Memulai pekerjaan di kantor baru

759 Words
Yuna datang lebih awal dari siapa pun. Sepatu haknya berderap ragu di lantai marmer lobi, tapi wajahnya menampilkan keyakinan. Jantungnya memang berdegup cepat, namun ada bara kecil yang menyala—bara yang lahir dari kemarahan dan tekad untuk lepas dari belenggu Reyhan. “Selamat bergabung, Mbak Yuna.” Seorang HRD menyapanya ramah, lalu memperkenalkannya ke divisi pemasaran, tempat ia ditempatkan. Yuna tersenyum, mengucapkan terima kasih, dan mencoba menenangkan kegugupannya. Di meja barunya, ia duduk, merapikan laptop, lalu menghela napas panjang. Dalam hati ia bersyukur—setidaknya, satu langkah sudah ia menangkan. Beberapa rekan kerja terlihat ramah, menyapa sekadarnya. Namun, tatapan seorang wanita bernama Dita, senior yang sudah lama di divisi itu, menusuk seperti pisau tipis. Senyumnya terpaksa, matanya menilai dari ujung kepala hingga kaki Yuna, seolah-olah kedatangan pegawai baru hanyalah ancaman. “Pintar juga HRD nerima karyawan baru kayak gini. Cantik sih… tapi kita lihat aja, bisa kerja apa nggak,” gumam Dita pelan, cukup keras untuk didengar Yuna. Yuna menegakkan bahu, menelan rasa tidak nyaman. Ia tidak ingin terlihat rapuh. “Aku di sini bukan buat cari musuh,” batinnya, “aku cuma mau kerja dan buktiin kalau aku bisa.” Proyek Pertama Baru tiga hari bekerja, atasannya, Pak Andri, memberikan tugas besar. “Yuna, kamu ikut saya untuk proyek klien baru. Perusahaan besar. Kita butuh orang yang cepat belajar. Kamu siap?” Jantung Yuna hampir meloncat. Tentu ia gugup, tapi di wajahnya ia tunjukkan keberanian. “Saya siap, Pak.” Beberapa rekan kerja berdecak pelan, terutama Dita yang duduk di kursi seberang. “Cepet banget dikasih proyek, baru juga tiga hari kerja,” bisiknya ketus pada teman sebelahnya. Yuna pura-pura tidak mendengar. Ia fokus mempersiapkan dokumen, menyusun presentasi, dan mengulang poin-poin penting. Di dalam dadanya, ada rasa cemas sekaligus semangat. “Ini kesempatan. Aku nggak boleh gagal.” Pertemuan dengan Klien Ruang rapat itu besar, dinding kaca memantulkan bayangan semua orang. Yuna duduk dengan laptop terbuka, berusaha terlihat tenang. Pintu terbuka. Seorang pria muda dengan setelan jas abu gelap masuk dengan langkah mantap. Semua mata otomatis menoleh. Karismanya memenuhi ruangan bahkan sebelum ia bicara. “Selamat siang. Saya Keynan,” ucapnya singkat, suaranya dalam dan tegas. Itulah pertama kalinya Yuna melihat Keynan secara langsung. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam. Aura dinginnya membuat Yuna harus menahan diri agar tidak menunduk. Ada semacam getaran aneh—perpaduan kagum, terintimidasi, tapi juga… penasaran. Meeting dimulai. Keynan duduk tegak, sesekali menggeser jam tangannya, matanya fokus pada presentasi yang disampaikan tim. Sesekali, tanpa Yuna sadari, tatapan Keynan jatuh padanya. Ada ketertarikan yang berusaha ia tutupi di balik ekspresi datar. Yuna memaparkan salah satu bagian laporan. Tangannya sedikit gemetar, tapi suaranya stabil. Keynan mendengarkan, mencondongkan tubuh. Sorot matanya berubah samar, seolah tertarik dengan cara Yuna menyusun kata. Dari sisi meja, Dita melirik tajam, jelas terganggu oleh perhatian yang tanpa sadar Keynan berikan pada Yuna. Setelah Meeting Meeting selesai dengan hasil memuaskan. Keynan berdiri, merapikan jasnya. “Terima kasih. Saya suka penyampaian kalian, terutama bagian data yang dibawakan…” matanya sempat berhenti pada Yuna, “…cukup jelas.” Itu pujian yang terdengar sederhana, tapi bagi Yuna rasanya seperti energi baru. Ketika semua orang berkemas, seorang rekan kerja, Mira, menghampiri Yuna. “Kamu tau nggak siapa barusan?” bisiknya. Yuna mengernyit. “Ya, klien kita. CEO perusahaan, kan?” Mira mengangguk cepat, matanya berbinar. “Iya, tapi bukan CEO biasa. Itu Keynan Ardan, salah satu pengusaha muda paling disorot sekarang. Katanya perfeksionis banget, susah didekati, bahkan banyak yang minder kalau meeting sama dia. Tapi kok tadi dia kelihatan cukup… lunak sama kamu, ya?” Yuna tertawa kecil, menutupinya dengan gelengan kepala. “Ah, kamu aja yang berlebihan.” Tapi dalam hati, ia pun merasakan sesuatu. Ada hal yang tidak bisa ia jelaskan dari tatapan pria itu. Nomor Telepon Ketika tim hendak keluar dari ruang rapat, Keynan menghampiri Yuna sebentar. Suaranya tetap tenang, formal. “Yuna, bisa saya dapat nomor Anda? Untuk koordinasi proyek, tentu saja,” katanya sambil mengangkat alis, ekspresinya tetap profesional. Yuna terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum tipis. “Oh, tentu. Silakan.” Ia menyebutkan nomornya, Keynan mengetik cepat ke ponselnya. “Terima kasih,” ucapnya singkat. Namun ketika ponselnya berbunyi tanda nomor tersimpan, sudut bibirnya melengkung samar. Yuna hanya membalas dengan senyum ringan. Baginya, ini murni urusan pekerjaan. Ia tidak menaruh rasa apa-apa. Namun, ketika Yuna melangkah keluar ruangan bersama Mira, Keynan masih berdiri di dalam. Matanya menatap layar ponselnya, pada nama baru yang tersimpan. Ada sesuatu yang bergetar dalam dirinya—sesuatu yang bahkan ia sendiri tak bisa abaikan. Dan di situlah awalnya. Sebuah nomor kecil, yang kelak akan mengubah segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD