Hari-hari pertama Yuna di kantor mulai terasa lebih ringan. Ia cepat belajar, dan meski masih sering dibayangi komentar sinis dari Dita, ada Mira yang selalu siap mendukungnya.
Suatu sore, usai meeting internal, Yuna dan Mira duduk di pantry sambil menikmati kopi instan. Mira menatap Yuna dengan senyum penuh rahasia.
“Eh, Yun… aku masih kepikiran waktu kamu pertama kali ketemu Pak Keynan kemarin.”
Yuna menaikkan alis. “Kenapa memangnya?”
Mira mendesah dramatis. “Ya ampun, kamu nggak tau? Keynan Ardan itu legenda, Yun. Bukan cuma soal bisnisnya yang gila sukses, tapi juga… reputasinya.”
Yuna memiringkan kepala, menyesap kopinya. “Reputasi apa?”
Mira menunduk sedikit, seolah takut ada orang lain yang mendengar. “Katanya, dia itu playboy kelas kakap. Banyak wanita yang tergila-gila padanya, dan ya, kabarnya dia juga nggak susah untuk balas godaan. Handsome, tajir, CEO muda—kombinasi yang bahaya banget, kan?”
Yuna terkekeh, mencoba menepis rasa penasaran yang tiba-tiba muncul. “Aku nggak ada waktu buat gosip, Mir. Lagi pula, aku kerja di sini bukan buat urusin hidup dia.”
“Tapi kamu harus hati-hati.” Mira menunjuk Yuna dengan sedotan plastik. “Cowok kayak dia biasanya susah ditebak. Apalagi aku lihat sendiri, dia tadi lumayan ngasih atensi ke kamu.”
Yuna tertawa pendek, tapi dalam hati, ada sesuatu yang menggantung. Ia menepisnya cepat-cepat. “Nggak mungkin. Itu cuma urusan kerja.”
Di sisi lain
Sementara itu, di ruang kantor pribadinya, Keynan bersandar di kursi kulit hitam, membuka dasi setelah rapat panjang. Di seberangnya duduk seorang pria muda lain, lebih santai, dengan kemeja putih tergulung hingga siku.
“Aku nggak percaya,” sahabatnya itu terkekeh. “Kamu biasanya cuek sama semua orang, Key. Tapi kemarin, aku lihat jelas kamu nyimak anak baru itu dengan cara beda.”
Keynan menghela napas, menyandarkan kepala ke kursi. “Jangan mulai, Raka. Dia cuma staf baru. Itu saja.”
Raka menyipitkan mata. “Cuma staf baru? Hm, menarik juga. Dari ratusan meeting yang kamu hadiri, baru kali ini aku lihat kamu… sesekali nyuri pandang.”
Keynan menoleh sekilas, menahan senyum tipis. “Kamu kebanyakan halu. Fokus aja sama laporan yang aku minta.”
Raka tertawa kecil, namun ia bisa membaca gurat samar di wajah sahabatnya. Ada sesuatu yang berbeda, dan ia tahu Keynan tak akan mudah mengakuinya.
Pertemuan Kedua
Beberapa hari kemudian, Yuna kembali terlibat dalam proyek yang sama. Kali ini, ia harus mengirimkan beberapa data revisi dan langsung bertemu dengan tim Keynan.
Di ruang rapat yang lebih kecil, suasana lebih intim. Keynan datang agak terlambat, tapi begitu ia masuk, perhatian semua orang langsung tertuju padanya.
“Maaf, ada meeting mendadak,” ucapnya singkat sebelum duduk.
Yuna menatapnya sekilas lalu kembali fokus pada layar laptop. Namun, ketika ia menjelaskan revisi, Keynan menatapnya lebih lama dari seharusnya. Ekspresi wajahnya tetap tenang, tapi matanya… seolah sedang mengukur sesuatu.
“Presentasi yang bagus,” ujar Keynan usai sesi singkat itu. “Saya suka orang yang detail.”
Ucapan itu sederhana, tapi Yuna merasakan nadanya berbeda. Ia menunduk, berusaha tetap profesional.
Malam Hari
Selesai kerja, Yuna pulang dengan tubuh lelah tapi hati sedikit ringan. Ia merasa mulai menemukan ritme barunya, meski komentar Dita kadang masih mengganggu.
Di kamarnya malam itu, Yuna menyalakan laptop untuk meninjau pekerjaan besok. Ponselnya tergeletak di samping. Tiba-tiba, ada notifikasi masuk.
Pesan singkat dari nomor tak dikenal.
Keynan Ardan:
Terima kasih untuk kerja keras hari ini. Data revisinya sudah saya terima.
Yuna membeku sejenak. Tangannya berhenti di atas keyboard. Ia menatap layar ponselnya lama, bibirnya perlahan melengkung samar.
Formal. Profesional. Tidak lebih.
Namun, entah kenapa, dadanya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya.
Dan di balik layar lain, jauh di apartemennya, Keynan menatap pesan terkirim itu dengan tatapan yang sulit ditebak. Ada ketertarikan yang mulai ia biarkan tumbuh—meski samar,
meski ia sendiri belum berani menyebutnya dengan kata apa pun.