercat putih.
Nico mendekati gadis tersebut.
"Nico.." sapa gadis tersebut.
Nico tersenyum lalu duduk di ayunan kosong sebelah gadis tersebut.
"Halo,Fer." Sapa Nico kembali.
"Nico,makasih ya kamu udah jaga Fefe dengan baik. Fefe adalah harta terindah dan termahal yang tidak bisa dibandingkan dengan mata uang manapun.'' Ucap Ferina.
Nico mengangguk membenarkan.
"Ya betul. Fefe memang tak sebanding dengan harta. Justru menurutku dia harta mahal tersebut." Ferina tersenyum sambil terus memandangi wajah kekasihnya.
Dia juga sangat merindukan Nico. Merindukan pelukannya yang hangat,ciumannya yang sangat lembut.
"Co,maafin aku ya. Aku lancang kasih nama belakang Fefe dengan nama marga keluarga kamu. Maksud aku Fefe juga perlu tau nama marga keluarga ayahnya." Ucap Ferina dengan masih menatap Nico yang juga menatapnya.
Mereka masih saling tatap dengan saling memberikan tatapan penuh sayang.
Nico mengangguk.
"Kenapa harus meminta maaf? Dia berhak atas nama keluargaku." Ferina tersenyum bahagia. Dia sangat bersyukur bahwa Fefe akan mendapat kasih sayang dari ayahnya seperti yang ia inginkan.
"Fer,aku minta maaf gak bisa bahagiain kamu. Aku gak bisa nepatin janjiku ke kamu. Aku udah bikin kamu sengsara fer,aku bikin kamu kehilangan masa depan kamu. Aku bikin kamu menanggung semuanya sendiri." Nico menangis dengan linangan air mata tulus.
Ferina menggeleng lalu berdiri dari duduknya dan memeluk Nico yang masih duduk diayunan kayu tersebut.
"Kenapa harus minta maaf sayang? Kamu gak pernah bikin aku sengsara. Bahkan kamu jadiin aku wanita yang bahagia dengan adanya Fefe. Fefe juga ada karena kamu. Aku gak pernah nyalahin kamu bahkan mama kamu sekalipun." Nico masih tetap berada dipelukan Ferina yang terasa nyaman. Pelukan yang sudah bertahun tahun tidak ia rasakan. Bahkan rasanya masih sama. Tetap menenangkan.
--------------
Nico membuka matanya yang diganggu oleh sinar matahari pagi.
Nico merasakan ada perasaan lega. Dia telah mengingat mimpinya semalam yang bertemu dengan Ferina.
Dia tersenyum dalam hati dan bersyukur Ferina masuk ke dalam mimpinya kali ini.
Dia juga telah meminta maaf pada Ferina.
Kini tanggungannya berkurang sedikit.
Walaupun hanya dalam mimpi,tapi Nico masih merasakan pelukan Ferina. Pelukannya cukup membekas.
Nico tersenyum.
Dia melihat kesamping,sudah terlihat kosong.
Dia tersentak kaget lalu bangun dari tidur nyamannya.
"Fefe" panggil Nico sambil membuka pintu kamar mandi.
Namun kamar mandi itu kosong.
Nico membuka pintu dan berjalan ke arah ruang makan.
Dilihatnya gadis kecil yang sudah rapi dengan seragam berwarna merah dan rambut yang diikat setengah.
"Daddy.." panggil Fefe riang,bahkan suaranya seperti tidak pernah terjadi masalah.
"Fefe udah siap? Kok daddy masih begini?" Nico keheranan.
"Daddy aja bangun kesiangan. Daddy tidur nyenyak banget." Ucap Fefe lalu meminum s**u coklat hangat buatan bi Minah.
Nico hanya tersenyum pelan.
"Daddy ketemu mommy sayang." Ucap Nico dalam hati.
"Daddy buruan mandi,nanti Fefe terlambat sekolah.'' Fefe memang sudah berbicara dengan jelas. Bahkan dia tidak cadel. Lafal hurufnya juga sudah jelas.
"Iya iya sayang.'' Nico mencium pipi chubby Fefe karena gemas.
Nico masuk ke kamarnya lalu membuka kaosnya tersebut menampakan tubuh yang indah tersebut. Perut sixpacknya dibiarkan telanjang. Lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
---------------------------------------------------
"Daddy jangan jemput fefe telat lagi ya" ucap Fefe pada Nico dan dianggukan oleh Nico.
"Iya sayang,daddy janji gak bakal telat jemput Fefe lagi." Ucap Nico lalu mencium kening Fefe lembut.
Fefe mencium kedua pipi Nico bergantian.
"Fefe sayang sekali dengan daddy.'' Ucap Fefe lalu tersenyum.
"Daddy lebih sayang lagi ke kamu sayang." Para ibu muda yang melihat adegan ayah sexy dan gadis cantiknya itu menatap iri.
Ada perasaan kagum dan haru. Tetapi ada perasaan heran. Anak dari wanita yang mana anaknya itu.
Nico membalikan tubuhnya saat Fefe sudah berlari masuk ke dalam kelasnya.
Wajah Nico berubah dingin seketika. Para ibu ibu masih menatap kagum pada Ayah anak satu itu.
Nico melajukan mobil Range Rovernya menuju kantor miliknya.
----------------------------------------------------
Nico telah tiba dikantor yang tingginya mencakar langit itu.
"Morning sir." Ucap Melly saat Nico tiba. Nico tersenyum tipis lalu berjalan ke arah ruangannya.
Nico mulai mengerjakan pekerjaan yang bernilai ratusan juta itu.
------------------------------------------------------
"Anak anak sekarang gambar keluarga kalian pada kertas ini ya." Mrs.Ayak menunjuk sebuah kertas HVS berwarna pelangi.
"Iya mrs.Ayak." ucap para murid kompak.
Fefe celingukan dengan wajah bingung dan sedih.
Keluarga itu setau Fefe berisi ayah dan ibu.
Ayah dan ibu yang tinggal bersama dalam satu rumah.
Tapi Daddy tidak tinggal bersama mommy.
Apakah daddy termasuk keluarga? Fefe bingung.
Fefe melihat teman temannya. Mereka semua telah menggambar dengan riang.
Teman sebelah Fefe yang bernama Indah menggambar ayah,ibu dan kedua adik kembarnya.
"Kamu gak gambar fe?" Tanya Indah saat melihat Fefe hanya melihat gambarnya.
"Keluarga itu yang tinggal dalam satu rumah. Tetapi daddy dan mommy tidak tinggal dalam satu rumah. Apakah daddy dan mommy itu keluarga?" Indah melihat Fefe dengan tatapan bingung.
"Aku hanya tau jika keluargaku hanya mommy. Tetapi sekarang aku tinggal bersama daddy." Ucap Fefe lagi pada Indah.
"Gambar saja mommy dan daddymu." Ucap Indah dan Fefe mengangguk.
---------
Waktu istirahat telah tiba.
Para murid pun mulai bermain dengan permainan yang disediakan di sekolah.
Fefe berlarian bersama Indah dan beberapa teman lainnya.
Kini Fefe dan teman temannya memilih permainan perosotan.
Mereka saling antri untuk mendapat bagian perosotan.
Dan Fefe menjadi antrian nomor tiga.
Fefe meluncur dengan lancar dan sempurna.
Fefe kembali mengantri dan menjadi antrian terakhir.
Begitu terus hingga 4 kali.
Namun saat luncuran yang kelima.
Fefe berdiri karena dari tangga lalu berdiri,tapi belum sampai Fefe duduk. Tanpa sengaja teman yang mengantri dibelakang Fefe menyenggol Fefe dengan cukup keras.
Fefe terpeleset dan terjatuh kedepan.
"Fefe...." semua temannya berteriak. Kepalanya terasa sangat sakit dan nyeri.
Namun setelah itu semuanya gelap dan dia tidak bisa mendengar apapun lagi.
------------------------------------------------------
Nico menandatangani beberapa berkas penting yang bernilai ratusan juta itu.
Bahkan hanya coretan tanda tangannya,ia bisa mendapat milyaran rupiah.
Baru saja nico menaruh bolpoin terakhirnya diatas meja,tiba tiba ponselnya bernyanyi riang.
Nico melihat siapa yang memanggilnya. Namun Nico tak mengenali nomor tersebut.
"Hallo,selamat siang. Dengan Nico Bintang Leviando?"
"Iya saya sendiri. Ada apa?'' Suara Nico berubah menjadi dingin.
"Saya guru dari TK Jakarta International (ngarang nama). Saya mau mengabarkan bahwa anak bapak yang bernama Ferdina Milly Leviando kini berada di rumah sakit terdekat. Dia terjatuh dari perosotan." Nico terkejut. Tubuhnya terasa lemah dan tak bertulang.
"Bagaimana bisa? Saya segera kesana.'' Nico segera memutus panggilannya dengan guru tersebut.
Nico mengambil jas dan kunci mobilnya lalu keluar dari ruangannya.
Nico berlari beberapa langkah menjauh dari meja sekretarisnya lalu berbalik beberapa saat.
"Melly,tolong kabari Derry sekarang. Katakan dia harus menyusulku ke rumah sakit terdekat dari TK Fefe" Melly mengangguk lalu segera mengambil gagang telefon untuk menelpon Derry.
Nico berlari dengan sangat cepat. Tak perduli hampir seluruh pegawai melihatnya keheranan.
------------------------
Ingin rasanya Nico menerobos lampu merah. Tetapi itu bukan cara yang baik,sama saja ia bunuh diri.
"Ya Tuhan,cobaan apa lagi ini?" Nico memukul kemudinya berkali kali.
Melihat lampu berubah menjadi hijau segera Nico tancap gas menuju RS terdekat dari TK fefe.
Nico memarkirkan mobilnya lalu berlari tanpa perduli tatapan para pasien dan pengunjung. Yang ia pikirkan sekarang hanya keadaan Fefe.
Nico bertanya pada perawat yang berlalu lalang.
"Dimana pasien bernama Ferdina Milly Leviando?" Suster tersebut terbengong sesaat saat melihat seorang lelaki tampan bertanya padanya.
"Oh! Dia berada di UGD sir" ucap Suster setelah membuka beberapa lembar data pasien UGD.
Tanpa berterimakasih Nico langsung berlari ke arah UGD.
Pandangan suster itu pun masih mengikuti Nico hingga hilang.
Nico melihat beberapa wanita yang berpakaian seperti guru di sekolah anaknya.
"Oh mr.Nico" ucap kepala sekolah Fefe.
"Bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Nico khawatir.
"Tenang pak,dokter sedang memeriksanya." Ucap guru tersebut yang sebenarnya khawatir,tapi tetap terlihat tenang.
"BAGAIMANA SAYA BISA TENANG. ANAK SAYA SEDANG SEKARAT DIDALAM SANA DAN IBU BILANG SAYA HARUS TENANG?" ucap Nico dengan nada tinggi. Kepala sekolah memaklumi Nico yang sedang emosi tersebut.
"Kami meminta maaf atas kelalaian kami" ucap mrs.Ayak yang merasa bersalah.
Nico mengabaikan permintaan maaf mrs Ayak lalu duduk dibangku karena kakinya lemas tak berdaya.
Nico mengacak rambutnya. Sambil sesekali mengambil nafas dan membuangnya.
Derry datang sambil berlari.
"Ada apa sir?" Tanya Derry sambil duduk disamping Nico.
"Fefe jatuh dan dia sekarang didalam." Ucap Nico lemah.
Derry mengelus bahu Nico menguatkan.
"Lo harus kuat,co. Gue yakin anak lo kuat." Ucap Derry.
Dokter keluar dari ruangan UGD. Nico segera mendekat begitupun para guru.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Nico buru.
"Anda siapanya?"
"Saya ayahnya." Ucap Nico tegas.
"Ferdina terus memanggil mommy. Dimana ibunya?" Dokter tersebut celingukan.
"Mommynya baru saja meninggal dok" ucap Nico lemah.
"Fefe mengalami pendarahan kecil di dahinya. Mungkin sebentar lagi akan membaik,anda tenang saja." Ucap Dokter.
"Mungkin ayahnya bisa masuk untuk menggantikan ibunya." Ucap dokter yang sudah cukup tua itu lalu berjalan keluar.
"Segera pindah keruang perawatan yang nyaman dan mewah." Ucap Nico didalam UGD pada suster yang masih mengecek pendarahan Fefe.
"Baik sir" ucap suster tersebut lalu berjalan keluar.
Nico melihat Fefe dengan perban dikepalanya bahkan baju merahnya ada sangat banyak darah.
"Mommy.. mommy sakit.." fefe merintih kesakitan.
Nico menggenggam tangan mungil Fefe sambil sesekali menciumnya.
"Daddy disini sayang" Nico menciumi tangan Fefe.
"Mommy.. mommy.. fefe mau ikut mommy.." igauan Fefe kali ini cukup membuat Nico menegang hebat.
"Gak! Kamu gak boleh ikut mommy sayang. Kamu harus disini sama daddy,harus tetep jadi gadis kecil daddy.'' Nico meringis karena sakit dikepala dan hatinya.
Beberapa perawat datang dan meminta ijin kepada Nico untuk memindahkan Fefe ke kamar inapnya.
Nico mengikuti langkah para suster yang tersenyum malu malu bahkan mencuri sedikit pandangan demi menatap seorang lelaki tampan yang sedang khawatir dengan putrinya. Tampan dan sangat tampan.
Fefe tiba diruang inapnya.
Kamarnya sangat luas dengan hiasan serba anak anak karena memang ini adalah kamar inap anak.
Kamarnya berdinding gambar hewan hewan Afrika berwarna coklat dan kuning.
Suster membenarkan letak kasurnya lalu meminta ijin kepada Nico dan keluar.
"Nic,gue udah hubungin nyokap lo" ucap Derry tiba tiba pada Nico yang masih memandangi wajah putrinya tanpa memindah pandangannya.
"Thanks" ucap Nico singkat.
Derry mengangguk.
"Cepet sembuh princess" ucap Derry sambil mengelus gadis kecil Nico.
.
"Fefe astaga.. bagaima bisa?" Tanya mama Nico dengan khawatir.
"Jatuh ma dari prosotan." Ucap Nico singkat.