BAB 11 — Bayangan dari Dunia Tanpa Pilihan

528 Words
Langit dunia baru seharusnya selalu biru. Itu bagian dari kehendak Andra saat menciptakannya. Dunia yang bebas dari luka, penuh kedamaian, dan tidak lagi dikekang waktu. Tapi pagi ini, langit terlihat seperti kaca bening yang digores dari dalam. Ada guratan samar, seperti bekas kuku pada jendela. "Kau melihatnya juga?" tanya Nara. Andra mengangguk. "Semalam, aku dengar suara ketukan. Tapi bukan mimpi. Seperti... sesuatu mencoba masuk." Di desa kecil yang mereka bangun, penduduk mulai merasakan hal yang sama. Jam-jam yang mereka bawa dari dunia lama mulai berhenti. Beberapa orang lupa di mana mereka tinggal. Bahkan ada satu anak kecil yang tiba-tiba menangis, memanggil nama ibu yang tak pernah ada di dunia ini. "Fragmen," gumam Andra. Nara menoleh. "Apa maksudmu?" "Sisa dari realitas lain. Dunia tempat detik yang tidak memilih sedang tumbuh. Mungkin... mereka mulai menyusup." Hari itu, mereka mengadakan pertemuan. Andra, Nara, Ira, dan beberapa pemimpin awal dunia baru itu duduk mengelilingi meja dari cahaya. "Apa dunia ini mulai runtuh?" tanya Ira. Andra menggeleng. "Belum. Tapi dia... versi lain dariku, sedang mencari celah. Dan celah itu muncul di hati yang ragu." "Berarti kalau kita mulai takut, dunia ini bisa jebol?" Nara bertanya. "Bukan jebol. Tapi dikunjungi." --- Malam hari, angin tidak bergerak. Dan jam yang biasa berdetak di tengah desa... berhenti. Ira berlari ke rumah Andra. Nafasnya tersengal. "Nara... menghilang." Andra langsung berdiri. Mereka mencari ke seluruh penjuru desa, ke hutan, ke danau, ke atas bukit tempat Nara suka menulis di udara. Tapi tak ada jejak. Tak ada suara. Hanya satu hal aneh yang mereka temukan: Bayangan. Di atas tanah. Tapi tak ada benda yang membuatnya. Bentuknya tinggi, ramping, dan... menghadap ke mereka. "Itu bukan makhluk dunia ini," bisik Andra. Bayangan itu bergerak perlahan, dan kemudian memudar. Tapi sebelum benar-benar hilang, satu kalimat muncul di udara: > "Ia telah melihat yang tak boleh dilihat." --- Nara terbangun di tempat putih. Bukan seperti ruang Null. Ini... lebih kosong. Lebih dingin. Cahaya di sini tidak datang dari langit, tapi dari bawah tanah. Dan di seberangnya, duduk sosok tanpa wajah. "Kau menolak memilih," kata sosok itu. "Maka aku ingin tahu kenapa." Nara menatapnya. "Aku tidak menolak. Aku hanya percaya pada pilihan Andra." "Dan kau mengikutinya ke dunia palsu. Dunia yang dibentuk oleh rasa takut." "Tidak. Dunia ini dibentuk oleh harapan." Sosok itu diam. Kemudian berdiri, dan membuka tangan. Di dalam telapak tangannya ada serpihan jam yang rusak. "Dunia ini bisa dipecahkan. Bahkan oleh detik yang patah." Seketika Nara tersedot oleh cahaya. --- Andra berdiri di bukit, sendirian. Ia memejamkan mata. "Aku tahu kamu di luar sana. Aku tahu kau bagian dari diriku. Tapi jangan sentuh orang-orangku." Langit mulai bergemuruh. > "Aku tidak menyentuh mereka. Aku hanya menunjukkan kemungkinan." Suara itu datang dari dalam angin. Dan bayangan itu muncul lagi. Kali ini bukan satu. Tapi banyak. Semua berdiri diam di batas desa. Menunggu. Nara muncul kembali pagi harinya. Tapi matanya berbeda. Ia ingat semuanya, tapi juga membawa sesuatu. "Dia akan datang, Andra. Bukan untuk bertarung. Tapi untuk menunjukkan... bahwa pilihanmu tidak pernah sempurna." Andra menggenggam tangannya. "Kalau begitu... aku akan buktikan bahwa bahkan ketidaksempurnaan... bisa jadi awal dari sesuatu yang utuh." Langit kembali cerah. Tapi di batas cakrawala, sebuah bayangan besar mulai tumbuh. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD