bc

Retakan di Detik Terakhir

book_age16+
1
FOLLOW
1K
READ
adventure
dark
BE
reincarnation/transmigration
time-travel
arrogant
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
serious
bold
vampire
campus
city
mythology
office/work place
pack
superpower
rebirth/reborn
musclebear
ancient
like
intro-logo
Blurb

Andra bangun setiap pagi dengan perasaan asing — seolah ada bagian dari dirinya yang hilang.

Mimpi tentang jam berdarah, cermin retak, dan seorang gadis bernama Nara terus menghantuinya.

Ia tak mengenalnya. Tapi kenapa rasa sakit itu terasa begitu nyata?

Saat dunia mulai retak dan waktu berjalan mundur, suara asing berbisik:

"Kau adalah Detik Terakhir."

Tanpa ingatan siapa dirinya sebenarnya, Andra harus menemukan jawabannya — sebelum dunia berhenti.

Karena kadang... musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri.

Dan tidak semua detik bisa diselamatkan.

chap-preview
Free preview
BAB 1 — Hari Dimana Semua Diam Tak Lagi Sama
Andra membenci pagi. Bukan karena kopi yang pahit atau kos sempit yang berbau lembap setiap hujan turun. Tapi karena setiap kali matahari terbit, ada sesuatu di dalam dirinya… yang terasa hilang. Bukan sekadar hampa, tapi seperti kehampaan yang dalam — terlalu asing untuk dikenang, tapi terlalu nyata untuk diabaikan. > "Kau adalah detik terakhir." Bisikan itu datang terus-menerus. Entah dari mimpi, atau dari dalam pikirannya sendiri. --- Jam dinding di kamarnya berdetak pelan. Tik. Tak. …Tik. Lalu… diam. Andra terbangun dengan tubuh menggigil. Keringat dingin membasahi pelipis. Mimpi tadi masih membekas: jam pasir yang meneteskan darah, seorang gadis menangis memeluk waktu yang retak, dan suara asing yang terdengar seperti kehilangan. Ia menatap cermin kecil di dinding — retak di sudut kanan atas. Pantulan dirinya kabur. Wajah tirus. Mata sayu. Rambut awut-awutan. Tapi ada satu hal yang lebih mengganggu dari semua itu: > Cermin itu tak pernah memantulkan gerakannya secara utuh. Selalu terlambat sepersekian detik. Kecil. Tapi cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri. --- Pukul 07:47. Waktu berjalan seperti biasa. Tapi hati Andra… diam. Tertinggal entah di mana. Ia keluar kamar kos, menelusuri gang sempit yang sudah ia hapal di luar kepala. Menyapa ibu warung dengan senyum seadanya. Menunggu di halte. Naik bus kota. Dunia bergerak normal. Terlalu normal. > Dan justru itu… yang membuatnya takut. Andra percaya: kalau semua berjalan terlalu sempurna, maka sesuatu sedang disembunyikan dunia. --- Gedung tempatnya magang berdiri kusam di ujung kota — bekas kantor pusat jam analog yang hampir mati. Ia bekerja di lantai tiga, bagian administrasi. Kerjaannya? Mengetik data dan menyortir berkas tua — beberapa bahkan berasal dari tahun-tahun yang belum ia lahir. Bosnya bawel. Rekan-rekannya dingin. Hidupnya berjalan seperti mesin… tapi tak pernah benar-benar hidup. Tapi hari itu berbeda. --- Di lantai dasar gedung, di bekas toko jam tua… ada seseorang. Seorang gadis. Berdiri sendiri di balik etalase kaca. Tangannya gemetar saat menyusun jam-jam antik. Rambut hitam seleher. Wajahnya tenang. Tapi matanya— > Mata itu menyimpan ribuan tahun kesedihan. Andra hanya melihat sekilas. Tapi dunia langsung sunyi. Suara printer lenyap. Klakson di jalanan hilang. Bahkan detak jantungnya terasa menahan diri. Dia mengenalnya. Entah dari mana. Entah dari mimpi. Atau dari kehidupan yang sudah lewat. --- “Permisi…” bisiknya, nyaris tak terdengar. Tapi gadis itu menoleh. Tatapan mereka bertemu. Dan saat itu juga… > Semua jam di sekelilingnya berhenti. Sekaligus. Dalam keheningan yang mustahil. --- Andra mundur. Jantungnya berdetak tak karuan. Kembali ke ruang kerja. Duduk. Menggenggam nalar yang nyaris lepas. Tapi hatinya tahu... > Ini bukan kebetulan. Ini awal dari sesuatu yang tak bisa dibatalkan. --- Malam itu ia tidak bisa tidur. Bukan karena mimpi buruk — tapi karena waktu di sekelilingnya rusak. Jam tangan telat. Ponsel cepat. Alarm diam. Semua tak sinkron. Seolah dunia sedang retak pelan… dan hanya Andra yang sadar. --- Satu detik. Satu tatapan. Satu pertemuan dengan orang asing. Itu cukup untuk mengubah segalanya. --- Dan di tengah malam yang membisu, suara dalam kepalanya kembali. Tapi kali ini… > Lebih jelas. Lebih dalam. Lebih mengancam. > 📢 “Retakan telah dimulai. Detik terakhir akan diuji. Dan kamu, Andra, harus memilih — menyelamatkan waktu… atau dirimu sendiri.” Andra duduk di tepi ranjang. Tangan gemetar. Dunia di luar tenang. Tapi pikirannya meledak dalam kekacauan. > “Siapa dia?” “Kenapa aku merasa waktu sedang berulang?” “Dan kenapa aku takut… hari esok tak akan datang?” Cermin di dinding bergetar. Retakan kecil menjalar — membentuk simbol samar. Seperti angka. Seperti… hitungan mundur. > [00:00:59]

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Rise from the Darkness

read
8.6K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook